Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 92 - Renatta milik Regan seorang



Oma Lina kini sudah berhadapan dengan Amanda. Tapi kata maaf sekalipun tak terucap dari mulut Amanda. Wanita itu malah menyalahkan Renatta atas kejadian yang menimpanya.


"Oma, jujur aku tidak berniat menyakiti Oma. Mana mungkin aku melakukan hal sejahat itu Oma," ucap Amanda menghasut Oma Lina untuk percaya padanya.


"Kalau kamu tidak berniat jahat, kenapa ada sidik jari kamu disana? Itu artinya kamu memang benar pelakunya. Jangan terus menyalahkan orang lain. Lebih baik jujur dan akui Amanda."


"Itu semua karena Renatta Oma. Renatta sengaja membuat aku menyentuh botol itu untuk menghapus jejak sidik jarinya," ucap Amanda yang sedang mulai drama berbohongnya.


Sayangnya, Oma Lina kini tak akan mudah terhasut lagi. Ia menghela napasnya dan memulai menanyakan sesuatu yang selalu ia pikirkan.


"Manda, apa selama ini kamu menyayangi Oma?"


"Tentu saja Oma, Oma itu sudah seperti Oma ku sendiri. Oma selalu membelaku dan mendukungku," jawab Amanda.


"Benar, Oma melakukan itu semua juga karena menyayangi kamu. Oma terlalu banyak berharap sama kamu dulu. Tapi kenapa kamu malah menghancurkan semua harapan Oma?" tanya Oma Lina dengan raut wajah sedihnya.


"Aku benci Renatta Oma. Dia selalu mengambil semua yang aku miliki. Ketika Oma berpindah untuk mendukungnya dan tak mendukungku, aku kecewa sama Oma."


"Karena itu, kamu tega menyakiti Oma dengan membuat Oma keracunan, kan?" ucapan Amanda langsung dipotong oleh Oma Lina.


"Mau kamu menghasut Oma seperti apapun sekarang dan terus menyalahkan Renatta dan menceritakan bagaimana bencinya kamu ke dia. Hal itu, justru menggambarkan bagaimana sikap kamu yang lebih buruk dari Renatta. Renatta bahkan tak pernah menceritakan hal buruk apapun tentang kamu. Bahkan membicarakan kamu sedikit pun di depan Oma tidak pernah. Dia malah jujur tentang apa adanya dirinya. Sepertinya, kamu yang sakit, kamu yang terlalu membenci. Hati kamu sudah rusak dengan kebencian itu. Jujur, Oma kecewa sama kamu. Oma menyesal sudah menyayangi kamu sebanyak itu. Tapi apa yang kamu lakukan ke Oma?"


Amanda langsung panik dan tangannya segera menyentuh tangan Oma Lina untuk menyakinkan Oma Lina lagi.


"Oma, Oma, Oma salah menilai ku. Aku tidak seperti itu Oma. Tolong percaya kali ini sama aku."


Oma Lina melepaskan tangan Amanda dari tangannya dan menaruh tangannya di samping tubuhnya.


"Bahkan kamu tak memiliki rasa penyesalan dan bersalah sedikit pun. Kata maaf pun tak kamu ucapkan ke Oma. Apa memang seperti ini kamu yang sebenarnya? Apa memang selama ini, semua perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan cuma kepalsuan?"


Amanda menggeleng. Tapi Oma justru tersenyum tipis. Akhirnya ia bisa tahu bagaimana sikap Amanda yang sebenarnya.


"Mungkin ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Setelah ini, jika suatu saat kamu bebas dan bertemu di suatu tempat. Jangan menyapa Oma, anggap kita hanya orang asing. Selamat menikmati hari-hari mu di dalam penjara. Terima kasih sudah menyayangi Oma dengan kepalsuan."


Setelah mengatakan itu, Oma Lina langsung pergi tanpa menghiraukan teriakan dan tangisan Amanda yang terus memanggil namanya. Oma Lina sudah sangat kecewa. Kini ia tak akan banyak berpikir lagi.


*


*


Di ruang keluarga kediaman Artajasa, Renatta, Papa Dewa dan Nesha, mereka bertiga menonton acara televisi bersama. Sejujurnya, Papa Dewa merasa tidak enak hati karena ia dan Nesha masih tinggal disana. Ia merasa menjadi beban, apalagi ketika ia memberikan uang, setidaknya untuk biaya sewa inap dan makan, selalu ditolak oleh Mommy Jessie.


"Nat, apa sebaiknya Papa dan Nesha pulang lagi aja ke Malang? Papa benar-benar tidak enak terus berada disini."


Renatta menggeleng.


"Jangan Pa, kandungan kakak sudah besar, aku takut kenapa-kenapa di perjalanan. Apalagi bulan depan sudah masuk bulan kelahiran. Lebih baik Papa dan kakak tetap disini. Lahirannya sekalian disini saja," saran Renatta.


"Tapi, Nat, papa tidak enak jika terus menumpang disini," ucap Papa Dewa.


