Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
MELAKUKANNYA LAGI



Jam menunjukan pukul sepuluh malam saat Mira tiba dihalaman parkir apertemennya. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Lisa yang mengantarnya pulang, Mira melangkahkan kakinya menuju apertemen sembari tersenyum penuh kelegaan. DIa lega karena dia bisa membagi beban hidupnya dengan orang lain, terlebih lagi orang itu tak hanya sekedar menjadi pendengar yang setia, tetapi juga dia bisa memberikan hiburan, masukan dan dukungan pada Mira. Itulah untungnya punya sahabat.


Setelah mendorong pintu, Mira lalu masuk ke apertemen dan langsung melepas sepatunya. Dalam sekejap, Mira berdiri tegap tak bergerak saat bersitatap dengan George. Tatapan pria itu mematikan. Pria itu sepertinya marah, tapi berusaha keras menahan diri untuk tidak mengamuk.


Beberapa saat kemudian, tetapi masih saling bersitatap, George berhasil mengeluarkan suaranya. "Darimana saja kau?" bentak George.


"Aku baru saja bertemu Lisa. Kami makan dan mengobrol." jawab Mira terbata.


"Wah, hebat sekali kau! Hanya makan dan mengobrol saja sampai pulang selarut ini." Geram George.


"Tapi ini baru jam sepuluh. Terkadang aku pulang lebih larut dari ini. Jadi kau tidak perlu memarahiku seperti anak kecil." Ucap Mira kesal.


"Kau pantas dimarahi jika kau melewati batas." tegas George.


"Siapa yang melewati batas?" teriak Mira.


"Kau."


"Aku?"


"Ya, kamu!"


Mira menatap George tersinggung lalu berucap tanpa ragu. "Ku rasa kau sudah gila!"


Merasa pertengkaran ini tidaklah menguntungkan baginya, Mira memilih berjalan cepat menuju kamar dan membanting pintu. Sambil menahan marah, ia meletakkan tas kerjanya di nakas lalu mengambil piyama dan handuk yang tergantung di belakang pintu.


Saat membuka pintu kamar, mata Mira memperhatikan George. Pria itu kini telah duduk di meja makan sambil bertopang dagu, memandang malas makanan diatas meja dihadapannya.


Mira menghela nafas mencoba meredam emosinya. Setelah itu perasaaanya berganti dengan perasaan sedikit bersalah karena sepertinya George memasak makanan untuk makan malam mereka.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau menyiapkan makan malam untuk, kita." Ucap Mira lembut saat ia berjalan menghampiri George, lalu duduk tepat dihadapan pria itu.


"Tidak perlu! Seharusnya aku memberitahumu terebih dahulu. Tapi, sebenarnya dimana ponselmu ?" Kata George dengan nada suara kesal.


"Aku menelponmu berkali - kali tapi tidak kau angkat." Lanjut Pria itu.


"Ada di tas." Jawab Mira santai. Tapi beberapa saat kemudian ia sadar. "Astaga! Ponselku berada dalam mode getar. Itu sebabnya aku tidak tahu kalau kau menelpon."


George mengernyitkan kening. "Mulai sekarang jangan pernah menyetel ponselmu pada mode getar. Jika tidak, aku akan membantingnya hingga hancur berkeping - keping."


Terkejut dengan ucapan George yang terdengar memerintah dan mengacam, Mira melototi pria itu. "Mengapa kau suka sekali mengatur? Asal kau tahu. Saat aku banyak pekerjaan atau saat pikiranku sedang kacau, aku tidak ingin apapun mengangguku. Termasuk telpon. Tapi hari ini ada begitu banyak gangguan yang harus aku hadapi karena dirimu." Sialan!


"Sudah kukatakan. Aku terbiasa mengatur dan memaksa, bahkan untuk hal kecil sekalipun. Bisakah kau coba memahaminya?"


Mira menghembuskan nafas dalam - dalam. "Itu sulit sekali Mr. George. Aku tidak yakin tentang itu! Tapi dapat kupastikan bahwa dengan sikapmu yang seperti itu, tidak seorangpun wanita bersedia hidup denganmu dalam waktu yang lama."


Sesaat George terdiam lalu Matanya tampak lembut saat ia berucap. "Aku tahu.Tapi aku berharap kau bisa menjadi wanita yang bersedia hidup denganku dalam waktu yang lama."


Mira ragu, tapi akhirnya menyerah. "Orang yang tidak memiliki rasa cinta akan menganggap sikapmu itu keterlaluan. Tetapi orang yang memiliki rasa cinta terhadapmu akan menganggap sikapmu itu adalah sebagai bentuk perhatian. Namun sekarang aku tidak berada diantara keduanya, tapi aku akan mencoba -"


"Dan aku dengan senang hati membantumu agar kau bisa menjadi orang tipe nomor dua tadi. Orang yang bisa mencintaiku."


Sambil mengangkat bahu Mira berucap. "Terserah kau saja!"


Mira merasa berkewajiban menyantap makanan yang susah payah disiapkan Geroge. Kasihan makanannya jika harus terbuang percuma. Diatas meja sudah tersaji pasta keju, sandwich dan salad buah. Mira kemudian mengambil salad, menaruhnya di piring lalu secara perlahan memakannya. "Ini lezat." Puji Mira.


