Twin'S

Twin'S
Pernyataan Cinta Bara



Sementara itu di Pacitan, Yumna dan Bara sudah mendapatkan rumah yang Yumna inginkan. Rumah di dekat pantai, namun sedikit lebih masuk ke dalam hutan.


Rumah panggung tersebut sangat nyaman, didalamnya terdapat dua kamar tidur masing-masing terdapat kamar mandi di dalamnya. Dapur, ruang makan, dan ruang tengah. Dekat dapur terdapat kamar mandi untuk tamu yang berkunjung, walau sangat sederhana tapi Yumna merasa nyaman tinggal disini, jangan lupakan juga terlas depan rumahnya luas. Cocok untuk bersantai menikmati sore.


"Nanti jika ada uang, aku akan usaha membelinya untuk mu," ucap Bara kala itu.


Membuat Yumna tersenyum tipis, dan sudah tiga hari mereka pergi meninggalkan kepadatan ibu kota Jakarta.


"Yumna, aku rasa kita harus menghubungi orang tua kita. Aku takut mereka mencemaskan kita," ujar Bara.


"Huff.... Baiklah, aku akan menghubungi ibu ku,"


Yumna beranjak dari duduknya, mencoba menghidupkan ponselnya. Setelah ponsel itu hidup, banyak sekali pesan dari sang ibu yang sangat mengkhawatirkan dirinya, kemudian Yumna memutuskan untuk langsung menelpon Laura. Tak butuh waktu lama dering kedua, Laura langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Yumna," pekik Laura.


Membuat Yumna meringis.


"Kamu dimana nak? Maaf kan ibu sayang, ayo pulang," pinta Laura.


"Ibu aku baik-baik saja, sungguh. Tapi aku gak bisa pulang bu, maafkan aku."


"Sayang ibu sangat mencemaskan mu, nenek dan oma mu juga sayang. Terutama nenek mu, dan menyuruh Jakie mencari mu, karena Jakie curiga kamu pasti bersama Bara," terang Laura.


"Ibu bilang pada om Jakie, jangan mencari kami. Kami baik-baik saja, aku akan menyuruh Bara menghubungi om Jakir dan tante Amira," ujar Yumna.


"Ya sudah kalau begitu, sekarang katakan kamu di mana?" tanya Laura.


"Ibu berjanjilah pada ku, bahwa ibu tidak aka. memberitahu siapa pun. Dimana aku berada," mohon Yumna.


Laura pun mengangguk, walau Yumna tak melihat.


"Iya... Iya, ibu berjanji tidak akan memberitahukannya pada siapa pun." Janji Laura.


"Baiklah bu, aku ada di Jawa Timur. Tepatnya di Pacitan, kami ada di daerah pantai BanyuTibo. Bu," terang Yumna.


"Syukurlah, ibu merasa tenang tahu kamu baik-baik saja."


"Ya sudah kalau begitu bu, ibu sama oma baik-baik ya di sana. Jaga kesehatan bu, aku sayang ibu," ucap Yumna.


"Ibu juga sayang pada mu, sayang." Balas Laura


Kemudian Laura dan Yumna, mengakhiri panggilan tersebut. Setelah selesai melakukan panggilan, Yumna pun menemui Bara, dia memberitahu pada Bara bahwa. Jakie mencarinya, Bara pun menurut dan menghubungi Jakie.


Sedikit menjauh dari Yumna, Jakie menuruni anak tangga rumah panggung tersebut. Sementara Yumna memperhatikannya dari jauh, Bara berbicara dengan Jakie dan melirik Yumna sekilas. Pembicaraan mereka serius, terkadang Bara menggeleng, walau Jakie tak melihatnya.


Setelah memutus panggilan telepon, Bara memejamkan mata menatap hamparan laut di depan.


"Aku janji yah, aku bakal melindungi Yumna dan akan aku buktikan bahwa dia. Akan menerima ku," gumamnya.


Dan menoleh pada Yumna dan tersenyum.


"Kenapa bicaranya jauh? Aku jadi curiga," Yumna memincingkan matanya menatap Bara.


"Tenang saja, mereka sudah berhenti mencari kita. Bahkan anak buah ayah ku, tidak ada yang menyangka aku disini," kekeh Bara.


"Syukurlah, aku tidak mau bertemu mereka dulu," ungkap Yumna.


"Aku mengerti,"


"Kamu memang selalu mengerti aku,"


Bara dan Yumna saling tatap, dan tersenyum manis. Tanpa mereka sadari orang-orang suruhan Mario, justru telah berhasil menemukan mereka dan langsung melapor pada Mario. Bahkan anak Jakie pun kalah gercep, dari anak buah Mario.


*****


Di Jakarta, Mario yang sudah mengetahui Yumna pun. Akan menemui Yumna siang ini juga, dia akan langsung terbang ke Jawa Timur. Untuk membujur sang anak pulang.


"Andi, apa jadwal saya sesudah makan siang?" tanya Mario lewat telpon.


