
...~Sembuhkan dulu hatimu sebelum memulai kisah yang baru lagi~...
Pagi pun tiba, Zea memutuskan untuk pergi dari hotel. Dia bingung akan pergi kemana, setelah berpikir cukup lama, dia akan pergi ke ZeZone dan menyembunyikan kopernya disana.
Saat Zea akan keluar, Zea melihat mobil Keano yang melintas beruntung dia memakai masker dan kacamata.
"Dari mana dia?" gumam Zea.
"Ahh... Masa bodo, toh dia juga gak peduli," sambungnya lagi.
Taxi online yang di pesan Zea sudah tiba, mumpung masih pagi dia memutuskan untuk pergi ke ZeZone.
"Astaga kenapa aku bisa lupa, mall kan belum buka," gerutu Zea memukul kepalanya.
"Cinta membuat orang bodoh, itu ternyata benar. Ya sudahlah aku ke kost pekerja ku saja," putus Zea kemudian dia menyandarkan punggungnya.
****
Tak lama Zea sudah sampai, kemudian dia memutuskan menghubungi salah satu karyawan ZeZone. Setelah menghubungi karyawannya, Zea menunggu di warung penjual nasi uduk dan memesan dua bungkus nasi bungkus.
"Terima kasih," ucap Zea.
"Mbak Zea," panggil Melani.
"Ahh Mel, akhirnya kamu datang. Mari bu permisi," pamit Zea pada pedagang nasi uduk.
"Mari neng," sahut si ibu.
"Maaf mbak, tadi saya abis nyuci."
"Gak apa-apa, sekalian aku beli nasi uduk buat kita sarapan."
"Ahh mbak, merepotkan seharusnya kan saya." Kekeh Melani.
Beberapa menit kemudian, Zea dan Melani sudah sampai di kosan. Melani harus berjalan lagi menuju lantai dua, kosan tempat Melani terdiri dari tiga lantai setiap lantai terdapat sepuluh kamar.
"Mari bu masuk, maaf berantakan."
"Santai aja, nih kamu tata di piring. Saya numpang mandi ya Mel,"
"Silahkan mbak,"
Zea memutuskan untuk mandi, tadi di hotel Zea hanya cuci muka dan gosok gigi. Beberapa menit kemudian Zea sudah rapi.
"Mbak, ini sarapannya udah siap."
Melani dan Zea pun sarapan bersama, sambil sesekali Zea mengajak ngobrol. Zea kepada karyawan sangat terbuka dan sudah seperti teman, apalagi Auriga tukang ngegombal membuat semuanya senang.
Sementara itu Keano, yang ketiduran di mobil dekat taman baru saja selesai membersihkan diri. Hari ini dia akan menemui Zea lagi.
"Aku harus menemuinya," gumam Keano.
Keano meninggalkan kembali unitnya tanpa sarapan, kemudian melajukan mobilnya menuju salah satu mall tempat ZeZone beroperasi.
Keano rela menunggu selama 2 jam, dia melihat Auriga datang terlebih dulu. Tapi tidak menemukan Zea.
"Kemana dia?"
Keano terus menatap orang-orang yang berlalu lalang, tak lama mall pun buka dan Zea pun datang dengan karyawannya. Dengan segera Keano turun dari mobil, dan dengan langkah cepat menghampiri Zea.
"Zea tunggu," teriak Keano.
"Keano," sahut Zea panik, Zea ingin kabur tapi seruan Keano membuatnya di tahan oleh Melani.
"Pegang dia jangan sampai kabur," pekik Keano pada Melani.
Refleks Melani pun menahan Zea.
"Maaf mbak,"
Zea pun pasrah dan Keano sudah ada di hadapannya, Keano menatap tajam Zea, tapi Zea tak takut sama sekali.
"Ikut aku," ucap Keano menarik lengan Zea.
"Lepas, sakit tau." Protes Zea.
Keano tidak peduli dengan protes Zea, dia terus menarik Zea menuju mobil kemudian memasukan Zea dengan kasar.
Saat melihat Keano dan Zea sudah jauh, Melani dengan segera masuk ke ZeZone atau cafe. Dia yakin Auriga sudah ada di salah satu tempat itu, pucuk di cinta ulam pun tiba, Auriga baru keluar dari ZeZone.
"Ka Riga," teriak Melani.
Auriga pun menoleh, dan melihat Melani berlari.
"Ada apa Mel?" tanya Auriga, saat Melani sudah dekat.
"Ka, tadi mbak Zea di seret paksa sama ka Keano," ucapnya terengah.
"Apa?" pekik Auriga.
"Sekarang mereka dimana?"
"Mereka sudah pergi ka, aku gak tahu mau di bawa kemana,"
"Sial!! Kenapa kamu gak lapor lewat ponsel," teriak Auriga.
Dengan panik Auriga, menghubungi nomor Zea. Aktif namun tak di angkat.
"Zea angkat... Ayo angkat," ucapnya panik.
Auriga pun menghubungi Jimi, dan memberitahu bahwa Zea dan Keano dalam masalah.
