Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 99 - Aku mencintaimu



Hari pun berganti menjadi malam, Regan memutuskan untuk menginap semalam lagi di hotel, karena masih ingin menikmati pemandangan di hotel tersebut. Renatta pun tak masalah untuk itu.


"Tadi, aku mendengar pihak kepolisian menghubungi kamu dan mengatakan kalau Amanda sudah dibawa kembali ke dalam penjara. Apa itu benar?" tanya Renatta. Regan mengangguk.


"Dia akan diadili dan ditambahkan masa hukumannya karena sudah berniat membunuh kamu," ucap Regan.


Renatta hanya bisa menghela napasnya, Tapi memang, hukuman lebih pantas didapatkan anda daripada mati dengan begitu mudah. Belum tentu di alam baka nantinya, Amanda akan diterima amalannya.


Regan menepuk tempat di sebelahnya, supaya Renatta naik ke atas ranjang. Renatta menurut dan duduk di samping Regan yang rebahan.


"Setelah ini, jangan pikirkan hal lain selain tentang kita berdua. Jangan terlalu baik sama orang."


"Iya, iya, ternyata kamu lebih bawel dari yang aku kira."


Regan mendengus, lalu membalas ucapan Renatta.


"Kamu lebih bawel daripada aku! Kamu tidak ingat kamu selalu berisik dan mengatakan hal tidak penting ketika dulu kamu baru menjadi sekretarisku."


Renatta teringat akan hal itu dan malah tertawa.


"Sejujurnya, dulu aku pun takut kamu akan memecat ku karena sikapku, tapi aku senang karena kamu tidak melakukannya. Ngomong-ngomong sejak kapan kamu menyukai aku?" tanya Renatta.


Regan terdiam. Karena sejujurnya ia pun tidak tahu kapan pastinya. Seiring berjalannya waktu dan seringnya mereka bersama rasa itu muncul begitu saja.


"Kalau kamu kapan?" Regan malah bertanya balik.


"Mungkin, ketika kamu selalu menolongku ketika dalam kesulitan. Tapi aku pun tidak yakin," ucap Renatta yang tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


"Dasar! Kamu saja tidak tahu waktu pastinya, begitu juga dengan aku. Tapi yang harus kamu tahu, rasa cinta ini tak akan pernah pudar."


"Mulai lagi deh bicara manis-manisnya."


Regan jadi kesal sendiri, ia ingin membuat suasana romantis malam ini, tapi malah selalu dipatahkan oleh Renatta sendiri. Memang sepertinya, keduanya harus bersikap apa adanya.


"Apa kamu tidak suka aku bicara manis? Bukannya semua wanita suka yang seperti itu?"


"Iya, memang ada kalanya seperti itu. Tapi, jujur, aku lebih suka sikap kamu yang biasanya. Tidak dibuat-buat dan tidak berlebihan. Mungkin itu juga yang membuat aku bisa jatuh cinta lagi sama kamu untuk kedua kalinya."


Regan menatap ke Renatta dan meminta wanita itu untuk merebahkan tubuhnya di ranjang.


Keduanya kini saling berhadapan dan Regan memeluk Renatta dengan erat.


"Kamu mau punya anak berapa?" tanya Regan berbasa-basi.


"Sedikasihnya sama Tuhan. Mau berapa pun aku terima, tapi sejujurnya aku ingin setidaknya memiliki anak lebih dari satu. Karena sebelum papa menikah lagi, aku benar-benar kesepian, ketika pulang sekolah dan sudah ada di rumah, aku tak memiliki teman bermain."


Regan mengerti karena ia pun merasakan hal yang sama. Kan mereka sama-sama anak tunggal.


"Bagaimana kalau enam? Kamu mau?"


"Kebanyakan sayang," jawab Renatta.


Mendengar kata sayang terucap dari mulut Renatta tanpa diminta membuat Regan tersenyum senang.


"Mau punya anak secepatnya atau ditunda dulu? Aku tidak mau egois jika memang kamu belum siap jadi seorang ibu."


