
Bara menatap Yumna yang tertidur lelap di sebelah kursi penumpang, setelah menumpahkan kesedihannya. Mereka tidak tahu akan pergi kemana, sebab pada saat Yumna mengajaknya pergi Bara langsung mengiyakan saja, dan mereka hanya berkeliling kota Jakarta.
"Duh kok anak cowok nangis sih," omel Yumna pada Bara.
"Mereka jahat sama aku," lirih Bara.
Yumna bertolak pinggang menatap Bara.
"Gimana kamu mau melindungi aku, kalau kamunya aja cengeng gini," kesal Yumna. "Ayo bangun, kamu harus kuat," sambungnya lagi, membantu Bara bangun.
"Ayok kita pulang, nanti tante Amira sama nenek cari lagi,"
Yumna menuntun Bara, yang lututnya terluka karena terjatuh. Entah Bara yang lemah atau Bara yang tak pernah mau melawan, Yumna pun tidak tahu.
"Tante... Tante Amira," pekik Yumna.
"Ada apa nona?" sahut Amira, dengan tergesa.
"Liat Bara jatuh, dan terluka," adunya.
"Astaga sayang, makanya kalau jalan hati-hati."
"Dia di ganggu sama anak kelas enam tan," adu Yumna lagi.
"Kenapa gak melawan?" tanya Amira lembut.
"Aku takut bu," cicit Bara.
"Ya sudah, besok ibu akan temui mereka. Dan menegur mereka oke,"
Bara pun mengangguk, sementara Yumna geleng-geleng kepala.
Lamunan Bara tentang masa kecilnya dengan Yumna buyar, saat Yumna bergumam tak jelas dalam tidurnya. Entah kapan rasa itu tumbuh di hati Bara untuk Yumna, yang pasti dia merasa senang saat gadis yang usianya hanya selisih tiga tahun darinya ada di dekatnya.
Dulu saat Bara naik ke kelas empat, dan Yumna kembali ke Jakarta. Dia sempat menangis dan merajuk pada ayah dan ibunya, membuat Jakie dan Amira merasa sulit menenangkan sang anak.
"Bara, nanti Yumna pasti balik lagi kalau libur sekolah," ucap Antiah memberi pengertian.
"Tapi nek, kenapa Yumna tidak sekolah disini saja? Semua anak-anak takut pada Yumna," isak Bara.
"Bara masa di lindungi sama Yumna sih! Kamu harus berani Bara, jika suatu saat nanti Yumna ada masalah, kamu harus bantu dia. Kamu harus jadi anak yang kuat ok," papar Antiah, memberi semangat pada Bara.
"Baik nek, mulai sekarang aku janji bakal jadi anak yang tangguh," ujar Bara sungguh-sungguh.
"Bagus itu baru anak hebat dan pintar," puji Antiah, mengusap kepala Bara.
****
Hari, bulan, dan tahun pun berlalu kini Bara telah beranjak remaja. Yumna bertemu kembali, dan seketika Bara terpesona akan kecantikan Yumna yang akan lulus SMA.
"Bara," teriak Yumna.
"Nona Yumna," Bara tersenyum saat Yumna memeluk dirinya.
"Kok, jadi kamu yang lebih tinggi dari aku sih?" protes Yumna.
Bara terkekeh melihat protes Yumna, kemudian dia mencubit pipi Yumna yang chuby.
"Karena aku sudah besar nona," jawabnya tersenyum manis.
"Aku juga sudah besar kok, tapi kenapa kamu yang lebih tinggi dari aku?" protes kembali Yumna, mengerucutkan bibirnya membuat Bara gemas.
"Sudah nona, terima saja aku memang lebih tinggi dari anda," usil Bara.
"Tau ahh," marah Yumna, kemudian meninggalkan Bara sendiri.
Bara terus saja mengenang kebersamaannya dengan Yumna dulu, semenjak lulus SMA Yumna jarang sekali datang ke Bandung, apalagi Anjani yang sakit membuat Yumna sibuk bekerja.
Sedangkan Bara hanya bisa menahan rindu, beruntung Yumna memiliki sosial media yang bisa di lihat olehnya.
Bara memutuskan berbelok ke sebuah penginapan, dia akan memesan kamar terlebih dulu, karena malam semakin larut dan dia juga butuh istirahat. Setelah memesan satu kamar, Bara menggendong Yumna, karena Yumna terlelap dalam tidurnya, biarlah esok pagi dia akan memikirkan rencana selanjutnya.
****
Pagi pun tiba, Yumna mengerjapkan matanya kemudian menatap ke sekeliling.
"Dimana ini?" Dimana Bara?"
Yumna mengedarkan pandangannya, dan mendapati Bara sedang terlelap di sofa kamar tersebut.
"Bara," lirih Yumna.
Yumna masuk ke kamar mandi dia ingin membasuh wajahnya, dan berganti baju. Sebelum memutuskan untuk pergi Yumna sudah mempersiapkan baju yang dia simpan di mobil Bara, sejak kemarin dia belum berganti baju dan belum juga mandi.
"Tapi aku masih cantik, walau belum mandi," kekeh Yumna, menatap pantulannya di cermin.
Kemudian melakukan pembersihan pada riasan wajahnya, beberapa menit kemudian. Yumna sudah selesai dengan ritual paginya dan sudah rapih.
"Selamat pagi, Bara." Yumna tersenyum pada Bara
Bara yang baru bangun mendapatkan senyum manis Yumna, serasa mendapat air di gurun pasir. Menyejukkan mata dan hatinya. "Selamat pagi, nona."
