
Saat sampai di lantai tempat sang ayah Yumna menatap sekeliling, ternyata hanya ada dua ruangan saja. Yumna mengetuk pintu karena sekertaris Mario tidak ada di tempat, setelah mendapatkan jawaban dari dalam Yumna masuk dan menjadi kejutan untuk Mario.
"Sayang, tumben ke sini?" tanya Mario, setelah mengajak Yumna duduk.
"Aku kangen Bara, ayah. Makanya aku nyusul," kekeh Yumna.
"Pasti cucu papi ngidam," tebak Mario.
"Ya begitulah yah," Yumna tersenyum pada Mario.
"Aku tunggu di sini saja ya, ayah!!"
"Boleh kamu tunggu di ruang istirahat ayah saja," tunjuk Mario pada kamar pribadinya.
Yumna pun mengangguk sebagai jawaban, dan beranjak dari duduknya melangkah ke dalam ruang pribadi Mario yang berada di dalam ruang kerjanya.
Makan siang pun tiba, Bara sudah berada di ruang kerja Mario. Mario mengatakan bahwa Yumna ada di dalam, sedang tidur sebelumnya Mario memang mengecek keadaan Yumna. Takut dia membutuhkan sesuatu, tapi Mario melihat Yumna yang terlelap.
Bara pun masuk ke kamar Mario, dia melihat Yumna yang tertidur meringkuk memeluk guling. Kebiasaan Yumna suka memeluk sesuatu jika tidur.
Bara menatap wajah cantik Yumna, dia membelai wajah Yumna membuat Yumna terusik.
"Sayang," panggil Yumna parau.
"Maaf aku ganggu kamu ya?"
"Engga ko, aku lapar," balas Yumna, memang sedari tadi dia sangat lapar sampai ketiduran.
Yumna pun bangun, kemudian dia menatap Bara dan tersenyum.
"Kenapa melihat ku, seperti itu?"
"Gak tahu, pengen aja." Ujar Yumna sambil tertawa.
"Ya sudah ayo, kita makan," ajak Bara di jawab anggukan oleh Yumna.
Setelah Yumna mencuci muka dan memperbaiki riasannya, mereka pamit pada Mario yang sedang menunggu pesanan makan siang miliknya.
****
Bara dan Yumna pun sudah sampai, di sebuah resto yang terkenal dengan masakan seafood nya. Yumna memesan beberapa menu serta nasi goreng seafood, Sedangkan Bara hanya mengikuti apa kemauan Yumna.
Mereka pun menunggu dengan berbincang, mengenai pekerjaan Bara dan kehamilan Yumna. Tapi Yumna tak menceritakan tentang Halil, karena menurutnya memang tak penting.
Lama menunggu pesanan mereka sudah sampai, Yumna dan Bara langsung menyantap makanan mereka. Sejujurnya Yumna merindukan rumah yang berada di Jawa Timur, dia berinisiatif akan mengajak Bara ke.
"Aku rindu rumah yang dekat pantai," kata Yumna.
"Nanti kita ke sana, tapi engga sekarang kerjaan ku banyak."
Yumna pun mengangguk antusias, kemudian dia melanjutkan makannya. Tanpa mereka sadari, ada orang yang sedang memperhatikan mereka dari jauh. Siapa lagi kalau bukan Halil.
"Siapa dia? Apa hubungannya dengan wanita tadi?" tanya Halil dalam hati, menatap Yumna dan Bara.
"Aku harus mencari tahunya sekarang juga," lanjutnya.
Kemudian Halil pun menyuruh seseorang untuk mencari tahu Yumna, dia mengirimkan foto Yumna dan Bara yang sedang makan siang yang Halil ambil secara diam-diam.
"Makasih sayang," ucap Yumna, mencium Bara.
Bara pun mengusap puncak kepala Yumna, setelah mobil Bara tak terlihat. Yumna pun masuk ke dalam rumah dan bertemu Laura sedang bersantai.
****
"Yusra," panggil Wina.
"Ya mah," jawabnya singkat, kemudian dia sibuk kembali dengan tugas-tugas kuliahnya.
Setelah makan siang bersama yang di pesan oleh Yusra, Wina dan Yusra kini duduk di taman belakang. Wina tidak bekerja karena kebetulan sedang libur.
"Tugas mu banyak, sayang?"
"Lumayan mah," sahut Yusra singkat.
Dan Wina pun menganggukan kepala saja.
"Ou yah, Yusra. Apa kamu gak tertarik untuk hamil bersama kakak dan ibu mu?" tanya Wina penasaran.
Yusra tersenyum menatap Wina.
"Aku belum mau mah, mungkin nanti kalau Yumna dan ibu sudah melahirkan. Aku mau hamil," kekeh Yusra.
Memang Yusra belum siap memiliki anak, alasannya memang ingin menghabiskan waktu berdua bersama Hito. Tapi yang utama, dia takut tidak bisa maksimal dalam merawat dan menyayangi sang anak nanti.
"Ada-ada saja kamu," ucap Wina.
"Ya sudah mamah, ke dalam dulu jangan terlalu cape," ujar Wina, Wina pun beranjak meninggalkan Yusra sendiri seperti semula.
****
Hirup pikuk kota Jakarta seperti tak ada habisnya, bagi semua orang mereka melakukan rutinitas pergi pagi pulang malam atau sore.
Halil menatap kota Jakarta pada saat jam pulang kantor, sehabis dari perusahaan Mario dan makan siang. Halil tentu saja langsung pergi ke kantornya karena tak ada urusan lain.
Pertemuannya dengan Yumna membuatnya tak bisa lupa, dia yang cantik natural, ramah dan murah senyum.
Sang supir yang melihat Halil pun hanya geleng-geleng kepala, melihat tuannya tersenyum.
Dering ponsel membuyarkan lamunan Halil, orang suruhan Halil untuk mencari tahu tentang Yumna telah mendapatkan info.
Setelah memutuskan panggilan telepon, Halil menghela nafas kasar. Ternyata Yumna putri sulung dari Mario, dan laki-laki yang sedang bersamanya tadi adalah suaminya.
"Tak mungkin aku merebutnya, terlebih lagi dia sedang hamil."
Cinta pandangan pertama itu, layu sebelum mekar. Halil membuang rasa yang hadir sesaat itu, agar tak tumbuh terlalu dalam.
****
tbc...
Maaf typo
Jangan lupa tinggalkan jejak makasih 🙏