Renatta meraih tangan Papa dewa dan mulai bicara dengan lembut.


"Kalau memang papa merasa seperti itu. Nanti aku akan minta bantuan Regan atau Devan untuk mencarikan kontrakan dekat sini sampai kakak melahirkan. Setelah itu, papa jangan langsung pulang, karena tak lama dari itu acara pernikahanku akan dilangsungkan. Mengenai semua biaya kontrakan dan biaya lahiran, aku ada kok uangnya. Jadi kalian tidak perlu khawatir."


"Tidak usah Nak. Papa juga ada uang kok untuk biaya kontrakan dan lahiran kakak kamu. Lagipula papa bisa sambil cari kerja juga disini. Kan nama baik Papa sebentar lagi akan kembali. Jadi pastinya orang-orang tidak akan menganggap papa sebelah mata lagi. Uang kamu untuk kamu, kamu harus menggunakannya untuk kebutuhan kamu. Jangan terus berkorban demi keluarga."


"Jangan pernah menolak Pa, nanti aku akan bicarakan ini ke Regan."


"Baiklah, terserah kamu aja Nat. Kamu memang selalu seperti itu. Keras kepala dan tidak mau dibantah."


Renatta tersenyum senang karena papanya tak menolak lagi.


Sedari tadi Nesha hanya mendengarkan saja obrolan di antara papa dan adiknya. Ia benar-benar merasa bersyukur berasa di antara mereka. Orang yang menyayanginya tanpa syarat. Padahal mereka tak memiliki hubungan darah apapun. Ia sudah bertekad dalam hatinya. Ia akan menjalani hidup dengan bahagia supaya tidak terlalu merepotkan mereka yang menyayanginya.


Rupanya Mommy Jessie sedari tadi ada di depan pintu mendengarkan obrolan mereka. Meskipun agak sedih karena rumahnya tak akan ramai lagi. Tapi, mau bagaimanapun itu memang keputusan mereka. Ia pun tak jadi masuk dan pergi ke samping rumah.


Disana ada Oma Lina yang terduduk sedih sejak kepulangannya dari luar. Mommy Jessie tahu, kalau Oma Lina habis mengunjungi Amanda. Ia pun duduk di sebelah Oma Lina.


"Matahari udah mulai tenggelam Ma. Ayo masuk ke dalam. Tentang pertemuan mama dan Amanda, jangan diingat-ingat terus jika menyakiti hati mama. Mama tidak pantas bersedih karena Amanda."


Ucapan Mommy Jessie itu membuat Oma Lina mendongak dan menatapnya.


"Mama hanya kecewa saja, kasih sayang mama yang tulus dibalas dengan kepalsuan. Selama ini mama tidak sadari itu."


"Sudahlah, Ma. Biarlah ini semua berlalu. Sekarang sudah waktunya kita memikirkan rencana pernikahan Renatta dan Regan saja."


Oma Lina pun mengangguk. Keduanya bangun dari duduknya dan masuk ke dalam rumah karena hari sudah mulai gelap.


*


*


Malam harinya, di ruang tamu, Renatta menceritakan tentang keinginan papanya ke Regan. Awalnya Regan tidak setuju, karena tidak ingin calon mertuanya hidup dengan sederhana. Tapi, ia memang tidak bisa memaksa. Ia pun menghela napasnya.


"Jangan cari kontrakan dulu, papa kamu dan kak Nesha akan aku izinkan untuk pergi dari rumah ini, setelah proses persidangan nama baik Papa kamu dan proses hukum si koruptor selesai. Aku pastikan rumah kalian yang dulu akan kembali. Karena memang rumah tersebut milik kalian. Jadi, tidak usah sampai mencari kontrakan segala," ucap Regan.


Renatta yang mendengarnya langsung berkaca-kaca. Bagaimana tidak? Rumahnya yang dulu disita oleh pihak kepolisan itu memiliki banyak kenangan untuknya dan keluarganya. Tapi, ia pun tak mau berharap banyak.


"Terima kasih Regan. Kamu selalu bantu aku dalam kesusahan. Maaf aku selalu merepotkan kamu."


"Maka dari itu, kamu harus bisa membalasnya dengan selalu mencintai aku sepanjang hidupmu."


Renatta tersenyum tipis. Karena Regan selalu saja memberikan jawaban yang seperti itu. Padahal tidak begitu pun, cintanya ke Regan tak pernah pudar malah selalu bertumbuh.


"Aku akan semangat mengikuti terapi agar cepat pulih dan berjalan beriringan dengan kamu lagi," ucap Renatta yang kemudian mendapatkan pelukan dari Regan.


"Iya, kamu memang harus cepat pulih. Aku menantikannya. Karena aku tak ingin hubungan kita disembunyikan lagi, aku ingin mengumumkannya ke semua orang kalau kamu adalah milikku. Renatta milik Regan seorang."


Regan memeluk Renatta dengan mengecup rambut kepala Renatta.


"Tetap seperti ini ya Nat, jangan berubah sedikit pun."


Renatta mengangguk.


*


*


TBC