Twin'S

Twin'S
Hari patah hati



Hari ini Yumna merasa enggan untuk pergi ke cafe, dia masih ingin tiduran, karena Yumna tak kunjung keluar, membuat Laura memasuki kamar sang anak.


"Ya Tuhan... Anak gadis males-malesan," decak Laura, berjalan menuju jendela dan membukanya.


"Ibu nih, baru kali ini aku males bangun. Kemarin-kemarin aku rajin," omel Yumna.


"Oya sayang, kamu sudah tahu? Yusra akan tunangan dengan Hito, dua minggu lagi."


"Apa?" pekik Yumna.


"Apa ibu serius? Pasti ibu lagi prank kan?" selidik Yumna.


"Memangnya wajah ibu, keliatan tukang prank?" kesal Laura.


"Engga sih," Yumna terkikik dan Laura memutar bola mata malas.


"Ibu tahu dari siapa?"


"Ayah mu, siapa lagi. Masa istrinya," kesal Laura.


"Lah ko ibu kesal sih? Harusnya aku kan?" kekeh Yumna.


Yumna memeluk Laura dari belakang.


"Ibu jangan marah, kalau ibu marah nanti cantiknya hilang. Terus om Mario, gak mau sama ibu lagi," goda Laura.


"Kamu ihh... Apaan sih, Mario kan sudah punya istri,"


"Aku tahu ibu," Yumna melepaskan pelukan pada Laura.


"Semoga ibu menemukan pria yang mencintai ibu, apa adanya. Jangan pernah mau masuk kedalam rumah tangga orang lain lagi bu, cukup sekali saat dulu," jelas Yumna.


Sebelum Laura bicara, Yumna sudah melipir ke kamar mandi.


"Anak itu," desis Laura.


"Tapi ibu mu ini, mencintai ayah mu Yumna," lirih Laura, sekian tahun berlalu pun rasa untuk Mario tidak bisa di hilangkan begitu saja oleh Laura.


*****


Saat tiba di cafe, Yumna memutuskan masuk ke dapur sesuai perintah dari Bagas, selaku Manager cafe.


"Yumna," panggil Bagas.


"Ya," jawab Yumna judes.


"Ya elah, galak amat neng," kekeh Bagas.


"Bagas jangan bikin badmood deh," kesal Yumna.


"Oke maaf, tadi bu Zalfa telepon, nyuruh lo buat ke rumahnya Zea," beritahu Bagas.


"Buat apa?"


"Lo harus kenalan sama calon Keano," celetuk Teguh, tiba-tiba masuk ke dapur.


"Teguh, lo juga ihh rese," Yumna cemberut dengan mengaduk-aduk puding di depannya, dengan garang.


Membuat Bagas dan Teguh terkekeh.


"Lo cuma di suruh anterin gaun ke rumahnya, calonnya tuan Keano," ucap Bagas.


Yumna mendelik dan menatap tajam, dua orang di depannya. Tanpa banyak kata, dia langsung keluar dari dapur, membuka pintu dengan kasar. Bagas dan Teguh hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


"Nyebelin," segala macam umpatan tidak bisa dia keluarkan, hanya bisa di pendam dalam hati.


Tiba di kediaman Keano, Yumna di persilahkan masuk. Rumah tampak sepi dari lantai dua, turun seorang gadis dia tersenyum menatap Yumna.


"Ka Yumna," sapa Viana. "Apa kabar?" sambungnya, memeluk Yumna bercipika-cipiki.


"Hai... Vi, aku baik-baik saja, kapan pulang?" membalas pelukan Viana dan cipika cipiki, begitulah perempuan.


"Tadi malam, aku sangat terkejut saat ayah bilang ka Keano, akan tunangan. Aku kira sama kamu ka,"


"Kita cuma temen ko," bohong Yumna, tersenyum pada Viana.


"Teman apa teman nih," goda Viana.


"Mereka cuman teman," sahut Zalfa, datang dari arah dapur dan membawa minum.


Viana hanya mencebik dengan jawaban sang bunda, Viana lebih cocok dengan Yumna ketimbang dengan Zea. Atau mungkin mereka belum ketemu, jadi tidak tau bagaimana aslinya. Terlebih Zea memiliki kakak laki-laki, yang tak kalah tampan dari sang kakak Keano.


"Minum dulu, Na," tawar Zalfa.


"Engga usah bun, aku hanya sebentar, aku sibuk banget mempersiapkan untuk nanti malam," jelas Yumna.


"Ya sudah, tunggu sebentar." Zalfa berlalu dari ruang tamu, dan masuk ke kamar.


Sementara Yumna dan Viana terlibat obrolan kecil, sesekali Viana terus menggoda Yumna. Zalfa datang membawa dua paper bag, dan menyerahkan pada Yumna.


"Ini gaun buat Zea, untuk nanti malam, dan ini untuk Jimi dan Auriga," jelas Zalfa.


Yumna mengangguk dan menerima paper bag tersebut.


"Yumna bukan maksud tante, tapi ini permintaan dari suami tante, maaf," lirih Zalfa.


"Tidak apa-apa, Bun. Anggap saja aku pegawainya Keano," Yumna tersenyum kearah Zalfa dan Viana.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Yumna beranjak dari duduknya.


