Twin'S

Twin'S
Bab.77



...~Menjadi ibu merupakan hadiah teristimewa, dan anak merupakan kado terindah dalam pernikahan bagi setiap pasangan~...


Beberapa bulan berlalu, kehidupan rumah tangga mereka cukup harmonis. Terkadang ada perdebatan kecil yang di alami oleh Yusra, Hito, Yumna dan Bara, berbeda dengan Mario dan Laura yang pernah merasakan biduk rumah tangga sebelumnya. Mario dan Laura, lebih santai dalam menyelesaikan masalahnya dengan Mario.


Kabar membahagiakan datang dari Yumna dan Bara, mereka mengumumkan kehamilan Yumna yang berusia dua bulan. Membuat semua orang menyambutnya dengan antusias, termasuk Laura yang sedang hamil pula. Dan kini sudah memasuki usia kehamilan tujuh bulan, selisih lima bulan dengan Yumna.


Sedangkan Yusra dan Hito memutuskan untuk menunda dulu, karena dia ingin berduaan dengan Hito alasan klasik memang. Tapi itu membuat mereka saling memahami satu sama lain, Yusra yang masih manja dan emosian membuatnya belum siap menjadi seorang ibu. Sedangkan Keano dan Zea, sudah melahirkan anak perempuan cantik.


Kini Yumna sedang menatap Yusra yang sedang membuatkan rujak mangga muda untuk dirinya, entah kenapa dia ingin ke rumah mamah Wina. Dan menyuruh Yusra membuatkan rujak untuknya.


"Kamu nyebelin, kenapa ngidamnya nyuruh aku sih!!" omel Yusra sambil mengulek sambal rujak.


"Gak tau, si baby mau tantenya yang buat."


Yusra memutar bola mata malas, sedangkan para suami sedang bekerja di kantor milik Mario. Hito dan Bara bekerja sambil kuliah, mungkin beberapa tahun lagi mereka akan lulus.


Tak lama Wina datang dengan sekantong keresek buah-buahan, dia tadi belanja terlebih dulu buahnya dan membeli mangga muda pada tetangga.


Tak lama rujak buah dan mangga muda pun siap, Wina membawanya kehadapan Yumna.


"Makasih mamah Wina," ucap Yumna tulus.


"Sama-sama," balas Wina.


Wina dan Yusra pun duduk di hadapan Yumna, yang sangat lahap memakan mangga muda. Membuat Yusra menelan saliva sekaligus ngilu pada giginya.


"Kamu mau Ra? Enak loh!!" tawar Yumna, sambil menyuap mangga muda sesekali jambu air dan bengkuang.


Yusra yang penasaran pun mencoba, karena dia melihat ekspresi Yumna yang tampak biasa aja. Saat mengigit Yusra sudah mengerutkan, Yusra pun memuntahkan mangga muda tersebut dan mengganti dengan jambu air.


"Apaan asem gitu juga," protes Yusra.


"Memang kata siapa mangga muda manis," kekeh Yumna.


"Orang ngidam memang gitu, Yusra. Kamu juga akan merasakannya nanti kalo, kamu hamil," kata Wina.


Yusra pun hanya mengangguk sebagai jawaban, mereka terus menyantap rujak buah yang ada di depannya sampai habis. Sesekali mereka berbicara dan bercanda.


"Ahh... Aku kenyang sekali," ucap Yumna mengelus perutnya, dan menyandarkan punggungnya.


"Iyalah kamu yang paling banyak makan," cibir Yusra.


"Biarinlah seger tau, gak bikin mual."


"Nih nanti pulang kasih ke ibu, nanti adik kita ileran kalo gak di kasih,"


"Makasih, kalau gitu aku pulang dulu yah!!"


Yumna beranjak dari duduknya, mencium pipi Yusra. Kemudian menghampiri Wina yang sedang di dapur.


"Mam, aku pamit pulang dulu ya," kata Yumna.


"Ya sudah, hati-hati yah." Ucap Wina di jawab anggukan Yumna, mencium pipi Wina.


****


Sementara itu di kediaman Jimi, Zea yang baru saja melahirkan putri cantiknya yang di beri nama Eireen Emira. Yang baru berusia kurang lebih satu bulan.


Jimi terlihat memandangi Eireen, yang tertidur pulas. Jimi selalu melihat sekilas kemiripan Delia di wajah Reen nama panggilan Eireen.


"Delia lihat lah, cucu mu cantik sekali. Persis seperti Zea," gumam Jimi yang sedang menggendong Reen.


Jimi sering menghabiskan waktunya dengan bekerja, dan menjaga Zea yang pada saat itu hamil. Tapi kini dia akan menjaga cucu kesayangannya, sedangkan Auriga dia sibuk dengan kuliah dan bisnisnya karena Zea sudah tak lagi terjun ke usahanya. Semua dia serahkan pada Auriga dan Jimi.


