
πππ Selamat membaca kak...
.
.
.
Jakarta, Indonesia.
Keesokan harinya, kegelapan masih menyelimuti bumi karena hujan yang cukup deras. Beberapa hari ini cuacanya memang kurang bersahabat selaras dengan perasaan Mira yang tak baik. Mira berencana menghabiskan waktu akhir pekan ini dengan membaca novel, menonton TV dan bermain game di ponsel sembari berharap segera mendapat kabar dari kekasih hatinya.
Stella sedari pagi bekerja, menyiapkan sarapan roti selai dan kopi, membereskan rumah dan mencuci pakaian.
"Selamat pagi," sapa Stella ketika Mira keluar dari kamar. "Kamu tampak kelelahan, Mira."
"Ada hari - hari tertentu dimana Mira tak bersemangat pada pagi hari." Mira mengakui dengan suara malas.
"Jika ini tentang pria itu... "
"Tidak. Bukan tentang dia." Sangkal Mira cepat.
"Baiklah. Jangan terlalu dipikirkan. Sama seperti yang kamu katakan, dunia belum berakhir jika pria itu tidak kembali."
"Ma..." Ujar Mira lembut. "Bisakah kita tidak membicarakan tentang George? Setidaknya hari ini. Mira mau belajar untuk tidak berharap sehingga jika yang terburuk terjadi, Mira tidak terlalu sedih."
Stella menatap prihatin pada puteri nya. "Baiklah. Tapi mama berharap kamu mau membagi kesulitan mu pada mama."
Tidak mudah bagi Stella membangun suasana seperti tidak terjadi apa - apa. Tapi ketika melihat Mira yang seperti gila, kemarin begitu bersemangat tapi hari ini seratus delapan puluh derajat berbeda. Pada akhirnya situasi ini mengharuskan Stella menjadi ibu yang hangat dan bijaksana. Dia tahu bahwa Mira sudah mencintai pria itu. Dan jika masalahnya sudah terletak pada hati, maka segala sesuatu akan terasa sulit saat yang dicintai tidak berada di dekat kita.
"Sepertinya Mira mencium bau kopi ma. "
Penciuman Mira mulai tajam terhadap aroma kopi semenjak George tinggal di apartemennya. Mira memiliki stok kopi di lemari dapur tapi dia tidak menyukainya. Berbeda dengan Stella. Wanita itu dapat di kategorikan sebagai pencinta kopi sebab dalam sehari dia bisa meminum tiga atau empat cangkir.
"Ya, mama membuatnya tadi. Susu coklat untukmu belum mama buatkan karena mama pikir kamu akan bangun siang."
"Tidak apa - apa. Mira minum kopi ini saja." Ucap Mira sambil mengambil cangkir yang terletak di atas meja makan.
"Mama rasa kamu benar - benar telah jatuh cinta."
"Mmm ???" Mira meneguk habis secangkir kopi itu lalu kembali bersuara,"Mengapa mama berkata seperti itu?"
"Mama tahu kamu tidak menyukai kopi. Tapi pria itu begitu menyukainya." Stella menggelengkan kepalanya. "Cinta memang bisa merubah kebiasaan seseorang. Karena cinta, kamu bahkan rela mencoba sesuatu yang tidak kamu sukai."
"Itu berlebihan ma. Mira hanya ingin meminum apa yang ada saja." Setelah mengucapkan kata - kata itu, Mira berniat kembali ke kamar untuk menghindari Stella.
"Jangan hanya minum kopi saja. Kamu harus makan. Habiskan rotinya dulu." Perintah Stella.
Jam menunjukan pukul sepuluh ketika Stella berpamitan untuk pergi ke supermarket berbelanja bahan makanan.
"Maaf, Mira tidak memperhatikan persediaan bahan makanan di kulkas." Ucap Mira merasa bersalah.
"Tidak apa, mama pergi dulu ya."
"Ma..." panggil Mira lembut.
Saat Stella menoleh ke arah Mira, wanita itu segera berucap, "Terimakasih, mama sangat baik."
Stella hanya membalas perkataan Mira dengan senyum lembut, senyum seorang ibu yang menyayangi anaknya.
***
New York, Amerika Serikat.
Setelah tiba di New York, Steve menjemput George di Bandara dan mereka langsung menuju kantor.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya George.
"Teressa Lewis tak mau lagi bekerja pada perusahaan kita tuan." Ucap Steve kecewa.
