
POV Jimi
Berpuluh tahun berlalu, tapi perasaan ini tetap sama. Tak pernah berubah dan berkurang hanya untuk satu nama yaitu Dania, wanita cantik yang memikat hati dengan kecantikannya dan kebaikannya.
Dulu aku berpikir ulang untuk mendekatinya, karena aku adalah anak orang miskin. Ibu dan ayah ku yang bekerja sebagai asisten rumah orang tua Dania pada saat itu, Ibu dan ayah yang mengetahui itu pun memberikan nasehatnya panjang lebar. Bahwa aku tidak pantas untuk nona Dania.
"Aku akan membuktikannya, bu, yah. Aku akan membuktikan bahwa aku layak untuk nona Dania," ucap ku dengan tegas.
Membuat kedua orang tua ku menghela nafas dengan kasar.
"Kalau itu keinginan mu, maka kamu harus bekerja keras nak. Buatlah diri mu layak untuk nona Dania," ujar bu Mira.
Aku pun mengangguk dengan antusias, kemudian saat hari itu aku belajar lebih giat supaya bisa masuk ke salah satu universitas terkemuka di kota tersebut. Untuk mendapatkan beasiswa tentu tidaklah mudah, aku harus bersaing dengan mahasiswa lainnya dari berbagai kota.
Sedangkan Dania gadis yang aku cintai, orang tuanya memberangkatkannya ke luar negeri.
Sebelum Dania pergi dia sempat menemui ku, dan mengeluhkan keluh kesahnya pada ku. Tidak aneh lagi dia selalu bersikap manja pada ku, karena hanya aku yang selalu ada untuknya saat dia sedih.
"Aku takut di sana Jim," keluh Dania, dengan wajah kusut. "Aku takut gak akan ada yang bantu aku kaya kamu, yang selalu jagain aku. Nanti kalo aku di gangguin sama orang bule gimana coba?" rajuknya begitu menggemaskan bagiku.
Aku hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala Dania dengan sayang, agar dia tau bahwa dia tidak sendiri.
"Jangan takut nona, nona harus kuat. Kalau ada apa-apa aku akan langsung menyusul anda ke sana," ucap ku asal.
Dania mencebik kesal menatap Jimi.
"Mana bisa kamu kesana! Kamu kan harus kuliah juga, kenapa sih kamu gak ikut daftar aja?" tanya Dania.
"Aku mana mampu nona, kalau mau anda yang membayar semua kebutuhan saya di sana saya terima," goda Jimi sambil terkekeh.
Membuat Dania cemberut dan memukul pelan lengan Jimi.
"Udah ahh kamu nyebelin," ketus Dania, Dania beranjak dari duduknya.
"Mau kemana non?"
"Ke kamar," jawabnya tetap ketus.
Membuat Jimi terkekeh.
"Kamu begitu menggemaskan nona,"
Dania menyipitkan matanya, menatap Jimi yang mengikuti dirinya.
"Kenapa kamu mengikuti ku?" tanya Dania melipat tangan di dada.
"Aku hanya ingin memberi ini, nona."
Jimi memberikan sebuah gelang berwarna, yang dia buat sendiri.
"Supaya anda mengingat ku terus," ucapnya setelah mengikatkan di pergelangan tangan Dania.
Dania mengulum senyum, membuatnya merona. Dan Jimi mengetahui itu.
"Terima kasih, Jim." Dania memeluk Jimi.
"Sama-sama," sahut Jimi, sambil menetralisir debaran jantungnya.
Beberapa tahun berlalu kini Jimi sudah lulus dan sudah bekerja, di perusahaan Mario. Tanpa dia tahu bahwa Dania adalah kekasih Mario.
Karena Jimi dan kedua orang tuanya sudah tidak bekerja lagi di rumah orang tua Dania, jadi jika bertemu Dania akan melupakan Jimi. Tapi tidak dengan Jimi.
Saat pertama kali Mario mengenalkan Dania sebagai tunangannya, untuk pertama kalinya Jimi merasakan patah hati. Selama ini dia selalu menolak gadis-gadis yang ingin dekat dengannya dengan bersikap dingin.
"Kamu melupakan aku," gumamnya menatap nanar Dania dan Mario yang tengah berbahagia.
Hari-hari berlalu dengan lapang dada, Jimi di angkat menjadi asisten pribadi Mario. Yang otomatis selalu hilir mudik ke rumah Mario dan Dania jika mereka sudah menikah, dan pernikahan mereka pun di urus oleh Jimi.
Hari pernikahan pun tiba, hati Jimi yang mulai mengering kini menganga kembali. Tak ingin berlama-lama di resepsi Dania, Jimi memutuskan untuk pergi ke bar dan mabuk-mabukan sampai dia membuat kesalahan yang sangat fatal.
Jimi menghamili seorang pelayan bar, dan mereka di nikahkan hari satu minggu kemudian. Setelah menikah Jimi pun merahasiakan pernikahannya itu termasuk pada Mario dan Dania.
Hari ini Jimi bekerja dengan santai, karena Mario sudah kembali dari honeymoon mereka. Terkadang ada rasa iri menyelinap hati Jimi.
"Bagaimana keadaan perusahaan, Jim?" tanya Mario, saat mereka sudah berada di ruang kerja.
"Baik," jawabnya datar.
"Bagus, kamu boleh pulang hari ini. Dan besok bisa libur, aku akan menanganinya sendiri di perusahaan." Ucap Mario.
