Twin'S

Twin'S
Bab.43



Setelah memata-matai, Dania keluar dari restauran tersebut. Dia tersenyum tipis, rencana untuk membuat Yusra benci dengan Laura sudah berhasil.


"Yusra... Yusra, kamu terlalu polos untuk aku manfaatkan," ucap Dania tersenyum sinis.


Dania memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, dia melirik jam di tangannya baru menunjukan pukul delapan malam.


"Belum terlalu malam, lebih baik aku jalan-jalan terlebih dulu,"


Kemudian Dania melajukan mobilnya ke sebuah mall di daerah tersebut.


Sementara itu Mario dan Yusra, sudah berada dalam mobil untuk pulang. Terjadi keheningan di antara ayah dan anak tersebut, Yusra tau Mario sedang marah padanya, tapi dia tidak peduli.


"Apa papi akan menginap di parkiran?" tanya Yusra, menatap Mario yang hanya melamun.


Mario hanya menghembuskan napasnya secara kasar, menyalakan mobil dan meninggalkan parkiran.


Tanpa sengaja mereka melewati tempat Yumna dan Laura makan, Mario menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Membuat tubuh Yusra maju ke depan dan keningnya terbentur.


"Papi," bentak Yusra, memegang keningnya.


Yusra melihat Mario turun. "Papi, mau kemana?"


"Tunggu di sini, jangan keluar." Pinta Mario, membuat Yusra berdecak.


"Laura," panggil Mario, setelah sampai di tenda pinggir jalan tersebut.


"Mario,"


"Laura maafkan sikap Yusra, aku antar pulang," pinta Mario.


"Maaf om, tapi kami sudah memesan taxi online," sahut Yumna, menunjuk driver yang ikut makan bersama mereka.


"Tidak masalah, om akan membayarnya."


"Tapi aku keberatan pi," pekik Yusra.


"Yusra ini sudah malam, nak. Papi mohon pengertian mu," mohon Mario, menatap Yusra.


Sebenarnya Yusra tak tega melihat Mario memelas seperti itu, dia memalingkan wajahnya dan berlalu dari tempat tersebut.


"Terserah," jawab Yusra, sambil melangkah mendekati mobil.


"Ayo Laura aku antar kamu pulang," putus Mario.


Tanpa menunggu jawaban Laura, Mario membayar taxi mereka dan makanan mereka. Kemudian menarik kedua wanita tersebut menuju mobilnya.


Mario membuka pintu mobil Yusra, dan menyuruh Yusra turun.


"Turun," ucapnya dingin.


"Tapi pih," protes Yusra.


"Jangan banyak protes, kamu duduk di belakang dengan kakak mu," tegas Mario.


Yusra berdecak dan membuka pintu mobil dengan kasar, di susul oleh Yumna dan menutupnya.


Selama di perjalanan terjadi keheningan di antara mereka berempat, Yusra terus memandang ke arah luar tak ingin saling tatap dengan Laura yang berada di kursi penumpang depan.


"Kamu harus berkenalan dengan nyonya Anjani, dia juga nenek mu Yusra." ucap Mario.


"Terserah papi," balas Yusra.


Mario menghembuskan napasnya secara kasar.


"Laura maafkan Yusra," lirih Mario, Laura hanya mengangguk saja dia bisa maklum dengan sikap putrinya tersebut.


*****


Sementara itu di tempat lain.


Setelah Dania memutuskan pergi ke mall, dia melihat-lihat barang yang menurutnya bagus. Dania masuk ke salah satu toko baju milik Zea yang baru dia rintis beberapa minggu.


"Sepertinya baru," gumam Dania.


"Selamat datang, selamat datang di ZeZone nyonya. Kami menyediakan pakaian anak muda, bisa request gambar sesuai customer, bisa juga couple." Jelas pelayan tersebut.


Dania hanya mengangguk saja, dia akan melihat-lihat pakaian yang cocok untuk Yusra. Untuk menarik perhatiannya.


