Twin'S

Twin'S
Bab.79



Sembilan bulan kemudian, kehamilan Yumna yang sudah membesar membuatnya tak bisa kemana-mana. Dia mudah lelah dan ngantuk, sedangkan. Laura sudah melahirkan anak ke tiganya, yang berjenis kelamin laki-laki. Sesuai dengan harapan Mario.


Putra Laura dan Mario di beri nama Randika Wiradinata yang berumur lima bulan, putra tampan Mario itu menjadi rebutan Yusra dan Laura.


"Makanya hamil," cibir Yumna, yang sedang mengelus perut buncitnya.


Membuat Yusra memutar bola mata malas, dia sudah berusaha dengan Hito tapi setelah memutuskan untuk hamil, dan melakukan program.


"Lagi usaha," sahut Yusra singkat.


"Dika kamu tampan sekali, kaya papi. Mungkin papi aja kalah sama kamu," ucap Yusra terkekeh dengan kata-katanya.


Yusra terus menggoda sang adik, yang sedang berceloteh dan merespon ucapan sang kakak. Laura sangat bersyukur karena ada yang menjaga putranya, sebisa mungkin Laura merawat sang anak sendiri. Walau di bantu oleh Mala, Mala yang merawat Yusra dulu.


****


Sore menjelang setelah asik bercerita dengan adik dan ibunya Yumna, memutuskan untuk pergi ke kamar. Kamar yang terletak di bawah, karena Bara tidak ingin Yumna kelelahan naik turun tangga.


Saat merebahkan tubuhnya perasaan Yumna sudah tak enak, dia merasa panas di sekitar punggungnya. Dan merasa mulas sedikit-sedikit.


"Kata ibu, gak boleh panik. Tarik napas keluarkan," ucap Yumna tenang.


Yumna mencoba menghubungi Bara yang sedang berada di luar bersama dengan Hito, entah apa yang di lakukan mereka. Senang sekali Hito mengajak Bara keluar.


"Awas aja kalo pulang, aku jitak si Hito," gerutu Yumna, terus mengusap perutnya.


Yumna berdecak kesal, karena Bara tidak mengangkat panggilan dirinya. Yumna memutuskan kembali keluar dan menemui Laura.


"Ibu," panggil Yumna lirih.


pada saat yang bersamaan Mario, baru saja pulang dari kantor. Mario melihat Yumna meringis mengusap perutnya, bergegas menghampiri Yumna.


"Sayang kamu tidak apa-apa?" tanya Mario saat sudah sampai di depan Yumna.


"Ayah, perut ku sakit."


"Ya Tuhan, jangan-jangan kamu mau melahirkan lagi," ucap Mario panik.


Mario pun memanggil Laura, dan membawa Yumna duduk di sofa.


"Kemana Bara?"


"Aku gak tahu ayah, dia pergi dengan Hito."


"Astaga anak itu, maafkan ayah sayang. Tadi ayah yang menyuruh Hito dan Bara keluar sebentar," katanya penuh sesal.


Yumna mengembuskan napasnya secara kasar, tak lama Laura pun berjalan dengan panik mendengar teriakan Mario.


"Ada apa mas?" tanya Laura yang sudah sampai.


"Sepertinya Yumna akan melahirkan," ucap Laura.


"Astaga, ayo sayang. Kita ke rumah sakit biar papi antar," ujar Mario, dan Yumna hanya mengangguk saja.


Yumna di bantu oleh Mario masuk ke dalam mobil, Yusra yang tak sengaja liat dari kamar pun langsung turun.


"Yumna," pekik Yusra saat sudah sampai, Yusra pun merangkul Yumna dan membantunya menuju mobil.


Yusra menemani Yumna duduk di belakang.


"Yusra telpon Hito, suruh Bara secepatnya ke rumah sakit." Titah Mario.


"Baik pih," jawab Yusra.


"Hati-hati mas," ucap Laura, dan Mario pun mengangguk.


Dengan cepat Mario membawa mobil, sayang bertepatan dengan jam pulang kantor. Membuat jalan jadi macet, Mario pun mengumpat jalan yang macet. Mario melirik Yumna yang sedang memejamkan matanya, keringat dingin bermunculan di wajahnya. Sedangkan Yusra dengan setianya mengusap perut Yumna dan bicara dengan bayinya.


"Sabar ya sayangnya tante, jalannya macet. Ayah kamu juga sedang di jalan," ucap Yusra membuat Yumna terkekeh.


****


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di klinik tempat Yumna memeriksakan kandungannya, Yumna langsung di bawa ke ruang bersalin dan langsung di periksa.