"Jadwal anda kosong tuan,"


"Baiklah, tolong pesankan saya tiket pesawat untuk ke Jawa Timur," perintah Mario.


"Baik tuan," jawab Andi patuh.


Posisi Jimi di perusahaan di gantikan oleh Andi, entah kenapa Jimi memilih mengundurkan diri sebagai Asisten dirinya. Mario pun tak mau ambil pusing, dengan pengunduran Jimi, yang dia tahu Andi sudah di persiapkan lebih dulu oleh Jimi.


Siang pun tiba, tepat pukul satu Mario berangkat ke Jawa Timur. Tentu jarak yang di tempuh cukup singkat bagi Mario, karena menggunakan pesawat.


Beberapa menit kemudian, Mario sudah sampai dan anak buahnya telah menunggu di bandara. Dan akan membawanya ke tempat di mana Yumna berada, kurang lebih satu jam Mario telah tiba di pantai Banyu Tibo.


Mario pun harus berjalan kaki, menelusuri jalan setapak. Dan akhirnya dia sampai di rumah panggung milik Yumna.


"Rumah milik siapa ini?" tanya Mario pada anak buahnya.


"Ini milik warga tuan, mereka menyewa,"


"Beli rumah ini untuk anak ku, dan harus atas nama anak ku. Yumna," perintah Mario tegas


"Baik tuan,"


Salah satu anak buah Mario, akan menemui pemilik rumah tersebut. Dan akan membelinya untuk sang anak, dengan keberanian Mario mengetuk pintu rumah tersebut.


Bara mengerutkan dahi bingung, kenapa Mario ada disini? Dan ya, Bara tahu dia Mario putra Antiah. Karena Antiah masih memajang foto dirinya, sekali pun Mario jarang bertemu dengan sang ibu. Terkesan jahat memang, tapi pekerjaan Mario tak pernah ada hentinya.


"Tuan Mario,"


Sebelum Mario membalas ucapan Bara, tiba-tiba Yumna sudah muncul.


"Om, kenapa ada disini?" tanya Yumna, tanpa basa basi.


"Bisa kita bicara, berdua?"


"Baiklah, Bara aku ke luar sebentar." Izin Yumna.


Dan di jawab anggukan oleh Bara, kemudian Yumna mengajak Mario untuk di dekat pantai. Yumna lebih senang berbicara di sana, di bawah pohon rindang yang ada tempat duduk dan sebuah ayunan.


"Kenapa om, ke sini?"


"Bisakah kamu, memanggil ku ayah Yumna?" pinta Mario.


"Aku tidak bisa, maaf." Lirih Yumna.


"Tidak apa, papi tidak akan memaksa mu,"


"Lalu untuk apa, om ke sini?" tanya Mario lagi.


Yumna menyunggingkan sebuah senyum, melirik sekilas pada Mario. Kemudian menatap Lautan lepas.


"Aku kira, om hanya peduli pada anak kesayangan om itu," ujar Yumna dingin.


Mario menghembuskan napasnya secara kasar, ternyata walau terpisah Yumna dan Yusra. Memiliki watak yang sama, keras kepala. Tapi Yusra sekarang menjadi anak yang pembangkang. Dulu dia begitu mematuhi semua kata-kata Mario, tapi sekarang dia sesuka hati dan selalu memaksakan kehendak.


"Kamu juga anak papi, Yumna. Papi gak tahu, bahwa ibu mu, melahirkan anak kembar. Yang papi tahu, ibu mu melahirkan satu orang putri, dan nenek mu Antiah, menyembunyikan fakta ini selama bertahun-tahun lamanya." jelas Mario.


"Sudahlah lupakan, aku tidak akan ikut dengan om. Aku ingin disini, menenangkan diri."


"Jika kamu punya masalah, cerita sama papi Yumna."


Yumna menggelengkan kepala.


"Aku denger kata mereka yang dekat dengan ayahnya, saat anak perempuan terluka. Akan tenang jika bersandar di bahu ayahnya, tapi bahu ayah ku terlalu jauh untuk ku bersandar."


Mario menatap Yumna, yang sudah berkaca-kaca.


"Yumna," lirih Mario. "Maafkan papi, sayang." Sambungnya lagi.


"Lebih baik, om pulang saja. Aku tidak akan merebut kasih sayang om dari Yusra,"


Setelah mengucapkan itu, Yumna kembali kerumah lengkap dengan air mata yang sudah turun. Mario hanya bisa menatap punggung anaknya, yang menjauh kemudian dia memutuskan untuk memesan penginapan sekitaran tempat tersebut.


*****


Malam pun tiba, setelah Bara menenangkan Yumna yang menangis. Bara memutuskan untuk membawa Yumna makan malam di dekat pantai, dengan berjalan kaki, mereka menikmati malam yang di hiasi bulan dan bintang.


"Kenapa harus makan, di luar sih?" protes Yumna.


