
Dua jam kemudian, berita perceraian antara Karen dan Gio sudah jadi trending topik. Begitu juga dengan berita yang diminta oleh Regan.
Di lobi perusahaan Grace tersiar wawancara antara Karen dan Gio setelah resmi bercerai.
"Bagaimana perasaan kalian setelah bercerai?"
"Ini adalah keputusan terbaik yang pernah aku buat. Aku bersyukur telah lepas dari laki-laki yang tidak bertanggungjawab dan tukang selingkuh," jawab Karen.
"Aku merasa sebaliknya. Meskipun aku memang salah karena sudah berselingkuh, tapi aku masih sangat mencintai kamu. Tapi hubungan kita harus berakhir dengan perceraian seperti ini. Rasanya sedih sekali," jawab Gio.
Karen menanggapinya dengan senyuman kecilnya seolah tahu apa yang diucapkan Gio hanya di mulut saja dan sebuah kebohongan.
Beberapa wartawan pun terus melayangkan pertanyaan-pertanyaan lain ke keduanya. Sampai ada satu pertanyaan yang membuat Gio terkejut.
"Ada sebuah berita mengatakan kalau anda adalah dalang dari tersebarnya berita hoax tentang difitnah nya Renatta sebagai orang ketika di hubungan kalian berdua. Berita itu menunjukkan kalau Renatta bukan orang ketiga nya. Dan malah menunjukkan betapa buayanya anda. Bahkan ada video viral ciuman anda dan wanita yang entah siapa. Padahal kala itu anda masih dalam proses persidangan. Lalu bagaimana tanggapan anda? Apa itu benar anda?"
"Ya jelas itu bukan saya. Itu semua fitnah," bantah Gio yang tidak terima.
"Tapi kenapa wajah laki-laki itu mirip sekali dengan anda? Lalu aja juga laporan uang 200 juta yang anda lakukan untuk berjudi dan menyewa wanita. Bahkan chatingan nya pun tersebar di internet. Anda mau mengelak berita itu lagi?"
Gio tampak kesal dan pergi begitu saja. Ia tidak mau jadi pihak yang buruk di depan wartawan. Tapi ketika ingin berlari, justru polisi datang untuk menangkapnya dengan tuduhan pencemaran nama baik juga menyebarkan berita hoax.
"Lepaskan! Lepaskan saya Pak! Saya tidak bersalah! Saya bukan dalang dari itu semua! Lepaskan! Ada orang lain juga yang membantu saya!" teriak Gio yang berontak tak ingin dibawa pergi oleh polisi. Namun ia tak bisa melawan karena ia sendiri sementara polisi yang menangkapnya ada 3 orang.
Berita itu pun langsung naik ke permukaan dengan sangat cepat. Bahkan ada yang awalnya jadi hatters kini jadi membela Renatta. Anehnya, tak ada satu pun dari mereka yang meminta maaf. Mereka seolah-olah tidak merasa bersalah.
Renatta yang memang berada di loby bernapas lega. Kini namanya sudah bersih. Tak ada lagi yang akan menghinanya lagi. Tatapan orang-orang adanya pun jadi tak sesinis biasanya. Bahkan kebanyakan memilih menghindar, mungkin karena malu dan merasa bersalah. Lagi-lagi tak ada yang meminta maaf padanya.
Tak lama kemudian, sebuah pemberitahuan diumumkan agar semua pegawainya berkumpul.
Grace yang ada disana, bertanya kepada semua orang untuk mengaku kalau mereka sudah salah menilai Renatta dan yang sudah membuly Renatta. Grace tahu, tapi ia sengaja tidak langsung memecat pegawainya seperti waktu pertama ia tahu. Ia mendengarkan apa yang diminta oleh Renatta.
"Yang merasa bersalah dengan Renatta dan selalu memperlakukannya dengan buruk, tolong maju ke depan. Kalau tidak, saya akan memecatnya sekarang juga."
Hampir seperempat bagian pegawai wanitanya maju ke depan. Grace tersenyum kecut. Ia benar-benar sudah salah dalam memilih karyawan.
"Apa kalian tidak merasa bersalah sedikit pun? Sampai-sampai kalian tidak meminta maaf atas kesalahan kalian?"
"Kami hanya termakan gosip, Bu."
"Cih! Orang pintar itu pasti tidak akan termakan oleh gosip. Lagian gosip itu tidak berguna untuk kinerjamu nantinya. Cepat kalian minta maaf pada Renatta."
Satu per satu dari mereka meminta maaf ke Renatta. Renatta pun hanya mengangguk karena ia tak peduli mau mereka minta maaf atau pun tidak. Hanya saja ia tidak suka karena maaf mereka karena sebuah paksaan bukan tulus dari hati.
Seseorang pun tersenyum melihat itu semua. Ia berharap bisa cepat-cepat berdiri di hadapan Renatta.
*
*
Di ruangan Grace, Renatta menatap Grace dengan sangat intens.
"Kenapa Nat? Ada sesuatu yang mau dibicarakan?"