"Baik Dok,"


"Saya permisi dulu, silahkan anda jalan-jalan di ruangan. Atau duduk di Brithing ball," ucap Dokter.


"Baik Dok," sahut Yumna.


Setelah kepergian Dokter, Yumna turun dari ranjang. Yusra membantu Yumna berjalan-jalan, dan Mario terus memanggil Bara.


Pintu terbuka dari luar dengan kasar, Bara dengan wajah pucatnya masuk ke dalam dan mendekati Yumna.


"Maaf sayang... Maaf, aku gak nemenin kamu ke klinik," sesal Bara.


"Gak apa sayang, lagian anak kita belum mau keluar. Dia tahu ayahnya belum datang," ucap Yumna tersenyum.


Kini Yumna di temani oleh Bara, sedangkan Yusra dan Mario menunggu di luar. Petang pun tiba tapi sang bayi belum juga ingin lahir, Bara pun terus menemani Yumna berjalan kaki di ruangannya.


"Di operasi aja ya?" pinta Bara. "Sayang aku gak tega liat kamu kesakitan kaya gini, Dokter bilang pembukaannya baru tujuh,"


"Aku gak mau sayang, aku mau normal. Biarlah rasa sakit ini menjadi penggugur semua dosa-dosa ku," ujar Yumna.


Kini dia sudah berbaring miring, rasa panas dan pegal di punggungnya sangat tak nyaman. Terlebih lagi rasa mulas itu datang, Bara mengusap punggung Yumna agar tak terlalu sakit.


Dokter pun datang kembali, dan mengecek pembukaan Yumna.


"Sudah sempurna ya," ucap Dokter.


Dokter pun menginstruksikan cara mengejan dengan baik dan benar, dan Yumna melakukannya sesuai instruksi dari Dokter. Beberapa jam kemudian, bayi cantik lahir ke dunia dengan tangis kerasnya.


Bara pun terharu dan menangis, memeluk Yumna.


"Terima kasih sayang, terima kasih." Ucap Bara mencium seluruh wajah Yumna, Yumna hanya tersenyum tenaganya sudah habis untuk menjawab ucapan Bara.


****


Setelah Bayi di bersihkan, suster membawa bayi cantik itu pada Yumna. Dan Bara langsung mengadzani sang anak, setelah melakukan Adzan dan Iqomah.


Mario dan Yusra yang berada di ruang tunggu pun merasa lega, Mario langsung menghubungi Laura memberi kabar baik tersebut. Laura pun berjanji akan menyusul setelah Randika tidur.


Mario Yusra dan Laura masuk ke ruang rawat Yumna, mereka menatap bayi cantik yang sedang dalam gendongan Bara.


"Ibu boleh gendong nak," pinta Laura.


"Boleh bu,"


Bara menyerahkan bayinya pada Laura.


"Ohh... Sayang, kamu cantik sekali." Puji Laura.


"Siapa namanya?" tanya Yusra.


"Radela Putri Yudatama." Ucap Bara, menatap Yumna.


"Dela dan Dika, cocok tuh jadi om dan ponakan." Kekeh Yusra.


"Dela jadi anak yang manis ya, nanti kalo ada yang jahat bilang aja sama uncle Dika." Kata Yusra pada Dela.


"Dia mana ngerti Ra, masih bayi. Kamu nih ada-ada aja," ujar Laura.


"Gak apa dong bu," kekeh Yusra.


Mario menghampiri Yumna, mengelus puncak kepala Yumna dengan sayang. Putri yang selama ini jauh darinya, dan mau memaafkannya dengan hati lapang. Kini sudah menjadi seorang ibu, Mario menatap Laura dan Yusra. Mereka begitu bahagia dengan kehadiran anggota baru Wiriadinata.


Keluarga adalah mereka yang tahu semua kekurangan mu, tapi tetap mencintai mu. Semua hal bisa berubah, tapi kita datang dan akan selalu kembali pada keluarga. Cintai keluarga seperti mencintai diri sendiri, keluargalah yang menjadikanmu ada.


Dan Mario sangat beruntung bertemu Laura, dia bisa menghabiskan masa tuanya dengan orang yang dia sayang dan Mario mendapatkan apa yang dia inginkan yaitu keturunan, yang bisa meneruskan usaha keluarganya.


~Tamat~


Makasih buat yang sudah menemani dari awal sampai akhir, mohon maaf bila novel ini banyak kurangnya. Saya masih perlu banyak belajar lagi 🙏


Jangan lupa mampir di 'Still love you' novel selanjutnya.