Twin'S

Twin'S
Pengumuman




Tak terasa waktu sudah menunjukan jam pulang kerja, Feli bersiap-siap untuk pulang setelah menanyakan apa Gemy akan pulang langsung atau tidak?


"Gem, loe mau langsung pulang ?atau gimana?" tanya Feli, pada Gemy yang sedang membereskan berkas-berkas di meja.


"Gue mau jemput Anisa, lo pulang aja bentar lagi gue keluar ko." Jawab Gemy, dan Feli mengangguk.


"Ya udah kalo gitu, gue pulang duluan yah, bye." Pamit Feli pada Gemy, dan keluar dari ruangan Gemy. Dan menekan lift menuju lantai satu. Feli akan langsung ke tempat biasa dia dan Yudis bertemu.


Saat masuk mobil, Feli mengirim pesan pada Yudis bahwa dia sedang berada dalam perjalanan. Feli melaju meninggalkan halaman kantor di dalam perjalanan, Feli ditemani oleh musik yang di putar di mobil nya lewat bluetooth.


Berpuluh menit kemudian, Feli sudah sampai dan memarkirkan mobilnya, kemudian turun dan berjalan ke arah taman. Taman yang sering di datangi oleh Yudis dan Feli di akhir pekan.


Feli duduk di tempat biasa sambil memandangi anak-anak yang tengah bermain sore. Feli tersenyum membayangkan dirinya memiliki anak kecil yang berlari dan memanggilnya mamah.


Tak lama Yudis pun datang, dan menyapa Feli.


"Sudah lama?" tanya Yudis.


"Belum," jawab Feli sambil tersenyum manis, senyum yang selalu meluluhkan hati Yudis.


Hingga beberapa menit mereka hanya diam, menatap lurus ke depan. 


"Tumben ngajak ketemuan, ada apa?" tanya Feli membuka suara terlebih dulu. Feli sudah berubah tak pernah berbicara ketus pada Yudis.


Yudis tak menjawab, dia menoleh mengamati wajah cantik yang sudah menghiasi hari-harinya untuk yang terakhir kali. Karena tak ada jawaban dari Yudis Feli menoleh dan tatapan mereka beradu, mereka saling tatap sampai Yudis memutuskan pandangannya terlebih dulu.


"Fel, bagaimana jawabanmu? Apa masih belum bisa ngasih jawaban?"


"Maksudnya, bagaimana?" Feli bertanya pada Yudis dengan heran, membuat Yudis menghela napas secara kasar dia bosan, sangat bosan Feli selalu begitu pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura tidak tau, dan tidak mengerti Feli." Desis Yudis mencoba mengontrol emosinya.


"Yudis aku..." Feli tidak bisa meneruskan kata-katanya, karena Yudis memotongnya sebelum Feli berbicara.


"Baiklah, jika kamu tidak mengerti dan terus saja berpura-pura. Aku akan jelaskan bagaimana kelanjutan hubungan kita? Apa kamu tidak akan membalas pernyataan cintaku? Apa kamu akan tetap menggantung hubungan kita ini Feli? Apa kamu tidak akan memberi kepastian padaku?" tanya Yudis panjang kali lebar, dengan suara yang dingin. Suara yang untuk pertama kali Feli dengar.


Feli hanya diam, mendengar perkataan Yudis. Dia tidak menjawab.


"Yudis aku..." Feli sampai sekarang masih bingung, dengan hatinya. Setiap hari Yudis selalu bersama dengannya walau Feli tidak memberi kepastian.


"Sudah cukup Feli, aku tau jawaban kamu. Dan mulai sekarang aku menyerah memperjuangkan cintamu, aku lelah berjuang sendiri, sementara kamu tidak pernah berusaha untuk mencintaiku. Kamu tidak bisa move on dari masa lalu mu," ujar Yudis.


Yudis berdiri di hadapan Feli.


"Aku pergi Feli, jangan pernah mencariku atau menghubungiku lagi."


Setelah mengatakan itu, Yudis pergi dari hadapan Feli sebelum Feli berbicara dan tanpa menoleh ke belakang.


Feli memejamkan matanya, dia menoleh ke belakang. Dan melihat Yudis sudah menjauh, kemudian Feli bangkit dari duduknya, berusaha mengejar Yudis. Dia tidak akan membiarkan, laki-laki sebaik Yudis pergi. Dia tidak akan, mengulangi kesalahan yang sama.


"Yudis... Yudis tunggu, Yudis jangan seperti ini, jangan tinggalkan aku," teriak Feli.


Tapi sayang Yudis tetap tak menoleh ke belakang dia sudah benar-benar menyerah, memperjuangkan cintanya pada Feli. Tapi Feli seperti mempermainkannya.


Di dalam mobil, Yudis menghembuskan napasnya secara kasar, sampai kapan pun Yudis akan selalu mencintai Feli walau sekarang dia tidak akan menghubungi Feli lagi dan menemuinya. Yudis merogoh ponsel di dalam saku celananya dan memblokir nomor Feli.


"Semuanya, sudah selesai Feli." Lirih Yudis menyeka air matanya.


Di Taman


Feli menangis sesegukan di bangku taman, dia tidak bisa mengejar Yudis dan tidak bisa menyakinkan hatinya.


Feli sadar sudah bertahun-tahun dia menggantungkan Yudis.


"Maafkan aku Yudis," gumam Feli.


Feli mencoba menghubungi Yudis.


"Kenapa tidak bisa?" tanyanya pada diri sendiri.


"Maafkan aku Yudis, maaf." Lirih Feli, menatap nanar wallpaper yang menampilkan fotonya dengan Yudis.


Entah mengapa perpisahan dengan Yudis lebih sakit, dibandingkan perpisahannya dengan Radit dulu.


Jangan lupa mampir ya 🙏