"Kamu ya, yang membantu membersihkan nama baikku? Juga menjebloskan Gio ke penjara? Terima kasih ya Grace. Padahal selama ini aku menolak bantuan darimu mengenai masalah ini. Tapi ketika semuanya diatasi dengan baik dan tanpa menyebutkan kakakku. Aku jadi senang juga. Maaf karena aku terlalu egois dan keras kepala selama ini."
"Bukan, bukan aku yang membantu kamu. Ada seseorang yang dengan mati-matian mencari bukti dan membuat perceraian Gio lebih cepat sampai akhirnya dijebloskan ke penjara."
"Siapa? Siapa orang itu Grace? Kasih tahu aku, aku benar-benar ingin berterimakasih padanya."
"Sebentar," ucap Grace ketika mendapatkan telepon dari seseorang. Kemudian Grace menjauh dari Renatta.
"Hm," jawab Grace.
"Akui saja," pinta Regan.
"Aku sudah mengatakan kalau itu bukan ulahku. Jadi ini saatnya kamu muncul dan perjuangkan cinta kamu lagi. Kamu mau bertemu dengannya di mana? Biar aku pertemukan kalian berdua. Renatta ingin berterimakasih pada orang yang menolongnya. Tapi ingat, aku mendukungmu bersatu dengan Natta lagi karena aku percaya kamu bisa melindunginya. Namun, jika suatu saat nanti Renatta bersedih lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk membawa Renatta pergi bahkan aku tidak akan memberikatahukannya padamu meski kamu menangis darah sekalipun."
"Iya, iya, sadis banget! Heran!"
Regan pun menyebutkan tempat yang ia inginkan untuk bertemu dengan Renatta. Sambungan telepon pun berhenti dan Grace kembali mendekat ke Renatta.
"Kalau kamu ingin tahu siapa orangnya. Temui dia di taman kota besok sepulang kerja. Katanya dia memakai sweater hoodie berwarna hitam."
Renatta jadi bertanya-tanya. Kenapa misterius sekali orangnya.
"Laki-laki atau perempuan?"
"Nanti juga kamu tahu sendiri. Ayo kembali ke tempatmu dan bekerja."
Renatta mengangguk lalu keluar dari ruangan Grace. Ia masih menerka-nerka siapa yang sudah menolongnya. Sampai bisa membuat Gio ditangkap.
*
*
Malam hari telah tiba, Renatta keluar dari rumahnya untuk membelikan martabak manis untuk kakaknya yang sedang mengidam. Untungnya, di gang kecil yang dulunya gelap kini sudah terang karena sudah diberi penerangan. Renatta jadi merasa aman.
Ketika sampai di tukang martabak, Renatta memesannya dan duduk sambil menunggu pesanannya selesai dibuat. Ia juga melihat banyaknya kendaraan yang lalu lalang di jalanan. Sampai matanya terus menatap ke seseorang yang berada di seberang dengan memakai pakaian serba hitam. Seperti pria misterius yang menolongnya waktu itu. Ketika ia ingin menghampiri pria itu, pria itu sudah pergi dan pesanannya pun sudah selesai dibuat.
Renatta membayarnya, kemudian berjalan kembali ke kontrakannya. Sambil berharap akan bertemu lagi dengan orang yang menolongnya. Ia benar-benar ingin mengucapkan terima kasih. Bahkan jaketnya juga masih ada di dirinya. Renatta tidak tahu harus mengembalikannya kemana.
*
*
Waktu begitu cepat berlalu, Renatta sudah pulang bekerja dan siap menuju ke taman kota seperti yang dikatakan oleh Grace. Sesampainya di taman kota. Ia merasa agak bingung mencari orang yang memakai hoodie hitam. Karena kebanyakan yang datang pun memakai baju berwarna hitam.
Di kala bingungnya itu, ada sebuah pesan dari Grace.
Dia ada di dekat air mancur Nat. Katanya dia sedang duduk sendirian disana. Samperin aja. Dia nggak galak kok, tenang aja.
Renatta pun langsung mengedarkan matanya ke dekat air mancur. Benar saja disana ada seorang yang duduk dengan memakai hoodie hitam. Kepalanya ditutup menggunakan penutup kepala hoodie nya. Jadi Renatta tak tahu apa orang itu laki-laki atau perempuan.
Renatta mendekat dan duduk di sebelah orang itu tanpa melihat wajah orangnya lalu mengucapkan rasa terima kasihnya.
"Aku tidak tahu kenapa kamu membantuku. Tapi aku sangat berterimakasih untuk itu. Berkat kamu namaku jadi bersih kembali. Aku berjanji akan membalas semua kebaikan kamu. Katakan saja apa yang kamu inginkan? Aku akan berusaha untuk mewujudkannya asalkan yang kamu minta bukanlah uang."
Senyum dari orang itu mulai mengembang. Ia menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang tadi tertutup oleh kacamata.
Renatta terkejut bukan main saat tahu siapa yang sudah membantunya.
"Ba-bapak!"
*
*
TBC