"Segera cari mereka," titah Jimi.
Auriga pun mengakhiri panggilan dengan Jimi, kemudian melajukan mobilnya mengikuti GPS dari ponsel sang adik.
Di dalam mobil, terjadi perdebatan antara Zea dan Keano.
"Turunkan aku Keano," pinta Zea.
"Tidak sebelum kita menyelesaikan masalah kita,"
"Apa lagi? Apa lagi yang mau kamu bahas dan di selesaikan? Turun kan aku, sekarang juga atau aku lompat," ancam Zea.
"Jangan macam-macam, kamu Zea." Bentak Keano.
"Selesaikan dulu urusan hati mu, yang belum selesai dengan wanita lain. Setelah itu kamu urus masalah kita," ujar Zea.
"Baik, aku akan temui Yumna dan menyelesaikan semua masalah hati ku," ucap Keano datar.
"Sekarang turunkan aku, sebelum semuanya selesai jangan pernah temui aku."
"Zea,"
"Keano pleas, aku lelah."
Keberuntungan berpihak pada Zea di depan lampu merah, dan Zea akan memanfaatkan untuk kabur dari Keano. Saat Keano lengah, Zea pun turun dengan tergesa.
"Zea kau,"
Keano pun menyusul Zea, dan berteriak memanggil Zea. Sayang Zea yang tak melihat ada motor tertabrak dan terpental jauh.
"Zea," teriak Keano.
Keano pun berlari menghampiri Zea, darah mengalir dari kepala dan hidung.
"Ya Tuhan, Zea. Bertahanlah," ucap Keano.
Keano mengangkat tubuh Zea dan membawanya ke arah mobilnya, yang menyebabkan kemacetan. Dengan kecepatan tinggi Keano membawa Zea ke rumah sakit, setelah sampai Keano berteriak memanggil perawat.
"Suster tolong, istri saya."
Zea pun di bawa ke UGD, dan di lakukan penanganan dengan segera. Tak lama Auriga pun sampai di rumah sakit dimana Zea di bawa.
"Apa yang terjadi?" tanya Auriga mengagetkan Keano.
"Dia tertabrak, maafkan gue yang gagal jaga dia," sesal Keano.
Tanpa di duga Auriga menghajar Keano, membuat Keano terhuyung kebelakang. Auriga memegang kerah kemeja Keano, kemudian menghajar lagi.
"Emang sialan lo, gue udah percayakan adik gue sama lo!!" teriak Auriga.
Perawat pun mencoba memisahkan mereka.
"Tolong panggil keamanan," teriak perawat laki-laki.
"Mas sudah, jangan buat keributan." Lerai Perawat lelaki yang lain.
"Sialan," umpat Auriga, melepaskan Keano. Yang sudah babak belur di wajah dan bibirnya pun mengeluarkan darah.
Keano di bantu perawat perempuan, dan di bawa keruang rawat untuk di rawat lukanya. Ponsel Auriga berdering dia sudah tahu bahwa Jimi yang menghubunginya.
"Ya, dad."
"Kamu dimana?" tanya Jimi di sebrang telepon.
"Aku di rumah sakit dad, Zea kecelakaan." ujar Auriga.
"Apa?" pekik Jimi.
"Daddy tenang saja, Zea sedang di tangani Dokter, sudah dulu dad. Ada Dokter,"
Tanpa menunggu jawaban dari Jimi, Auriga mematikan sambungan teleponnya.
"Bagaimana, keadaan adik saya. Dok?" tanya Auriga.
"Pasien mengalami, benturan yang keras di daerah kepala dan mendapat jaitan, mungkin nanti jika dia sadar bisa di Rongent. Selebihnya baik tidak ada patah tulang, hanya memar di bagian tubuhnya." Jelas Dokter.
"Syukurlah, terima kasih. Dok,"
"Sama-sama, saya permisi," pamit Dokter, dan di jawab anggukan Auriga.
Auriga menghembuskan nafasnya secara kasar, dia memberitahu Jimi bahwa Zea baik-baik saja. Dan Jimi berjanji akan melihat Zea setelah semuanya beres, Jimi memejamkan matanya rasa sakit hati sang anak terluka membuatnya marah.
"Cari dia, dan bawa ke hadapan saya," titah Jimi pada anak buahnya.
"Baik tuan,"
"Jauh pun kamu masih membuat masalah untuk anak ku, mungkin aku akan memberi pelajaran pada anak kesayangan Mario," gumam Jimi tersenyum licik.
Kebenciannya pada Dania dan Mario, membuatnya ingin membalaskan dendam pada anak Mario. Jika Yusra tidak bisa dia sentuh, maka Jimi menyasar Yumna, dia akan memberikan peringatan kecil pada Keano agar tak menyakiti anaknya terus.
tbc...
Maaf typo
Semoga suka, jangan lupa tinggalkan jejak ya, Jangan lupa ramaikan cerita ku yang lain ya yg berjudul 'Still Love You' Makasih 🙏