Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 94 - Lebih dari cukup



Dua bulan telah berlalu, selama waktu itu, Renatta dan keluarganya sudah tinggal di rumah lama mereka. Nesha pun sudah melahirkan putranya dengan normal tanpa ada kekurangan apapun. Kini rumah mereka selalu ramai oleh tangisan bayi apalagi ketika malam hari. Tapi, mereka senang.


Mengenai kaki Renatta, kakinya sudah berangsur pulih dan bisa berjalan dengan normal seperti biasanya. Hal itu pun menambah kebahagian di keluarga mereka. Apalagi sebentar lagi pun, Renatta akan melangsungkan acara pernikahan dengan Regan. Untuk persiapannya mungkin sudah hampir 50 persen.


Renatta duduk di sofa ruang tamu sambil memangku ponakan bayinya. Ia begitu gemas dengan bayi itu sampai ingin ia cubit tiap harinya.


"Kenapa kamu segemas ini sih, Nelson? Aunty kan jadi ingin gigit pipi kamu?" ucap Renatta saking gemasnya.


"Ih, apaan nggak boleh!" Si ibunya datang dengan langsung melarang Renatta melakukan hal seperti itu.


"Ya elah, becanda doang kali Kak. Nggak beneran!" Renatta berkilah.


"Tetep aja, kamu tuh kalau aku tinggal berdua sama anakku, pasti abis kamu cubitin, Nat. Nanti kamu juga punya anak sendiri sama Regan."


Renatta mengerucutkan bibirnya.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu masih santai-santai aja sekarang? Kamu nggak sibuk ngurusin pernikahan kamu?"


"Diurusin lah, ya kali semuanya yang urus Mommy Jessie. Tapi sebenarnya dia juga nggak keberatan sih. Katanya cukup bilang aja pernikahan seperti apa yang aku inginkan, nanti akan diwujudkan. Aku sih paham, ucapan Mommy Jessie tak akan pernah bohong. Cuma ya tetap nggak enak lah. Makanya kita bagi-bagi tugas. Aku ngurus masalah gaun, riasan dan dekorasinya, Mommy ngurusin yang selain itu."


"Ya bagus kalau seperti itu mah Nat."


Renatta mengangguk.


Kemudian ia melihat ke bayi kecil di pangkuannya.


"Nanti kalau ada perlu apapun soal ponakanku, kakak bisa minta bantuan sama aku."


Nesha mengangguk.


Renatta memberikan Nelson ke pangkuan Nesha karena ia akan memasak untuk makan siang Regan dan papanya.


Di dapur, Renatta mulai bereksperimen dengan sayuran dan bumbu lainnya. Setelah hampir satu jam di dapur, Renatta mulai memasukkan makanan yang telah jadi ke dalam tupperware. Ia diamkan sebentar supaya tidak terlalu panas lalu menutupnya ketika hangat.


"Kak, aku pergi ke kantor dulu, kakak nggak apa-apa kan kalau aku tinggal?" tanya Renatta.


"Nggak papa, tenang aja. Pergilah," jawab Nesha.


Renatta pun keluar dari rumah dan memberhentikan taksi di depan rumahnya.


*


*


Sesampainya di kantor Regan, tatapan semua karyawan padanya sudah berubah. Yang dulunya di pandang sebelah mata, kini dipandang dengan penuh hormat. Bagaimana tidak? Regan sudah mempublikasikan hubungan keduanya. Bahkan sudah membeberkan tentang rencana pernikahan mereka juga. Jadi, tak ada lagi yang bisa menggunjing Renatta di depannya. Entah kalau di belakang, mungkin masih ada beberapa yang iri dan tidak suka padanya. Tapi itu bukan urusannya dan Renatta pun tak peduli soal itu.


Renatta menaiki lift untuk menuju ke lantai dimana tempat Papa dan Regan bekerja.


Pertama, Renatta pergi ke ruangan Papa Dewa terlebih dahulu. Ia datang dengan senyuman manisnya dan menaruh bekal makanan di meja sang papa.


"Papa pikir kamu tidak akan membawakan makan siang untuk Papa."


"Nggak dong, mana mungkin begitu. Aku kan sudah pengangguran, kalau tidak membuatkan makan siang untuk papa, kayaknya hidupku santai banget. Nggak ngapa-ngapain di rumah."


"Iya deh, tapi kan kamu sudah diberikan investasi dari calon papa mertuamu. Kenapa masih belum dipakai juga?"


"Bukannya belum dipake Pa, aku masih mencari-cari tempat yang cocok. Lagipula aku juga menunggu Nelson agak sedikit besar, supaya bisa dibawa-bawa keluar," jawab Renatta.


"Ya sudah lah, sana langsung ke ruangan Regan aja. Pasti dia juga sudah menunggu kamu. Papa baru sadar kalau sikap dia di kantor dan di rumah sangat berbeda. Disini agak-agak galak dan dingin. Tapi sama kamu jadi kaya kucing, suka manja gitu."


Renatta terkekeh pelan. Karena ucapan papanya memanglah benar.


"Ya udah aku ke ruangan Regan ya, Pa. Dimakan makanannya, harus habis ya Pa. Nanti di rumah aku tunggu komentarnya. Rencananya menu itu akan jadi salah satu menu di restoran ku nantinya."


Papa Dewa memberikan kode oke dengan tangannya.


Renatta pun keluar dari sana dan pergi ke ruangan Regan. Di depan ruangan, ia melihat Ozy yang tak beranjak dari mejanya.


