
Setelah berjam-jam berdiri, dan berkeliling akhirnya Hito dan Yusra sudah sampai di kamar president's suit di Arkha hotel. Yusra terlebih dulu masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan sisa-sisa make-up dan mandi air hangat.
"Apa aku harus menggunakan ini?"
Yusra mengangkat sebuah Lingeri berwarna hitam pemberian Rianti, Rianti bilang harus memakainya agar Hito tergoda.
Yusra berdecak kesal. "Ada-ada aja sih, Rianti ini. Malu banget aku pake ini, mana kurang bahan banget, ya ampun pendek banget ini."
Suara ketukan di pintu, membuat Yusra tersadar dan keluar dengan tergesa. Dia menyimpan kembali Lingeri tersebut kedalam paper bag.
"Kenapa lama?"
"Tadi abis, perawatan malam dulu," dalih Yusra.
Dan Hito hanya beroh saja.
"Ya sudah aku mau mandi,"
Yusra pun memberikan ruang untuk Hito, sedangkan dirinya mencari piyama tidur.
"Mudah-mudahan, mami gak aneh-aneh,"
Yusra terus mencari baju piyama tidurnya, tapi sayang dia hanya menemukan dua buah Lingeri berwarna pink dan merah.
"Mami," desis Yusra. "Aku pake baju apa? Masa pake anduk gini, sih! Ihh nyebelin nih mami," gerutu Yusra.
"Kenapa?" tanya Hito, dia sudah selesai membersihkan diri dan sudah memakai celana panjang katun miliknya dengan kaos oblong.
"Aku lupa bawa piyama tidur," ucapnya gugup.
Hito melirik sekilas isi koper Yusra, dan hanya ada sebuah Lingeri.
"Pakai saja, Lingeri. Aku belum ingin melakukannya," ucap Hito enteng.
"Hah!! Maksudnya?"
"Aku belum siap Yusra, beri aku waktu," ujar Hito, kemudian dia membaringkan diri di ranjang.
Dengan terpaksa Yusra memakai Lingeri berwarna Pink, dia risih memakai pakaian tersebut.
"Ya Tuhan, malu banget,"
Yusra terus menatap pantulannya di cermin, Lingeri yang hanya setengah paha, dan berbelahan dada rendah. Beruntung Hito sudah tidur, jadi dia terselamatkan dari rasa malunya. Tanpa Yumna tahu, Hito belum lah tidur dia hanya pura-pura tidur. Ya bagaimana pun Hito lelaki normal, jika di suguhkan seperti itu dia pasti akan tergoda.
Dengan segera Yusra masuk kedalam selimut, dan menutup tubuhnya dengan erat. Seakan-akan takut Hito mengintip, padahal dari tadi dia sudah mengintip.
Tak beda jauh dengan Keano dan Zea, Hito dan Yusra menjalani malam pertama tanpa ritual suami istri. Mereka saling memunggungi satu sama lain, dan dengan pemikiran masing-masing.
Sampai waktu menunjukan pukul dua dini hari, Hito tidak bisa memejamkan mata. Sedari tadi dia hanya pura-puta tidur.
"Yumna," gumam Hito.
Kemudian tanpa terasa, kantuk pun menyerang dirinya. Hito terlelap tidur dengan posisi ponsel di genggamnya dan menampilkan foto Yumna, yang di ambilnya secara diam-diam.
****
Pagi pun tiba, Yusra bangun lebih dulu dan melirik ke samping mendapati Hito masih terlelap. Dia pun tersenyum dan memutuskan untuk memandang Hito sejenak, Yusra berniat mengambil ponsel di tangan Hito. Namun alarm menyala dan mematikannya, setelah mematikan tak sengaja Yusra melihat foto Yumna.
Seketika dia tak suka, cemburu dan iri. Kemudian dia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya. Yang panas, Yumna menatap pantulannya di cermin. Dia mengutuk wajahnya yang ada kemiripan dari Yumna.
"Kenapa aku bodoh sekali, kenapa gak kepikiran kalau Hito nerima aku karena wajah aku ada miripnya sama Yumna," kesal Yusra.
Yusra memutuskan untuk ke salon nanti siang, dia ingin merubah gaya rambut saja. Jika wajah tidak bisa di ubah, bisa sih cuma harus di operasi plastik. Dan Yusra tidak mau, bagaimana pun wajahnya ciptaan Tuhan.
