Twin'S

Twin'S
Exstra Part.9



Satu minggu berlalu Dela di sibukkan dengan aktifitas kuliahnya, dia lupa janjinya dengan Ara. Membuat Ara marah dan tak mau ikut bersama Auriga ke rumah Zea.


"Ara sayang, jangan buat ayah sedih nak. Ayok ke rumah tante Zea," ajak Auriga.


"Aku gak mau ayah," tolak Ara tegas.


"Ayah cepat, ini udah siang. Nanti aku telat lagi," terik Lula dari dalam mobil.


"Iya sayang sebentar, Ara ayok."


Dengan kekeh Ara menolak ikut dengan Auriga, Auriga menggendong Ara dengan paksa walau Ara memberontak dalam pangkuan Auriga. Tapi tenaganya kalah dengan sang ayah, setelah memastikan pintu terkunci Auriga segera masuk ke dalam mobil, dan membuat Ara duduk di belakang dengan tenang.


"Kamu selalu buat ku kesal Ara," bentak Lula.


"Lula sudah cukup." Auriga menatap tajam Lula, membuat Lula kesal luar biasa. Auriga mengantar terlebih dulu Lula, setelah sampai di sekolah Lula. Lula mencium punggung tangan Auriga dan pergi begitu saja.


"Sabar," ucap Auriga.


Auriga menjalankan mobilnya menuju rumah Zea, walau cafe dan toko baju miliknya dan sang adik tapi dia ingin menjadi atasan yang di contoh pegawainya. Dia pun harus mengurus terlebih dulu perusahaan milik sang ayah. Kadang mengurus bersama Keano dan Jimi, tapi lebih banyak dia yang banyak bekerja.


"Ara jangan nakal sama tante Zea dan baba yah! Ayah pergi kerja dulu," pamit Auriga mencium pipi sang anak.


Namun Ara hanya diam tak menjawab ucapan Auriga, membuat Auriga menghela nafas lelah.


"Aku titip dia dad," ucap Auriga, karena Zea dan Keano mengantar Manda ke sekolah.


"Kamu jangan khawatir nak, dia akan baik-baik saja." Ucap Jimi.


Auriga pun berpamitan pada sang ayah, dan pergi meninggalkan rumah Zea.


****


Sudah satu minggu pula hubungan Dika dan Anyelir berlangsung, dan mereka semakin mesra. Terkadang ada saja yang iri pada Anyelir terutama tetangga yang dekat dengan kontrakannya, dan lagi-lagi dia tidak peduli. Toh dia yang menjalani hubungannya dengan Dika.


Dan Dika berjanji nanti malam akan berkunjung ke rumahnya, atau mengajak jalan sore. Akhir-akhir ini Dika memang sibuk dengan tugas-tugas yang membuatnya bosan.


"Uncle rese, ayok pulang! Atau mau jadi kuncen di kampus ini?" tanya Dela.


"Ogah, mau ikut gak?"


"Kemana?" tanya Dela antusias, jarang-jarang sekali uncle resenya ini mengajak jalan.


"Ke tempat kerjanya Anyelir, gue mau kenalin lo. Sama Anye," ujar Dika.


"Okelah hayu," ajak Dela semangat.


Dela dan Dika pun keluar dari kelas, saat di perjalanan menuju parkiran ada saja yang memberi Dika kotak makanan, bunga, coklat serta surat. Dika menerima saja itu semua dan di serahkan pada Dela.


"Heh!! Kok aku sih yang bawa," protes Dela.


"Udah bawa aja, kan lumayan tuh makanan sama coklat buat lo sama Ara. Betewe soal Ara, dia gak pernah lagi ke rumah atau lo gak ketemu dia lagi?"


"Gue belum ketemu dia, uncle tau sendiri kan. Akhir-akhir ini kita sibuk, lagian opah larang aku buat deket-deket sama mereka." Jelas Dela.


"Kenapa bisa begitu?"


"Mana gue tau, gue curiga mereka menyembunyikan sesuatu dari gue. Gue mau tanya sama ayah, dia selalu pulang malam saat gue mager keluar kamar.", Ujar Dela.


"Ya sudah nanti uncle lo yang ganteng ini, bakal cari tahu."


Obrolan mereka pun berlanjut di dalam mobil, Dela memang tidak membawa mobil sendiri selagi Dika mampu menjemputnya.


"Dia kerja di cafe? Asik traktir ya," pintanya.


Dika berdecak kesal, belum apa-apa sudah minta di traktir. Mereka duduk di kursi pojok dekat dengan jendela, Dika melihat Anye sedang mengantar minuman pada meja pelanggan lain. Dika melambaikan tangannya pada Anye, dan Anye langsung menghampiri Dika.


"Ka Dika."


"Hai... Sayang, kenalin ini keponakan aku. Namanya Radela," kata Dika memperkenalkan Dela pada Anye.


"Anyelir ka," ucapnya mengulurkan tangan.


