
Lama menunggu tapi tak kunjung ada yang datang menjemput Ara, tadi Dela sudah memberitahu bahwa mereka menunggu di kedai es krim.
"Ara sayang, tadi kamu ke sini sama siapa?" tanya Dela lembut.
"Sama ayah dan ka Lula," jawab Ara.
Walau umurnya tiga tahun, tapi dalam hal bicara Ara sudah lancar dan tidak cadel cadel seperti anak kebanyakan.
"Ou, lalu kenapa kamu bisa pisah sama daddy dan kakak mu?"
"Ayah kejar kaka, terus aku ikutan malah gak tau kemana arahnya. Ehh aku malah lari ke arah toilet," cerita Ara.
Dela hanya menganggukan kepala saja, kemudian dia mengirim pesan pada Maira bahwa dia tidak bisa masuk. Karena harus menunggu anak kecil yang hilang.
"Ada-ada saja ka Dela ini, malam minggu yang gagal." Maira cemberut karena, rencana yang sudah mereka susun jauh-jauh hari gagal.
"Ada apa sih?" Kemana tuh si Dela?"
"Dia gak bisa masuk, karena ada anak kecil yang nyasar terus dia nungguin karena belum ada yang jemput." Ucap Maira.
"Ou ya sudah kita keluar aja, toh aku gak suka film horor."
"Hilih bilang aja takut," cibir Maira.
"Keponakan rese kamu ya Mai,"
Dika dan Maira pun memutuskan untuk menonton film tersebut sampai tamat, dengan segala keberanian yang ada Dika tetap menonton walau tangannya sudah dingin. Maira yang mengetahui pamannya sudah ketakutan hanya bisa menahan senyum.
****
Sementara itu Auriga yang mencari Ara, dia tidak mendengarkan pengumuman sama sekali tentang anak yang hilang dia hanya fokus mencari tanpa bertanya.
Lula yang mendengar itu pun acuh, pura-pura tak mendengar dia senang jika sang adik hilang. Kalau bisa tidak usah di temukan sekalian, sungguh jahat kakak yang satu ini.
"Ya Tuhan Ara, dimana kamu nak?"
Auriga terus mencari di segala penjuru mall, dari toko ke satu toko yang lain. Auriga kemudian mendatangi bagian informasi.
"Mbak sayang ingin mengumumakan kehilangan anak," ujar Auriga.
"Loh!! Pak tadi seorang wanita yang mengumumkan anak hilang barusan, apa bapak tidak mendengar?" tanya Mbak bagian informasi tersebut.
"Tidak, maaf saya mungkin terlalu fokus. Lalu dimana mereka?"
"Mereka bilang akan menunggu di kedai es krim, tapi saya liat mereka sudah tidak ada. Mungkin saja sudah pergi," jelasnya.
"Ya sudah terima kasih," ucap Auriga.
Auriga pun memutuskan untuk ke kedai es krim tersebut.
"Lula kamu es krim nak?" tanya Auriga.
"Mau yah," jawabnya antusias.
"Tapi kamu harus janji, duduk di sini dengan tenang ya. Ayah harus mencari Ara sayang," jelas Auriga.
"Kenapa harus di cari yah? Aku senang dia pergi, karena dia jahat udah buat mommy pergi." Ucap Lula lirih.
"Lula," desis Auriga.
Auriga duduk di meja dan berhadapan dengan sang anak, dia memijit pelipisnya yang terasa pusing.
"Ayah sudah katakan ini berulang kali nak, bahwa ibu pergi karena takdirnya. Bukan karena adik mu," tegas Auriga.
Lula tak menanggapi ucapan Auriga, dia langsung pergi memesan es krim kesukaannya. Auriga menghembuskan napasnya secara kasar, kemudian memutuskan mencari ke pusat permainan.
Sayang yang di cari sudah di bawa pulang oleh Dela, karena Dika sudah keringat dingin saat menonton film horor mereka memutuskan untuk pulang.
"Sayang tak apa ya, kamu ikut kakak aja?" tanya Dela.
Ara pun menganggukan kepala saja, walau dia takut tapi dia merasa nyaman bersama Dela. Dela memperlakukannya dengan baik.
****
Tak lama mereka sampai di kediaman Mario, saat masuk ke dalam rumah hanya ada Yumna dan Bara. Sedangkan Laura dan Mario sudah masuk ke dalam kamar mereka, Dela dan Dika mengucapkan salam.
"Dela, siapa gadis manis ini?" tanya Yumna.
"Hebat kan anak mu ka, pulang-pulang bawa anak." Kekeh Dika, mendudukan dirinya di sofa.
