Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 65 - Kamu istimewa dan berharga



Regan dan Renatta berpamitan ke Papa Dewa dan Nesha untuk pergi ke Jakarta.


"Semoga keluarga besar kamu benar-benar bisa menerima Natta. Kalau tidak, lebih baik urungkan niat kalian. Papa tidak ingi kamu bersedih Nat."


Renatta menggenggam tangan Papa Dewa.


"Jangan khawatir Pa. Natta sudah siap menghadapi semuanya. Baik itu disukai atau pun tidak sama keluarga Regan. Papa jangan cemaskan Natta berlebihan. Regan pasti akan jaga Natta kok."


"Iya Om, saya akan menjaga Natta dengan baik. Saya juga akan pastikan Natta tidak akan bersedih."


"Baiklah, om percayakan Natta sama kamu. Kalian hati-hati di jalan. Salam dari Om sekeluarga untuk keluarga kamu."


Regan mengangguk. Renatta dan Regan masuk ke dalam mobil Regan lalu melambaikan tangannya sebelum mobil itu melaju lebih jauh.


*


*


Di perjalanan, Renatta bertanya tentang keluarga Regan. Regan pun menjawab dan menjelaskannya.


"Di rumah besar itu, ada Daddy Arthur, Oma Lina, Mommy Jessie dan beberapa tante dan om ku. Tapi karena om dan Tante ku sedang pergi jadinya hanya ada Oma, Mommy dan Daddy. Untuk Mommy dan Daddy, kamu sudah tahu dan mengenal mereka. Kalau Oma, dia orangnya agak pemilih, banyak maunya dan agak sedikit galak. Tapi dia sangat menyayangiku. Aku yakin dia akan setuju denganmu. Ya walaupun kamu harus sedikit berusaha untuk merebut hatinya."


"Kalau nantinya Oma kamu tidak menyukai aku bagaimana?"


"Aku bujuk lah sampai Oma setuju dan menyukai kamu. Lagian, Oma mana mau lihat aku melajang terus. Kalau bukan sama kamu, ya aku nggak mau menikah," jawab Regan.


"Astaga! Secinta itu kah kamu sama aku sampai nggak mau menikah selain sama aku?" ledek Renatta ke Regan.


"Iya."


Jawaban iya itu membuat pipi Renatta memerah seperti udang rebus. Padahal ia berpikir Regan akan menyangkalnya tapi ternyata dugaannya salah.


Regan jadi tersenyum melihat pipi Renatta yang memerah.


"Aku tipe laki-laki yang setia. Apalagi kalau wanita itu sudah mau berjuang bersamaku. Aku akan terus memperjuangkannya sampai bisa bersatu. Mencintai Amanda selama itu aja aku bisa. Apalagi mencintai kamu yang kini sudah jadi milikku meski belum seutuhnya."


Renatta jadi meleleh mendengarkan gombalan maut dari Regan. Ia merasa orang yang di sebelahnya kini seperti bukan Regan melainkan orang lain. Ia sampai terus memandangi wajah Regan saking tidak percayanya.


"Aku memang tampan dan menarik, jadi jangan terus dipandangi. Nanti kamu nggak bisa jauh dari aku lagi," ledek Regan yang membuat Renatta memukul pelan lengan Regan.


"Aduh! Jangan dipukul, kalau kita kecelakaan gimana?"


Renatta pun berhenti memukul Regan dan menyilangkan kedua tangannya di dada lalu menyandarkan kepalanya di kursi mobil.


"Kita mau langsung ke rumah keluarga kamu?" tanya Renatta.


Regan menggeleng.


"Ke apartemenku dulu, kita istirahat dulu disana, baru ke rumah keluargaku."


"Baiklah, aku mengantuk, bolehkah aku tidur sebentar?"


"Tidurlah jika mengantuk."


Regan mengelus puncak kepala Renatta kemudian fokus menyetir lagi.


*


*


Malam harinya, mereka menepi di rest area. Disana, Regan dan Renatta makan malam bersama. Rupanya tak hanya mereka saja yang berhenti disana. Banyak pelancong yang lainnya juga.


"Kenapa kamu nggak sewa supir aja? Kan cape kalau menyetir sendiri. Apalagi Malang-Jakarta itu jauh loh! Kamu juga belum tidur tadi tadi. Malah aku yang tidur."


