
Keduanya pun pulang ke mansion ketika hari sudah mulai malam. Tapi karena di jalan Renatta melihat ada yang jualan ice cream, ia pun membeli dua cup ice cream. yang satunya rasa vanila sama cokelat, yang satunya rasa stroberi dan alpukat.
Mereka pun memakannya di teras samping rumah sambil mengobrol berdua.
Renatta begitu menikmati rasa ice cream nya. Sampai-sampai Regan jadi ingin merasakan ice cream yang dimakan oleh Renatta juga. Ia bahkan ingin memakan ice cream yang belepotan di atas bibir Renatta juga.
"Jangan kaya anak kecil!" ucap Regan yang memilih mengelap bibir Renatta dengan jari tangannya sendiri.
Renatta hanya menjawabnya dengan sebuah cengiran. Tapi mampu melemahkan hati Regan.
Sial! Kenapa aku jadi bucin gini sih? Aaa, jadi pengen nikahin sekarang juga.
"Aku mau dong," ucap Regan.
"Bapak mau rasain ice cream saya?" tanya Renatta memastikan.
Regan mengangguk. Renatta pun menukarkan ice cream nya dengan ice cream milik Regan. Regan memakannya hingga habis lalu setelahnya, Regan tiba-tiba sesak napas dan pingsan. Hal itu membuat Renatta panik sepanik-paniknya. Ia pun meminta tolong ke pekerja yang ada di mansion Mommy Jessie untuk membawa Regan ke rumah sakit. Setelahnya Renatta memberitahukan hal itu ke Mommy Jessie.
*
*
Di rumah sakit, Renatta terus mondar-mandir menunggu dokter keluar dari ruangan. Ia merasa bersalah karena Regan pingsan saat bersamanya. Ia pun jadi takut kalau Mommy Jessie akan menyalahkan dirinya.
Mommy Jessie pun sudah datang di rumah sakit dan menanyakan kondisi Regan. Renatta tidak bisa menjelaskan apa-apa karena memang dokternya belum keluar dari ruangan. Mommy Jessie pun menanyakan apa yang terjadi sebelumnya sampai Regan bisa sampai pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
"Tadi aku sama Regan cuma makan ice cream Mommy. Terus Regan minta tukeran. Jadi aku kasih aja. Terus pas udah habis Regan tiba-tiba sesak napas dan kehilangan kesadarannya."
"Ice cream rasa apa yang kamu punya?"
"Stoberi dan alpukat Mom."
Mommy Jessie langsung panik sekita. Ia seperti orang yang kesetanan.
"Regan Alergi makan alpukat. Sebanyak apa dia makan ice cream alpukat nya?"
"Tiga per empatnya mungkin, karena aku udah makan sedikit sebelumnya."
Mommy Jessie menepok jidatnya sendiri.
"Astaga anak itu mau mati apa ya? Kenapa tidak sadar dengan apa yang dimakannya sendiri!"
Mommy Jessie bicaranya memang agak frontal tapi sejujurnya dia sangat khawatir kalau Regan beneran mati. Makan sedikit alpukat saja, Regan bisa pingsan sehari. Apalagi ini yang katanya tiga per empat dari isi cup nya. Mommy Jessie hanya bisa berdoa semoga Tuhan tidak mengambil nyawa anaknya secepat ini.
Renatta jadi merasa bersalah. Baru jadi kekasih Regan sehari saja sudah membuat Regan masuk ke rumah sakit. Ia jadi pesimis bisa terus bersama Regan setelah ini.
"Maafin Natta ya Mom. Natta benar-benar nggak tahu kalau Regan alergi alpukat. Kalau tahu, pasti nggak bakalan Natta kasih. Semua ini gara-gara Natta yang tidak tahu apapun tentang Regan."
Mommy Jessie merangkul bahu Renatta dan menenangkan gadis itu yang meneteskan air matanya.
"Bukan salah kamu. Salah dia aja yang nggak sadar kalau yang dimakannya adalah alpukat. Semoga aja anak brandal itu masih diberikan nyawa sama Tuhan. Kita berdoa supaya dia cepat sadar."
Di saat Mommy Jessie menenangkan Renatta, kakinya pun gemetaran karena takut hal buruk yang akan terjadi nantinya. Apalagi kini suaminya tidak bisa datang ke rumah sakit karena harus mengurus masalah yang terjadi di perusahaan.
"Regan pasti sadar. Mommy yakin itu!"
Dokter pun keluar dan mengatakan kalau Regan dalam kondisi kritis karena terlalu makan banyak alpukat. Tapi pihak rumah sakit akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan Regan.
"Thanks Dok."
Dokter pun pergi dari sana. Mommy dan Renatta masuk bersamaan ke ruangan Regan. Melihat Regan yang dipenuhi oleh alat bantu pernapasan di tubuhnya membuat Renatta meneteskan air matanya.
