Twin'S

Twin'S
Exstra Part.8



Terkadang memendam adalah pilihan satu-satunya agar semua terlihat baik-baik saja.


Selama perjalanan pulang Ara, cemberut dan tak menjawab saat di ajak bicara oleh Jimi dan Zea.


"Sudahlah sayang, jangan paksa Ara," ujar Keano.


"Ya kamu benar Keano, biarkan saja Ara seperti itu. Biar ayahnya tahu," kata Jimi.


Terkadang ada rasa sesal dalam diri Jimi, karena pernah bersikap buruk pada Yumna. Mudah-mudahan apa yang dia khawatirkan tidak terjadi.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Zea. Ara langsung masuk kedalam rumah, Zea pun berusaha untuk mengejar Ara.


"Tuan Jimi, tadi tuan Auriga datang tapi dia menyusul kalian," kata bi Sari.


"Anak itu selalu lupa, untuk menghubungi terlebih dulu." Keluh Jimi, dari dulu sampai sekarang Auriga terkadang lupa untuk memberi tahu kepada keluarganya.


"Ya sudah tidak apa bi, mungkin sebentar lagi sampai." Ujar Jimi, bi Sari pun mengangguk dan kembali ke dapur menyiapkan makan malam.


Tak lama mobil Auriga pun sampai, Jimi yang melihat itu pun hanya geleng-geleng kepala. Mungkin anaknya ini memakai kecepatan turbo.


"Baba," pekik Lula.


"Hai sayang." Jimi memeluk Lula, yang terlihat bahagia.


"Kamu ngebut?" tanya Jimi, Auriga hanya menampilkan giginya yang rapih.


Dia memang ngebut karena cepat ingin sampai, di rumah karena merindukan sang anak.


"Iya baba, ayah ngebut. Aku kesel sama ayah, aku bilang pelan-pelan tapi ayah malah pengen cepet ke sini ketemu Ara. Emang yah, Ara itu mau cepet orang lain mati." Ucap Lula.


"Lula." Desis Auriga, yang tak menyangka ucapan sang anak begitu kasar seperti itu.


"Lula sayang, gak baik kamu bicara seperti itu pada adik mu." Tegur Jimi.


"Aku gak punya adik baba, dan aku gak pernah sayang sama dia. Aku benci dia udah bikin ibu meninggal," pekik Lula berlari ke dalam dan masuk ke kamar Manda.


"Lula." Teriak Auriga.


"Biar daddy saja." Jimi mengejar Lula, yang sedang emosi. Dia akan bicara pada sang cucu.


Auriga memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, tanpa dia sadari Ara sudah melihat dan mendengar ucapan Lula membuatnya terisak.


"Ayah." Lirih Ara.


"Ara sayang."


Auriga memeluk putri bungsunya tersebut, dia menatap Zea yang berdiri di belakang Ara.


"Maaf ka Riga, tadi Ara..."


Auriga memotong ucapan Zea.


"Tidak apa-apa Zea, mungkin ini salah ku. Yang tak bisa mendidik kedua putri ku, aku tidak bisa menjadi ayah sekaligus ibu untuk mereka," ujar Auriga mendekap tubuh mungil sang putri.


Zea menatap sang kakak dengan tatapan nanar, dia tidak pernah menyangka takdir yang di jalani oleh sang kakak begitu berat.


****


Pagi hari pun tiba dengan sejuta penasarannya, Dela memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya nanti sore. Dan disinilah dia sekarang bersama Dika mengerjakan tugas kuliahnya.


"Lo gak ingetin gue Del, ngeselin sumpah," omel Dika sambil mengerjakan tugasnya.


"Ya gue lupa Dika," kesal Dela. "Sudahlah, kerjain masih lama ini kok. Jam mata pelajaran si dosen killer itu," sambung Dela.


Mereka pun mengerjakan tugas di taman kampus Erlangga, di sebelah kampus Erlangga terdapat SMA Erlangga. Terdengar juga Dika mengumpat jika tugasnya ada yang susah, membuat Dela yang di sampingnya terkekeh. Ada juga mahasiswa kecentilan mendekati Dika, dengan alibi membantu tugasnya. Tapi dengan terang-terangan Dika mengusirnya secara kasar.


"Sialan tuh cewek-cewek, ganggu terus." Marah Dika.


Lagi-lagi Dela tertawa keras.


"Diem Dela, ponakan gak ada ahlak."


