Twin'S

Twin'S
Exstra Part.26



Pada akhirnya selalu ada batasan, untuk setiap perjalanan. Dan selalu ada kata selesai, untuk sesuatu yang di mulai.


Satu bulan berlalu, perasaan Dika terasa hampa. Dia mencoba dekat dengan Jenny tapi tidak bisa, dia selalu teringat dengan Anyelir. Saat itu dia menyusul Anyelir, namun menurut pemilik kontrakan Anyelir sudah pindah.


Dan Dika pun menyuruh seluruh anak buah Mario mencarinya, namun sampai sekarang belum ketemu.


"Kamu dimana Nye? Aku kangen, cuma kamu yang aku cinta Nye."


Suara ketukan di pintu mengalihkan atensi Dika, dari foto Anyelir.


"Masuk," ujar Dika sedikit tinggi.


"Uncle rese," pekik Dela, dan langsung memeluk Dika.


"Ngapain kamu disini? Masih inget, punya paman yang muda, kaya dan kece. Mentang-mentang udah punya sugar daddy," cibir Dika, Dela tertawa dan mencubit pipi Dika.


"Marah nih, ceritanya."


Tawa Dela pecah, saat melihat Dika menekuk wajahnya. Saat Dika dan Dela sedang bercanda, dengan posisi Dela yang memeluk Dika. Tiba-tiba pintu terbuka.


"Dika," bentak Jenny.


Dela terkejut dia ingin melepaskan diri dari Dika, namun Dika menahan lengan Dela.


"Bantuin pliss," bisik Dika.


"Jangan lupa bayarannya," balas Dela dengan berbisik pula.


Jenni menarik Dela agar menjauh dari Dika, dan menatap tajam Dela. Namun Dela yang di tatap seperti itu pun tak pernah takut, dia sudah terbiasa di tatap seperti itu.


"Siapa kamu? Berani sekali peluk-peluk Dika," protes Jenni.


"Siapa aku? Kamu tanya sendiri saja, siapa aku untuk Dika." Dela mengedipkan matanya pada Dika.


Dika pun berdiri dan berdiri di tengah-tengah, antara Dela dan Jenny


"Jen kenalin, ini Dela. Cinta pertama ku," ujar Dika, membuat Jenny membulatkan matanya.


"Aku gak percaya," cetus Jenni.


"Ya sudah kalo gak percaya, aku gak nyuruh kamu buat percaya. Kamu yang minta perjodohan ini bukan aku," tegas Dika dengan wajah datarnya.


Jenni menghentakkan kakinya dan langsung pergi.


"Awas saja, aku akan balas kamu." Gumam Jenny.


Setelah pintu tertutup Dika bernapas dengan lega, dia pun duduk di sofa di ikuti oleh Dela.


"Siapa sih dia?" tanya Dela kepo, pasalnya selama satu bulan ini dia sibuk dengan kuliah dan mengantar jemput Lula, dan tiap minggu dia pergi ke rumah orang tuanya.


"Dia Jenny, anaknya Alderik Sanova. Pemilik Sanova Corp," jelas Dika.


"Satu-satu kenapa sih!" omel Dika.


"Oke...Oke, ayok jelasin. Banyak hal yang aku lewatin yah ternyata," kekeh Dela.


Dika pun menceritakan semua masalahnya, dan putusnya hubungan dengan Anyelir.


"Makanya waktu itu aku chat kamu, tapi gak bales," kesal Dika. "Dan sekarang aku gak tau, dimana Anyelir." Sambungnya lagi.


Dela mengusap pundak Dika.


"Sorry uncle reae sekarang aku sibuk, tau sendiri kan. Gue udah nikah uncle," ujar Dela. "Sabar yah, aku pasti bakal bantu cari Anyelir," sambungnya kemudian.


Dika menghembuskan napasnya secara panjang, dan mengedikan bahunya acuh. Dia sempat berpikir jika Anyelir tak ketemu, dia memilih pasrah menikah dengan Jenny.


"Kalo Anyelir gal ketemu, aku pasrah nikah sama Jenny," celetuk Dika, dan langsung mendapatkan cubitan di pinggangnya.


"Heh! Sakit tau," protes Dika.


"Kalo sama wanita tadi, aku gak setuju yah!" omel Dela.


"Sekarang mau kemana?" tanya Dika.


"Mau ke rumah bunda, terus nanti jemput Lula dan Ara." Ujar Dela.


"Ohh... Ehh, betewe udah isi belum?"


"Apaan sih kepo," kekeh Dela.


Dika memutar bola mata malas, kemudian dia melanjutkan pekerjaannya. Sementara Dela dia sibuk berbalas pesan dengan Auriga, karena hari ini Auriga kembali bekerja. Setelah satu bulan cuti setelah menikah.


****


Anyelir sendiri, dia sedang menatap kosong hamparan kebun teh yang luas. Dia bekerja sebagai pemetik teh, dan sekarang dia sedang beristirahat kemudian akan melanjutkan pekerjaannya nanti siang.


Perkebunan teh ini berada di Bandung selatan persisnya di Malabar Pangelengan. Perkebunan teh ini mempunyai luas nyaris 2.022 hektar, saat pertama kali menginjakan kaki di tempat ini. Anyelir benar-benar merasa tenang dan damai, dan tempatnya pun benar-benar cantik dan hijau ditambah lagi udara yang sejuk. Tak seperti di kota Jakarta, satu bulan sudah Anyelir berada di Bandung.


"Kamu pasti sudah bahagia, kan Dik?" gumam Anyelir, menatap hamparan teh.


Anyelir begitu merindukan Dika, dia selalu menatap foto Dika yang di ambil saat mereka jalan-jalan waktu itu.


"Aku rindu Dika," lirih Anyelir, air matanya mengalir begitu saja.


Bohong jika Anyelir baik-baik saja, nyatanya perpisahan yang terkesan di paksa membuatnya sakit.


Semoga suka 💞


Maaf typo