Twin'S

Twin'S
Exstra Part.22



Cinta itu laksana lembah yang dalam nan misteri, begitu pula pernikahan. Jika melangkah ke tingkat tertinggi, beruntunglah yang tetap bertahan dan menjadikan cinta hanya ujian dan kesabaran sebagai penjaganya. Pernikahan laksana pelaut di atas samudra penuh dengan gelombang.


Dela menatap Auriga yang menjabat tangan sang ayah, Auriga begitu terlihat tampan. Begitu lugas dia mengucap nama dirinya, dan kata SAH terucap dari saksi. Membuat Dela bernapas dengan lega, Auriga menatap Dela yang terlihat cantik.


Setelah menanda tangani buku, dan memasang cincin. Auriga mengecup kening Dela.


"Akhhh... Baper aku ka," teriak Maira, yang langsung mendapatkan cubitan dari Yusra.


Dika tersenyum bahagia, sekaligus lega. Dia sudah selesai menjaga Dela, kini dia akan berjuang untuk mendapatkan cintanya sendiri.


Dela dan Auriga pun berbaur dengan para tamu undangan, Auriga juga memperkenalkan Dela pada semua rekan kerjanya. Termasuk pada Eireen yang datang kemarin, dan tadi Reen datang bersama kekasihnya.


"Selamat uncle," ucap Reen, memeluk Auriga dan beralih memeluk Dela.


"Kita seumuran kan?" tanyanya.


"Cuma beda satu tahun mungkin, tua kamu." Kata Dela, Reen pun mengangguk mengerti.


Reen dan Dela pun berbicara banyak hal, walau singkat tapi mereka sudah sangat akrab. Mungkin karena mereka tak beda jauh.


"Jaga Ara dan Lula yah! Aku tau kamu pasti bisa menyayangi mereka," ujar Reen memeluk Dela, pasalnya Reen tahu bahwa Lula dan Ara kurang kasih sayang dari seorang ibu. Terutama Ara yang dari lahir, tidak merasakan kasih sayang ibunya.


"Pasti, kamu jangan khawatir."


Reen tersenyum pada Dela, kemudian menatap Auriga dan memeluk kembali paman kesayangannya.


"Sukses malam pertamanya uncle," bisik Reen, mendapat pelototan Auriga.


Reen pun tertawa dan berpamitan menuju meja keluarga besarnya, tepat pukul empat sore. Acara pernikahan dan resepsi Dela dan Auriga sudah selesai, Auriga membawa langsung Dela menuju hotel yang dia pesan.


"Ayah aku boleh ikut?" tanya Ara.


"Tidak sayang, kamu tunggu di rumah saja yah! Siapkan kejutan untuk bunda mu," bisik Auriga, memeluk Ara dan Lula bergantian.


Auriga dan Dela pun meninggalkan halaman rumah Yumna, Yumna menatap kepergian mobil Auriga. Laura menyentuh pundak Yumna dan memeluknya, keluarga Jimi memutuskan untuk pulang. Sedangkan Yumna dan Bara akan menginap di rumah Mario, karena rumahnya berantakan sisa pesta.


****


Sekelam langit


Bergemuruh bertabuh dengan angin


Meluruh tangis dalam nyanyian lara


Terhentak jantung mengupas tetesan air


Menggoyang luka membakar tawa.


Setelah dari rumah Dela, Dika memutuskan untuk menemui Anyelir. Dia ingin menanyakan mengapa akhir-akhir ini dia berubah. Dan disinilah Dika sekarang, di cafe tempat Anyelir kerja, waktu menunjukan pukul tujuh malam.


Dia dengan setia menunggu Anyelir keluar dari cafe, jika Dika masuk. Yang ada Anyelir nanti akan kabur, tak butuh waktu lama Anyelir terlihat keluar dari dalam cafe.


"Anye," panggil Dika.


"Dika," lirih Anyelir.


"Ikut aku," Dika menarik Anyelir, menuju mobilnya.


"Aku akan antar, dan kita perlu bicara Anye. Tentang hubungan kita," tegas Dika.


"Baiklah, kita bicara di tempat lain saja." Putus Anyelir.


Dika pun setuju, dia membawa Anyelir ke suatu tempat. Dia akan meluruskan hubungan yang mulai merenggang akhir-akhir ini.


****


Dela dan Auriga sudah sampai di hotel, Auriga memesan kamar Presidential suite di salah satu hotel di daerah Jakarta. Pakaian yang di kenakan Dela, mencuri perhatian pengunjung hotel.


"Tau gini, tadi aku ganti baju."


"Kenapa memang?"


"Malu di liatin," katanya manja, memeluk lengan Auriga.


"Sabar sebentar lagi sampai,"


Auriga dan Dela mengikuti langkah Bellboy, yang membawa barang mereka. Tak butuh waktu lama, Auriga dan Dela sudah sampai di lantai atas. Lantai dimana kamar VIP berada.


Setelah sampai di depan pintu kamar, bellboy tersebut langsung meninggalkan pengantin baru tersebut setelah mendapat tips.


Auriga membuka pintu, membuat Dela berdecak kagum akan kemewahan dan keindahan kamar tersebut. Hotel yang Auriga pesan dekat dengan pantai, sehingga bisa menikmati matahari terbit di balkon kamar.


"Suka," tanyanya memeluk Dela dari belakang.


"Suka banget, terima kasih."


"Baiklah kita mandi dulu, habis itu kita lakukan ritual suami istri," goda Auriga mengedipkan matanya.


Menghadirkan semburat merah di wajah Dela, dan merasakan debaran di dadanya. Mereka benar-benar mandi bersama, walau hasrat Auriga sudah naik saat melihat tubuh Dela yang padat di bagian yang pas. Selama ini, Dela selalu memakai pakaian yang longgar. Jadi tak terlihat jika bagian tubuhnya berisi.


Saat keluar dari kamar mandi, Auriga memeluk Dela dari belakang. Dan mencium leher jenjang Dela, membuat Dela merinding seketika.


"Bolehkah?" tanya Auriga dengan suara serak, membuat Dela gugup.


Dela memejamkan matanya, dan mengangguk sebagai jawaban. Toh nanti atau sekarang sama saja begitu pikir Dela, mendapatkan lampu hijau Auriga langsung membalikan Dela dan menciumnya dengan lembut, namun lambat laun ciuman itu menjadi panas. Tangan Auriga tak tinggal diam sudah meraba kemana-mana.


"Akhhh... Auriga," desah Dela menyebut nama Auriga, membuat si empunya nama semakin semangat menggoda benda kenyal milik Dela.


Saat di rasa sudah siap, Auriga mengarahkan miliknya ke inti Dela dengan perlahan dia mendorong masuk ke dalam inti Dela yang masih sempit.


Bless!


"Akhh... Sakit stop," pekik Dela, namun Auriga terus memasukannya lebih dalam.


"Maaf sayang, ini hanya sebentar kok!" ucapnya mencium Dela untuk mengalihkan rasa sakitnya.


Dan benar lambat laun Dela mendesah, dan menyebut nama Auriga membuat Auriga semangat.


Malam itu menjadi malam panas dan panjang untuk pengantin baru tersebut, berbagi desah dan peluh yang untuk pertama kali bagi Dela dan pertama kali bagi Auriga setelah tiga tahun dia tak menyalurkan hasratnya.


Semoga suka 💞


Maaf typo