
🌹🌹🌹
Hari berganti waktu menjadi minggu, dan bulan. Sudah satu bulan pernikahan Mario dan Laura, dan bisa di hitung jari pula Mario mengunjungi Laura. Setiap pertemuan mereka menghabiskan waktu dengan bercinta, kemudian Mario pergi kembali pada Dania. Membuat hati Laura menjadi sedih, dan terluka.
Laura selalu beranggapan bahwa dirinya, hanyalah wanita pemuasnya Mario. Dan entah kenapa akhir-akhir ini Laura sangat ingin dekat dengan Mario, dan dia mengingat-ingat kapan dia terakhir datang bulan.
"Apa jangan-jangan...tidak, tidak mungkin aku hamil." Lirih Laura.
"Jika aku hamil, maka kebersamaanku dengan Mario akan segera berakhir. Tapi jika lebih lama lagi dengannya, maka aku akan merasakan sakit hati."
Laura menghela napasnya. "Baiklah besok aku akan periksa." Putus Laura.
🌹🌹🌹
Sementara itu Dania, dan Mario yang baru kembali dari rumah orang tua Dania.
"Apa belum ada kabar baik, dari Laura ?" tanya Dania.
"Belum." Jawab Mario singkat.
Dania menghembuskan napasnya, dan tak lagi bertanya pada Mario. Karena dia tau bahwa Mario lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dirinya.
"Nanti malam, kamu ke apartemennya Laura saja." Pinta Dania.
"Sudah beberapa hari ini, kamu tidak memberi kabar padanya kan ?kasian dia Mario, dia juga istrimu, membutuhkan perhatianmu." Lanjutnya lagi.
"Baiklah, aku akan temui dia."
Hening seketika di dalam perjalanan tersebut, Mario dan Dania terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Sesampainya di kediaman mereka, Mario dan Dania menuju kamar mereka. Dan mulai membersihkan diri masing-masing.
Dania melihat Mario, yang sedang rebahan di atas ranjang hanya geleng-geleng kepala saja. "Kenapa malah tiduran ?"
"Besok saja aku bertemu Laura, aku lelah Dania." Mario memberi alasan lelah, sebenarnya Mario tengah menghindari Laura.
Dia tidak ingin memiliki perasaan yang lebih pada Laura, dan berujung menyakiti Dania.
"Terserahlah." Ucap Dania acuh.
Apartemen Laura
Sore hari Laura seperti biasa duduk santai di balkon kamar, dia akan menghabiskan sepanjang malam dengan menatap langit yang gelap.
Tiba-tiba saja Laura teringat akan ibunya.
"Bagaimana keadaan ibu ?"
Laura memutuskan untuk menghubungi sang ibu, tak lama panggilan itu pun terangkat di dering ke tiga.
"Halo assalamualaikum, bu."
"Waalaikumsalam, Laura apa kabar nak ?kenapa kamu tidak pernah menghubungi ibu." Tanya ibu beruntun.
"Laura baik bu, ibu apa kabar ?Laura kangen sama ibu." Jawab Laura sambil terisak.
"Ibu baik nak, ibu sudah sembuh terima kasih kamu sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk ibu nak."
Tangis Laura pecah, saat mengigat semua yang dia lakukan untuk sang ibu. Dia rela terluka, dan jadi istri yang ke dua yang tak di anggap. Statusnya di sembunyikan di hadapan umum.
Setelah selesai mencurahkan isi hatinya, Laura memutuskan menyudahi sambungan telpon tersebut.
Tak terasa malam telah berganti pagi yang mendung, keputusan Laura yang ingin memeriksakan diri tidak menyurutkan langkahnya menuju Dr kandungan.
Laura sudah tidak peduli lagi dengan Mario, yang tak pernah menemui, dan menanyakan kabarnya selama empat hari ini.
Sesampainya di klinik kasih bunda, Laura mendaftar terlebih dulu setelah melakukan serangkaian pemeriksaan tekanan darah, dia menunggu di bangku tunggu bersama para bumil yang lain. Laura iri mereka di dampingi para suami sedangkan dirinya hanya seorang diri.
Pada pukul delapan pagi, Laura mendapatkan giliran masuk dan melakukan USG setelah Dokter menanyakan kapan dia terakhir datang bilan, dan lain-lainnya.
Laura berbaring dan melihat layar monitor, dimana telah tumbuh buah cintanya dengan Mario. Dan yang paling membahagiakan adalah calon anak yang Laura kandung adalah kembar.
Senyum tak pernah luntur dari bibir Laura, dia ingin memberi tahukan berita bahagia ini pada Mario lewat paket yang akan dia kirim ke kantor Mario.
Setelah keluar dari klinik, dan menebus vitamin Laura memutuskan untuk membuat kejutan untuk Mario sekarang juga.
Wiriadinata grup
Pintu di ketuk, membuat Mario mengangkat kepalanya dari berkas-berkas yang dia tinggalkan selama empat hari yang lalu.
"Masuk."
Pintu terbuka menampilkan sosok Jimi, sekertaris sekaligus sahabat Mario.
"Tuan, ada paket untuk anda."
"Tidak ada nama pengirimnya tuan.
"Baiklah, berikan padaku."