"Dad," panggil Zea. "Reen tidur? sepertinya Reen senang sekali, kalau tidur di dekapan daddy," ucap Zea memandang sang anak.


"Daddy selalu menceritakan, tentang mommy mu pada Reen. Jadi dia cepat tidur," kekeh Jimi.


"Garis wajah Reen, mirip mommy kan dad?"


"Ya sayang," lirih Jimi.


Zea bisa melihat raut sedih di wajah Jimi, dan dia mengusap punggung Jimi dengan lembut. Selama masa terpuruknya Jimi kehilangan Dania Zea, Auriga dan Keano. Selalu menemani Jimi, mereka tak pernah meninggalkan Jimi apalagi Zea yang hamil saat itu. Membuat Jimi posesif dia takut jika Zea, mengalami nasib yang sama seperti Delia. Tapi Keano dan Zea berhasil meyakinkan Jimi.


"Daddy istirahat saja dulu, nanti kalo makan siang. Aku bangunin," ucap Zea, dan di jawab anggukan oleh Jimi.


Hanya anak-anaknya lah kini, yang menemani dirinya. Walau Jimi masih memiliki orang tua, tapi dia tidak tega membebani orang tuanya. Apalagi ayahnya yang sakit-sakitan.


****


Sementara itu Yumna yang sudah sampai di rumah Mario, menuju dapur dan memberikannya pada Mala.


"Nanti anterin ke kamar ibu ya!!" perintah Yumna.


"Baik nona," ucap Mala patuh.


Yumna tinggal disini atas permintaan Mario, hanya Anjani yang tinggal di rumah lama di temani dua orang asisten.


Yumna masuk ke dalam kamarnya, kemudian dia merebahkan dirinya berjalan dari rumah Wina ke Mario saja dia sudah lelah.


"Padahal hanya terhalang dua rumah, tapi cape banget," keluh Yumna.


Tiba-tiba dia merindukan Bara, dan berinisiatif ingin menyusul Bara ke kantor sang ayah. Dia ingin mengajak Bara makan siang di restauran seafood, Yumna pun bergegas bersiap. Tak lama Yumna sudah siap, dengan dress ibu hamil bermotif bunga berlengan panjang.


"Sudah cantik," ucapnya setelah memoles lipstik.


Entah kenapa kehamilan Yumna ini, dia ingin selalu berdandan. Bahkan tidur pun dia memakai lipstik, menurut Laura jabang bayi yang di kandung Yumna mungkin perempuan. Tapi dulu Laura tidak terlalu suka dandan tapi bayinya perempuan, malah di kehamilan sekarang Laura suka dandan.


Saat turun dari lantai dua, Yumna melihat Laura sedang menyantap rujak buah yang dia bawa. Laura tersenyum saat melihat sang anak turun.


"Mau kemana? Cantik sekali kamu," puji Laura.


"Mau ketemu Bara, bu. Tiba-tiba kangen," kekeh Yumna.


"Aku berangkat dulu ya bu," pamit Yumna saat taxi online yang di pesannya sudah datang, Yumna mencium punggung tangan Laura.


"Hati-hati," ucap Laura, di jawab anggukan Yumna.


****


Berpuluh menit kemudian Yumna sudah sampai di loby kantor Mario, mereka mengenal Yumna sebagai anak sulung Mario pun tersenyum menatap Yumna.


Yumna memberitahu Bara, bahwa dia sudah sampai dan akan menunggu di ruangan Mario. Setelah mendapatkan balasan dari Bara, Yumna pun memasukan ponselnya pada tas.


Saat akan masuk ke dalam lift, tak sengaja Yumna menabrak seseorang yang akan keluar dari lift.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja." Sesal Yumna, sebab baju orang tersebut basah karena kopi yang dia bawa.


"Tidak apa-apa, nona. Seharusnya saya yang meminta maaf, karena terlalu fokus pada ponsel saya."


Laki-laki yang di tabrak Yumna pun mendongkak menatap Yumna, sekilas dia mengagumi kecantikan Yumna.


"Tuan.. Kenapa anda melamun?" tanya Yumna, membuat laki-laki tersebut salah tingkah.


"Tidak ada, sudah tidak apa-apa. Baju ini bisa saya cuci nona,"


"Sekali lagi maafkan saya,"


"Iya nona, nama saya Halil," ucapnya.


Tapi Yumna hanya tersenyum menatap Halil, dan tak membalas uluran tangan Halil. Membuat Halil canggung.


"Sekali lagi maaf tuan, permisi."


Yumna masuk ke dalam lift yang sudah terbuka kembali. Halil menatap kepergian Yumna, dia berniat ingin mendekati Yumna dan mengenal lebih jauh tentang Yumna.


"Aku harus mendapatkannya," gumam Halil, berlalu dari kantor Mario.


tbc....


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