Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
URUSANMU URUSANKU



Happy reading ya kakak - kakak 😊😊😊


🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀


George menarik sebuah kursi yang berada didepan meja rias didalam kamar Mira dan duduk disitu, bersiap mendengarkan cerita Mira.


Mira mulai menceritakan hubungannya dengan Dion secara mendetail, mulai dari awal pertemuan sampai pada akhir hubungan mereka.


"Kapan itu terjadi ?" Tanya George


"Baru - baru ini." Mungkin sekitar dua minggu yang lalu. Jawab Mira.


"Bukan perpisahan yang baik, kurasa." Itu sebabnya dia marah dan membencimu.


"Iya, kau benar!"


Mira kembali melanjutkan ceritanya, memberitahu George alasan mengapa dia menjauhi Dion.


George yang mendengar cerita Mira mulai geram.


"Berani - beraninya dia melecehkanmu!" Ucap George kesal.


"Kau tidak perlu berlebihan seperti itu. Lagipula, aku tidak apa - apa." Imbuh Mira.


"Lalu apa yang kalian bicarakan tadi ?"


Mira mendesah tanpa semangat. " Dion melihat aku dan kamu dihotel siang tadi, lalu dia sempat - sempatnya mengambil foto kita. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan, tapi sejujurnya aku khawatir dia akan menyebarkan foto - foto itu."


"Tentu itu tidak akan menjadi viral karena aku bukanlah publik figur. Tapi jika Dion mengirimkannya kepada teman - temanku, bukankah itu akan sangat memalukan ?"


"Aku hanyalah wanita biasa. Aku tidak kaya dan juga tidak memiliki kekuasaan. Satu - satunya yang aku punya hanyalah harga diriku." Jelas Mira.


"Aku mengerti!" Aku akan mengurusnya. Kau tidak perlu khawatir sayang. Selama ada aku, kau aman. "Aku tidak akan pernah membiarkan wanitaku cemas." Ucap George menenangkan Mira.


Kata - kata George awalnya membuat Mira sedikit tenang, namun beberapa detik kemudian ia mulai risih.


"Sebenarnya, sejauh yang berhubungan denganku, kau tak perlu khawatir. Aku akan mengurus urusanku sendiri. Masalahku biar aku yang menyelesaikannya sendiri." Tutur Mira.


"Sebentar lagi kita akan menikah sayang. Jadi urusanmu adalah urusanku! Masalahmu adalah masalahku! " Ucap George tegas.


"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya ?" "Kau tidak akan membunuhnya kan ?" Tanya Mira penuh selidik.


"Jika memang harus, tentu akan kulakukan." Jawab George singkat.


"Jangan bercanda!" Buatku itu tidak lucu! Tukas Mira


"Buatku juga tidak sayang." Ucap Geoge, matanya tetap memandang Mira.


"Tunggulah sebentar disini, aku harus menghubungi Lucas." Seru George.


Pria itu berjalan keluar dari kamar sambil menekan ponsel miliknya, menghubungi Lucas.


Mira hanya terdiam, duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong kepada pria itu. Pikirannya terus berusaha mencerna kata - kata yang dilontarkan George barusan.


" Apa dia juga seorang mafia ? "


" Apa dia seorang gengster ? "


Beberapa menit kemudian George kembali kedalam kamar dan menghampiri Mira.


"Sudah beres!" Kata George.


"Maksudmu?"


"Pria itu tidak akan mengganggumu lagi!"


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?"


Mira menatap George penuh curiga.


"Hanya memberinya sedikit pelajaran."


"Tenanglah sayang! Jangan berpikir macam - macam. "Aku tidak membunuhnya jika itu yang kau takutkan!" Tutur George.


"Syukurlah kalau begitu."


"Asal kau tahu, aku tidak mau mempunyai seorang suami pembunuh." Seru Mira.


"Wow... Jadi kau sudah mengakuiku sebagai suamimu ?" Goda George dengan menampilkan seringai berbahayanya.


"Tidak! Bukan begitu! Siapa yang mengakuimu sebagai suami?"


"Maksudku...hmmm...maksudku..."


"Ah . . . sudahlah! Aku mau tidur." Ucap Mira cepat dan ia langsung membaringkan tubuhnya diatas ranjang membelakangi George lalu segera menutup matanya.


George pun ikut berbaring disamping Mira lalu memeluk erat tubuh wanita itu.


Mira membuka kembali matanya dan menatap George yang sudah memejamkan mata.


"Mengapa kau disini ? Apa yang kau lakukan?" Tanya Mira sambil mendorong tangan George dari tubuhnya.


"Aku juga mau tidur sayang." Aku lelah!


"Ayo kita tidur." Ucap George.


"Tidak mau!" Aku tidak mau tidur denganmu! Kau tidur saja diluar! Teriak Mira sambil menendang pelan kaki pria itu.


"Mengapa kau selalu saja membantah ? Dimalah Mira!


"Jika kau tak mau diam, aku akan menghukummu!" Ucap George menakuti Mira.


"Sial . . ."


Mira tak mengeluarkan suara lagi.


Dengan terpaksa ia membiarkan George tidur seranjang dengannya sambil memeluk tubuhnya erat.


Kata - kata Mira mungkin mengisyaratkan penolakan. Tetapi berbeda dengan hati dan tubuhnya.


Sejujurnya Mira senang tidur dalam dekapan pria itu. Tubuhnya hangat dan nyaman.


Maka tak butuh waktu lama bagi Mira dan juga George untuk tertidur lelap.