Setelah Jimi meletakan paket tersebut, dia keluar dari ruangan Mario.
Mario menatap paket yang ada di depannya tersebut, ragu antara ingin membuka atau tidak. Setelah di pikir-pikir Mario memutuskan untuk membukanya. Dia terkejut ada gambar foto USG, dan sepatu bayi.
"Selamat calon ayah"
Laura
Mario menitikan air mata, tapi dia buru-buru mengusapnya secara kasar. Kemudian Mario beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan kerjanya, sambil membawa kotak paket tersebut.
"Jim, kamu cancel semua urusanku hari ini." Perintah Mario, tanpa menunggu jawaban dari Jimi yang hanya bengong, melihat sang bos keluar dengan tergesa.
🌹🌹🌹
Beberap jam kemudian, Mario tiba di depan pintu apartemennya. Dia mengatur napas untuk bertemu dengan Laura.
"Mario." Lirih Laura, saat dia membuka pintu dan dengan tiba-tibanya Mario memeluk Laura dengan erat.
Kemudian Mario berjongkok, dan mencium perut Laura yang masih datar. "Terima kasih, Laura."
Laura mengangguk tidak ingin, menjawab dia terlalu merindukan pelukan Mario, dan merindukan aroma suaminya tersebut. Mungkin ini bawaan calon anaknya begitu pikir Laura.
Mario membawa Laura duduk di sofa.
"Apa ada yang kamu, inginkan ?" tanya Mario.
"Aku hanya ingin kamu, ada di sini." Cicit Laura, sambil menunduk. Membuat Mario gemas dan mencubit pipi Laura.
"Iya, aku akan di sini menemanimu. Apa kamu sudah makan ?"
"Belum, aku ingin makan siang bersamamu." Ucap Laura sambil mengulum senyum malu-malu, entah kenapa makan siang bersama Mario begitu sangat bahagia.
Mario tersenyum melihat Laura yang malu-malu seperti itu, dia merasa gemas di buatnya.
"Oke kita akan makan siang di sini, aku yang memasak." Putus Mario.
"Banarkah ?" tanya Laura tak percaya, dan Mario mengangguk. Laura langsung memeluk tubuh Mario, dan menggumamkan kata terima kasih.
Mario turun ke dapur, dia memasak untuk Laura. Sementara itu Laura memperhatikan Mario yang begitu tampan saat memasak.
"Lihat nak, ayah mu begitu tampan dan gagah saat memasak." Gumam Laura, sambil mengusap perut ratanya.
Beberapa puluh menit kemudian Mario telah selesai memasak, walau masakan yang Mario buay sangat sederhana yaitu hanya spageti ala-ala Mario, yang mampu membuat air liur Laura menetes mengapa tidak, irisan tipis daging asapnya sangat melimpah, dan jangan lupakan irisan cabai merahnya, jamur kancingnua juga. Membuat Laura tak sabar untuk mencicipinya, Mario menghidangkan dua piring spageti untuknya, dan juga Laura.
"Spesial untuk mu, dan calon anak kita." Kata Mario, sambil meletakan piring hasil masakannya.
Tak lupa Mario membuatkan Jus mix bery untuk Laura, karena tadi Laura sempat memintanya.
"Terima kasih." Ucap Laura sumringah, langsung mencicipi masakan Mario.
Laura membulatkan matanya, bagaimana tidak masakan Mario sungguh enak. Kemudian Laura memakan masakan Mario dengan lahap, Mario yang melihat itupun hanya terkekeh merasa lucu, melihat Laura makan dengan lahap.
Setelah selesai makan Laura meminta Mario, untuk menemaninya tidur siang. Semenjak hamil memang Laura mudah sekali ngantuk setelah makan.
🌹🌹🌹
Saat Laura sudah terlelap ke alam mimpi, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan pesan masuk. Dan ternyata Dania yang mengirim pesan.
"Ya tuhan aku hampir lupa." Gumam Mario, tapi dia tidak mungkin meninggalkan Laura sendiri. Tapi dia sudah berjanji pada Dania bahwa akan menemaninya ke sebuah pesta sahabatnya.
"Maafkan aku Laura."
Mario beranjak dari tempat tidur setelah mencium kening Laura, dia buru-buru meninggalkan apartemen Laura dengan tergesa.
Jingga hadir menggantikan teriknya matahari, waktu menunjukan pukul lima sore. Laura mengerjapkan matanya, dan dia menoleh ke sampingnya. "Kosong, di mana Mario ?" gumam Laura.
Laura turun dari ranjang, beranjak menuju luar kamar. Tapi sayang dia tidak mendapati Mario dimana pun, Laura kembali ke kamar, dan akan mengecek ponselnya. Dan ada pesan dari Mario.
"Laura maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu malam ini. Aku sudah berjanji pada Dania untuk menemaninya pergi ke acara teman-temannya."
Laura menghela napas kasar, dia benci dengan statusnya kini selalu di nomor duakan. Walaupun dia hanya seorang istri pengganti untuk melahirkan anak Mario. Mata Laura berkaca-kaca dia merasa sendiri di kehamilan pertamanya.
🍁🍁🍁
tbc...
maaf typo
Jangan lupa komen, dan like. Makasih 🙏