"Kalau sewa supir mana bisa kita berduaan. Pasti ada yang ganggu. Lagian walaupun cape, nggak papa. Sebanding kok dengan apa yang aku dapatkan. Ya makanya kita berhenti dulu disini dua sampai tiga jam untuk aku tidur sebentar."


"Baiklah."


Suasana pun jadi terasa hening untuk sesaat. Hanya terdengar gesekan antara piring dan sendok. Regan pun membuka obrolan lagi.


"Bagaimana rasanya tidak bertemu aku selama dua bulan terakhir ini? Apa kamu merindukanku?" tanya Regan.


"Kalau aku sedang sendirian, dan termenung di kamar tanpa melakukan apapun pasti tanpa sadar aku selalu memikirkan mu, merindukan kamu dan masa-masa kita lagi sama-sama. Tapi di pagi sampai sore hari, karena ada kesibukan bekerja, aku sama sekali tak pernah selintas pun namamu terpikirkan. Maka dari itu, aku selalu ingin sibuk terus supaya aku cepat lupa. Karena aku berpikir kalau kamu pasti membenci aku yang dengan kejamnya meninggalkan kamu yang sedang dirawat."


"Bodoh! Isi pikiranmu sepertinya harus dicuci supaya tidak berpikiran negatif terus. Kamu pikir aku lelaki bodoh? Yang terima-terima saja diputuskan dengan alasan klise yang kamu ucapkan? Tentu tidak. Aku tidak mau menyesal karena menerima dengan mudahnya diputuskan olehmu tanpa alasan yang jelas dan tak masuk diakal."


"Ternyata selain setia, kamu juga pejuang cinta. Aku benar-benar baru melihat sisi kamu yang seperti ini. Terima kasih karena kamu mau memperjuangkan aku yang tidak seberapa berharga ini. Aku benar-benar merasa beruntung. Karena kamu, aku merasa tidak sedang mendapatkan karma lagi atas perlakuan buruk ku di masa lalu. Aku selalu berpikir kalau aku tidak berhak untuk bahagia. Tapi karena kamu, aku jadi berharap dan menginginkan kebahagian itu hadir dan terjadi padaku. Terima kasih," ucap Renatta dengan sangat tulus bahkan hampir meneteskan air matanya.


"Kamu cengeng, rapuh, banyak bicara dan terlalu merendahkan diri kamu sendiri. Sayangnya, aku mencintai kamu yang seperti itu. Apa adanya di depanku, meski terkadang aku kesal juga. Kamu tidak sadar kalau kamu itu berharga untuk orang-orang yang menyayangi kamu, termasuk aku. Jadi mulai sekarang jangan selalu merendahkan diri kamu sendiri, mengerti, Nat?"


Renatta mengangguk dengan senyuman dan air mata yang sudah menetes Karena mendengar ucapan dari Regan.


"Jangan menangis lagi. Aku benar-benar tidak bisa melihat kamu menangis," ucap Regan kemudian memeluk Renatta ke pelukannya.


Tangis Renatta malah semakin pecah dan membuat mereka jadi pusat perhatian orang lain. Tapi Regan tak peduli akan hal itu, dan terus menenangkan Renatta.


"Ada banyak hal yang kamu sendiri tidak sadari, kalau kamu itu istimewa dan berharga. Tidak banyak orang yang mau meminta maaf atas kesalahan yang bukan kesalahannya sendiri. Tidak banyak orang yang mau berkorban demi orang yang disayanginya meskipun membuat dirinya harus terluka. Kamu melakukan itu semua. Yang aku sendiri mungkin tidak bisa. Aku akan merasa jadi laki-laki paling bodoh jika sampai melepaskan mu, Nat."


Regan mengelus mencium kening Renatta lalu menghapus air mata yang jatuh itu.


"Berjanjilah, ini adalah terakhir kalinya kamu menangis."


Namun Renatta tak mau berjanji. Karena dengan menangis ia bisa menumpahkan semua rasa yang tak ia mengerti di dalam hatinya. Dengan menangis ia bisa merasa lega.


Karena ucapannya tak bersambut, Regan memeluk Renatta lagi.


"Baiklah, tidak usah berjanji. Karena aku sendiri yang akan menjaga kamu supaya tidak menangis lagi."


*


*


TBC