"Maafkan aku," lirih Renatta yang merasa bersalah.
"Jangan minta maaf, bukan salah kamu," ucap Mommy Jessie yang mendengar lirihan Renatta.
Renatta memeluk Mommy Jessie dan terus menangis disana. Mommy Jessie mengusap rambut kepala Renatta untuk saling menguatkan.
"Nggak papa, dia anak yang kuat kok! Dia pasti sadar dan bangun lagi. Dia tidak akan rela wanita yang dicintainya bersedih seperti ini. Apalagi kalau dia harus mati. Pasti lebih tidak rela lagi melihat wanita yang dicintainya bersama dengan orang lain. Kamu harus percaya kalau Regan pasti bisa bangun."
Ada ya orang yang menghibur orang lain seperti ini, padahal dia pun sama rapuhnya. Meski anaknya bandel nggak ketulungan. Tapi Regan satu-satunya anaknya, darah dagingnya, buah cintanya bersama Arthur.
*
*
Pagi sudah menyapa, Renatta tidur di luar ruangan menunggu Regan bangun. Namun mata Regan masih tetap tertutup. Ia melihatnya dari kaca pintu. Baru saja ia merasa bahagia karen cintanya akan dimulai, tapi kenapa harus mendapatkan kesedihan lagi?
Renatta jadi langsung berpikiran buruk, kalau ini adalah karma baginya. Ia memang tidak pantas untuk bahagia. Ia jadi menyalahkan dirinya sendiri.
Sampai sebuah telepon dari kakaknya pun ia angkat. Mendengar suara isak tangis dari kakaknya, membuat Renatta jadi panik dan khawatir. Di satu sisi ia bingung. Disini pun kondisinya Regan sangat membutuhkannya. Di rumah pun kakaknya juga membutuhkan dirinya.
Melihat Renatta yang kebingungan setelah mendapatkan telepon. Mommy Jessie langsung bertanya.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Aku harus pulang Mom, maaf aku tidak bisa ikut menunggu Regan lagi. Sampaikan maaf dariku untuknya," ucap Renatta sambil menangis.
"Ada apa dulu? Coba cerita pelan-pelan."
Renatta pun menceritakan apa yang terjadi dengan kakaknya ke Mommy Jessie. Meski tidak ada banyak kata yang diucapkan kakaknya. Renatta tahu kalau kakaknya seperti sendang putus asa. Mommy Jessie pun membantu Renatta untuk pulang ke indonesia dengan menggunakan jet pribadi keluarganya yang di London.
"Terima kasih, terima kasih Mommy."
Renatta sampai mencium tangan Mommy Jessie kemudian pamit dari rumah sakit.
*
*
Sehari kemudian, Renatta telah sampai di rumahnya. Ia mencari-cari keberadaan kakaknya yang sudah tergeletak di lantai dengan pergelangan tangannya yang sudah berdarah.
Renatta tidak bisa menahan tangisnya, melihat keadaan kakaknya yang menyedihkan seperti ini. Ia pun langsung membawa kakaknya ke rumah sakit.
Setelah diperiksa oleh dokter, dokter pun mengatakan kalau Nesha sedang hamil, dan kemungkinan bekas sayatan di pergelangan Nesha itu adalah sebuah aksi bunuh diri karena tidak terima akan kehamilannya.
Renatta berjalan mundur sampai mentok di dinding. Ia menangis dan lemas hingga terduduk lalu memeluk lututnya.
Apa ini? Kenapa dua orang yang disayanginya harus mendapatkan cobaan seperti ini? Yang satu diambang kematian. Yang satu menginginkan untuk mati. Kenapa? Kenapa seperti ini?
Renatta rasanya ingin berteriak disana. Tapi ia sadar, ia tidak bisa melakukan itu karena bisa mengganggu pasien yang lainnya. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis dan menangis.
Ia memang tahu kakaknya memiliki kekasih, tapi ia tidak tahu kalau kakaknya bisa sampai melakukan hal seperti suami istri begitu. Rasanya ia ingin marah dan melampiaskan semuanya. Ia ingin mencari siapa pacar kakaknya dan meminta laki-laki itu untuk bertanggungjawab.
Karena tidak bisa mengontrol emosinya, Renatta pergi dari ruangan itu dan keluar dari rumah sakit. Ia mencari tempat teraman untuk melampiaskan emosinya.
Tibalah Renatta di tempat yang sepi, ia pun berteriak sekencang mungkin disana. Lalu setelahnya ia menangis lagi.
"Ya Tuhan, kenapa hal ini harus terjadi pada keluargaku? Kenapa Engkau selalu membuat aku pada akhirnya sendirian? Kenapa? Hiks ... "
Renatta rasanya lebih baik, ia yang kesakitan daripada melihat orang yang disayanginya yang sakit. Karena lebih sakit melihat orang yang disayangi kita tidak berdaya.
*
*
TBC