"Apa disini bisa couple ibu dan anak?" tanya Dania kepada pelayan, yang bernama Amira.


"Bisa nyonya, anda bisa memesannya di sebelah sana." Tunjuk Amira kepada kasir ZeZone tersebut.


"Baiklah, terima kasih."


"Sama-sama."


"Paling lambat selesai dua minggu nyonya," jelas Auriga, selain merintis usaha sendiri Auriga membantu Zea untuk mengelola toko tersebut.


"Dan ini totalnya." sambungnya, sambil memberikan nota kepada Dania.


Dania membayar tagihan tersebut dan mengucapkan terima kasih, kemudian dia pergi dari toko tersebut.


Tak lama Dania pergi, Zea dan Jimi keluar dari ruangan Zea setelah selesai makan malam bersama.


"Lama sekali sih," keluh Auriga.


"Yey lagian, siapa suruh tadi gak mau ikut," cibir Zea.


"Sudah-sudah, jangan berantem. Kalian ini sudah besar," ujar Jimi.


"Ya sudah, Dad, Zea. Aku pamit keluar dulu sebentar, nanti aku kembali," ucap Auriga.


"Lah mau kemana? Bukannya bantuin," omel Zea.


"Alah gue mau kumpul sama temen-temen, biasa main basket. Boleh ya dad." Izinnya pada Jimi.


"Ya sudah boleh, tapi jangan pulang terlalu larut." Perintah Jimi.


"Siap dad,"


"Ko gitu sih dad," Zea tak terima karena dirinya baru memulai usaha baru, jadi dia perlu bimbingan Auriga yang sudah terlebih dulu terjun ke dunia bisnis.


"Alah Ze, lagian ada daddy. Kalo ada apa-apa minta tolong sama daddy, lagian bentar lagi juga mau tutup kan?" Auriga menatap jam di tangannya.


"Ya udah sana," ketus Zea mengusir Auriga.


Auriga mencium punggung tangan Jimi, dan mengecup kening sang adik.


"Bye," pamit Auriga.


"Dad," rengek Zea.


"Sudah gak apa-apa, daddy bisa bantu kamu."


*****


Beberapa puluh menit kemudian, mobil Mario sudah berhenti di depan rumah Laura. Yumna melirik sekilas rumah Laura yang sederhana.


"Terima kasih Mario, sepertinya ibu sudah tidur. Jadi kalian langsung pulang saja," ujar Laura.


"Baguslah, sadar diri." Ketus Yusra.


"Yusra," desis Mario.


"Kami tidak akan memaksa mu Yusra, jika kamu mau berkunjung silahkan. Aku dan ibu tidak akan melarang mu, tapi jika kamu tidak ingin pun tidak masalah." Terang Yumna.


"Terima kasih om, sudah mengantar kami. Kalau begitu kami permisi," pamit Yumna, turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Laura.


"Sebaiknya om cepat pulang, ini sudah malam." Usir Yumna secara terang-terangan.


"Yumna sayang," tegur Laura.


"Tidak apa-apa Laura, Yumna betul. Ini sudah malam, saya permisi sampai jumpa," pamit Mario pada Laura dan Yumna.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Bagaimana pun dia ayah mu,"


"Aku tau bu, tapi sikap Yusra seperti itu, menunjukan bahwa dia tidak menginginkan kita."


"Kamu harus mengalah Yumna,"


Yumna menatap Laura dengan memincingkan mata.


"Apa aku gak salah dengar bu? Ibu suruh aku mengalah!!"


Yumna tersenyum sinis dan menggeleng.


"Aku sudah cukup mengalah untuknya," ucap Yumna, berjalan meninggalkan Laura sendiri di luar yang mematung.


"Maafkan ibu," lirih Laura, menatap punggung putrinya yang sudah masuk kedalam rumah.


tbc....


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏


selamat bermalam minggu guys 💜


slow up