Twin'S

Twin'S
Bab.52



Dua minggu berlalu, setelah pertunangan Keano dan Zea. Hari ini hari pertunangan Yusra dan Hito, semua persiapan acara hampir selesai. Yusra pun sudah menyebar undangan secara virtual pada teman-temannya, termasuk yang ada di cafe.


Tapi khusus keluarga Laura dia akan memberikannya sendiri, dan mengajak bertemu Laura. Ibu yang sudah melahirkannya.


"Maaf saya telat," ucap Yusra, pada Laura.


"Tidak apa-apa, duduklah. Mau minum apa?"


"Tidak perlu, saya hanya ingin memberikan undangan ini khusus untuk mu. Jangan lupa datang ya, ajak juga Yumna," perintah Yusra dengan datar.


Laura membaca undangan yang di beri Yusra. "Kamu akan tunangan?"


"Ya," jawabnya singkat.


Laura tersenyum getir dan menatap nanar, undangan tersebut. Undangan seperti halnya orang menikah, yang dia sedih nama di sana adalah nama Dania bukan dirinya, tapi Laura sadar betul karena dirinya lah yang sudah menyerahkan sang anak.


"Aku akan datang," putus Laura.


"Baguslah, kalau begitu permisi," pamit Yusra pergi begitu saja.


Air mata Laura luruh begitu saja, dia tak mampu menahan kesedihannya. Tanpa sepengetahuan Laura, Yumna di kejauhan melihat Laura menangis.


"Andai anak ibu hanya Yusra, apa ibu bahagia?" gumamnya menatap Laura yang menangis, air mata Yumna pun ikut turun tanpa permisi.


*****


Keano dan Yumna masih menjalin hubungan di belakang Zea, Radit dan Jimi pun mengetahui itu dari mata-mata, yang terus mengawasi gerak-gerik Keano dan Yumna.


"Kenapa kamu menangis?" tanya Keano, saat di dalam mobil.


Tadi saat Keano dan Yumna jalan, tak sengaja Yumna melihat Yusra dan Laura.


"Tidak apa-apa," jawabnya singkat.


"Seharusnya, kita sudah putus kan? Aku tidak enak pada Zea."


"Yumna pleas, jangan pernah bahas perpisahan terus, aku cinta sama kamu,"


"Kamu gak cinta sama aku Keano, jika kamu cinta, seharusnya kamu bisa nolak perjodohan itu,"


"Dari awal aku selalu bilang sama kamu, apa kamu yakin sama aku? Dan apa ayah mu bakal setuju? Dan kamu bilang, ayah bakal setuju dan lain-lainnya." Ungkap Yumna, dia tidak membiarkan Keano bicara sedikit pun.


"Kamu kurang tegas Keano," lirih Yumna.


"Mulai hari ini, kita akhiri saja hubungan kita. Kamu tahu aku gak mau di duakan, dan aku gak mau jadi no dua," marah Yumna, kemudian keluar dari mobil Keano.


Kebetulan saat itu, mereka sudah berada di basment mall. Sekitaran tempat Laura dan Yusra bertemu.


"Baiklah kita akan akhiri ini semua, tapi izinkan aku memberikan kenangan indah, sebelum kita putus,"


"Tidak usah, aku tidak mau," tolak Yumna.


"Yumna pleas," mohon Keano.


"Baiklah,",


Mereka pun keluar dari parkiran menuju lift dan akan menghabiskan waktu berdua di pusat perbelanjaan tersebut, setelah puasa berkeliling dan belanja, Keano mengajak Yumna makan di restauran jepang.


Saat masuk tatapan Yumna bertemu dengan tatapan Zea, yang kebetulan sedang ada di sana.


"Zea," lirih Keano.


Zea menghampiri Keano yang mematung, sedangkan Yumna melepaskan tautan tangan mereka.


"Keano, sedang apa kamu disini? Dia siapa?"


