Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 61 - Wanita jahat dan laki-laki bodoh



Senyum dari orang itu mulai mengembang. Ia menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang tadi tertutup oleh kacamata.


Renatta terkejut bukan main saat tahu siapa yang sudah membantunya.


"Ba-bapak!"


"Kenapa bisa ada disini? Bukannya Bapak masih di London?" tanya Renatta yang masih terkejut.


"Jadi kamu berharap aku masih sekarat gitu?"


"Ya nggak begitu juga. Cuma masih nggak nyangka aja. Bapak ada di hadapan saya sekarang."


"Terus gimana? Apa kamu senang?" tanya Regan yang berharap Renatta senang melihatnya kembali setelah hampir dua bulan lebih tak bertemu.


"Biasa aja," jawab Renatta yang membuat Regan kesal.


Gila apa ini cewek satu! Aku udah datang bela-belain buat dia. Biar bisa ketemu, dan tanggapannya cuma biasa aja? Hello!


"Kamu balik jadi wanita jahat lagi Nat," ucap Regan yang membuat Renatta jadi tertarik untuk mendengarnya. Ia ingin tahu kenapa Regan menganggapnya demikian.


"Dulu aku memang salah paham sama kamu. Tapi yang sekarang, aku nggak tahu kemana arah jalan pikiran kamu. Kamu memutuskan aku disaat aku butuh kamu. Disaat aku sekarat karena kamu. Seharusnya kamu itu menjagaku, menungguku kembali bukannya malah pergi dan tak bisa aku hubungi sama sekali. Wanita jahat emang."


"Ya, saya memang wanita jahat. Maka dari itu, saya lebih memilih memutuskan hubungan kita yang sangat berbeda itu. Saya kan sudah mengutarakan semua isi hati saya di pesan terakhir saya itu. Semoga Bapak menemukan wanita yang lebih baik dari saya."


Regan tersenyum kecut mendengarnya. Menemukan wanita baik dari mana? Ia saja tak bisa berpaling dari Renatta meskipun wanita itu sudah memutuskan hubungan secara sepihak. Move on bukan perkara mudah bagi Regan. Ia bisa berhasil move on karena ada Renatta yang selalu bersamanya dan tanpa sadar memasuki pikirannya.


"Sampai sekarang pun kamu tetap jadi wanita jahat. Sayangnya, wanita jahat ini adalah wanita yang aku cintai."


Deg!


Jantung Renatta berdebar sangat kencang kala mendengar ucapan dari Regan itu. Sejujurnya, ia juga tak bisa melupakan Regan. Tapi, ia tidak memiliki keberanian sekarang.


Bukannya menanggapi ucapan Regan, Renatta malah berjalan pergi.


Regan pun berteriak, "BUKANKAH KAMU SUDAH BERJANJI AKAN MENGABULKAN KEINGINAN ORANG YANG SUDAH MENOLONG MU? BERBALIK LAH DAN DATANG PADAKU!"


Namun Renatta tak berhenti berjalan, ia seolah mengabaikan teriakan Regan.


"RENATTA! WANITA JAHAT! MENIKAHLAH DENGANKU!"


Kali ini langkah Renatta terhenti. Ia tidak menyangka Regan akan mengajaknya menikah dengan cara seperti ini. Rasanya ia ingin menangis. Sikap keras kepalanya yang ingin menjauh dari Regan kalah dengan perasaannya yang bertubi-tubi ke laki-laki itu. Ia berjongkok dan menangis disana.


Regan pun datang dan menghampiri Renatta. Ia membungkukkan tubuhnya dan mengusap punggung Renatta.


"Kenapa menangis? Cengeng sekali!"


Renatta mendongak. Regan pun bisa melihat air mata Renatta yang jatuh dengan bebasnya. Ia tak bisa lagi menahan dirinya. Ia ikut berjongkok dan memeluk Renatta.


"Kenapa kamu benar-benar jadi laki-laki bodoh sih? Seharusnya kamu cari wanita lain yang tidak jahat seperti aku! Aku wanita jahat! Tidak tahu diri! Sudah membuat kamu sekarat, tapi tidak bertanggungjawab! Seharusnya kamu membenci aku saja! Kenapa harus mengajakku menikah! Bodoh sekali!"


Regan bukannya marah diejek begitu, laki-laki itu malah tertawa. Ia sudah rindu dengan omelan Renatta yang tak pernah ia dengar lagi dalam waktu dua bulan terakhir ini.


"Kan bodohnya jadi nambah lagi. Kamu jangan jadi gila deh! Dimarahin malah ketawa!" marah Renatta sambil menangis.


"Ya gimana nggak ketawa, orang kamu lucu banget tahu! Aku tuh rindu omelan kamu. Selama disana, yang aku lihat cuma Mommy, Daddy dan para dokter maupun suster. Bosan tahu!"


Renatta melepaskan pelukan Regan dan mendorong laki-laki itu hingga terjungkal ke tanah. Ia pun berdiri dan hendak pergi lagi. Namun tangannya ditahan oleh Regan yang sudah berusaha bangun dari posisinya itu.


"Aku serius dengan ucapanku tadi. Menikahlah denganku! Cuma kamu yang bisa membuat aku jadi gila begini! Bahkan jadi pria terbodoh di dunia."


