Twin'S

Twin'S
Bab.74



...Cintai orang yang mencintaimu, untuk mengerti akan indahnya ketulusan hidup dari kasih sayang....


Terkadang jatuh cinta itu, bisa membuat kita bahagia dan kuat. Kadang juga bisa membuat kita bodoh dan lemah secara bersamaan


Bara dengan wajah berseri sudah sampai di kediaman Laura, dia mengetuk pintu dengan antusias.


"Bara," sapa Laura, setelah pintu terbuka.


Bara pun mencium tangan Laura.


"Ayok masuk nak," ajak Laura, dan Bara pun masuk mengekor Laura.


"Yumna sudah berangkat, ke cafe baru aja," kata Laura, setelah Bara duduk.


"Tidak apa-apa tan, aku kesini mau bilang bahwa besok aku, ayah sama ibu. Mau melamar Yumna," terang Bara.


"Iya kah?"


Dan Bara pun mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi tante, janji jangan kasih tahu Yumna," pinta Bara.


"Iya tante akan merahasiakan ini dari Yumna, kamu tenang aja."


"Baiklah, kalo gitu. Aku permisi dulu tan, mau ketemu Yumna."


"Ko buru-buru sih, tante belum buat minum padahal."


"Tidak usah," jawab Bara, kemudian dia mencium tangan Laura. Dan berpamitan pergi.


****


Bara melesatkan roda empatnya menuju tempat Yumna berada, dia bersenandung ria menggambarkan hatinya yang sedang bahagia.


Bara mendengarkan lagu Justine Bieber berjudul Favorite Girl, tak membutuhkan waktu lama Bara sudah sampai di cafe milik Laura dan Yumna. Yang bernama 'Nara cake and cafe', Bara tersenyum melihat Yumna yang sedang berdiri di belakang meja kasir. Sedang melakukan transaksi, wajahnya yang ramah membuat semua konsumen senang datang ke Nara cafe.


Bara turun dan langsung menghampiri Yumna, berpura-pura sebagai pembeli.


"Maaf mbak, saya ingin pesan kue untuk tunangan saya." Ucap Bara, yang suaranya di ubah menjadi lebih berat sehingga Yumna tak mengenalinya.


"Baik untuk kapan ya mas?"


"Besok, bisa gak?"


"Hah!! Besok?"


"Iya, gimana bisa gak?"


"Tapi itu terlalu cepat mas, mendadak sekali." Protes Yumna.


"Ya sudah kalau gak bisa tidak apa-apa, aku ingin mengajak anda kencan saja mbak,"


Yumna mengerutkan kening bingung, dengan orang yang di depannya ini. Dengan kasar Yumna membuka topi dan masker orang di depannya ini.


"Bara," desis Yumna, sedangkan Bara dia tersenyum manis menatap Yumna.


"Ngeselin tahu," rajuk Yumna, memukul lengan Bara pelan.


"Kapan kamu datang?" tanya Yumna.


"Tadi pagi,"


Yumna hanya menjawab oh saja, kemudian dia mengajak Bara duduk di salah satu meja.


"Indah, tolong gantiin aku dulu di kasir yah." Pinta Yumna pada salah satu pegawainya.


"Siap mbak,"


"Bentar yah," kata Yumna, dia pun pergi meninggalkan Bara.


Tak lama Yumna datang, dengan nampan di tangannya. Dia meletakkannya di atas meja. Dua kopi hangat untuk Bara dan dingin untuk dirinya, serta dua piring strowberi cake.


"Makasih," ucap Bara.


"Kok tumben, kesini gak bilang!!"


"Namanya juga kejutan, ya gak bilang-bilang." Kekeh Bara, sekarang dia lebih cerewet dulu dia irit bicara tapi pada orang asing tentu saja sikapnya berbeda.


Yumna pun memutar bola mata malas, kemudian mereka terlibat obrolan seru. Yumna tidak menyangka bahwa Bara bisa selucu ini, Yumna tersenyum menatap Bara yang terus bercerita.


Ketulusan cinta dan kasih sayang tidak dapat dilihat atau didengar, tetapi hanya bisa dirasakan dengan hati. Yumna bisa merasakan kasih sayang dan ketulusan cinta dari Bara, Bara selalu mengerti Yumna dari dulu hingga sekarang.


Dulu Yumna menganggap Bara adik, tapi tidak nyatanya Bara lebih dewasa dari dirinya. Caranya menyelesaikan masalah, sabar menghadapi dirinya membuat Yumna sadar bahwa dia sudah jatuh hati pada sosok pria yang tiga tahun lebih muda dari dirinya.


