
Jika banyak typo, harap dimaklumi ya kakak - kakakku sayang 😊
Sekali kali mohon tinggalkan jejak kalian dengan menekan tombol like dan jika berkenan klik juga tombol favoritenya ya kak 😉😉😉
~~ Happy reading ~~
Â
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Â
Mira kini pasrah mengikuti keinginan George. Tidak ada gunanya berdebat dengan pria pemaksa ini. Lagipula Mira tidak ingin berlama - lama berada didalam kamar suite hotel bersama dengan George.
"Dimana tasku ? Cepat berikan !" Seru Mira.
"Aku akan memberikannya saat kita tiba di apertemenmu." Ucap George dengan entengnya.
"Apa ???"
Tanpa mengatakan apa - apa lagi, George segera menarik tangan Mira menuntunnya mengikuti langkahnya.
Sial...!!! Aku belum sepenuhnya siap keluar dari sini brengsek! Apa kau tidak melihat tanda merah dileherku ini ? Bagaimana aku menutupinya ???"
Dengan terpaksa Mira melangkahkan kakinya mengekori George, sementara tangan kirinya sibuk mengibaskan rambut hitam panjangnya kedepan untuk menutupi kissmark yang bertebaran penuh dileher putihnya. Sementara George hanya tersenyum geli memperhatikan kelakuan Mira.
***
Sepanjang jalan menuju apertemennya, Mira terus memikirkan ucapan George yang mengajaknya menikah. Apakah aku harus menerima permintaannya itu ?
Pernikahan bukanlah sebuah permainan. Pernikahan itu kudus karena dirinya tidak hanya akan mengikat janji suci dengan pasangan hidupnya, tetapi pernikahan juga adalah perjanjian yang dibuat dihadapan Tuhan. Setiap insan harus mempertanggung jawabkan pernikahan mereka dihadapanNya.
Selama Mira menjalani hubungan dengan pria, belum pernah ada yang menawarkan hubungan ke jenjang yang seserius ini, meskipun dia berharap dia bisa segera menikah. Keinginannya menikah bukan semata karena desakan orang tuanya, tetapi karena menurut Mira usianya kini sudah cukup dewasa untuk membina sebuah rumah tangga.
***
Setibanya mereka di apertemen, George mengamati setiap sudut apertemen Mira. Wanita itu cukup rapih menata barang - barangnya.
Sementara mata Mira terus mengawasi gerak - gerik George . Ia merasa sedikit risih dengan tatapan George yang memperhatikan apertemennya.
"Maaf! Apertemenku kecil." Ucap Mira.
"Tidak apa - apa sayang! Selama kau nyaman tinggal disini, itu sudah bagus." Ujar George.
"Duduklah! Mari kita bicara." Sambung George.
Kenapa kau bersikap seolah kau tuan rumahnya ?? Hellow...Apertemen ini milikku brengsek! Aku tuan rumahnya.
"Berikan dulu tasku!" Seru Mira.
"Fine...!" Jawab George sedikit kesal.
Selama ini belum pernah ada wanita yang membantah ucapan George. Setiap wanita yang berhubungan dengan George akan selalu patuh dengan semua ucapannya. Tapi wanita ini berbeda. Wanita ini selalu saja melawannya. Tapi anehnya, George bukannya marah tapi malah semakin bersemangat beradu mulut denganya, meskipun nanti pada akhirnya George harus mengalah pada wanita itu.
George menyerahkan tas berwarna grey yang tadi diberikan Lucas kepadanya sebelum mereka turun dari mobil.
Segera Mira meraih tas miliknya itu lalu mengambil ponselnya dari dalam tas.
Ini sangat aneh! Mengapa tidak ada satupun pesan atau panggilan dari Arifin ???
George memperhatikan raut wajah Mira yang terlihat kebingungan.
"Bosmu tidak akan mencarimu! Bukankah tadi sudah kubilang, aku sudah memberitahu Arifin bahwa kau sakit dan kau sedang bersamaku." Ujar George dengan begitu santai.
"Apa ???" Teriak Mira.
"Lupakan urusan pekerjaanmu saat bersamaku!" Perintah George.
Sial... Belum apa - apa dia sudah seenaknya memerintahku.
Mira memilih duduk berhadapan dengan George disofa berwarna krem yang berada diruang tamu miliknya.
"Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan ?" Tanya Mira.
"Aku akan menjawab semua pertanyaanmu. Bukankah kau ingin mengenalku lebih dekat ?" Seru George.
Apa ??? Lama - lama aku bisa gila! Siapa ? Siapa yang ingin mengenalmu lebih dekat jerk ?
"Berapa mantan pacarmu ?" Tanya Mira.
Kenapa pertanyaannya seperti itu ? Dasar bodoh!
"Dua." Jawab George singkat.
"Dasar pembohong! Aku tidak percaya mantan pacarmu hanya dua." Seru Mira.
"Meski kau tak percaya, tapi itulah kebenarannya." Jawab George.
"Kalau begitu berapa banyak wanita yang pernah tidur denganmu ?"
"Aku tak bisa menghitungnya." Ucap George santai.
Dasar brengsek!!! Dasar cab*l!!! Dasar maniak s**s!!!
"Lalu apa kau memiliki kekasih ?"Giliran George bertanya.
"Tidak." Jawab Mira.
"Atau mungkin kau sedang dekat dengan seseorang ?!" Sambung George.
"Tidak juga." Jawab Mira singkat.
"Bagus! Tidak ada alasan lagi bagimu permintaanku untuk menikah." Ujar George bersemangat.
"Alasan ? Tunggu dulu!" Seru Mira.
"Lalu apa alasanmu ingin menikahiku ?" Mira kembali bertanya.
"Karena aku menyukaimu. Dan mungkin aku mencintaimu." Jawab George disertai senyuman manisnya.
Mira terkekeh.
"Come on George! Itu bukan alasan yang logis. Asal kau tahu, aku tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama." Ucap Mira sembari tersenyum geli.
"Baiklah...Aku akan memberikanmu alasan yang logis. Dengarkan baik - baik sayang!
Mungkin dalam perut ratamu itu benih cinta kita sedang bertumbuh." Ujar George dengan raut wajah begitu serius.
"Apa ???" Teriak Mira.
Seketika wajah Mira memucat. Dia mencoba mengingat kembali pergulatan mereka semalam.
Oh sial. Dia tidak memakai pengaman!!!
"Dasar bule brengsek!!!"