
Setelah kejadian itu, yang membuat Anyelir sedikit takut dan malamnya dia di datangi oleh Jenny. Membuatnya enggan keluar dari kontrakannya, jika bukan karena tuntutan pekerjaan dan kebutuhan perut. Dia ingin mengurung diri di kamar.
Tok!
Tok!
Tok!
Dengan segera Anyelir membuka pintu, setelah pintu terbuka dan...
Plak!
Anyelir merasakan nyeri di pipinya, mungkin saat ini pipinya sudah memerah. Dan dia sedikit terhuyung.
"Bukankah, aku sudah memperingati mu? Lalu apa ini?" Jenny menunjukan ponselnya, tepat di depan Anyelir.
Anyelir membulatkan kedua matanya, dan menggeleng.
"Ini tak seperti yang kamu lihat," kata Anyelir membela diri.
"Tak seperti yang aku lihat? Lalu seperti apa?" teriak Jenny.
Tetangga sekitar kontrakan Anyelir mendengar teriakan Jenny, namun mereka di suruh masuk kembali oleh bodyguard Jenny.
"Kamu menggodanya? Kamu tahu, tadi siang tuan Mario sudah menyetujui hubungan ku dengan Dika," ucapnya dengan senyum sinis.
Sakit! Itulah yang Anyelir rasakan, dulu orang tua Dika juga menyetujui hubungannya dengan Dika. Tapi sekarang semudah itu mereka berubah.
"Tidak mungkin," lirih Anyelir.
"Kenapa tidak mungkin? Memangnya tuan Mario mau, mempunyai menantu seperti mu?" cibir Jenny menatap Anyelir dari atas ke bawah.
"Dasar miskin," hina Jenny.
Anyelir pun merasakan tatapan meremehkan dan hinaan Jenny, namun dia bisa apa sekarang? Maka satu-satunya, dia akan pergi dari kota ini. Memulai hidupnya yang baru.
"Aku peringatkan sekali lagi pada mu, jangan pernah lagi deketin Dika. Mengerti?"
Tanpa menunggu jawaban Anyelir, Jenny pun keluar dari kontrakan Anyelir dan di ikuti kedua bodyguardnya.
Lamunan Anyelir buyar saat tak sengaja, supir bus memutar lagu Tertawan Hati. Dia mendengarkan setiap lirik lagunya, seperti menceritakan kisah dirinya dengan Dika.
Dia ingin bertahan namun dia tak bisa, namun dia pun sadar bahwa perbedaan dirinya dan Dika begitu kentara. Padahal Laura pun tak melihat Anyelir serendah itu, dan dia pun tak ingin kehilangan namun lelah untuk berjuang. Jenny terlalu kuat, padahal bisa saja Anyelir mengadu pada Dika, tapi dia bukan perempuan yang suka mengadu.
Anyelir menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, dia menatap kosong ke depan. Tadi pagi dia sudah menemui Manager cafe, dan memberikan surat pengunduran diri. Memulai hidupnya yang baru.
"Maafkan aku Dika, aku sungguh mencintai mu. Tapi aku sadar siapa aku dan siapa kamu! Kita layaknya dua orang yang berbeda, kamu pangeran sedangkan aku. Upik abu yang bermimpi jadi Cinderella." Gumam Anyelir tersenyum, tapi air matanya mengalir begitu saja.
***
Hari ini hari pertama Dela menginjakan kaki ke rumah yang Auriga beli, dia di sambut antusias oleh Lula dan Ara. Juga Jimi dan Zea beserta keluarga.
"Welcome home, bunda." Seru Lula, Ara dan Manda.
Ara pun langsung berlari menuju Dela, dan memeluk erat.
"Akhirnya bunda pulang juga, ayah jahat. Malah gak ajak aku," protes Ara, membuat Auriga terkekeh.
"Maaf ya sayang," mohon Auriga.
"Ayok masuk, kasian loh! Bunda sama ayah kalian, masa mau berdiri terus," kekeh Zea.
Dela dan Auriga pun masuk bersama ke rumah baru mereka, rumah yang akan menjadi saksi perjalanan rumah tangga Dela dan Auriga.
Zea memeluk Dela.
"Selamat datang, kakak ipar." Goda Dela.
"Rasanya gimana gitu, kalo punya adik ipar seumuran bunda Yumna." Kekeh Dela.
"Gak gimana-gimana sih, kamunya aja jodohnya om-om," cibir Zea, membuat Dela tertawa dan menatap Auriga.
"Ayok makan dulu, aku sudah siapin masakan spesial untuk kalian." Ujar Keano.
"Wahh... Ka Keano bisa masak yah? Keren." Puji Dela.
"Aku juga bisa masak sayang," protes Auriga tak terima.
"Sudah-sudah, ayok makan. Anak-anak duduk dan jangan bercanda," tegas Jimi.