"Aku tau, aku ganteng. Mirip Jimin BTS, celetuk Bara tertawa, membuat Yumna mendelik.


"Apaan sih, gaje banget kamu. Kamu sama Jimin ya gantengan Jimin lah," elak Yumna, pada nyatanya Bara juga tampan. Yumna mengulum senyum malu-malu, karena ketahuan mengangumi Bara diam-diam.


"Alah gak mau ngaku lagi, akui aja aku tampan."


"Iya... Iya, kamu tampan. Tapi kalo di liat dari menara Eiffel,"


Tawa Yumna pecah, membuat Bara tersenyum. Dia selalu berhasil membuat Yumna tertawa.


"Apa pun, akan aku lakukan untuk mu," batin Bara.


****


Hari ini Laura sudah mempersiapkan untuk acara lamaran besok, rencananya hari ini Laura akan bertemu dengan Mario. Untuk memberitahukan bahwa Yumna akan tunangan, bagaimana pun Mario adalah ayah dari Yumna.


Laura sudah memberi kabar pada Mario, bahwa siang ini dia ada di salah satu mall yang dekat dengan kantor Mario. Dan Mario akan datang.


Setelah selesai berkeliling, Laura memutuskan menunggu Mario di restauran Korea.


"Maaf lama," ucap Mario, saat sudah sampai menarik kursi di depan Laura.


"Tidak apa, aku baru kesini."


"Ada apa? tumben ngajak ketemu?"


"Aku cuma mau kasih tahu, Yumna besok mau tunangan sama Bara. Aku harap kamu datang, bagaimana pun juga. Kamu ayahnya Mario," papar Laura.


"Aku sudah tau Laura, kemarin Jakie pun mengutarakan maksudnya pada ku." Jelas Mario, tapi Mario senang Laura masih mau memberitahunya sebagai ayah dari Yumna.


"Ou aku kira kamu belum tau," sahut Laura, meminum minumannya.


"Aku pasti akan hadir di acara lamaran anak kita, bersama Yusra. Sekarang mari kita bicara tentang kita Laura, kamu pasti sudah tahu kan apa permintaan Dania!!"


"Iya aku sudah tahu, aku memang mencintai mu. Tapi aku merasa sebagai bahan pelarian mu saja saat Dania sudah tak ada," lirih Laura menunduk.


"Tidak seperti itu Laura, aku memang tulus mencintai mu. Sebelum Dania pergi, aku memiliki rencana untuk menikahi ku. Dengan atau tanpa izin dari Dania." Jelas Mario, Laura menatap Mario tak percaya.


Itu artinya jika Dania ada, Laura akan menjadi istri ke dua lagi. Dan Laura tak mau itu, walau dia mencintai Mario tapi dia tak ingin jadi yang ke dua.


"Dan aku akan menolak, menjadi istri ke dua mu saat itu." Tegas Laura, menatap tajam Mario.


"Mungkin akan sedikit sulit bagimu, untuk meyakinkan Laura kembali Mario." Kata Antiah kala itu.


"Aku akan berusaha bu,"


"Terserah kamu, apa pun yang terbaik untuk mu ibu akan mendukung mu."


Mario pun mengangguk dengan jawaban Antiah, Mario tersadar dari lamunannya. Dan meminta Laura untuk memikirkan permintaan darinya.


"Beri aku waktu, untuk memikirkan semuanya Mario." Ucap Laura, Mario pun mengangguk sebagai jawab.


Kemudian mereka saling berpamitan, karena hari sudah mulai beranjak sore. Mario memutuskan untuk mengantar Laura, dan Laura tidak protes dia terlalu lelah untuk hari ini. Mencari baju baru untuk Yumna kenakan di acara penting hidupnya.


Sesampainya di halaman rumah Laura, Laura menggumamkan terima kasih pada Mario. Pada saat mobil Mario menjauh, tak lama mobil milik Bara pun sampai.


"Ibu, dari mana?" tanya Yumna saat turun dan mencium tangan sang ibu.


"Jalan-jalan," jawab Laura.


Yumna hanya beroh saja, dan melirik pada Bara.


"Hati-hati Bara dan makasih ya!!"


"Sama-sama, aku pergi dulu. Permisi tante," pamit Bara dan Laura mengangguk.


"Yumna ibu ingin bicara, setelah selesai mandi kamu ke kamar ibu yah!!" pinta Laura.


"Iya bu," sahut Yumna.


Beberapa menit kemudian, Laura sudah menunggu di sofa dekat jendela seperti biasa. Saat Yumna masuk Laura tersenyum dan menyuruhnya duduk di dekatnya, karena Laura dan Yumna termasuk dalam kategori tubuh yang mungil dan langsing, jadi mereka berdua muat duduk bersama.