"Dia kekasih ku Zea," jawab Keano.


"Apa," pekik Zea. "Kekasih mu? Kamu gila yah! Lalu untuk apa kita bertunangan? Dan bahkan akan menikah,"


"Zea dengarkan aku, aku menerima kamu karena keinginan ayah ku," jelas Keano.


Yumna pusing kenapa Keano, tidak bilang bahwa dia hanya teman saja.


"Pasti permasalahannya akan panjang ini," gumam Yumna.


"Kamu pelakor?" tuduh Zea.


"Saya bukan pelakor nona Zea, dari awal Keano memang milik saya," tegas Yumna.


"Dasar pengkhianat," desis Zea.


Tanpa di duga Zea menampar Yumna, membuatnya terkejut sedangkan Keano tak siap dengan tamparan yang Zea berikan pada Yumna.


"Zea, apa-apaan kamu?" bentak Keano.


"Kamu yang apa-apaan, kamu malah bela pelakor ini," marah Zea menatap tajam Yumna, yang menunduk memegangi pipinya.


Perhatian semua orang, tertuju pada mereka bertiga.


"Sudah Zea, kita selesaikan di rumah saja. Disini malu banyak orang," mohon Keano, karena tidak ingin membuat Yumna malu.


"Baiklah antar aku pulang,"


"Tapi Keano datang bersama ku," sahut Yumna.


"Diam kamu, antar aku pulang atau aku akan buat kekacauan disini," ancam Zea.


Keano menarik kasar tangan Zea, meninggalkan Yumna dengan sakit hati dan pipinya.


"Kamu harus kuat Yumna, jangan nangis,"


Nyatanya dia tak sekuat itu, pada saat dia jalan pulang Yumna menangis. Tatapan sinis, jijik tadi dia sempat rasa pada saat di mall dan keluar dari restauran.


Saat menunggu bus, tiba-tiba mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan Yumna. Dan dia tahu mobil siapa itu.


"Om Jimi," cicitnya takut.


"Masuk," perintah Jimi dengan datar.


Yumna pun terpaksa harus ikut, entah akan di bawa kemana dia saat ini. Beberapa menit kemudian, Jimi dan Yumna sampai di kantor Radit, kemudian Jimi memerintahkannya turun.


Membawa Yumna lewat tangga darurat ke ruangan Radit, sesampainya di ruangan Radit. Perasaan Yumna tak karuan.


"Kamu tahu, apa kesalahan mu?" tanya Radit dengan dingin.


Yumna menggelengkan kepala, sebagai jawaban sambil menunduk.


"Aku sudah memberitahu mu dari awal Yumna, bahwa kamu harus berhenti berhubungan dengan Keano, tapi apa? Kamu masih saja dekat dengannya," sahut Jimi.


"Maafkan saya om, tapi saya sungguh mencintainya," lirih Yumna.


"Saya tidak peduli, karena kamu sudah menyakiti hati anak ku saat ini," ujar Jimi.


"Kamu akan tahu akibatnya jika masih terus mendekat pada Keano, jauhi dia sekarang juga Yumna, atau nyawa ibu dan oma mu dalam bahaya," ancam Radit.


Kemudian Radit menyalakan laptopnya, dan melihatkan Laura dan Omanya sedang dalam ancaman seseorang, walau Laura dan Anjani tidak menyadari itu, pistol itu sewaktu-waktu bisa di tembakkan pada mereka berdua.


"Jangan om, saya mohon. Baiklah aku akan menjauh dari Keano," putus Yumna, dia tidak bisa berpikir karena takut terjadi sesuatu pada ibu dan omanya.


"Bagus, kamu anak baik dan penurut," ucap Radit tersenyum sinis.


"Hari ini saudara kembar mu akan bertunangan, kan? Kasian sekali nasib mu, sangat tidak beruntung," cibir Jimi.