Jimi pun mengangguk sebagai jawaban, tak protes karena memang sudah lelah dengan masalahnya.
Saat tiba di apartemennya Jimi melihat Delia sedang berkutat di dapur, dengan perut mulai membuncit dia begitu lihai.
"Kamu sudah pulang, mas?" tanya Delia tersenyum.
Delia meletakan teh hangat di meja, menjadi rutinitas terbarunya setelah menikah dengan Jimi. Walau sikapnya dingin terhadap dirinya, namun dia perhatian pada calon anaknya.
*****
Beberapa bulan kemudian tak terasa kandungan Delia sudah memasuki usia kehamilan sembilan bulan, sedangkan Dania dia sedang mengandung untuk yang ke tiga kalinya, karena yang pertama dan ke dua dia selalu keguguran. Hubungannya dengan Jimi pun tidak ada perubahan sama sekali.
Jimi selalu mengakui kalau dia mencintai wanita lain, dan tak bisa membuka hati untuk dirinya membuat Delia sedih.
Delia mengusap perutnya yang sedang menegang.
"Cepatlah keluar nak, temani ibu disini," lirih Delia.
Beberapa bulan bersama Jimi, membuatnya jatuh hati pada lelaki tersebut. Tapi sayang Jimi tidak membalas cintanya, tapi Delia bertekad untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri sebelum dirinya pergi bersama anaknya dan Jimi.
"Aduh," Delia merasakan sakit di perutnya.
Delia meraih ponsel yang tak jauh dari dirinya, kemudian dia menghubungi Jimi.
Beberapa menit kemudia, Jimi sudah sampai di apartemennya. Pekerjaan Jimi tidak terlalu banyak dan dia bisa izin kepada Mario dengan alasan bahwa ibunya sakit.
Jimi mendampingi Delia melahirkan, dia terus memberi semangat pada Delia. Membuat Delia terharu.
"Kenapa? Kenapa, baru sekarang kamu bersikap baik seperti ini pada ku?" batin Delia.
Delia terus berusaha mendorong dengan kuat dan anak pertama berjenis kelamin laki-laki telah lahir ke dunia, berselang lima menit. Delia merasakan kontraksi kembali, dokter memberi instruksi bahwa Delia harus mengeden sekali lagi karena ada satu bayi lagi.
Jimi pun terkejut bahwa dia memiliki bayi kembar, sebab selama ini mereka tidak memeriksakan kehamilan Delia ke dokter hanya di awal saja.
Bayi ke dua lahir berjenis kelamin perempuan, tapi Delia kehilangan banyak darah dan tak sadarkan diri.
"Lakukan yang terbaik, dok." Pinta Jimi.
Dokter pun mengangguk sebagai jawaban, sedangkan Jimi memutuskan menemui kedua bayi kembarnya.
"Jim, bagaimana keadaan Delia dan cucu ibu?" tanya bu Mira, saat dia baru sampai di depan Jimi bersama sang suami.
"Bayi-bayi ku baik-baik saja bu, tapi..."
"Tapi apa Jim? Kalo bicara yang jelas," desak sang ayah.
"Delia mengalami pendarahan bu," lirih Jimi.
"Astagfirullah," lirih bu Mira.
"Ibu dan ayah tunggu disini, aku ingin melihat anak-anak ku. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku ya bu, yah," pinta Jimi.
Bu Mira dan pak Bagus hanya menganggukan kepala saja, tak berapa lama Jimi pergi dokter pun keluar untuk menemui keluarga Delia.
"Saya orang tuanya dok," ucap bu Mira.
"Nyonya Delia telah meninggal, dia mengalami kehilangan banyak darah. Kami turut berduka cita nyonya, kalau begitu saya permisi." Pamit dokter.
Bu Mira menangis dalam dekapan sang suami, sedangkan ayah Hendra menghubungi Jimi. Jimi yang mendapat kabar duka tersebut bergegas meninggalkan ruangan bayi setelah mengadzani dan memberikan komat.
****
Lamunan Jimi tentang masa lalu buyar saat seorang anak kecil memanggilnya.
"Daddy," pekik gadis kecil, di susul oleh anak laki-laki berwajah datarnya.
Jimi tersenyum menatap anak-anaknya yang sudah memasuki usia kurang lebih tiga tahun tersebut, dan Jimi memberi nama Auriga Arkana Wardana dan Zea Karina Rameen.
"Hay kesayangannya daddy," sapa Jimi, kemudian memangku si cantik dan ceriwis zea.
"Daddy, kaka Liga nakal," adu Zea.
"Bohong Dad," sanggah Auriga.
Zae mengerucutkan bibir mungilnya, menatap tak suka pada sang kakak.
"Sudah-sudah, anak daddy yang cantik dan tampan jangan berantem ok. Nanti mommy sedih liat kalian berantem," jelas Jimi.
Zea turun dari pangkuan Jimi, kemudian menatap foto Delia.
"Mommy, maafkan Zea ya. Zea janji gak akan nakal lagi, Zea akan nulutin perkataannya ka Liga," jelas Zea, membuat mata Jimi berkaca-kaca.
Selama ini Jimi merawat si kembar dengan bantuan ibu dan ayahnya, tak lupa Jimi menempatkan asisten rumah tangga untuk membantu ibunya.
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak, jangan lupa kasih bunganya atau kopinya 😊