"Ada apa bu? Apa itu penting?" tanyanya.


"Iya sayang, ini sangat penting. Menurut mu jika ibu menikah apa kamu gak masalah?" tanya Laura hati-hati, melirik ke arah Yumna.


"Sebentar bu, ibu yang akan menikah lagi?"


"Iya lah, memang siapa lagi!! Masa oma kamu," omel Laura, membuat Yumna terkekeh.


"Maaf bu, memang ibu mau nikah sama siapa?" tanya Yumna serius.


Laura melirik Yumna, dan dia salah tingkah sekaligus gugup. Laura meremas jarinya satu sama lain.


"Itu... Eumm sama, sama ayah mu," jawab Laura pelan.


"Ayah? Mario?" tebak Yumna.


Laura sangat gemas pada anaknya yang satu ini, refleks dia pun mencubit pipi Yumna.


"Akhhh... Ibu, sakit," keluh Yumna mengusap pipinya.


"Lagian kamu sih, gemesin. Memangnya kamu punya ayah yang mana lagi? Selain Mario," omel Laura, Yumna tertawa dan memeluk Laura.


"Maaf bu, jika ibu bahagia menikah dengan ayah maka aku tidak akan melarang ibu. Bagaimana pun juga ibu, berhak bahagia aku akan mendukung mu." Jelas Yumna mencium pipi Laura.


Laura tersenyum menatap sang anak. "Terima kasih."


"Tapi kita harus tanyakan dulu, pada Yusra. Kalau tidak nanti dia merajuk," kekeh Yumna, kemudian dia melepas pelukannya pada Laura. Dan melakukan panggilan video dengan Yusra.


Pada panggilan pertama Yusra langsung menjawab.


"Sudah berapa lama, kamu gak hubungi aku?" marah Yumna.


Yusra meringis mendengar nada suara, Yumna yang dingin dengan tatapan datar.


"Maaf," ucapnya.


"Yusra aku ingin bicara serius dengan mu, kamu harus datang ke sini. Sekarang juga aku gak bisa jelasin lewat ponsel," jelasnya.


"Baik aku sama Hito, bakal ke sana. Sekalian nginep aku kangen sama ibu," lirih Yusra.


Panggilan pun terputus, Yumna memberitahu bahwa Yusra dan Hito akan kembali menginap.


Berpuluh menit kemudian, Yusra dan Hito sudah sampai dan Yumna sedari tadi menunggu mereka.


"Lama," cibir Yumna.


"Ya maaf, siapa suruh nunggu di luar," kesal Yusra.


"Ayo masuk, kita langsung ke kamar ibu," ajak Yumna.


Sementara itu Hito hanya menunggu di ruang keluarga, mengobrol bersama Anjani.


"Ibu apa kabar?" tanya Yusra setelah masuk kamar, dan mencium tangan Laura.


"Baik sayang, kamu apa kabar?"


"Aku baik bu," Yusra memeluk Laura erat.


"Duduklah," perintahnya pada kedua putrinya.


"Yusra apa boleh ibu, menikah lagi?" tanya Laura.


"Hah!! Ibu mau nikah? Sama siapa?"


"Sama papi mu," sahut Yumna.


"Papi? Papi Mario?" tanya Yusra tak percaya.


"Iya sama siapa lagi memang," Yumna memutar bola mata malas.


"Jika ibu bahagia aku bisa apa? Papi juga kesepian selama ini, aku selalu melihat papi duduk sendiri di taman belakang." Ungkap Yusra.


"Aku tahu tentang surat itu bu, aku tak sengaja menemukan surat mami buat papi. Dan aku rasa, ini saatnya ibu dan papi bersama memberikan kami adik," kata Yusra, membuat suasana yang tegang menjadi cair.


"Kamu nih, bukannya berikan ibu cucu malah minta adik," omel Laura.


"Aku belum melakukan itu bu," ucap Yusra malu-malu.


"Yusra kamu harus melayani suami mu, kalau tidak nanti menjadi dosa." Nasihat Laura.


"Baik bu, akan aku coba aku masih takut. Lagian aku kan mau bareng sama Yumna," kekeh Yusra.


"Idih dasar," ketus Yumna.


"Sudah-sudah mungkin kita hamilnya bersama," celetuk Laura tertawa.


Laura pun merasa lega, karena kedua anaknya tidak mempermasalahkan dirinya dan Mario bersama. Sejujurnya ini yang diinginkan Laura, bersama dengan Mario sampai tua.


tbc....


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