"Anak nyasar bun, aku kasian udah lama nunggu tapi gak ada yang cari. Aku udah infokan di bagian informasi, tapi gak ada yg cari juga." Papar Dela.
"Kamu sudah berikan nomor ponsel mu?" tanya Bara.
Membuat Dela menepuk keningnya.
"Astaga aku lupa yah," ringis Dela.
"Ya sudah gak apa-apa, dia nginap dulu aja disini." Putus Yumna merasa kasian terhadap gadis kecil yang manis di depannya ini.
Dia merasa familiar dengan wajah gadis kecil ini.
"Nama kamu siapa sayang," tanya Yumna.
"Ara tante," cicit Ara.
"Nama yang bagus," puji Yumna.
"Kakak udah cocok tuh, punya bayi lagi," celetuk Dika tertawa.
Dan langsung dapat cubitan dari Yumna, dan pelototan Bara. Sudah cukup mereka memiliki dua anak gadis yang tak pernah akur, Dela dan Tatiana mereka bagai Tom and Jery.
"Kamu tuh kapan mau punya anak Dik," tanya Bara.
"Et... Dah ka Bara ini, pacar aja gak punya masa nanya anak," kesal Dika.
"Makanya cari pacar sana," ucap Bara.
"Udah ahh, aku pamit ke kamar dulu," ucap Dika.
Di jawab anggukan oleh semua, dan Yumna menyuruh Dela membawa Ara untuk tidur bersamanya. Karena Yumna melihat Ara sudah mengantuk.
Dela pun mengurus Ara dengan telaten, dia mengganti baju Ara menggunakan piyama tidur beruntung Maira masih memiliki baju bekas kecil dulu.
Dela pun memeluk Ara erat, Ara langsung terlelap dalam pelukan Dela. Mereka pun tidur bersama saling memeluk erat.
****
Ara memandang wajah Dela dengan tatapan yang sulit di artikan, Ara bangun lebih dulu karena dia mimpi buruk. Dan saat bangun Ara mendapati dirinya dalam pelukan hangat seorang wanita untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Terima kasih ka, udah mau meluk Ara." Bisik Ara.
Sementara itu Auriga yang tak bisa menemukan Ara, terlihat kusut dan acak-acakan. Dia menginap di rumah Zea, dan memberitahu bahwa Ara hilang di mall.
"Ka Riga," panggil Zea.
"Aku mau cari Ara Zea, aku takut dia kenapa-kenapa."
"Aku yakin dia baik-baik aja ka, aku bakal minta Keano buat cari Ara juga yah!! Kakak jangan sedih," pinta Zea memeluk Auriga.
"Beneran ka, kakak mau bawa aku ke taman?" tanyanya pada Dika.
"Aku boleh ikut kan ka?" sahut Maira cepat.
"Kamu nih Mai, giliran jalan-jalan sama makan cepet aja," omel Dika.
"Biarin dong uncle, ibu liat nih adik mu," rengek Maira.
"Dika udahlah ajak dia," balas Hito.
"Huh dasar manja, Ara jangan jadi anak manja yah. Gak baik," kata Dika pada Ara.
Suasana pagi di kediaman Mario sangat ramai, apalagi Yusra, Dika dan Dela yang tak pernah akur. Setiap akhir pekan memang mereka selalu kumpul bersama, tak ketinggalan Wina pun selalu ikut berkumpul di rumah Mario.
Sesuai kesepakatan Dika, Dela, Maira, Tatiana dan Ara pun pergi ke taman. Mereka akan menghabiskan akhir pekan di taman bersama Ara, siapa tahu orang tua Ara mencari ke sini begitu pikir mereka, sedangkan para orang tua menunggu di rumah.
Dan disinilah mereka sekarang, menggelar tikar di bawah pohon yang rindang.
"Tiana jangan jauh-jauh kamu, nanti hilang lagi," celetuk Dika.
"Mana mungkin aku hilang uncle, aku udah gede. Punya ponsel, lagian kalo aku hilang yang di marahin uncle bukan aku," ucap Tiana pada Dika.
"Kenapa ponakan gue, semuanya gak ada ahlak," keluh Dika.
"Diem gak usah lebay lo," ujar Dela.
"Ka Dela, ka Dika. Aku boleh main di sana?" tunjuk Ara.
"Boleh," jawab Dela dan Dika serempak.
"Aduh.. Udah kaya keluarga bahagia aja nih," ledek Maira terkekeh.
"Tiana temenin Ara yah," pinta Dela, dan di jawab anggukan Tiana.
