
Selaksa mimbar melambai dalam relung mentari
Menjulang dalam untaian mutiara kasih
Sebentuk cincin hati tersemat dalam rinci ruas jari
Tertuang kata dalam lembut ikrar
Putih mu untuk ku sebagai tanda awal terikatnya sebuah janji
Hingga berlabuh dalam sucinya kata kepemilikan
Kubungkus tulus dalam janji putih nan suci
Antara ribuan duri tersebar di ruas sepanjang jalan
Kukukuhkan kamu dalam bingkai Ratu
Terendus angin dalam selaksa ikatan putih
Tanpa ragu kan kuperangi panglima kematian untuk merobohkan kerajaan suci kita
Hanya Tuhan yang mampu menguraikan kita dalam untaian perpisahan
Putihku
Janjiku
Mutiara laksa yang akan menemani rengkuhan penyatuan kita
Hari pertunangan Bara dan Yumna akhirnya tiba, hari yang sangat di nantikan oleh Bara. Dia memutuskan untuk menikahi Yumna, dua minggu kemudian.
Bara datang bersama ibu, ayah dan sanak saudaranya yang berasal dari Bandung datang ke Jakarta. Sedangkan dari pihak Yumna selain keluarga inti, mereka mengundang rt dan rw setempat. Juga tetangga mereka yang dekat.
Mereka sudah sampai di kediaman Laura, Yusra dan Hito menyambut tamu dan mempersilahkan masuk. Sementara itu Laura menemani Yumna bersiap di kamar, Wina datang hanya sebagai tamu saja. Tadinya dia menawarkan diri untuk membantu, tapi di larang oleh Laura.
"Kamu cantik sekali sayang," puji Laura pada Yumna.
"Aku anak ibu, pasti cantik." Balas Yumna tersenyum.
Yusra mengetuk pintu memberitahu bahwa keluarga Bara sudah datang, Yusra pun membuka pintu dan melihat penampilan Yumna. Yang memang sangat jauh beda dari sehari-harinya.
"Kamu cantik sekali," puji Yusra. "Ahh... Tapi aku juga cantik, kita kan kembar," seru Yusra terkekeh.
"Bisa aja kamu," Yumna menepuk tangan Yusra pelan.
"Ayok bu, Na. Kita ke depan mereka sudah datang. Jangan buat mereka menunggu lalu pulang lagi," kekeh Yusra.
"Ya sudah ayok," ajak Laura.
Laura dan Yusra menggandeng Yumna disisi kanan dan kiri Yumna, penampilan Yumna malam ini membuat Bara terpesona. Bagaimana tidak Yumna mengenakan baju lengan panjang dengan berbentuk depan V berwarna biru langit, memiliki hiasan bunga-bunga cantik. Rambut di sanggul dan bando mutiara menghiasi rambutnya, dengan make-up natural membuat Yumna semakin cantik.
Sedangkan dirinya memakai, kemeja batik khas anak muda dengan celana bahan. Yusra, Hito, Laura dan Mario. Mereka tak kalah cantik dan tampan.
"Baiklah kita mulai saja acaranya, bagaimana tuan Mario?" tanya MC yang di tunjuk oleh Laura, yaitu tetangganya sendiri yang bernama Lady.
"Baiklah silahkan di mulai," jawab Mario.
MC pun membuka sambutan dengan basmallah, dan beberapa sambutan dari kedua belah pihak dan menyampaikan maksud kedatangan merek ke rumah Yumna. MC pun memberikan kesempatan keluarga Bara terlebih dulu, baru pihak Mario yang menerima pinangan dari Bara.
Mereka pun sudah bertunangan, dan acara pernikahan akan di lakukan dua minggu lagi. Kata MC mengulang kembali kata dari Mario dan Jakie.
Setelah selesai acara, semua tamu menuju meja makan. Setelah acara makan bersama selesai, para tamu membubarkan diri kecuali Mario yang masih di rumah Laura. Antiah sudah pulang dengan Jakie dan Amira
****
"Bagaimana Laura!! Apa kamu memberikan ku kesempatan? Aku tahu aku mungkin jahat, bahkan egois dengan menginginkan kamu di hidup ku, tapi aku menyakiti mu," jelas Mario.
Laura menghembuskan nafasnya secara kasar, mencoba menetralisir rasa gugup yang menyerang dirinya.
"Aku mau menikah dengan mu Mario, aku mau memberikan mu kesempatan." Ujar Laura dengan cepat.
"Benarkah? Kamu tidak sedang bercanda kan?"
"Tidak,"
Mario senang bukan main, dia ingin berteriak tapi sadar masih ada orang di dalam. Mario pun memeluk Laura erat.