"Kamu nggak makan siang Zy?" tanya Renatta.


"Eh, kamu udah datang rupanya, udah ditunggu Regan di dalam tuh."


Bukannya menjawab Ozy malah mengatakan hal yang lain.


"Aku juga lagi nunggu kiriman makanan dari istriku Nat."


"Oh, oke deh, kalau begitu aku masuk dulu ya."


Ozy mengangguk. Tangan Renatta memegang gagang pintu dan membukanya. Ketika pintu terbuka lebar, Renatta melihat Regan yang masih duduk di kursinya dengan sangat elegan dan cool. Apalagi laki-laki itu memakai kacamata, yang membuatnya semakin berkarisma.


Renatta sengaja masuk dengan suara seminim mungkin, supaya Regan tak menyadarinya. Ternyata, ketika Renatta ingin mengejutkan Regan, Renatta lah yang terkejut karena Regan langsung menatap ke arahnya, padahal Renatta lihat-lihat Regan seperti masih sibuk dengan kegiatannya.


"Kamu tidak akan bisa mengejutkanku, kenapa datang lebih lambat dari biasanya?" tanya Regan sambil menarik Renatta untuk duduk di pangkuannya.


"Hiss! Tetep aja, kamu kan jadi nggak bisa lama disini," gerutu Regan.


Renatta langsung mengacak-acak rambut Regan dengan salah satu tangannya. Laki-laki ini selalu saja manja padanya.


"Kita loh hampir ketemu tiap hari."


"Beda rasanya Nat, biasanya kan kamu selalu aku lihat di tempat yang sama baik itu di apartemen atau rumah keluargaku. Sekarang kan berbeda karena kamu sudah hampir dua bulan tinggal di rumahmu. Dulu kan kamu aku jumpai hampir setiap jam, menit."


"Ya memang sudah jalannya begitu. Sekarang kamu makan dulu. Kau udah buatkan makanan spesial."


"Suapin," ucap Regan dengan manjanya.


"Lepas dulu, aku mau buka tutupnya."


Regan menggeleng, ia tidak mau Renatta bangun dari posisinya. Ia pun membopong Renatta yang masih menyangking bekal untuknya ke sofa.


Regan membuka bekal makanannya dan memegangnya, sementara Renatta yang nantinya akan menyuapi dirinya di pangkuannya.


"Semakin lama, kamu semakin manja."


Renatta mulai menyuapi Regan. Regan mengunyah makanannya kemudian menanggapi ucapan Regan.


"Selagi manja sama pasangan sendiri, itu tidak masalah."


"Iya lah, awas aja kalau manja sama orang lain. Aku tebas leher kamu," ancam Renatta.


"Ih, sadisnya! Tapi aku suka, itu artinya kamu cemburu."


"Nggak cemburu, lebih ke dendam karena udah disakiti."


Regan merengut. Lalu membuka mulutnya lagi ketika sesendok makanan ada di dekat mulutnya.


"Seberapa besar cinta kamu ke aku?" tanya Regan dengan random nya.


"Nggak tahu," jawab Renatta.


"Lah? Kok nggak tahu? Padahal tinggal jawab aja, sebesar lautan apa gunung, kok susah?"


"Ya soalnya aku emang nggak tahu. Ya intinya mah cinta."


Regan merengut lagi.


"Ih, kamu mah nggak asik, padahal aku ingin denger kata-kata manis."


"Nggak usah banyak mau deh."


"Dasar nggak peka!"


Karena Regan terlihat sedikit ngambek, Renatta pun menghela napasnya lalu meletakkan bekal yang dipegang Regan ke meja. Ia menatap wajah Regan dengan sangat detail sambil mengusapnya pelan.


"Aku memang nggak tahu, sebesar apa rasa cintaku padamu. Tapi yang aku tahu, aku tidak sanggup kehilangan kamu. Kamu sudah membawa aku ke dalam hatimu. Menutupnya dan menguncinya dengan sangat rapat. Bahkan untuk berpaling sekalipun, aku tidak berniat. Karena kamu sudah lebih dari cukup bagiku. Terima kasih, sudah membawaku ke hatimu."


Regan langsung menarik Renatta dan mencium bibir Renatta. Walaupun bukan kata-kata manis, tapi perkataan Renatta itu membuat dirinya merasa istimewa dan jantungnya berdebar-debar.


Ciuman itu berlangsung lama sampai mereka saling memainkan lidah. Kemudian mereka melepaskannya dan membiarkan wajah mereka saling beradu.


"Kamu selalu bisa membuatku untuk terus jatuh cinta padamu Nat."


Renatta tersenyum senang lalu mengecup bibir Regan sekilas.


"Beraninya kamu menciumku cuma sebentar? Harusnya lebih lama dong!"


"Kan udah," jawab Renatta.


"Kurang, apapun yang aku lakukan sama kamu selalu kurang rasanya, karena kita masih belum bersama seutuhnya."


Renatta menjauhkan wajahnya dari wajah Regan.


"Sebentar lagi, sebentar lagi kita akan menikah."


"Aku tahu, dan aku tidak sabar untuk itu."


Regan kembali menarik Renatta dan menciumnya lagi. Untungnya, ada Ozy di luar ruangan. Kalau tidak, takutnya ada yang masuk dan Regan tak mendengarnya. Apalagi ruangan Regan lupa tidak dikunci oleh Renatta tadi.


*


*


TBC