Setelah kepergian Yumna, Zalfa menghembuskan nafasnya secara kasar. Suaminya itu benar-benar keterlaluan.


"Ayah ko gitu, sih bun? Kalau jadi aku, udah pergi dari acara ini. Karena bagaimana pun juga, aku punya hati yang harus aku jaga, kalau bukan kita? Memangnya mau siapa lagi," Viana mengedikan bahunya.


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Kita tidak mungkin menentang ayah mu. Kita keluarganya yang tahu, bagaimana sifat ayah mu itu Vi,"


*****


Sementara itu di kediaman Yusra, Yusra sangat bahagia setelah lamaran semalam.


"Yusra," panggil Dania.


"Iya mih,"


"Boleh mami masuk?


"Masuk aja mih,"


"Kamu lagi apa sayang?"


"Aku lagi merancang, undangan buat nanti pertunangan mih,"


Kemudian Yusra menunjukan rancangannya, yang belum selesai. "Gimana mi? Bagus gak?" tanya Yusra.


"Bagus, tapi Yusra. Siapa nama ibu yang akan kamu tulis di undangan mu nanti?"


"Jelas mami lah, siapa lagi. Aku sayang sama mami," ungkap Yusra, kemudian dia memeluk Dania.


Sejujurnya sejak semalam Dania takut, bahwa Laura yang akan mendampingi Yusra. Kali ini, sayangnya tidak pura-pura. Dia tulus menyayangi Yusra.


"Terima kasih Yusra," lirih Dania.


Yusra mengusap air mata di pipi Dania. "Mami jangan menangis, aku engga mau liat mami sedih, karena aku. Mulai sekarang mami harus bahagia, ok!" pinta Yusra, di jawab anggukan oleh Dania.


"Mami cuma takut, kamu berpaling dari mami nak."


"Tidak akan mih, karena mami, satu-satunya ibu aku. Walau aku tidak berasal dari rahim mu,"


Dania memeluk Yusra dengan erat, dia tidak ingin kehilangan Yusra dan Mario. Dua orang yang begitu berharga baginya saat ini, dan Yusra yang sangat dia cintai, cinta yang mulai tumbuh saat ini. Kenapa dulu, dia bodoh sekali tidak merawat Yusra.


******


Malam pun tiba, acara yang di tunggu keluarga Radit dan Jimi pun tiba. Tepat pukul sembilan malam acara akan segera di mulai, cafe pun tutup lebih awal.


Yumna menatap sekeliling cafe, sudah ramai oleh tamu undangan. Matanya menangkap Mario bersama Yusra, lengkap pula Dania di samping Yusra. Mereka begitu cantik dan Mario sang ayah begitu gagah, dan tampan meski usianya sudah memasuki usia 40an.


"Cih keluarga so harmonis," cibir Yumna saat melihat Mario.


"Yumna," teriak Bagas.


"Astaga," dengan segera Yumna menjitak kepala Bagas.


Bagas meringis menahan sakit. "Kekuatan orang galau, gede juga,"


"Apa?" jutek Yumna.


"Engga, lo ko belum siap-siap sih? Lo kan bakal anterin nampan yang ada cincinnya tuh. Seenggaknya lo harus cantik lah,"


"Biarin lah, aku gak peduli."


Bagas menarik Yumna ke toilet, kemudian menyuruh Yumna mencuci muka. Jika perlu mandi secepat kilat, karena Bagas mengancam dengan terpaksa. Yumna melakukan apa yang Bagas perintah, meski dengan setengah hati.


"Lo harus cantik Na," ucap Bagas, saat menunggu Yumna di rias oleh Rianti. Kebetulan sekali Rianti bisa merias.


"Diem deh, jangan banyak omong. Kalau gak mau gue, tendang lo dari lantai dua," judes Yumna.


"Selesai," seru Rianti.


"Ka Yumna cantik juga," puji Rianti, membuat Yumna tersenyum menatap pantulannya di cermin.


"Percuma cantik, kalau tidak beruntung," batin Yumna tersenyum getir.


"Ya udah ayo, acara bentar lagi mulai,"


Bagas menuntun Yumna menuju samping panggung, karena ternyata MC dan keluarga Jimi sudah sampai.


"Yumna," bisik Bagas.


"Ck ini anak, malah melamun lagi," batin Bagas.


Bagas menepuk pundak Yumna dengan keras, membuat Yumna terlonjak kaget.


"Bagas rese," desis Yumna.


"Lagian lo sih melamun, di panggil tuh. Cepetan kasih cincinnya."


Yumna dengan tergesa berjalan ke arah panggung, dengan membawa cincin di atas nampan yang di taburi kelopak mawar. Yumna menatap Keano yang sangat tampan malam ini, begitupun Zea tampak cantik, dengan dress berbentuk Sabrina, dengan rambut di gerai.


Wajah Yumna sangat datar, di hadapan para tamu undangan. Mario terkejut melihat Yumna, semua orang berbisik-bisik tentang Yumna, Mario samar-samar mendengar bahwa Keano adalah kekasih Yumna.


Pemasangan cincin sudah selesai, dengan segera Yumna turun dari panggung dengan menahan air matanya, perih dan sakit itu yang dia rasa saat ini.


tbc.....


maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