"Kita sudah putus!" jawab Renatta.


"Aku tidak menyetujuinya."


Renatta mengerucutkan bibirnya.


"Kamu berhutang banyak padaku. Jadi kamu harus memberikan cinta dan dirimu padaku sebagai bayarannya."


"Perhitungan sekali!"


"Bodo amat! Intinya sekarang kamu calon istriku. Aku sudah meminta restu dari kedua orang tuaku untuk melamar mu ketika aku pulang dari London. Jadi, dalam satu minggu ke depan, kamu harus bersiap-siap untuk ikut aku ke Jakarta. Aku akan kenalkan kamu ke semua keluargaku."


"Saya belum jawab loh Pak!"


"Kamu pasti akan menjawab iya," jawab Regan dengan percaya dirinya. "Kalaupun kamu bilang tidak, aku akan membuatnya jadi iya."


"Aku tidak peduli bagaimana masa lalu mu. Bagaimana latar belakang keluargamu. Yang aku pedulikan cuma kamu yang sekarang. Jadi jangan banyak berpikir yang tidak-tidak. Cukup ada di sampingku dan berjalanlah bersamaku menuju masa depan kita bersama. Bisa kan?"


Lagi-lagi tangis Renatta pecah begitu saja. Ia merasa tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini dari Regan sekaligus merasa senang karena ternyata ada seseorang yang menginginkannya.


Regan memeluk Renatta lagi sambil mengelus puncak kepala Renatta.


"Aku baru sadar sekarang. Setelah dua bulan tidak bertemu. Kamu jadi lebih cengeng."


Renatta memukul dada Regan sedikit keras hingga Regan mengaduh kesakitan.


"Kenapa ketika hampir dilecehkan kemarin kamu tidak memukul preman-preman itu juga?"


Pertanyaan itu membuat Renatta melepaskan pelukan Regan. Ia lalu menatap wajah Regan dan mengamati postur tubuh Regan lalu memakaikan kaca mata yang ada di saku hoodie Regan.


"Rupanya pria misterius itu kamu?"


"Menurutmu?"


"Jahat!"


Renatta memukul dada Regan lagi. Karena Regan tak memberikan itu padanya malah tak bicara seperti orang bisu.


"Aw ... aw ... sakit ... sakit ...."


"Rasain!"


Regan tersenyum lagi meski merasakan sakit. Ia memeluk Renatta lagi. Kali ini ia memeluknya erat dan lama. Ia menumpahkan semua kerinduannya.


"Asal kamu tahu Nat. Aku berjuang untuk pulih supaya bisa ketemu kamu lagi. Soalnya rasa rindu itu tak bisa aku tahan-tahan lagi. Tapi kamu malah memutuskan ku secara sepihak. Kamu tahu betapa sakitnya hatiku saat itu? Tapi aku tetap tidak bisa membencimu. Sampai ketika aku sudah kembali ke Jakarta dan ingin meminta penjelasan darimu, aku mendapatkan informasi mengenai masalah yang sedang kamu alami. Aku tidak bisa diam melihat wanita yang aku cintai dibenci hampir seluruh orang di negeri ini. Makanya aku berjuang untuk membersihkan nama baikmu. Intinya aku nggak mau lihat kamu bersedih dan menangis lagi. Aku ingin lihat senyum bahagia kamu. Izinkan aku untuk melakukannya. Aku bersungguh-sungguh Nat."


Renatta memeluk Regan juga dengan eratnya. Ia pun tak ingin kehilangan lagi seseorang yang berharga bagi dirinya. Apalagi pria ini sudah banyak berbuat baik padanya. Kalau dihitung-hitung kebaikannya, dibalas dengan cinta pun rasanya tidak akan cukup.


"Jadi, mau ya ikut aku ke Jakarta seminggu lagi?"


Renatta mengangguk di pelukan Regan. Regan tersenyum senang kemudian mengecup kening Renatta.


Tak lama kemudian pelukan mereka pun terlepas.


"Mulai sekarang jangan panggil aku bapak lagi dan jangan sebut diri kamu saya lagi di depanku! Kamu bukan sekretarisku lagi. Kamu calon istriku, mengerti?"


Renatta mengangguk.


"Bagus!"


Mereka berdua pun menghabiskan waktu di taman kota sambil bercanda tawa dan saling melepas rindu satu sama lainnya. Apalagi di malam itu, ada kembang api yang memperindah suasana keduanya.


"Terima kasih, kamu sudah jadi penolongku. Bahkan bukan hanya sekali tapi berkali-kali."


"Kan sudah aku bilang, kamu itu banyak hutang sama aku! Makanya harus dibayar pake cinta dan diri kamu supaya lunas."


"Iya, iya, aku akan bayar semuanya pakai itu."


"Nah, gitu dong! Kan enak didengernya," ucap Regan lalu mengacak-acak rambut Renatta.


"Berantakan hey!"


"Nggak apa-apa. Tetap cantik kok!"


"Ish! Tetep aja berantakan."


"Iya-iya aku rapihin lagi."


Regan pun merapihkan rambut Renatta yang tadi ia acak-acakan lalu mencuri ciuman di pipi Renatta.


"Regan!" teriak Renatta yang membuat Regan menjulurkan lidahnya.


*


*


TBC