"Baik Opah," seru gadis-gadis kompak.
"Tinggal tambah cowok dua bisa nih," goda Zea, membuat Dela tersipu malu.
"Doakan saja ka," balas Dela.
Mereka pun makan siang bersama, untuk pertama kalinya. Jimi melihat senyum Lula dan Ara yang ceria, Jimi bersyukur atas apa yang dia dapat hari ini, esok dan seterusnya.
****
"Masuk," sahut Dika dari dalam.
"Pak Dika, ada nona Jenny di lobby," Beritahu Mona pada Dika.
"Bilang aku sibuk, hari ini ada kelas." Kata Dika, tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop.
"Baik pak,"
Mona pun keluar dari ruangan Dika, Dika memang tidak bohong hari ini ada kelas. Tapi dia akan melakukan kelas dari kantornya, tak lama terdengar keributan di luar membuat fokus Dika terbagi.
"Ada apa?" tanya Dika setelah keluar.
"Maaf pak Dika, nona Jenny memaksa dan langsung ingin masuk." Ujar salah satu keamanan.
Dika menghembuskan napasnya secara kasar, dia menatap Jenny dia tahu Jenny bukan tipe orang yang pasrah.
"Sudah lepaskan, biarkan dia masuk."
"Baik tuan,"
Jenny tersenyum sinis menatap dua penjaga keamanan tersebut, dia pun mengikuti Dika yang sudah masuk ke dalam.
"Lain kali, kalau mau bertemu. Buat janji terlebih dulu kamu tahu aku sibuk," ucap Dika datar.
"Maaf Dika, tapi aku ingin ketemu kamu. Mau ajak makan siang," katanya antusias.
Dika menaikan alisnya, dan menatap jam di ponselnya baru menunjukan pukul sembilan.
"Baru juga jam sembilan," gerutu Dika.
"Kalau mau minum, minta saja pada Mona."
"Iya," balas Jenny.
Dika pun kembali sibuk dengan pekerjaannya, jam setengah sembilan nanti dia ada zoom kelas. Dia menatap Jenny yang sibuk dengan ponselnya.
"Kaya gak ada kerjaan saja, katanya artis sibuk tapi malah datang nemuin cowok." cibir Dika dalam hati, menatap Jenny. Jika ada Dela jiwa julid Dika dan Dela akan menyatu membuat orang di sekitarnya menjadi muak dan kesal.
"Andai Dela belum nikah, pasti dia gak akan deket-deket sama gue. Duh... Del, gue jadi kangen lo."
Dika terus saja membatin sambil melirik Jenny, dia pun memutuskan untuk mengirim pesan pada Dela.
"Del, gue kangen nih." (Selingkuhan tersayang lo)
Dika tertawa sendiri dengan tulisan yang dia ketik, Dika yakin Auriga pasti bakal salah paham.
Sementara itu Dela yang baru keluar dari kamar anak-anak yang tidur siang, dia pun mendapat pesan dari Dika dan membacanya.
"Dasar uncle rese, pengen nabok aja rasanya." Gumam Dela membaca pesan Dika.
Sebuah tangan melingkar di perutnya, siapa lagi kalau bukan Auriga pelakunya. Auriga menatap ponsel Dela.
"Siapa? Kamu selingkuh?"
Dela mencubit lengan Auriga, dan memperlihatkan foto orang yang chat dengannya.
"Dika."
Jimi dan Zea sudah pulang, dan Auriga pun membawa Dela ke kamar mereka. Auriga membawa ponsel Dela yang akan membalas pesan Dika.
"Jangan terus menatap ponsel, aku cemburu." Protes Auriga, Dela tersenyum menatap Auriga.
"Gimana? Suka gak kamarnya?" tanya Auriga, yang masih setia memeluk Dela.
"Suka banget,"
Dela menatap sekeliling kamar yang lumayan luas, balkon kamar yang terdapat kursi untuk bersantai di sana. Terdapat juga ayunan yang cukup untuk Auriga dan Dela, tak lupa meja rias dan sofa di sudut ruang.
Auriga membalikan tubuh Dela, dan menciumnya dengan lembut.
"Jangan bilang mau lagi," tebak Dela, membuat Auriga tertawa.
"Tau aja, tes kasur baru lah." Goda Auriga, tanpa banyak kata Auriga langsung mendorong Dela.
"Aku ingin cepat punya anak laki-laki," ucapnya mencium perut Dela yang masih rata. "Semoga saja, sudah ada yang tumbuh." Lanjutnya lagi penuh harap.
Siang itu Dela dan Auriga melakukan perjalanan meneguk manisnya madu, sementara Dika sudah menekuk wajahnya karena Dela tak membalas pesannya.
"Menyebalkan Dela ini, masa aku curhat sama Maira sih." Omel Dika.
Semoga suka 💞
Maaf typo
Sayang banget kalo mau benar-benar tamat 🤧