
Mira terlihat begitu memukau dengan pakaian barunya. Sabrina dress selutut berwarna merah maroon itu sungguh sangat pas ditubuh langsingnya. Meski awalnya ia enggan mengenakan dress itu, tapi mau tidak mau ia harus memakainya. Dua buah blouse dan jeans yang dibelikan Lucas tadi entah mengapa semuanya kedodoran. Hanya sabrina dress itu beserta pakaian dalam yang pas ditubuhnya.
Mira mematut wajahnya didepan cermin kamar mandi, mengamati perubahan pada tubuhnya.
"Lihat perbuatannya! Dasar Pria brengsek! Dasar Maniak ****!" Gerutu Mira dengan jengkel.
"Ini banyak sekali! Bagaimana aku menutupi semua tanda merah dileherku ini ?" Tanya Mira pada dirinya sendiri.
"Oh ya... bedak. Semoga ini bisa tertutup dengan bedak."
Mira berjalan keluar dari kamar mandi hendak mencari tas miliknya sebab bedak yang ia perlukan berada didalam tas. Namun Mira mengurungkan niatnya ketika ia melihat pakaian yang ia kenakan semalam tergeletak berantakan dilantai. Mira kemudian memunguti satu persatu pakaiannya sampai matanya memperhatikan suatu benda diatas nakas.
Tangan Mira kemudian meraih benda yang membuatnya penasaran. Mata Mira terbelalak. Betapa terkejutnya ia melihat foto dirinya dengan Arifin mulai dari dalam mobil, dilobi, bahkan sampai didepan apertemen miliknya. Dalam foto itu terlihat Mira sedang memeluk erat Arifin atasannya.
"Bagaimana bisa fotoku ada disini ? Siapa yang mengambil foto ini ? Apa dia menguntitku ? Inikah alasannya melecehkan aku ?" Ucap Mira lirih.
Tangis Mira mulai pecah. Tiba - tiba seluruh tubuhnya terasa lemas. Tangannya gemetaran, hatinya tidak tenang dan pikirannya mulai kacau.
"Bahkan Lisa pasti akan mencurigai hubungan kami jika dia melihat foto ini. Bahkan semua orang yang melihat ini pasti akan mengira aku ini wanita jalang." Rutuk Mira pada dirinya sendiri.
Hiksz...hiksz...
Dalam foto itu Mira terlihat bak seorang pelacur yang siap melayani lelaki hidung belang. Jika saja ia tidak memakai blouse v-neck berbahan sifon transparan dan rok mini slim fit, mungkin ia akan bisa terlihat seperti wanita baik - baik.
"Bodoh...Kau sangat bodoh Mira! Lihat hasil kebodohanmu! Kini kau bukan lagi gadis suci. Kini kau telah berubah menjadi seperti wanita jalang persis wanita yang ada difoto ini." Mira tak hentinya merutuki dirinya sendiri.
Diluar kamar.
George sedang berbicara dengan seseorang dibalik ponsel mahalnya.
"Batalkan semua jadwalku sampai satu minggu kedepan. Aku masih memiliki urusan disini."
"Baik tuan." Ucap Steve mengerti akan perintah bosnya.
"Aku akan menyediakan wanita penghibur untuk melayani tuan sampai satu minggu kedepan." Tambah Steve dengan suara datarnya.
"Tidak perlu Steve. Kau tak perlu repot - repot! Aku sudah menemukan seorang wanita yang baik disini." Kata George dengan suara bahagianya.
"Tolong kau urus saja semua - - - - - "
George tidak sempat meneruskan perkataanya sebab sebuah suara mengalihkan perhatiannya.
"Aku akan menghubungimu lagi Steve." Ucap George tergesa - gesa.
Tuttt...tuttt...tutt...
George melangkahkan kakinya menuju kamar. Matanya memperhatikan Mira yang duduk disisi ranjang sedang menangis.
Bukankah beberapa detik lalu dia sudah tampak sedikit tenang, meskipun ia menyembunyikan kesedihan dibalik amarahnya ? Mengapa dia menangis lagi ?
Langkah George terhenti saat ia sudah berada dihadapan Mira. Kemudian George memberanikan diri mengambil foto ditangan wanita itu dan lalu segera merobeknya.
Keheningan menyambut keduanya.
George tidak mampu berkata - kata. Dia tahu dia telah banyak melakukan kesalahan. Dia tahu bahwa dia telah menyakiti bahkan menghancurkan wanita dihadapannya ini.
"Sekarang aku mengerti maksud perkataanmu Mr. George." Tutur Mira dengan airmata yang mengalir dari kedua matanya.
"Tidak sayang. Ini semua hanya salah paham." Ucap George mencoba menenangkan Mira.
"Maafkan aku... Awalnya ku pikir kau adalah jalang profesional. Namun aku bersyukur bahwa ternyata aku keliru. Aku akan bertanggung jawab padamu. Aku akan menikahimu sayang. Kau milikku." Tambah George dengan menampilkan raut wajah bersungguh - sungguh.
"Pemikiran apa itu?!"
"Kau tahu... Aku bekerja keras dan berjuang dengan susah payah hingga sampai dititik ini.
Aku selalu bersabar dan tetap tekun untuk mewujudkan mimpiku. Tapi sepertinya itu semua tidak ada gunanya. Mungkin benar, aku lebih terlihat seperti seorang jalang daripada seorang desainer."
Mira menghela nafas dalam - dalam.
"Kau tidak perlu bertanggung jawab Mr. George. Aku tidak butuh. Dan menikah! Aku tidak mau. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjadi milikmu.
George berlutut dihadapan Mira kemudian tangannya mengelus lembut pipi putih wanita itu, menghapus airmata yang membanjiri wajahnya.
"Kau bukan jalang sayang. Kau seorang desainer handal. Semua pencapaianmu sampai saat ini, semua adalah karena hasil kerjamu yang baik. Dan semua yang terjadi diantara kita adalah takdir.
Mungkin bagimu ini adalah takdir yang kejam, tapi tidak denganku.
Bagiku ini adalah takdir yang indah. Aku bersyukur bisa bertemu denganmu. Entah mengapa aku yakin dan percaya kalau kau adalah wanita yang baik." Tutur George lembut.
Hening
Mira tidak tahu harus berkata apa. Sungguh sekarang ini ia tidak bisa berpikir jernih.
"Maafkan aku Mira... Aku memang bersalah! Aku memang brengsek! Tapi aku sama sekali tidak menyesali ini. Aku akan bertanggung jawab. Aku akan menikahimu."
"Izinkan aku memilikimu seutuhnya Mira."