Twin'S

Twin'S
Sebuah Rencana 1



Yusra dan Hito, sudah sampai di halaman rumah Laura. Yusra terdiam di tempat membuat Hito bingung.


"Kenapa gak turun?" tanya Hito.


"Aku takut,"


"Takut kenapa?"


"Dulu aku sempat menolak datang ke sini, tapi sekarang aku ada disini." ujar Yusra.


"Memang kenapa? Sudah jangan takut dan jangan khawatir, aku yakin tante Laura pasti senang." Hito berusaha memberikan kata-kata yang baik pada Yusra.


Agar Yusra tidak merasa tertekan atau bersalah.


"Ya udah ayo kita turun, biar aku yang bawa oleh-oleh buat mereka."


Hito membuka pintu mobil, kemudian dia membuka pintu untuk Yusra. Saat Hito mengambil dua kotak kue brownies viral dan kotak besar pizza.


"Ayok, kok malah bengong sih!!"


Hito pun berjalan lebih dulu, Yusra mengekor Hito di belakang. Yusra mengetuk pintu dengan keras, kemudian dia bersembunyi di belakang Hito kembali. Membuat Hito menggelengkan kepala saja, akan tingkah Yusra.


"Kalian, ayok masuk," ajak Yumna, membuka lebih lebar pintu.


Hito pun masuk, namun Yusra hanya diam dan menunduk.


"Masuklah Yusra," pinta Yumna.


Yumna pun merangkul Yusra, yang hanya diam saja. Membawanya ke ruang tamu dimana sudah ada Anjani di sana.


Hito dan Yusra menyalami Anjani secara bergantian, Anjani menyuruh Yusra duduk di dekatnya. Sementara itu Yumna sedang berada di dapur dan membuatkan tamu mereka minum.


"Kamu begitu mirip dengan putri ku nak," ucap Anjani membelai pipi Yusra.


Yusra hanya tersenyum mendengar perkataan Anjani.


"Benarkan... Benarkah, aku mirip ibu," batin Laura.


"Iya, mungkin lima puluh persen Laura, lima puluh persen Yumna," kekeh Anjani.


Membuat Hito dan Yusra tertawa.


"Silahkan di minum," ucap Yusra menyimpan tiga gelas teh hangat.


"Ou yah, hampir lupa. Ini oma,"


Hito menyerahkan bingkisan kue dan pizza yang dia bawa, Anjani menerimanya dan menyerahkan pada Yumna.


"Kamu merepotkan nak, seharusnya oma yang menyuguhi mu," kata Anjani.


"Tidak repot ko, oma. Tadi sekalian kita pulang dari kampus," jelas Yusra.


"Loh!! Aku kira kalian cuti, masih ke kampus?" sahut Yumna, dari arah dapur membawa kembali kue yang sudah di pindahkan.


"Hito jahat sama aku, dia ngajuin cuti cuma dua hari," adu Yusra pada Yumna dan omanya.


Anjani hanya geleng-geleng kepala saja, sedangkan Yumna tertawa.


"Aku nanti bakal ajuin cuti buat bulan madu," celetuk Hito.


"Tapi setelah Yumna nikah," sahut Yusra.


"Kok aku sih, kalian ini ada-ada saja," kesal Yumna.


Saat mereka sedang asik bercanda, tiba-tiba Laura datang dengan membawa dua kantung belanjaan untuk beberapa hari. Laura terkejut saat masuk kedalam rumah, tadi saat di depan dia tidak melihat mobil milik Hito. Karena asik melamun.


"Loh!! Ada tamu, sejak kapan kalian disini?" tanya Laura menyerahkan barang belanjanya pada Yumna, dia ikut duduk dan dengan segera Hito mencium punggung tangan Laura.


Sedangkan Yusra, hanya diam menunduk. Hito yang melihat itu pun menyenggol Yusra, memberikan isyarat agar mencium punggung tangan Laura.


Saat Yusra akan beranjak.


"Sebaiknya aku ke kamar dulu bu, aku lelah," ucap Laura, membuat Yusra duduk kembali.


Yumna yang melihat itu pun, hanya menghela nafas kasa. Dan Hito mengusap tangan Yusra mencoba menguatkannya, Yusra mencoba untuk tak menangis dan dia mencoba untuk menahan air matanya.


"Kamu bicara sama ibu aja di kamar, siapa tahu ibu bakal luluh," ujar Yumna setelah duduk di dekat adiknya tersebut.


"Apa boleh?" tanya Yusra.


"Boleh, aku gak akan cemburu ko." Yumna tersenyum menatap Yusra yang mengangguk.


Yusra memutuskan untuk berbicara dengan sang ibu, dan meminta maaf atas semua kesalahannya.


Saat di depan pintu, Yusra ragu mengetuk pintu kamar Laura.


Yusra menghembuskan nafasnya, menghalau rasa gugup


"Kamu pasti bisa," gumamnya.


Yusra pun mengetuk pintu kamar Laura, tak butuh waktu lama. Laura membuka pintu kamar tersebut, dengan wajah datarnya Laura mempersilahkan Yusra masuk.