Teressa Lewis adalah Desainer terkenal sekaligus Direktur TL Brand. Wanita itu sudah sepuluh tahun bekerja di Goldsmith Company dan telah banyak memproduksi pakaian dengan label TL. Kini merek pakaian itu menjadi salah satu merek terkenal di New York.
"Kenapa tiba - tiba dia mau berhenti dari pekerjaannya? Apa dia akan menikah?" Gurau George mengingat wanita itu hampir menjadi perawan tua.
Steve menatap keheranan. Disaat genting seperti ini bisa - bisanya pria itu bergurau. "Apa dia benar - benar George Goldsmith?" Batin Steve.
Sebelum berangkat ke Indonesia, pria itu memiliki wajah datar, tak tahu bercanda dan tak ada selera humor. Kini setelah kembali wajahnya berubah. Tak berhenti menyebarkan senyum dan sudah bisa bergurau.
"Tidak tuan. Ku rasa saat ini wanita itu tengah berusaha menahan diri untuk tidak mengamuk. Dia meng - claim, desainnya telah di jiplak oleh Flower Brand."
Flower Brand adalah juga salah satu merek pakaian yang di produksi oleh Goldsmith Company.
Steve membuka pintu mobil.
"Apa kau sudah mencari tahu siapa yang membocorkan desain Teressa?"
"Iya."
"Berapa banyak desain yang dia bocorkan?"
"Tujuh."
"Apa? Sebanyak itu?"
"Iya. Kami sudah memecat semua orang yang terlibat tuan."
"Lalu masalahnya apa sekarang?"
"Masalahnya ada pada Teressa. Meski pelakunya sudah di pecat, tapi sepertinya wanita itu masih belum puas."
"Hmmm. Dimana wanita itu sekarang?"
"Pagi tadi dia masih terlihat di kantor. Tapi sekarang mungkin wanita itu sudah berada di rumahnya."
"Kita langsung ke sana. Aku akan mencoba membujuknya."
Steve melayangkan pandangan melalui kaca spion. Pandangan nya seolah berkata, "aku percaya kau bisa melakukannya tuan."
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, kini tibalah mereka di sebuah mansion indah nan megah. Saat mobil SUV George berada di halaman parkir, segera Steve membuka pintu mobil.
"Tidak ku sangka kau akan datang mengunjungi ku secepat ini." Ucap Tessa sambil memeluk keponakan nya itu.
"Ini karena aku merindukanmu aunty."
"Omong kosong. Kau tidak akan menemui ku jika bukan tentang masalah pekerjaan." Kata Tessa kesal. "Duduklah." Tessa mempersilahkan.
"Maafkan aku. Jadi, apakah masih ada harapan?" Tanya George langsung.
"Harapan tentang apa?" Tessa balik bertanya.
"Membujuk mu."
Tessa terkekeh lalu berkata ringan, "Mungkin ini saatnya aku beristirahat."
"Aku yakin ini bukan saat yang tepat. Perusahaan masih membutuhkanmu. Please, kembalilah." Bujuk George.
"Ku dengar kau bertemu dengan desainer cantik di Indonesia. Ku pikir kau masih akan berlama - lama disana."
"Maaf membuatmu cemburu."
"Tentu aku cemburu karena kau tak memberitahuku kalau dia adalah calon istri mu. Apa kau sudah tak menganggap ku sebagai aunty mu?"
"Jelas tidak seperti itu. Semua yang terjadi antara aku dan Mira di luar dugaan. Semua nya begitu cepat hingga aku belum sempat memberi tahu semua disini, kecuali mama."
"Apa dia cantik?"
"Lebih dari cantik. Pesonanya, Hatinya, tingkah lakunya, semuanya membuatku tertarik."
Tessa tersenyum memandang George yang tampak bahagia.
"Ini jelas bukan topik yang ingin ku bahas." Ucap George ketika menemukan kesadaran nya.
"Well, aku akan kembali ke perusahaan tapi dengan satu syarat."
"Katakan saja."
"Begini, aku ingin kau menyelidiki Nick Petterson."
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Ku rasa dia juga terlibat dalam kasus menjiplak desainku."
Nick Petterson adalah Direktur Flower Brand. Pria itu juga termasuk desainer terkenal di New York. Tapi beberapa tahun terakhir ini reputasinya memburuk karena perceraiannya dan beberapa tindak kriminal yang ia lakukan.