"Ok... Ok, maaf." Dela menutup mulutnya agar, tawanya tak pecah.


Tak lama kemudian, akhirnya Dela dan Dika selesai mengerjakan tugasnya dengan cepat.


"Masih pukul sepuluh nih, tiga puluh menit lagi pelajaran bu Indah." Ujar Dela.


"Udahlah disini aja dulu, pusing gue sama pelajaran Management," keluh Dika. "Del beliin gue minum sana," titah Dika memberikan uangnya pada Dela, membuat Dela cemberut namun dia tetap pergi ke kantin kampus.


Saat Dela sedang memesan dua porsi batagor, tiba-tiba ponselnya berdering. Setelah tahu siapa penelepon, Dela kemudian mengangkatnya.


"Ya sayang," jawab Dela.


"Kakak lagi apa?"


"Kakak lagi beli makan di kantin, bentar lagi mau masuk kelas nih."


"Ohh... Kirain ada di rumah, aku kangen soalnya. Kaka janji kan sore ini ke rumah tante Ze!"


"Ara sayang, maaf ya. Hari ini ka Dela gak bisa temuin Ara."


"Kenapa?" tanya Ara sedih.


"Kakak ada acar sama keluarga kakak, maaf yah! Ehh... Ara, sudah duku yah dah Ara."


Dela dengan cepat mematikan sambungan telepon dengan cepat, karena pesanannya sudah selesai. Dela pun berlalu menuju taman, dimana Dika tengah melakukan video call bersama Anyelir.


Diam-diam Dela mendengar pembicaraan Dika, membuatnya ingin tertawa.


"Ya ampun, uncle tersayang ternyata bucin juga."


Setelah Dika selesai video call, Dela muncul dengan meledek Dika. Membuat Dika mencubit pipi Dela.


"Akhhh... Sakit Dika, rese paman rese nyebelin," pekik Dela, memukul Dika dengan tasnya.


Jam pelajaran bu Indah pun sudah di mulai, Dika dan Dela memilih jurusan yang sama yaitu Management. Selama pelajaran Dela tidak bisa fokus, penasaran dengan apa yang terjadi pada kehidupan bundanya dulu dengan keluarga Ara.


Tepat pukul satu siang, Dela dan Dika sudah selesai dengan mata kuliah bu Indah. Dela berpamitan untuk pulang lebih duku ke rumah orang taunya.


"Duluan yah uncle ganteng," ucap Dela.


"Iya hati-hati," Dika menggunakan motor untuk pergi ke kampus. Sedangkan Dela menggunakan mobilnya sendiri.


****


Berpuluh menit kemudian Dela sudah sampai di rumah orang taunya, dia langsung mencari Yumna.


"Assalamualaikum, bun."


"Ahh... sayang. Waalaikumsalam, ada apa?"


"Rindu bunda, padahal baru sehari aku gak ketemu sama bunda." kekeh Dela, memeluk Yumna dari belakang.


Dela mengajak Yumna untuk duduk di meja makan, dengan berhadapan dia menatap Yumna dengan serius.


"Bunda kenal sama Jimi?" tanyanya langsung.


Yumna tak langsung menjawab, dia menatap sang anak dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Bun," rengek Dela.


"Tidak, bunda tidak kenal dia," bohong Yumna.


"Bunda yakin? Tapi opah bilang, dia kenal dan Zea bilang juga kenal sama bunda."


"Kenapa kamu bertanya mereka tiba-tiba?"


"Itu anu apa yah." Dela mengigit bibir bawahnya, gugup dia bingung ingin berkata apa.


"Gak apa ko bun, cuma tanya aja."


"Ya sudah, kamu ganti baju lalu makan," perintah Yumna, di jawab anggukan oleh Dela.


Dela berjalan gontai menuju kamarnya, dia bingung ingin bertanya bagaimana tapi di sisi lain. Dia takut di marahi oleh Yumna.


"Lebih baik, aku tanya ayah saja." Gumam Dela.


Dia pun membersihkan diri di kamarnya sendiri, rumah peninggalan Anjani di renovasi oleh Yumna dari hasil cafe yang dia miliki. Jadi di kamar Dela ada kamar mandinya.


Tadi ada yang request visualnya Auriga sama Dela, ini yah lunas (✯ᴗ✯)



Semoga Suka


tbc...


Maaf typo


Jangan lupa tinggalkan jejak, makasih 🙏