
💞💞💞
Laura dan Mario telah sampai di apartemen milik Mario, Laura menatap ke sekeliling. "Kenapa kita ke sini ?" tanya Laura ketus.
Mario tersenyum, dia tidak menjawab pertanyaan Laura, tapi langsung turun dan membuka pintu penumpang. Dengan terpaksa Laura pun keluar, dan mengenggam tangan Mario. Debaran di hatinya muncul lagi setelah sekian lama hilang. Mereka berjalan beriringan menuju lift, yang akan membawa mereka ke lantai unit Mario.
Sesampainya di sana, Mario membuka pintu dan menyuruh Laura masuk terlebih dulu. Laura menelisik setiap sudut apartemen. "Masih sama, tidak ada yang berubah." Gumam Laura.
"Jelas, karena aku tidak mengizinkan orang lain masuk ke sini. Ya kecuali orang yang aku suruh untuk bersih-bersih." Kekeh Mario, melangkahkan kakinya menuju dapur.
Laura mencebik. "Kenapa kau membawa ku ke sini ?"
"Aku merindukanmu, dan ingin menghabiskan waktu dengamu." Jelas Mario. "Apa kamu tidak ingin tau, keadaan putri kita ?" lanjutnya lagi.
"Yusra." Lirih Laura. "Bagaimana, dia sekarang ?pasti tumbuh menjadi gadis cantik." Senyum Laura terbit setelah membanyangkan, putri kembar yang terpisah darinya.
"Dia baik-baik saja, dia sangat cantik. Saat dia kecil di mirip denganku, tapi saat dia beranjak remaja dia lebih mirip denganmu." Terang Mario, menatap Laura yang sedang menatapnya.
Laura buru-buru mengalihkan pandangannya, dia tidak ingin lagi luluh dengan tatapan mata Mario.
"Lalu, bagaimana dengan Dania ?apa dia menyayanginya ?" tanya Laura.
"Dania.." Mario menggantung ucapannya, dia bingung ingin menjawab apa.
"Kenapa ?jawab saja."
"Dia tidak menyayangi, Yusra. Sikapnya selalu saja dingin, dan terkesan cuek." Jelas Mario, membuat Laura membelalakan kedua netranya.
"Jika kalian tidak bisa menyayanginya, maka kembalikan saja padaku." Ketus Laura, bagaimana dia siang malam merindukan Yusra.
Terkadang dia mengabikan Yumna. "Aku harus segera pulang, Mario ini sudah terlalu sore. Ibuku sedang sakit dan di rumah tidak ada siapa-siapa." Tutur Laura, mulai beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi kamu, belum minum."
"Tidak apa-apa, lain kali saja." Ucap Laura.
"Ya sudah, aku antar." Tawar Mario, dan Laura menganggukan kepalanya.
💞💞💞
Yumna dan Keano sudah sampai, di kediaman Yumna. "Mau mampir dulu ?!" tawar Yumna.
"Baiklah," putus Keano.
Saat Yumna, dan Keano memasuki rumah, tampak rumah masih gelap. "Dimana, tante Laura ?" tanyanya pada Keano.
Membuat Yumna mencebik. "Kamu lupa, seharian ini aku sama kamu." Jawab Yumna, membuat Keano terkekeh.
Yumna membuka pintu yang tidak terkunci, dan melihat sang oma tergeletak di lantai dengan air yang tumpah, dan gelas pecah.
"Ya Tuhan, oma." Pekik Yumna.
Yumna berlari menghampiri, nyonya Anjani. "Oma..oma, oma bangun. Oma ini aku Yumna. Ano gimana ini ?" Bingung Yumna.
Keano mengangkat tubuh nyonya Anjani, setelah Yumna menutup pintu dia menyusul Keano dan duduk di kursi belakang memangku nyonya Anjani.
"Oma bangun." Ucap Yumna cemas.
"Sebaiknya, kamu telpon mamahmu Na." Pinta Keano.
Yumna mencoba menghubungi Laura, tapi tidak ada jawaban dari nya. Hingga panggilan ke dua Laura mengangkat panggilan dari Yumna, dan memberitahukan semuanya. Laura di sebrang sana panik luar biasa.
"Gimana ?" tanya Keano.
"Mamah lagi di jalan, aku gk tau dia dari mana." Jawab Yumna.
Beberapa menit kemudian, mobil Keano sudah sampai di depan unit gawat darurat. Dia langsung membawa nyonya Anjani, setelah mendapat penanganan dari dokter dan mengatakan bahwa nyonya Anjani baik-baik saja. Nyonya Anjani di pindahkan ke ruang rawat.
"Keano, jangan VIP." Bisik Yumna. "Pasti mahal, gak apa-apa kelas 3 juga." Lanjutnya lagi.
Keano tidak menjawab dia membayar adminstrasi nyonya Anjani. "Sudah jangan pikirkan, kamu tenang saja. Aku akan membantumu." Tutur Keano, membuat Yumna tersenyum.
Setelah selesai melakukan pembayaran, mereka menemui nyonya Anjani yang sudah sadarkan diri.
"Oma." Panggil Yumna, dan menghampiri nyonya Anjani. "Bagaimana keadaan oma ?ada yang sakit ?" tanya Yumna, lembut.
Nyonya Anjani tersenyum hangat, dan membelai wajah cucu satu-satunya. "Tidak ada, tadi oma pusing dan gelasnya jatuh." Terang nyonya Anjani.
"Tidak apa-apa oma, yang penting oma baik-baik aja. Gak ada yang terluka yah." Ucap Yumna.
Keano yang melihat interaksi hangat antara, cucu dan nenek tersebut membuatnya merindukan neneknya yang sudah tiada.
"Nak Keano, terima kasih sudah menolong oma." Ucap nyonya Anjani membuyarkan lamunan Keano.
"Santai aja oma, aku kan calon cucu mantu oma." Goda Keano. "Oma cukup doain aku, dan Yumna jadi pasangan. Sampai oma punya cicit." Lanjut Keano.
Dan nyonya Anjani mengaminkannya, saat mereka asik berbincang pintu terbuka dengan kasar.
"Ibu." Pekik Laura, Laura memeluk nyonya Anjani erat. "Maafkan aku bu, kalo aku gak keluar mungkin ibu gak akan masuk rumah sakit." Sesal Laura.
"Sudah lah mah, oma baik-baik aja kok." Sahut Yumna cepat.
Yumna menatap pria dewasa yang sedang berdiri di ambang pintu, yang sedang menatap oma dan mamah nya.
"Maaf om siapa ?" tanya Yumna, membuat Laura sadar bahwa dia tak datang sendiri melainkan bersama Mario.
"Saya..."
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa komen, dan like. Makasih 🙏