"Bara bisakah kamu jangan panggil aku nona?"
"Kenapa?"
"Tapi anda cucunya nyonya Antiah, dia kaya sama seperti ayah mu,",
Yumna menyunggingkan senyumnya. "Yang kaya ayah dan nenek ku, aku tidak aku hanya anak miskin Bara."
"Ou yah, kita akan kemana hari ini nona?"
"Bara," rengek Yumna.
"Baiklah... Baiklah Yumna," putus Bara.
"Aku gak tahu Bara," Yumna keluar menuju balkon, dan menghirup udara pagi.
Lama berpikir Bara memutuskan untuk membawa Yumna ke kampung halaman sang ibu, ke daerah Pacitan Jawa Timur. Dekat dengan pantai Banyutibo, dan Bara akan menyewa rumah warga sekitar pantai, atau rumah yang dekat dengan pantai.
Mereka kembali melakukan perjalanan darat, menuju kota Jawa Timur. Kurang lebih delapan jam mobil mereka sudah sampai di pusat kota Pacitan. Kemudian Bara meluncurkan mobilnya menuju pantai, setelah beristirahat di rumah makan selama satu jam, tujuan mereka adalah pantai Banyutibo.
Pantai dengan air terjun ini secara administratif terletak di Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Jarak dari Pusat Kota Pacitan adalah sekitar 32,5 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
Setelah mereka sampai, Bara mencari penginapan terdekat terlebih dulu, sebelum mencari rumah untuk mereka. Bara mengaku bahwa dia adalah adik-kakak agar petugas mau memberikan kamarnya untuk mereka.
"Kenapa kamu bilang, gitu?" bisik Yumna.
"Kalau kita bilang bukan adik kakak, otomatis kita akan memesan dua kamar. Dan kamu tahu uang ku tidak cukup," kekeh Bara.
Yumna pun memutar bola mata malas, sejujurnya dia juga tidak memiliki banyak uang. Hanya cukup untuk makan sehari-hari mungkin.
"Ayok," ajak Bara, saat sudah mendapatkan kunci.
Bara berniat ingin mengutarakan isi hatinya pada Yumna malam ini. Bara melirik Yumna sekilas, dan tersenyum.
"Semoga berhasil," batin Bara.
Setelah sampai di penginapan, mereka langsung merebahkan diri terlebih dulu, beruntung kasur mereka terpisah. Bara sengaja memesan kamar yang memiliki dua tempat tidur.
"Kamu tidak memberitahu ibu mu?"
"Tidak usahlah, aku ingin tahu. Seberapa pentingnya aku untuk ibu," Yumna menghembuskan napasnya secara kasar.
Kemudian membuka balkon kamar, yang terletak di lantai tiga. Balkon yang menghadap langsung dengan lautan.
"Pasti menyenangkan tinggal disini,"
"Kita akan cari rumah sekitaran sini," sahut Bara.
"Lalu aku juga akan mencoba cari kerja," sambung Bara lagi.
Yumna tersenyum pada Bara, membuat hati Bara berdebar.
"Please Yumna jangan tersenyum, atau aku akan tenggelam dalam senyum manis mu," batin Bara, memejamkan mata menormalkan debaran di hatinya.
"Kenapa?" tanya Yumna, saat melihat Bara memejamkan matanya.
"Tidak ada," dalih Bara bohong.
Mereka pun menikmati senja, yang sebentar lagi akan berganti menjadi pekatnya malam.
****
Sementara itu di Jakarta, Laura merasa cemas. Karena Yumna belum juga pulang dari kemarin, Laura terus menghubungi no anaknya tapi tidak aktif.
"Dia belum juga pulang?" tanya Anjani.
"Belum bu, kemarin dia bilang cuma izin ke toilet, pas di acara nikahan Keano. Tapi malah hilang, aku kira dia pulang tapi aku tunggu sampai tengah malam belum juga kembali, dan sampai sekarang pun Yumna belum pulang dan tak memberi kabar apapun bu," terang Laura, merasa cemas.
"Aku tahu, bahwa dia gak baik-baik saja bu. Dan aku membiarkan dia, aku kira dia bakal cerita sama aku jika dia sudah tenang tapi dia malah memilih pergi," isak Laura.
"Sudahlah, besok kita beritahu nyonya Antiah atau Mario. Supaya mereka mencari Yumna."
Anjani mencoba menenangkan Laura, meski dirinya pun khawatir dengan keadaan cucunya yang sedang patah hati tersebut.
"Apa Mario akan membantu kita bu? Dia terlihat bahagia bersama Dania,"
"Ibu yakin Mario akan membantu mu, bagaimana pun Yumna anaknya juga Laura. Sekarang ayo kita masuk, kamu terlalu lama menunggu di luar. Kami juga belum makan kan?"
Laura menggelengkan kepalanya lemah, sebagai jawaban. Bagaimana dia bisa makan, disaat dia tidak mengetahui keadaan Yumna.
"Maafkan ibu, sayang. Semua salah ibu, yang terlalu larut dalam kesedihan ibu, karena adik mu Yusra," batin Laura.
Kemudian Laura mencoba mengirim pesan kembali, meski semua pesannya belum di baca. Laura berharap Yumna akan memberikan kabar secepatnya.
"Mudah-mudahan, kamu baik-baik saja nak.",
tbc....
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, Makasih 🙏