Dela menyambut uluran tangan Anyelir, dengan senyum lembutnya.


"Ternyata kamu cantik ya! Hebat bisa menaklukan kulkas ini," kekeh Dela.


"Ka Dela bisa aja,"


"Jangan panggil aku ka, Nye. Aku kan ponakan Dika, kamu bakal jadi tante ku juga," Dela tertawa kembali.


"Baiklah Dela, kalau gitu aku kerja lagi yah. Ka Dika, Dela permisi," ucap Anyelir, berlalu meninggalkan mereka membawa pesanan Dela dan Dika.


"Cantik dan sederhana dia, kaya Grany." Jawab Dela.


"Tapi papi sama ibu nanti bakal setuju gak yah?"


"Aku yakin sih, mereka bakal yes. Secara Grany juga dulu bukan anak orang kaya, malah gue denger cerita dari bunda. Grany cuma istri ke dua opah," jelas Dela.


"Ya semoga saja."


Obrolan mereka berakhir saat, pesanan mereka datang. Dika berjanji akan menjemput Anyelir saat pulang kerja nanti, Dika dan Dela keluar dari cafe tempat Anyelir bekerja. Saat melaju di jalan raya tak sengaja dia menabrak seseorang.


"Dik, mati gak tuh?"


"Hus... Ayok kita liat."


Dika dan Dela turun dari mobil dan melihat gadis dengan memakai seragam sekolah.


"Hey! Kamu gak apa-apa dek?" tanya Dela.


Saat gadis tersebut mengangkat wajahnya, dia mengenal Dela yang sudah menolong adiknya.


"Ka Dela," lirih Lula, ya Lula sengaja menabrakkan diri ke mobil Dika. Karena kesal dengan Auriga yang tak kunjung menjemputnya.


"Aku Lula ka, kakaknya Ara," kata Lula menjawab kebingungan Dela dan Dika.


"Ohh... Kenapa kamu berlari? Apa ada yang sakit?" tanya Dika.


"Aku gak apa-apa ka, aku cuma kesel sama ayah aja."


Dika mengajak Lula masuk ke dalam mobil, dan akan membawanya ke rumah Dela pun mengikuti Dika, terpaksa menunda kepulangannya. Berpuluh menit kemudian, mereka sudah sampai.


Dika meminta kepada pelayan untuk di buatkan minum untuk tamunya, pada saat Dela dan Dika membantu Lula membersihkan lukanya. Laura muncul dari lantai dua.


"Loh kalian sudah pulang?" Siapa dia?" tanya Laura.


"Biar gue aja," bisik Dika.


"Iya bu, tadi Dika gak sengaja nabrak gadis itu bu. Lalu aku dan Del bawa dia kerumah, karena menolak ke rumah sakit," cerita Dika, dan Laura percaya saja.


"Kasian, siapa nama mu?"


"Qailula tante, panggil saja aku Lula." Sahut Lula.


"Nama yang bagus," puji Laura.


"Maafkan anak tante yah, dia memang sedikit ugal-ugalan bawa kendaraan." Kata Laura, membuat Dika melotot tak percaya.


"Ibu, mana pernah aku ugal-ugalan," protes Dika, Dela pun tertawa senang.


"Ya sudah kalian istirahat dulu, Lula boleh ikut tidur di kamar ka Dela," ujar Laura, di jawab anggukan oleh Lula.


Mereka pun berlalu ke kamar masing-masing, Dela duduk di hadapan Lula dan ingin bertanya. Mengapa dia berlari.


"Kenapa kamu tadi lari Lula?"


"Aku kesal sama ayah, dari tadi aku hubungi ayah dan nunggu dia buat jemput. Tapi gak di jemput juga, tante Zea pun sama."


"Mungkin mereka sibuk sayang," ucap Dela lembut. "Gimana kalo nanti, biar Ka Dela aja anter kamu pulang," tawar Dela, dan di jawab anggukan oleh Lula


"Sekarang kamu, istirahat dulu. Tapi kakak gak punya baju seukuran kamu."


"Gak apa ka, aku selalu bawa ganti baju."


Lula pun mengganti seragam sekolahnya, dengan baju rumahan. Setelah mengganti baju, Dela menyuruh Lula untuk tidur siang. Yang tak Dela tahu bahwa Lula bolos dari sekolah karena selalu di bully oleh teman-temannya karena tidak memiliki ibu lagi, sesungguhnya semua ucapannya tadi saat pertama di tanya adalah bohong.


Biarlah untuk kali ini saja Lula berbohong, dia memandang wajah cantik Dela. Ada perasaan yang entah sulit Lula jelaskan, mungkin sifat Dela yang perhatian dan baik pada dirinya dan Ara. Dua orang asing yang tak sengaja bertemu dengannya, membuatnya menjadi suka pada saat bertemu di taman dulu.


Semoga Suka


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏


Bonus visual Dika dan Anyelir, yang lainnya nyusul ya Hihihi (◠‿◕)