"Itu agak sulit karena anak buahnya tidak mengatakan dia terlibat. Tapi aku akan tetap mengawasinya. Jika dia benar terlibat, dia akan segera diberhentikan."
"Kau harus berjanji, George. Kau tahu, ini mungkin terdengar sepele. Tapi peristiwa ini telah meresahkan diriku juga seluruh bawahan ku."
"Ya, tentu saja. Ini bukan tentang permintaan mu, tapi ini juga tentang perusahaan."
"Bagus. Aku setuju. Ini demi perusahaan."
"Lalu dimana surat pengunduran dirinya? Aku harus menyobek nya."
Tessa terkekeh. "Sayang sekali, aku belum membuat nya."
Ekspresi serius diwajah George berubah menjadi senyuman. "Ngomong - ngomong, apa aunty tidak akan memberiku kopi atau semacamnya?"
"Ohh... Maaf aku lupa. Ayo kita ke dapur. Aku belajar membuat kue dan kau harus mencicipinya."
"Oh , aku tidak ingin menjadi kelinci percobaan. Aku tidak mau kue. Aku hanya membutuhkan kopi." Ucap George sambil mengikuti langkah Tesa.
"Tenang saja, kuenya pasti enak."
***
George menyelesaikan pekerjaan nya hingga jam sebelas malam. Pada bulan November, udara di New York cukup dingin meski kepingan salju sama sekali belum nampak.
Saat memasuki penthouse miliknya, George melepaskan mantel dan berjalan di lorong, lalu membuka pintu dapur. Dia masih membutuhkan secangkir kopi. Dapur pria itu bepermukaan stainless dan granit yang bersih dan mengkilat.
Setelah membuat kopi, George duduk dan bersandar di kursi tinggi dekat meja bar lalu mengambil ponsel dan memeriksa nya. Beberapa saat kemudian wajah pria itu berseri - seri. "Menurutku, kau sepertinya memang sedang merayuku." Kata George ketika membaca sebuah pesan.
Alih - alih membalas pesan, George lebih memilih menelpon video call.
***
Jakarta, Indonesia.
Hari sabtu adalah hari pertemuan Mira dan Lisa dan terkadang juga bersama Jeri. Tapi sepertinya energi wanita itu benar - benar terkuras kemarin hingga hari sabtu ini dia memilih berdiam diri di rumah daripada bertemu sahabat - sahabatnya.
Pada pagi hari hingga siang Mira berada di dalam kamar dan membaca novel. Ketika mulai bosan, Mira menempatkan diri di ruang tamu dan menonton TV. Aktivitas wanita itu seperti terbatas. Setelah bosan dengan acara TV, Mira mengambil ponsel dan mengecek. Setelah beberapa saat, rasa bosan kembali melanda nya. Mira menghempaskan diri atas tempat tidur dan tiba - tiba merasakan lelah. Bukan lelah secara fisik, tapi lebih kepada lelah secara emosional.
"Jangan melakukan hal yang merugikan diri sendiri. Jangan menjadi seperti orang bodoh." Mira berkata pada dirinya sendiri.
"Ayo semangat! Mulai sekarang aku harus berhenti memikirkan yang tidak - tidak. Aku harus berpikir positif. ya, harus."
Mira mandi untuk menyegarkan diri, memakai piyama, mengeringkan rambut dan memakai lotion.
"Mira..." Teriak Stella. "Ayo kesini, makan malamnya sudah siap."
Setelah selesai makan, Mira kembali mengecek ponsel nya. Saat ini Mira tidak lagi menjadi wanita penyabar. Berkali - kali mengecek ponsel tapi sungguh mengecewakan, sampai sekarang belum juga ada pesan atau panggilan dari George.
Keesokan harinya, pada Minggu pagi sekitar jam sepuluh, saat Mira sedang mandi, Stella menggedor pintu. "Sayang, buka pintunya dulu. Ada telepon untukmu."
Mira melilitkan handuk dan membuka pintu. Saat memandang Stella, mata wanita itu berbinar. "Telepon dari siapa?" Tanya Mira penasaran.
"Lihat saja sendiri."
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Hallo kak,
jangan bosen bosen ya tinggalin jejaknya.
Klik tombol suka, tuliskan kritik dan sarannya di kolom komentar dan jangan lupa berikan vote nya ya.
Terima kasih πππππ