Saat sudah di dalam, rasa gugup Yusra belum juga sirna. Dia berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Maafkan aku ibu," ucap Yusra lirih sambil menunduk.


Laura menatap Yusra dengan tatapan penuh kerinduan itu yang Yusra tangkap.


"Aku sudah menyakiti mu, sejujurnya aku merindukan mu sejak lama. Maafkan aku bu," pinta Yusra lagi.


Laura memeluk Yusra. "Kamu tidak salah, ibu yang salah. Ibu tidak pernah menemui mu, karena itu janji ibu pada ayah mu." Jelas Laura.


"Tapi aku sudah berkata kasar pada mu, saat itu bu,"


"Sudahlah Yusra, ibu memaafkan mu. Sejahat apa pun anak, ibu pasti selalu memaafkan anaknya," papar Laura, memeluk Yusra yang terisak.


"Nak, cinta ku pada mu lebih kuat dari besi dan kasih ku padamu lebih lembut dari pada bulu." Lanjut Laura.


Laura mengusap pipi Yusra, Tuhan memang adil saat dia bersama Yumna yang ada mirip-miripnya dengan Mario. Sedangkan Mario bersama Yusra yang ada mirip dirinya.


Lega itu yang Yusra rasakan, ternyata Hito benar ibunya ini memang baik. Bahkan mungkin dulu saat dirinya bayi, Laura merasa berat untuk memberikan salah satu dari mereka.


"Sudah ayo kita, keluar mungkin mereka sudah menunggu,"


"Iya bu,"


Laura dan Yusra pun keluar, Laura memegang tangan sang anak. Yumna yang melihat itu pun tersenyum tipis, dia tidak akan cemburu pada Yusra.


" Udah baikan nih," goda Yumna.


Laura dan Yusra pun mengangguk secara bersamaan, dan Yumna mengacungkan jempolnya.


****


Sementara itu Jimi, yang sudah di bebaskan secara bersyarat hanya bisa melamun di balkon kamarnya. Hidupnya berantakan, walau sekarang anaknya bahagia. Terlalu sayangnya terhadap sang anak, membuatnya tak suka jika Zea terluka.


Selama di penjara saat itu, Zea tidak tahu bahwa Jimi ada di penjara. Auriga selalu beralasan bahwa Daddy mereka sedang berada di luar kota, dan Zea percaya.


"Dad," panggil Auriga.


"Daddy akan meninggalkan kota ini, kamu dan Zea hiduplah dengan tenang dan akur." Papar Jimi, tanpa menatap Auriga.


"Tapi daddy akan kemana?"


"Entahlah daddy tidak tahu, mungkin ke rumah kakek nenek mu. Daddy akan mengontrol perusahaan dari jauh saja, sisanya biar kamu dan Zea yang handel," jelas Jimi.


"Baiklah dad, apa pun itu. Aku mau kau bahagia," ucap Auriga.


Auriga tahu bahwa Jimi, terlalu melindungi mereka berdua terutama Zea terlalu protektif. Dan dia akan memberikan waktu untuk Jimi menenangkan dirinya karena masalah kemarin.


"Kapan daddy berangkat?"


Jimi menatap Auriga, dan mengajaknya untuk duduk.


"Mungkin besok, sebelum pergi daddy akan ketemu dulu dengan adik mu."


"Iya temui lah dia dad, dia merindukan mu. Bahkan saat dia di rumah sakit, sekarang rumah tangganya sudah baik-baik saja."


Jimi hanya menganggukan kepala sebagai jawaban, kemudian dia dan Auriga berbincang tentang usaha yang mereka jalankan.


Semua usaha yang Auriga dan Zea jalankan aman, dan bahkan berkembang. Jimi pun sangat bangga pada Auriga.


****


Sedangkan Dania dia memutuskan untuk pergi ke makam sang anak, dan disinilah Dania sekarang di makam sang anak. Dia enggan meninggalkan makam kecil tersebut, Dania tidak tahu apa jenis kelamin anaknya tersebut. Sebab Mario tak pernah memberitahukannya, sedangkan dulu saat pemeriksaan dia selalu tak ingin tahu.


Dan pada saat itu yang mengurus pemakaman pun Jimi yang di tugaskan, karena Mario terus menemani Dania. Walau Dania tahu, Mario juga terpukul atas kehilangan anak mereka.


"Nak sayang, ini mami. Mungkin kamu sudah bahagia di sana," lirih Dania, mengusap nisan yang bertuliskan nama Mario saja.


"Maafkan mami nak, gara-gara mami kamu pergi. Seharusnya kamu ajak mami saja waktu itu, agar mami tidak merasakan sakit dan juga rindu."


Dania menangis di makam sang anak, dia terus memeluk nisan tersebut. Dan berulang kali meminta maaf, atas kesalahannya yang membuat anaknya pergi.


tbc....


Maaf typo dan semoga suka


Jangan lupa tinggalkan jejak komen juga boleh ka, makasih 🙏