"Terima kasih kau bersedia memakannya meski aku yakin kau sudah kenyang. Awal yang baik untukku dan untuk kita."


"Ku rasa, buah - buahan seperti ini masih bisa mendapat tempat dalam perutku. Apa kau tidak lapar ?"


Beberapa saat yang lalu, George sudah kehilangan nafsu makannya. Tapi kini ia merasa lapar, sehingga langsung saja dilahapnya sandwich yang tersaji di atas meja.


"Pelan - pelan. Nanti kau tersedak." Tegur Mira.


Mira menggeser piring pasta keju tepat di depan George. "Makanlah ini juga, sebelum pastanya bertambah tidak enak." gurau Mira.


"Wah, Sekarang kau sudah semakin berani ya mencari - cari cela untuk menjelekkanku."


Mira tertawa terbahak - bahak. "Aku harus pandai memanfaatkan situasi yang ada karena harus kuakui sangat sulit sekali mencari kejelekanmu. Dalam hal ini, kau dilarang marah!" tambah Mira sambil tertawa.


"Mira, aku minta maaf." engah George. "Untuk yang tadi, memang aku keterlaluan. Tapi percayalah, itu karena aku mengkhawatirkan kamu."


"Dimaafkan." Kata Mira mantap.


"Terimak kasih, kau baik sekali."


***


Setelah menyelesaikan makan malam, Mira mengambil piyama dan handuknya yang ia letakkan di atas kursi sebelah tempat duduknya lalu segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Mira mengenakan piyama lengan pendek dan celana pendek yang bermotif bunga saat ia keluar dari kamar mandi.


George yang tengah duduk di sofa ruang tamu menoleh ke arah Mira lalu memperhatikannya. Tatapan George menelusuri wajah Mira yang terlihat lebih cantik tanpa riasan. Rambut panjangnya yang masih basah juga membuat wanita itu terlihat semakin seksi.


Ada sesuatu dimata George yang mampu meluluhkan hati Mira sehingga menarik wanita itu berjalan ke arah George, menyulut hasrat yang selama ini dipendamnya.


George langsung berdiri lalu segera memegang bahu Mira dan berucap parau. "Aku ingin melakukannya lagi denganmu."


George mencium bibir Mira dengan lembut. Tapi secara bertahap lidahnya semakin liar menyapu, menguasai bibir Mira sepenuhnya.


Mira langsung kaku, tapi tidak memprotes. Malah ia turut berpartisipasi dalam ciuman panas mereka.


Beberapa saat kemudian, George mengggendong Mira, membawanya ke tempat tidur. George bergerak ke sisi Mira sambil membuka kancing kemejanya. Pria itu mencari - cari mata Mira, memastikan apa ada isyarat penolakan disana. Syukurlah tidak!


George dapat membaca hasrat dan gairah yang terpendam dimata Mira. Kemudian ia kembali berucap dengan suara parau. "Aku menginginkanmu, Mira."


Mira menatap George penuh damba lalu berkata. "Aku juga!"


George tersenyum bahagia lalu segera mencium alis, hidung, pipi dan leher Mira. Bibir George terus menelurus ke bawah hingga menyentuh dada wanita itu yang masih ditutupi bra.


"Aku ingin melepas pakaianmu." Ucap George serak.


"Lakukanlah." Balas Mira memberi izin.


Ketika George sudah menyingkirkan piyama dan pakaian dalam wanita itu, secepat kilatpun ia melepaskan pakaiannya hingga kini tiada sehelai benangpun menutupi tubuh mereka.


Bibir George menyentuh lembut payudara Mira hingga kulit wanita itu terasa seperti terbakar. Sementara jemari pria itu menciptakan jalur panas ketika ia memainkan kewanitaan Mira.


George mendesah puas saat melihat wanita itu menikmati permainannya. Detik berikutnya, dengan lembut dan ahli, George memasukan asetnya yang sudah menegang kedalam inti Mira yang basah lalu menggerakannya berirama pelan. Semakin lama irama pergerakan maju mundur pria itu semakin cepat ketika dilihatnya Mira merespons pergulatan mereka dengan tanpa kendali.


Beberapa saat kemudian, Mira memegang bahu George erat sambil mendesah kuat sebab gelombang kepuasan menerpanya.


Pria itupun mencekram bahu Mira erat saat lahar hangatnya keluar.


Tubuh mereka masih menempel selama beberapa detik sebelum George terkulai lemas. Sementara tubuh Mira bergetar akibat percintaan mereka tadi yang begitu bergairah.


Tidak bisa dipungkiri, keduanya merasa puas dan benar - benar menikmati kegiatan erotis mereka. George berguling ke samping Mira namun tetap melingkarkan lengannya ditubuh wanita itu lalu berbisik. "Terima kasih. Aku mencintaimu."


Melakukannya denganmu sungguh nikmat, terlebih melakukannya setelah kita selesai bertengkar. "Terima kasih, kau hebat!"


✨✨✨✨✨✨✨


Hallo kakak - kakak yang selalu setia membaca novel aku.


Terimakasih atas dukungan kalian 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya,


Like, comment and vote 😍😍😍


.


.


.


Thank you 😘