
Nesha terus menangis meratapi nasibnya yang tidak diharapkan begitu juga dengan anak yang dikandungnya. Rasanya seperti ada belati yang menusuk dadanya. Orang yang dicintai dan ia percayai malah memilih harta kekayaannya sendiri.
"Jangan menangisi laki-laki takut miskin itu kak! Suatu saat nanti, dia pasti akan menerima ganjarannya. Aku yakin itu."
"Hiks ... hiks ... tapi gimana dengan pekerjaan kakak Natta. Perut kakak sudah mulai membuncit, orang-orang pasti akan tahu kalau kakak sedang hamil. Hiks ... hiks .... Lebih baik kakak gugurkan saja anak ini."
Nesha memukul-mukul perutnya dengan tangannya. Renatta mencegah hal itu terjadi lagi. Ia menangis dan memohon ke kakaknya untuk tetap mempertahankan anak itu.
"Jangan semakin berbuat dosa kak. Kakak sudah berdosa dengan sampai mengandung anak itu. Jangan membuat dosa kakak semakin menumpuk dengan membunuh anak yang tidak berdosa itu. Kakak tidak akan sendiri menghadapinya. Aku akan selalu menemani kakak. Tolong kak tolong ... hiks .. hiks ..."
Nesha pun menangis dan menghentikan pukulannya. Ia merasa tertampar dengan kalimat yang diucapkan oleh Renatta.
Renatta menggenggam erat kedua tangan kakaknya.
"Aku janji, setelah ini tidak akan ada yang bisa menyakiti kakak lagi. Kakak hanya harus fokus sama kesehatan kakak dan janinnya."
Nesha mengangguk sembari menangis.
*
*
Keesokan harinya, Renatta yang tidak ingin hanya kakaknya saja yang tersakiti, ia memberanikan diri untuk datang ke kediaman keluarga Wijaya. Ia sadar betul kalau kemungkinan kehadirannya disana tidak akan pernah diterima dengan baik. Apalagi ada Amanda dan Tante Dewi yang tidak menyukainya.
"Ada keperluan apa ya Mba?" tanya si satpam yang menjaga kediaman Wijaya itu.
"Saya ada perlu sama istrinya Gio, bisa pertemukan kami Pak?" tanya Renatta dengan sopan.
"Sebentar ya Mba. Saya coba sambungkan dulu ke dalam."
"Baik Pak."
Setelah mendapatkan izin untuk masuk, Renatta diantar oleh satpam sampai ke depan pintu utama rumah Wijaya. Ia membuka pintunya yang tadi sudah diketuk oleh si satpam dan sudah dipersilahkan masuk oleh si pemilik rumah.
Renatta pun dipersilahkan untuk duduk.
"Kita tidak saling mengenal sebelumnya. Aku hanya tahu, kalau kamu adalah orang yang menyakiti adik tiriku. Mau apa kamu datang kesini dan ingin bertemu denganku?"
"Suami Anda yang bernama Gio itu, mengaku masih single dan menjalin hubungan dengan kakak saya sampai kakak saya hamil. Tapi ketika kakak saya meminta pertanggungjawaban, dia malah berkata kalau sudah beristri. Kakak saya bukan perusak hubungan pernikahan kalian. Meskipun dia memang salah telah hamil di luar pernikahan. Saya akui itu. Tapi, suami Anda itu tidak mau bertanggungjawab dan malah memberi kakak saya uang 200 juta agar pergi menjauh dari suami Anda. Apa Anda masih mau memiliki suami yang memiliki anak dari wanita lain? Dia juga mengaku tidak mencintai Anda. Dia menikahi Anda karena perjodohan dan tidak mau bercerai dengan alasan tidak mau jatuh miskin katanya. Lalu apa yang akan Anda lakukan?"
Karen terkejut bukan main mendapati suaminya yang berselingkuh di belakangnya. Tapi ia tidak bisa percaya begitu saja dengan Renatta yang dulunya pernah menyakiti adiknya. Apalagi selama ia dan Gio menikah. Gio selalu baik dan memenuhi segala keinginannya. Kalau dibilang Gio tidak mencintainya rasanya tidak mungkin. Karena meski mereka memang menikah karena perjodohan, tapi mereka sudah saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Jadi ia tidak bisa percaya begitu saja dengan Renatta yang tidak ada buktinya. Meski ia agak curiga juga dengan uang 200 kita itu, karena ia mendapatkan laporan penarikan uang juga.
"Apa kamu punya bukti?"
Renatta pun mengeluarkan ponsel kakaknya yang sengaja ia bawa tanpa sepengetahuan kakaknya. Ia menunjukkan foto-foto mesra kakaknya dan Gio.
