Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
PANDAI BICARA



Seorang wanita cantik terlihat sedang duduk manis di lobby hotel sambil memaninkan ponselnya.


Wanita cantik itu adalah Melinda Utami. Seorang politikus perempuan yang terkenal karena program kerja dan perjuangannya di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, terutama untuk para masyarakat ibu kota.


Melinda Utami terlahir dari keluarga kaya raya. Namun itu tidak menjadikannya sombong dan lupa diri. Malah sejak dia muda, dia mengabdikan dirinya untuk membantu sesama dengan membangun sebuah Yayasan untuk membantu anak - anak terlantar.


Itu salah satu hal yang mendorong Nyonya cantik itu untuk dapat menjadi seorang politikus. Agar dapat melanjutkan membantu sesama yang membutuhkan, ia harus menjadi wakil rakyat. Dan usahanya tidak sia - sia. Selama hampir 3 tahun ini dia menjalankan tugasnya sebagai Walikota dengan baik.


Namun keberadaanya di Bandung kali ini bukan karena tugas negara. Namun ia menghadiri pesta pernikahan dr anak teman baiknya.


Karena itu sedari beberapa minggu yang lalu Nyonya Melinda sudah memesan gaun kepada Mira.


Nyonya melinda adalah pelanggan VIP Star Fashion. Jadi Nyonya Melinda dan Mira sudah saling mengenal dan terbilang cukup akrab dikarenakan Miralah yang merancang pakaian Nyonya Melinda.


"Kenapa tidak memanggil dengan sebutan ibu ? kenapa harus memanggil dengan sebutan nyonya ?"


Ya karena itu adalah aturan perusahaan. Setiap pelanggan VIP wanita harus dipanggil dengan sebutan nyonya.


Sedangkan setiap pelanggan VIP pria harus dipanggil dengan sebutan tuan.


"Selamat pagi Nyonya Melinda." Mira menyapa dengan senyum lebarnya.


Maafkan aku karena merepotkan anda nyonya. Ucap Mira lirih.


"Hmmm...Kau tahu, semalam aku menunggumu hingga larut malam. Namun kau tak kunjung datang. Ku kira kau berubah pikiran." seru Nyonya Melinda.


"Maaf Nyonya." Semalam aku tiba dihotel ini hampir jam 12 malam. Dan kupikir tidak ada sopan - sopannya mengganggu nyonya ditengah istirahat anda nyonya.


Karena itu aku menundanya. Mungkin lebih baik jika bertemu dengan nyonya pagi ini."Ucap Mira dengan suara memelas.


"Tapi kita hampir saja tidak bertemu."


seru Nyonya Melinda dengan satu alis terangkat keatas.


"Namun kita sudah bertemu."


Tentu itu semua karena kebaikan hati anda nyonya. Terimakasih banyak, nyonya masih menyisihkan waktu untuk aku yang bukan siapa - siapa ini.


Kalimat Mira sontak membuat Nyonya Melinda tertawa.


"Hahahaaha....Kau memang pandai bicara. Kau memang perempuan cerewet.


Tapi harusnya kau tidak perlu merendah seperti itu. Ucap Nyonya Melinda.


"Tentu. Apapun yang ada pada kita, semua itu adalah anugerah dari Tuhan. Tidak peduli apakah itu kelebihan atau kekurangan, asalkan kita menggunakannya untuk kebaikan maka hasil yang kita dapatkan pastilah yang terbaik." Lihatlah dirimu. Karena kecerewetan mu itu kau bisa sampai sejauh ini. Bisa berkarir dalam bidangmu itu bukanlah suatu hal yang mudah.


"Mira tersenyum dengan pipi yang memerah sambil menatap wajah Nyonya Melinda."


"Oh ya, sebenarnya aku tahu kau itu tidak mungkin tidak datang kemari.


Aku kenal kau itu sudah lumayan lama. Kau kan si perempuan gila kerja. Jadi tidak mungkin urusan penting seperti ini akan kau abaikan.


Jadi gaunmu sudah kutitipkan di meja resepsionis. Kau ambil saja disana.


Tapi ingat. Kau harus menggantinya ya. Oke ?!


Ucap Nyonya Melinda sambil merapihkan tasnya.


"Tentu Nyonya." Aku pasti akan membuat gaun yang cantik untuk nyonya yang cantik. Seru Mira dengan suara yang meyakinkan.


"Hahahahaa.... Apa sekarang kau sedang menggodaku ?


Kata - katamu itu terlalu biasa sayang. Aku menang sudah cantik sejak dulu."


Roh kenarsisan Nyonya Melinda tiba - tiba muncul. Tidak banyak yang tahu bahwa nyonya cantik itu memiliki tingkat kenarsisan yang tinggi.


Dia tipe orang yang ingin dipuji untuk sesuatu yang benar apa adanya dan terjadi pada dirinya. Bukan pujian yang dibuat - buat untuk sebuah keuntungan.


Nyonya Melinda akan membalas pujian untuknya dengan kalimat yang mempertegas bahwa semuanya memang benar sambil memperlihatkan wajahnya yang sumeringah.


"Didunia ini, siapa yang tidak ingin dipuji sih?"


Semua orang ingin, dan semua orang butuh.


"Tidak Nyonya. Aku tidak berani merayu anda. Kemampuanku belum sampai disitu.


Itu memang kenyataan Nyonya. Anda selalu terlihat cantik dimanapun dan kapanpun." Jawab Mira lantang.


"Hahahaa... terserah kau saja Mira."


Aku harus segera pergi. Nanti kita bertemu di Jakarta. pamit Melinda sambil menenteng tas Guccinya.


"Hati - hati dijalan Nyonya." Semoga segala urusan anda lancar." Ucap Mira.


Segera setelah Nyonya Melinda berlalu, Mira melangkahkan kaki menuju ke meja resepsionos dan mengambil gaunnya.