"Besok aku akan mempersiapkan, semua berkas kita untuk menikah. Sekalian kita mengurus berkas Laura," usul Mario.
"Baiklah memang lebih cepat lebih baik, dan niat baik jangan di tunda," papar Laura tersenyum.
"Aku pulang dulu Laura," pamit Mario.
"Hati-hati," jawab Laura.
Mario pun mengangguk sebagai jawaban, dia menemui kedua putri kesayangannya.
"Papi, ayah." Seru Yumna dan Yusra serentak.
Membuat Mario tertawa, kedua putri kesayangannya terlihat kompak sekali walau Yumna enggan memanggilnya papi.
"Lebih baik ayah saja, aku gak mau panggil papi kagok," kata Yumna kala itu.
Mario pun berpamitan kepada Yusra dan Yumna, Yusra pun berjanji akan pulang bersama Hito dan Wina.
****
Jimi pun mengetahui kabar pertunangan Yumna dan Bara, mereka bahagia sementara dirinya terpuruk dalam kesendirian. Bukan salah orang lain, tapi salah dirinya sendiri akibat dari dirinya.
Jika dulu dia bisa melepaskan rasa cinta pada Dania, mungkin saat ini Jimi dan Delia menikmati masa tua merek. Menanti cucu mereka, Jimi mendesah menatap keluar jendela menatap rintik hujan yang mulai turun membasahi bumi.
Suara ketukan pintu menyadarkan lamunan Jimi.
"Dad boleh aku masuk?" tanya Zea, sudah beberapa hari ini Zea menginap di rumah Jimi bersama Keano.
Zea juga sedang mengandung, dan usia kandungannya baru jalan satu bulan. Membuat Jimi bahagia mendengar kabar tersebut, Jimi tak hentinya menasehati Keano. Untuk memberikan perhatian pada Zea, dan menyuruh Zea tetap di rumah.
"Masuk," jawab Jimi.
"Dad," sapa Zea tersenyum dia membawa dua coklat hangat untuk Jimi dan dirinya.
"Aku rindu bicara berdua dengan mu, jadi aku membawa coklat hangat untuk kita bicara di balkon," jelas Zea, memberikan satu gelas coklat hangat.
"Makasih sayang, lebih baik kita bicara di sana." Tunjuk Zea, pada sofa dekat dengan jendela.
"Di luar dingin dan hujan kamu sedang hamil, daddy gak mau terjadi sesuatu kepada mu," ujar Jimi.
Zea pun mengangguk dan menurut saja, mereka pun duduk berdekatan Zea memeluk Jimi. Dia begitu rindu pada sang ayah, sejak menikah dia memang jarang sekali melakukan kualitas waktu bersama Jimi.
"Daddy masih sedih?" tanya Zea.
"Begitulah, daddy merasa bersalah pada mommy mu." Jawab Jimi lirih.
Zea hanya mengusap punggung Jimi menenangkan, Zea bisa melihat pancaran kesedihan dan kecewa di mata Jimi.
"Seandainya dulu, daddy lebih memperhatikan mommy mu. Mungkin dia masih ada sekarang, daddy ingin meminta maaf padanya. Meski harus berlutut di kakinya pun daddy akan lakukan," cerita Jimi, dia ingin menumpahkan kesedihannya di saat orang lain bahagia. Sementara dia tidak itu pemikiran Jimi.
"Dad jangan bilang gitu, aku yakin dulu daddy sudah cukup memperhatikan mommy. Tapi mungkin daddy tidak membalas cinta mommy,"
"Iya daddy jahat," kata Jimi.
"Daddy jahat sudah menyakiti Delia," ujar Jimi terisak.
Zea memeluk sang ayah dengan erat dan menenangkannya, dengan memberikan kata-kata positif walau belum tenang Jimi masih menangis. Ketika kehadiran seseorang di abaikan tapi saat dia pergi baru sadar, dan terasa rasa sesal dan semua rasa berkecamuk di dada.
Menangisi penyesalan ku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu gak akan bisa kembali lagi dan tak bisa di putar lagi.
Jika bisa maka Jimi, akan menjadi orang pertama yang akan menemui dirinya di masa lalu.
Zea menyelimuti tubuh Jimi, yang tertidur lelap. Setelah tadi Zea membujuk Jimi untuk tidur, dia khawatir dengan kesehatan sang ayah dan Zea melihat tubuh Jimi pun kurus.
"Semoga kamu bahagia, dad. Aku menyayangi mu," ucap Zea.
Zea pun meninggalkan kamar Jimi, dan menuju kamarnya sendiri dan nanti jika Auriga sudah pulang dia akan berbicara dengan kakaknya tersebut.
tbc...
Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih
maaf typo