"Aku tidak berniat menundanya, tapi kalau memang belum diberikan anak sampai satu atau dua tahun nantinya, mungkin Tuhan masih memberikan kita berdua waktu untuk saling mengerti dan memahami satu sama lain sebelum dititipkan seorang anak."


"Berarti kamu mau secepatnya kan? Baiklah kalau begitu," ucap Regan dengan senyum yang penuh tanda tanya bagi Renatta.


"Senyum kamu aneh, dan bikin aku merinding," ucap Renatta.


Regan tersenyum lagi dan memeluk Renatta dengan eratnya sampe Regan bisa merasakan dua buah dada Renatta di tubuhnya. Regan melepaskan pelukannya, dan menatap Renatta sangat dalam dan penuh cinta. Ia bahkan mengelus kepala Renatta.


"Kamu kenapa?"


"Aku mau kamu, Nat, apa boleh?" tanyanya dengan tanpa ragu.


Renatta meneguk ludahnya sendiri. Ia paham akan maksud dari ucapan Regan. Ia pun tak bisa menolaknya lagi, karena mereka sudah menjadi sepasang suami istri.


Renatta mengangguk pelan.


"Beneran boleh?" tanya Regan memastikan lagi.


"Iya, boleh, lagipula aku memang tidak bisa menolaknya. Itu sudah jadi hak kamu dan kewajibanku," jawab Renatta.


Regan tersenyum senang karena Renatta mengerti.


Malam pertama itu, keduanya lakukan dengan diawali dengan sebuah ciuman lembut yang lama-lama berubah jadi ciuman panas. Karena g*irahnya yang sudah tak tertahankan, Regan langsung melepas kaos yang dikenakannya begitu juga dengan pakaian tidur yang dikenakan Renatta. Keduanya jadi sama-sama polos.


Regan mulai mencium bagian tubuh Renatta dari atas sampai bawah. Ia melakukannya secara lembut, supaya Renatta tidak kesakitan dan malah akan menjadi candu nantinya. Pergulatan di ranjang itu sudah sampai ke titik akhir, ketika Regan akan memasukkan miliknya ke dalam milik Renatta.


"Sakit ya sayang?"


Renatta mengangguk.


"Cuma sebentar kok, setelah ini kamu tidak akan merasakan sakit lagi. Tahan ya!"


Renatta mengangguk lagi.


Benar saja apa yang dikatakan oleh Regan, setelah bagian junior Regan sudah masuk sempurna ke miliknya. Ada kenikmatan duniawi yang terasa. Keduanya sama-sama menikmatinya sampai merasakan sesuatu yang sepertinya akan menyembur keluar.


"Katakan, kalau kamu mencintaiku saat mau keluar nanti."


Renatta mengangguk lagi.


"Re-regan, aku mencintai mu," ucap Renatta sambil tersengal-sengal karena napasnya yang tak beraturan.


"Aku juga mencintaimu sayang, terima kasih," ucap Regan kemudian mencium bibir Renatta dengan lembut.


*


*


Paginya, Renatta bangun lebih dulu dari Regan. Ia benar-benar tidak menyangka dirinya sudah resmi menjadi nyonya Regan. Ia bahkan masih mengira yang semalam itu cuma khayalannya saja. Tapi, ketika melihat tubuhnya yang polos dan mendapatkan tanda-tanda merah di tubuhnya yang sangat banyak, Renatta jadi menutup wajahnya sendiri.


Regan jadi terbangun karena tingkah Renatta itu. Dengan mata yang masih tertutup, Regan memeluk Renatta dengan erat dalam kondisi tubuh yang masih sama-sama polos.


Tiba-tiba Renatta berucap, "Kok kaya ada yang keras-keras ya di bawah?"


Hal itu membuat Regan jadi membuka matanya, dan mengatakan Renatta harus bertanggung jawab.


"Sepertinya, aku ingin kita melakukan hal seperti semalam lagi, kamu sudah memancingnya sampai berdiri, jadi kamu juga harus menurunkannya."


"Apa? Jadi yang keras itu, itu?"


Regan mengangguk. Renatta jadi menelan ludahnya sendiri. Badannya sudah terasa remuk akibat kegiatan mereka semalam, kini Regan malah memintanya lagi? Kalau ia tidak bisa jalan nantinya gimana?