Setelah melakukan ritual mandi, dan sudah berpakaian rapi. Yusra keluar dari kamar mandi, dan mendapati Hito masih terlelap.
"Huhh... Malam pertama yang menyedihkan, gak ada indah-indahnya," gerutu Yusra menatap Hito.
Yusra memutuskan untuk turun terlebih dulu, menemui keluarganya. Tapi pada saat di depan lift dia memutuskan kembali ke kamar.
"Hii, kalau orang-orang tanya mana Hito. Gimana coba? Ck, balik lagi lah,"
"Hito kenapa sih, kamu bikin aku kesel. Bahkan di hari pertama aku jadi istri kamu," gerutu Yusra sepanjang langkah ke kamar.
Yusra membuka pintu dengan kasar, tapi yang di dalam masih asik di alam mimpi. Yusra menghampiri Hito kemudian dia mengguncang lengan Hito.
Kemudian dia mendekatkan diri, dan berteriak di depan telinga Hito.
"Hito," pekik Yusra, membuat Hito terperanjat. Dan mengusap telinganya.
Namun Hito, kembali tertidur dan berpindah posisi.
"Hito bangun, ini sudah pagi. Bentar lagi jam delapan, dan semua anggota keluarga mungkin sedang sarapan di bawa," ujar Yusra.
Tapi Hito tetap tidur, kemudian Yusra mengguncang lengan Hito. Namun Hito malah menarik Yusra dalam pelukannya, membuat Yusra kelabakan.
"Yumna, aku rindu," gumam Hito.
Membuat Yusra langsung melepaskan diri, dan berusaha sekuat tenaga mendorong Hito dengan sekuat tenaga.
"Akhhh..." pekik Hito.
Dia menatap Yusra yang sedang menatapnya tajam.
"Yusra, kamu apa-apaan sih? Main tendang aja, emang aku bola apa?"
"Biarin," kesal Yusra.
"Bangun, semua anggota keluarga sudah menunggu," ucap Yusra dingin.
"Dan satu lagi, aku bukan Yumna. Aku Yusra, jangan pernah samakan aku dengan Yumna atau menganggap aku Yumna," desis Yusra menatap tajam Hito.
"Kamu kenapa sih?" tanya Hito bingung.
"Cepat mandi," perintah Yusra.
Hito pun beranjak dari duduknya, kemudian masuk ke kamar mandi.
"Sejak kapan aku menganggapnya Yumna? Atau membandingkannya?"
Hito pun tak mau ambil pusing, dia melakukan ritual mandi dengan cepat. Karena Yusra sudah mencak-mencak di luar, dia tidak ingin Yusra berubah jadi reog.
Beberapa menit kemudian, Hito telah selesai dan sudah rapi dengan celana jins dan kemeja berwarna dongker.
"Ayok," ajak Hito.
Yusra pun berlalu meninggalkan Hito sendiri, yang termangu akan sikap Yusra.
"Yusra kenapa sih? Dia berubah, dulu dia bersikap manis dan penurut. Tapi sekarang jadi pembangkang, dan suka melawan,"
Hito mengikuti langkah Yusra di belakang, sesampainya di meja keluarga yang sarapan. Dia menggengam tangan Yusra.
"Cie pengantin baru," goda Naysa.
"Pagi semua," sapa Yusra dan Hito, mengabaikan godaan Naysa.
Dan di jawab serempak oleh mereka, karena hari libur mereka jadi bisa menikmati liburan di hotel Arkha karena dekat dengan pantai.
Hito dan Yusra memilih duduk dekat Naysa.
"Gimana ka? Ka Hito, mainnya lama gak?" bisik Naysa.
"Apaan sih kamu, anak kecil gak boleh kepo," sahut Yusra berbisik pula.
Naysa pun tertawa. "Gak usah malu ka,"
"Naysa, jangan goda kaka ipar mu terus," tegur Carina.
"Maaf bu," ringis Naysa.
"Ayok kalian makan dulu, pasti laper kan semalam kerja lembur," kekeh Carina.
Membuat Yusra dan Hito tersipu malu, mereka pun sarapan pagi dengan bercengkrama. Terutama tentang bisnis Mario dan Haikal.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