Karen agak tidak percaya tapi mau gimana lagi? Bukti kedekatan antara suaminya dan kakak dari Renatta ada. Apalagi itu bukan editan dan ada juga tanggal-tanggal diambil fotonya.
"Gimana? Apa Anda percaya?"
"Sebenarnya masih sulit untuk aku percayai. Tapi aku juga seorang wanita. Aku bisa merasakan sakitnya jadi kakakmu. Aku pun tidak mau memiliki suami yang memiliki anak dari wanita lain. Keluarga Wijaya sangat membenci adanya perselingkuhan dan pengkhianatan apalagi sampai merusak kehormatan keluarga. Aku akan mengusut tuntas semua ini sendiri. Terima kasih kamu sudah datang dan memberitahu kan berita sepenting ini padaku."
Renatta pun berterima kasih lalu pergi dari sana. Rupanya Amanda mengetahui kedatangan Renatta ke rumahnya. Ia pun jadi penasaran dan menanyakan langsung ke kakaknya.
*
*
Dua hari setelah ia memberitahukan fakta tentang tentang perselingkuhan kakak dan suami Karen. Karen mengabarkan bahwa ia akan menggugat suaminya.
Renatta bernapas dengan lega. Dengan begitu, si Gio itu akan jatuh miskin dan tak bisa lagi bersama dengan kakaknya.
Salah sendiri, jadi laki kok takut miskin. Sekarang terimalah akibatnya. Renatta sudah sangat senang mengetahui itu semua.
Tapi, keesokan harinya, ketika ia masuk ke kantor untuk bekerja. Ia mendapati semua orang memandang ke arahnya dengan tatapan jijik dan kebencian. Ia bingung karena ia merasa tidak salah apapun pada mereka.
Sampai akhirnya ia tahu apa yang terjadi karena Ozy yang menyeretnya dan membawanya ke tempat sepi lalu memberitahukan berita yang sedang viral.
Dalam berita itu menyebutkan bahwa, Renatta adalah seorang pelakor yang menggoda suami orang. Apalagi, laki-laki itu adalah suami dari keluarga terpandang yaitu Karen Wijaya.
Renatta sangat shock mendengarnya. Berita hoax darimana ini? Ia benar-benar penasaran. Ia akan mengusutnya sampai ke akar-akarnya. Berani-beraninya orang tak tahu apapun ini memfitnahnya.
"Nat, aku tahu kamu bukan orang yang seperti apa yang diberitakan di media. Tapi foto mesra kamu dan dia juga tersebar di internet."
Renatta tambah tercengang lagi mendengarnya.
Foto mesra? Foto yang mana? Ia bahkan tidak pernah melakukan foto bersama dengan pria.
Ozy menunjukkan fotonya. Lagi dan lagi Renatta dibuat terkejut. Rupanya foto itu adalah foto yang ia berikan ke Karen. Tapi diedit wajahnya diganti dengan wajah Renatta. Renatta tak bisa berkata-kata lagi. Ia tidak bisa menuduh sembarangan orang. Iya sangat yakin, kalau Karen bukanlah orang yang melakukan ini semua. Iya sangat yakin, kalau Gio sendirilah yang melakukan ini.
Benar saja apa yang dipikirkan Renatta. Ia mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Gimana berita viral hari ini? Kamu menyukainya? Aku tidak mau jatuh sendirian. Gara-gara kamu, Karen meminta cerai padaku dan keluargaku jadi memperlakukan aku dengan kasar. Gara-gara kamu yang ikut campur masalahku! Selamat menerima akibatnya. Netizen pasti akan terus mencari kamu dan akan menganggap kamu sebagai pelakor. Apalagi kamu dulunya adalah seorang pembuly pasti akan dengan mudah orang percaya dengan berita itu, hahaha.
Renatta menggenggam erat ponselnya dan ingin sekali membantingnya ke wajah Gio. Tapi suara dari Ozy menyadarkannya.
"Nat, gimana? Apa perlu aku bantu? Aku akan menyewa seorang hacker untuk mencari tahu siapa pelakunya."
"Tidak usah Zy. Makasih, tapi aku sudah tahu siapa pelakunya. Aku hanya meminta satu hal ke kamu. Jangan ceritakan hal ini ke Regan. Please! Aku mohon!"
Sebenarnya Ozy tidak ingin menyembunyikan ini dari Regan. Tapi mengingat kondisi Regan yang dalam masa pemulihan, tentunya lebih mudah, karena Regan jarang memegang ponselnya.
"Baiklah, akan aku usahakan."
"Ah, thank you Zy. Kalau begitu aku mau kerja dulu."
*
*
TBC