Regan langsung memulainya lagi, Renatta yang awalnya tidak mau, akhirnya terbuai juga. Kegiatan panas yang semalam pun terulang lagi di pagi harinya.


*


*


Sesuai dengan perkataan Devan kemarin, hari ini Devan mengajak Grace untuk jalan-jalan berdua ke tempat wisata. Di sepanjang jalan, keduanya selalu bercerita tentang masa lalu indah di antara mereka bersama dengan Renatta.


"Di antara kita bertiga, cuma kamu yang belum menikah," ucap Devan.


"Aku tahu, tapi aku memang belum kepikiran soal laki-laki dan pernikahan. Aku masih belum bisa menerima ada orang lain di hatiku."


"Jika memang belum ingin, lebih baik jangan dulu. Kamu harus benar-benar siap jika ingin menikah. Jangan seperti aku yang memutuskan secara sepihak karena wanita yang aku cintai menerima lamaran ku. Harusnya aku juga memikirkan faktor lainnya sebelum memutuskan memulai hubungan dengan seseorang. Kamu sahabatku, orang yang aku kenal dari jaman kita SMP. Aku ingin melihat kamu bahagia seperti Renatta sekarang. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang baik seperti kamu yang selalu baik ke orang terdekatmu."


Grace tersenyum mendapatkan doa tulus dari Devan. Ia juga jadi ikut mendoakan yang terbaik untuk Devan juga.


"Kalau nanti kamu sudah menemukan orang yang cocok, jangan lupa kenalkan padaku dan Renatta juga. Kami berdua akan melihatnya. Kamu tahu kan? Kalau aku adalah penilai orang yang baik. Karena itulah, dulu aku meminta kamu untuk menemani Renatta. Karena aku melihat kalau Renatta tidaklah buruk."


"Iya aku tahu, insting kamu memang tidak pernah salah. Seharusnya dulu aku meminta penilaian darimu sebelum memutuskan untuk serius dengan seorang wanita."


Grace menepuk pelan pundak Devan.


"Yang lalu biarlah jadi pelajaran dan pengalaman. Karena sudah pernah disakiti, kamu akan lebih menghargai pasangan kamu nantinya supaya tidak menyakiti pasanganmu."


Devan mengangguk.


Keduanya terus berjalan-jalan sampai sore hari tiba. Disana keduanya berpisah karena Grace memilih untuk langsung kembali ke Malang. Devan mengantar Grace ke bandara dan memeluk Grace untuk salah perpisahannya.


Setelah tubuh Grace tak terlihat lagi, Devan pergi ke mobilnya dan langsung menancapkan gasnya. Devan pergi ke kantor polisi untuk menemui Amanda terakhir kalinya.


Di saat sudah berhadapan dengan Amanda, Devan tak disambut dengan hangat oleh Amanda.


"Aku datang karena ingin mengucapkan terima kasih atas luka yang pernah kamu berikan untukku. Aku sudah tak ingin menyimpan benci atau pun dendam padamu. Karena semuanya hanya akan membuat hidupku jadi lebih buruk lagi. Aku sudah memaafkan segala kesalahan kamu selama ini meskipun kamu tak pernah meminta maaf padaku. Aku harap, kamu bisa berubah dan belajar dari pengalaman. Benci dan dendam tidak baik untuk dipelihara. Semoga kamu sadar dan menyesali semuanya. Sukur-sukur kamu bisa meminta maaf pada orang-orang yang telah kamu sakiti. Aku pergi, jaga kesehatanmu disini."


Devan lalu pergi dari sana meninggalkan Amanda yang mulai meneteskan air matanya. Amanda tersadar, dari semua orang yang ia harapkan ada di sisinya, ternyata yang tidak ia harapkan lah, yang mendoakan dan berharap ia sehat. Ia jadi menangis dan menyesal telah menyia-nyiakan Devan. Tapi, ia tak bisa melakukan apapun lagi, karena memang tak ada kesempatan.


"Devan, maafkan aku."


*


*


TBC