Tiana pun bermain dengan Ara, dia menamani gadis kecil itu kesana kemari. Sedangkan Dika, Dela dan Maira hanya melihat saja. Dela pun memotret Tiana yang sedang mendorong Ara yang sedang berada di ayunan.
"Cocok tuh si Tiana punya adik lagi," kekeh Dika, langsung di cubit oleh Dela.
"Rese banget sih lo, gue cukup punya Tiana aja gak mau adik yang lain. Maira noh, suruh dia punya adik."
"Idih apaan, gak mau yah!!" jawab Maira, dia kembali membaca novel yang belum selesai di baca.
****
Pada saat yang bersamaan Auriga menuju taman di mana Ara berada, entah kenapa firasatnya mengatakan dia ada di taman tersebut. Saat sudah sampai di parkiran yang penuh, Auriga keluar dan berjalan mengamati sekitar.
Auriga memutuskan untuk duduk di dekat pedagang minuman dan makanan, dia terus menatap orang-orang yang lalu lalang dan anak-anak yang sedang bermain.
Getaran ponsel mengalihkan fokus Auriga, dia membaca pesan dari temannya. Kemudian dia mendengar suara teriakan Ara sedang tertawa lepas.
Sesaat dia terharu karena berhasil menemukan sang anak, Auriga melihat Ara yang sedang di pangku dan berputar bersama seorang gadis muda yang dia taksir mungkin seumuran dengan Eireen. Auriga menatap Ara yang sebahagia itu.
"Aduh... Udah ahh, ka Dela pusing Ra," keluh Dela.
"Yah padahal seru loh ka," ucap Ara kecewa.
"Lain kali lagi yah, nanti kalo kakak jatuh timpa kamu gimana?"
"Ya udah deh,"
Dela membawa Ara kedalam pelukannya, pelukan yang selalu Ara rindukan dari seorang ibu. Sebab jika bersama tantenya Zea, perhatian dan kasih sayangnya terbagi untuk anak-anaknya Zea.
"Ara," panggil Auriga.
Membuat Ara melepaskan pelukan dari Dela.
"Ayah," pekik Ara.
Ara berlari menuju Auriga yang sudah berjongkok dan merentangkan tangannya.
"Ara ayah kangen," ungkap Auriga.
"Ara juga, ayah jangan pergi lagi tinggalin Ara yah!!"
"Ayah janji sayang."
Dela tersenyum akhirnya Ara menemukan keluarganya, tapi ada perasaan yang entah apa Dela pun tak tahu. Rasanya berat berpisah dengan gadis kecil tersebut.
"Terima kasih, terima kasih karena sudah menemukan putri saya. Dan menjaganya," ujar Auriga.
"Sama-sama pak," balas Dela singkat.
Sesaat Dela pun terpesona pada laki-laki dewasa di depannya, yang Dela taksir seumuran dengan ayahnya.
"Kalau begitu saya permisi, Ara ka Dela pulang dulu yah!!" pamit Dela, mencium pipi kiri dan kanan Ara.
"Terima kasih ka," ucap Ara di jawab anggukan Dela.
Dela pun menghampiri Dika, dia mengajak Dika dan yang lainnya pulang.
"Kok cepet sih ka? Aku kan masih mau main," protes Tatiana.
"Minggu besok kan masih bisa Na," kata Dela.
"Ya sudah,"
Tatiana pun mengalah, dia melangkah lebih dulu menuju parkir mobil. Sedangkan Maira dan Dela membantu Dika membereskan bekas piknik mereka.
"Ehh... Iya, Mana Ara?" tanya Dika.
"Udah di jemput bapaknya," jawab Dela singkat.
"Ou syukurlah kalau begitu,"
"Terus kenapa wajahnya di tekuk gitu?" tanya Maira.
Mereka sudah selesai membereskan bekas piknik tersebut, dan berjalan ke arah parkir.
"Gak apa-apa kok!"
"Yakin lo baik-baik aja?" tanya Dika memastikan.
"Udah deh kalian ini kepo, ayok kita pulang."
Dela pun berjalan cepat menuju mobil Dika, tanpa menoleh ke belakang. Ara yang berharap Dela menoleh kebelakang pun merasa sedih, nyatanya dia meninggalkan Ara bersama Auriga.
"Ara kenapa?" tanya Auriga melihat mata Ara berkaca-kaca.
"Gak apa-apa Yah, Ara baik-baik aja. Ayok kita pulang," ajak Ara.
Auriga pun menurut, dia tahu kesedihan sang anak pasti ada hubungannya dengan gadis yang bernama Dela.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