
Dengan langkah tergesa, Mario berjalan meninggalkan ruangannya. Jimi yang melihat itu pun hanya mengabaikannya saja, tujuan Mario kini hanya satu rumah sakit tempat ibunya Laura di rawat.
Berpuluh menit kemudian, Mario sudah sampai dia menyusuri lorong untuk sampai di ruang rawat ibunya Laura. Dengan kasar Mario membuka pintu tersebut membuat Laura dan nyonya Anjani begitu terkejut.
"Mario," gumam Laura.
"Aku ingin bicara," ucapnya datar dan dingin.
Setelah mengatakan itu Mario keluar terlebih dulu.
"Ibu aku keluar sebentar," pamit Laura pada nyonya Anjani.
Laura pun keluar dari ruangan ibunya, dia melihat Mario yang tengah duduk di kursi besi yang tak jauh dari ruangan ibunya di rawat.
"Jelaskan," ucap Mario setelah Laura ada di hadapannya.
"Apa maksudmu?" tanya Laura tidak mengerti.
"Jelaskan siapa itu Yumna!?"
Laura membulatkan matanya, lidahnya kelu dia tidak bisa berkata-kata.
"Di--dia..."
"Siapa dia?" tanya Mario dengan dingin, dengan tatapan tajamnya.
Sebelum Laura menjawab, suara mengintrupsi mereka berdua Laura dan Mario pun menoleh pada sumber suara dan mendapati Yumna tak jauh dari mereka.
Yumna mendekati Laura dan Mario.
"Ada apa,bu?" tanya Yumna.
"Tidak ada apa-apa sayang, sebaiknya kamu temani oma di dalam yah," pinta Laura.
"Tidak, kamu tetap disini Yumna. Ada suatu hal yang harus kamu ketahui," sahut Mario.
"Hal apa?apa yang ibu sembunyikan dari ku?" tanya Yumna penasaran.
"Kamu atau aku yang memberitahukannya pada Yumna?"
Laura memejamkan matanya, mungkin inilah saatnya Yumna mengetahui semuanya. Jika dia memiliki seorang ayah dan adik.
Laura menatap Mario, dengan wajah memelas. Tapi sayang untuk saat ini Mario tidak akan luluh dengan wajah memelas Laura, dia harus membeberkan fakta yang sebenarnya.
"Yumna dulu saat kamu masih kecil, kamu sering bertanya dimana ayah mu kan?"
Yumna pun menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Hari ini ibu, akan memberitahukannya pada mu siapa ayahmu."
Yumna terus memperhatikan ibunya, sejujurnya dia tidak lagi ingin tahu di mana dan siapa ayahnya saat ini, hanya dengan oma, nenek Tiah, ibunya dan Keano pun cukup untuk dirinya.
"Dia ayah mu Yumna," tunjuk Laura pada Mario.
Yumna menatap Mario dengan perasaan entahlah, dia pun tidak bisa mengartikannya. Yumna hanya tersenyum tipis kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ruangan nyonya Anjani.
"Yumna." Panggil Laura, namun Yumna menghiraukannya.
Mario yang melihat itu pun begitu kecewa, Mario menatap punggung Yumna.
"Maafkan Yumna Mario, dia butuh waktu untuk menerima semuanya. Aku akan memberitahukan padanya secara pelan-pelan," ujar Laura.
"Kenapa kamu tidak memberitahukannya padaku?kamu tidak menganggap ku Laura." Bentak Mario, dia begitu kecewa pada Laura.
"Apa aku tidak salah dengar Mario, aku tidak menganggapmu begitu?bukankah kamu yang selalu mengabaikan aku Mario, kamu selalu bersama Dania," lirih Laura menahan emosinya.
"Kamu tidak pernah tahu kesusahan ku saat aku mengandung anak mu, kamu hanya datang saat kamu ingin. Ya aku tahu, bahwa aku istri yang hanya melahirkan anak untukmu," Lanjut Laura lagi, yang sudah tak bisa menahan air matanya.
Sementara Mario dia hanya diam memperhatikan Laura, dia sadar kesalahannya selama ini. Dia menyesal terlalu di butakan oleh cintanya pada Dania.
"Laura maafkan aku," lirih Mario.
"Aku ingin sekali tidak memaafkan mu Mario, tapi aku masih memiliki hati."
Tanpa mereka sadari Yumna mendengarkan perdebatan Laura dan Mario dari jauh, dia mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
"Jadi laki-laki yang bernama Mario itu ayah ku?" gumam Yumna.
Dia berdiri dan masuk kedalam ruangan nyonya Anjani dengan senyum hangatnya, Yumna tidak ingin menunjukan bahwa dia tidak baik-baik saja. Yumna tidak ingin sang oma curiga.
💞💞💞
Sementara itu di kediaman Wina, Yusra yang sudah selesai membantu Wina mencuci piring dan membereskan dapur. Dan memutuskan untuk pulang.
"Kamu yakin gak mau nginap, sayang?" tanya Wina.
"Enggak, tan lain kali aja," balas Yusra.
"Ya sudah kalo gitu, tiap hari ke rumah tante yah. Biar tante gak kesepian," ucap Wina memeluk Yusra.
Yusra tersenyum dia sangat bersyukur bisa di sayang oleh ibunya Hito.
"Iya tante, aku janji bakal main ke rumah tante jika senggang."
"Hito anterin Yusra pulang," perintah Wina.
Hito menghembuskan napasnya secara pelan.
"Baik mah," sahut Hito.
Yusra yang melihat perubahan dari diri Hito pun merasa curiga, Hito mengantar Yusra pulang dengan motor kesayangannya.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai, di halaman rumah Yusra.
"Terima kasih."
Hito pun hanya mengangguk tanpa melihat Yusra.
"Aku pulang," pamit Hito.
"Kamu berubah," lirih Yusra.
Setelah puas menatap Hito yang tak terlihat lagi, Yusra masuk kedalam rumahnya dan berjalan gontai menuju kamar.
Rumah besar tersebut terasa sepi, semua pelayan sedang berada di belakang sibuk menyiapkan makan malam. Di saat seperti ini Yusra ingin lama-lama berada di rumahnya Wina.
💞💞💞
tbc..
Maaf typo
Jangan lupa vote dan komen makasih 🙏
Jangan lupa bunganya 🌹🌹🌹