Air mata yang tadi kering, kini mengalir kembali. Yumna sudah berusaha sekuat tenaga untuk tak menangis tapi tak bisa.


"Penjaga," panggil Radit.


"Bawa dia pergi dari sini, lewat pintu samping, jangan sampai ada orang lain yang tahu," perintah Radit.


"Siap pak,"


Satpam mun membawa tubuh Yumna yang berlutut di lantai, dengan pasrah Yumna mengikuti satpam tersebut.


"Sebaiknya anda cepat pulang nona, dan jangan pernah berurusan sama tuan Radit dan tuan Jimi," jelas satpam.


Tapi Yumna tak mendengar, dia pergi begitu saja dengan tatapan kosong. Berjalan tak tentu arah. Saat tiba di jembatan, ada rasa ingin mengakhiri hidupnya saja.


Tapi dia ingat dengan ibu dan omanya, Yumna pun berteriak sekencangnya di jembatan tersebut, sambil menangis. Setelah puasa Yumna pun menenangkan diri dan memutuskan untuk pulang.


*****


Malam pun tiba, Laura, Anjani dan Yumna menghadiri pesta pertunangan Hito dan Yusra. Acara tersebut di gelar sangat meriah karena menurut berita Yusra anak satu-satunya Mario dan Dania, Yumna tersenyum kecut mendengar hal tersebut, bagaimana nanti jika semua orang tahu bahwa. Yusra bukan satu-satunya?


Antiah sendiri datang bersama asisten yang sudah di anggap anak sendiri oleh Antiah, Jakie.


"Granny" sapa Yusra, mencium punggung tangan Antiah dan memeluknya.


"Hai, sayang. Granny gak nyangka kamu sudah besar,"


"Makasih udah mau dateng, demi aku. Aku sayang sama Granny,"


"Granny juga, sana siap-siap itu calon mu sudah sampai,"


"Ok, bye Granny,"


Antiah sangat menyayangi Yusra seperti halnya Yumna, Antiah tidak tahu saja bahwa, kedua gadis tersebut tidak akur.


Acara pun di mulai, di mulai dari sambutan-sambutan dan lain-lainnya. Sampai pada puncak acara yaitu tukar cincin, cincin yang di pesan oleh Yusra sangat cantik dan elegan, walau terlihat sederhana.


Yusra dan Dania menyiapkan semua ini, semua tamu memuji kecantikan ibu dan anak tersebut. Membuat hati Laura sakit, mati-matian dia menahan laju air matanya.


Tidak ada yang tahu bahwa Yusra dan Yumna kembar, hanya orang terdekat yang tahu. Bahkan malam ini pun mereka tampak berbeda.


Yumna memperhatikan sang ibu, yang nampak berkaca-kaca. Sesekali mengusap ujung matanya, Yumna yang melihat itu pun tak tega dan memutuskan untuk pulang saja.


"Lebih baik, kita pulang saja bu." Pinta Yumna.


"Ibu ingin disini Yumna, ibu ingin melihat anak ibu bahagia." Lirih Laura.


"Lalu aku anak siapa? Apa ibu tidak ingin aku bahagia juga?" tanya Yumna dalam hati.


"Terserah ibu, aku keluar dulu saja,"


Yumna memutuskan untuk keluar dari rumah yang sangat mewah baginya, dia duduk di taman belakang dekat kolam. Menatap langit malam yang pekat tanpa bintang, Yumna bersandar pada bangku kolam sambil menikmati langit malam.


"Apakah aku tidak layak, untuk bahagia?" gumamnya, kemudian Yumna memejamkan mata, karena acara tersebut masih lama jadi Yumna memutuskan untuk tidur sejenak, di rumah ayahnya.


Tanpa dia sadari Bara, sedari tadi selalu memperhatikan dia. Dan memutuskan untuk mengawasi Yumna dari jauh, tersenyum penuh arti.


tbc...


Jangan lupa tinggalkan jejak, maaf typo makasih 🙏