"Gak papa lah, sekali-kali jangan terus makan telur dadar dan tumis buncis," kekeh Bara, membuat Yumna memukul pelan tangan Bara.


"Bisa aja kamu,"


Yumna pun ikut tertawa, dan memang selama disini mereka makan menu yang sederhana tersebut. Karena harus menghemat pengeluaran, mereka juga belum menemukan pekerjaan.


"Restauran sea food!!" Yumna geleng-geleng kepala, Yumna kira mereka akan makan nasi goreng atau apalah. Tapi Bara malah mengajaknya kesini.


"Tenang, disini gak mahal ko,"


Yumna tidak tahu saja, bahwa malam ini Bara akan mengungkapkan isi hatinya. Dan Bara berharap dia mau menerimanya, sebelumnya Bara sudah memesan terlebih dulu menu dan meja. Jadi tinggal menunggu dan langsung duduk.


Tak butuh waktu lama, pesanan mereka sudah tiba. Dua piring nasi, Lobster asam manis jumbo cukup untuk mereka, dua porsi tumis cumi dan ikan bakar gurame dua porsi dengan sambal dan lalapan sesuai permintaan Bara.


Semua makanan tersebut membuat Yumna, hampir meneteskan liur.


"Ya Tuhan, pasti nasinya kurang ini," keluh Yumna, membuat Bara tertawa.


"Kalau kurang pesan lagi, nanti aku minta uang lagi sama ayah," kekeh Bara. "Makan yang banyak, malam ini aku yang traktir," ucap Bara.


Dan Yumna langsung saja makan dengan lahap, kebiasaan dirinya selalu lapar setelah sedih. Tapi anehnya tubuhnya tak pernah gemuk, impian semua wanita.


Beberapa menit kemudian, mereka telah selesai makan. Yumna mengelus perutnya yang mengenakan sweater berwarna hitam, dengan celana kulot dan hanya memakai sandal saja.


"Bara terima kasih ya, aku kenyang sekali. Nanti kapan-kapan aku traktir kamu,"


"Sama-sama, santai aja ok, mau pulang atau jalan-jalan terlebih dulu?"


"Kita jalan-jalan dulu saja,"


Yumna menatap jam di ponselnya, dan menunjukan pukul delapan malam.


"Belum terlalu malam ini, ko." Sambungnya lagi, dan Bara pun mengangguk sebagai jawaban.


Saat Bara akan membayar pesanan mereka, kasir memberi tahu bahwa pesanan mereka telah di bayar, oleh seseorang.


"Siapa?"


"Kami tidak tahu, yang pasti dia pria dewasa berumur sekitar 40an lah," jawab si kasir.


"Ou ya sudah, terima kasih."


Bara pun tak ambil pusing, dia berpikir pasti Mario yang membayar makanan mereka.


"Ayok," ajak Bara.


Yumna pun memegang tangan Bara, dan bersandar di lengan Bara yang kokoh.


"Bara aku kenyang," keluh Yumna.


Membuat Bara terkekeh.


"Kita istirahat duduk dulu di sana, di batu karang bagaimana?"


"Ya sudah boleh,"


Bara pun menuntun Yumna dengan hati-hati, mereka menikmati malam yang cerah di temani deburan ombak. Jika ini malam minggu atau weekend, sudah pasti ramai dengan wisatawan atau anak muda yang berpacaran.


Lama mereka saling diam, akhirnya dengan keberanian Bara mengungkapkan isi hatinya.


"Yumna kamu mau jadi pacar ku?"


Membuat Yumna langsung menoleh pada Bara.


"Apa?" tanya Yumna memastikan.


"Kamu mau, jadi pacar ku kan? Aku tahu, kamu belum sembuh sari luka hati mu Yumna tapi. Izinkan aku untuk menyembuhkannya, aku menyayangi mu dan mencintai mu. Selama ini," ungkap Bara dengan cepat.


"Bara tapi, aku..."


"Kamu tidak pernah merasakan, tidak ada ikatan. Tapi cemburunya setengah mati, aku selalu cemburu saat kamu membahas laki-laki lain di depan ku Yumna. Tanpa tahu bagaimana hati ku, banyak perempuan lain mendekati ku. Tapi aku selalu menolak mereka, karena aku benar-benar tulus mencintai mu." Jelas Bara panjang lebar.


"Beri aku waktu, Bara." Pinta Yumna.


"Baiklah, aku akan memberikan mu waktu, sebanyak yang kamu mau. Tapi jika aku terus menunggu, maka maafkan aku Yumna,"


Yumna menatap mata Bara dengan lekat, ada cinta, sedih dan rasa kecewa di matanya. Kemudian Yumna mengalihkan perhatiannya dari Bara, menatap kosong lautan di depannya.


"Bukannya aku tidak mau menerima mu, Bara. Tapi aku takut kecewa atau di tinggalkan. Seperti Keano meninggalkan aku, aku belum siap terluka kembali, bahkan aku belum bisa melupakan Keano," batin Yumna.


tbc....


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, makasih 🙏