Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 72 - Oma Pingsan



Amanda datang lebih dulu daripada Regan dan Renatta. Ia menyapa Oma Lina seperti biasanya dengan senyuman manisnya. Tak lupa, Oma Lina pun langsung memeluk Amanda.


Ketika melihat Mommy Jessie, Amanda pun menyapa juga. Sayangnya, Mommy Jessie yang terlanjur tidak suka dengan Amanda tampak mengacuhkannya dan menunggu kedatangan anak dan calon mantunya.


Karena pintu rumah sudah terbuka dengan lebarnya, Regan dan Renatta yang berjalan masuk dari arah luar pun sudah kelihatan. Mommy Jessie langsung berubah jadi tersenyum. Melihat hal tersebut, Amanda benar-benar kesal.


Kedua orang itu disambut dengan baik oleh Mommy Jessie. Bahkan Renatta dipeluk dan dicium pipinya oleh Mommy Jessie. Seolah-olah tak bertemu berbulan-bulan.


"Gulai ayam yang malam itu kamu kasih ke Mommy enak banget loh! Daddy aja sampai nambah terus. Bukan cuma Daddy doang, Oma pun sama nggak bisa berhenti makan. Dia bahkan nggak percaya kalau itu kamu yang masak."


Renatta tersenyum ketika mendapatkan pujian dari Mommy Jessie.


"Makasih Mom. Itu aku lagi belajar masak aja," ucap Renatta merendah.


"Bohong Mom. Dia emang nggak jago-jago banget masak. Cuma ya, kalo masak mah tetap enak," sahut Regan.


"Bagus itu, setidaknya Mommy nggak perlu khawatir soal gizi dan nutrisi kamu yang selama ini sukanya makan makanan instan terus."


Regan mendengus sebal, sementara Renatta tersenyum senang. Hanya Mommy Jessie yang paling bisa membuat Regan kesal dan mati kutu.


Tiba-tiba pandangan Regan terhenti ketika melihat ada Amanda di samping Oma Lina.


"Kenapa dia bisa ada disini Mom?"


Mommy Jessie mengangkat bahunya tidak tahu.


Regan dan Renatta pun menghampiri Oma Lina dan mencium tangan Oma Lina bergantian.


"Kita sudah datang Oma. Oma mau membicarakan apa? Kenapa Oma meminta orang asing datang ke rumah ini juga?" tanya Regan yang sengaja menyebut Amanda sebagai orang asing.


"Orang asing siapa? Amanda ini cucu Oma juga."


Regan tampak tak peduli. Ia bahkan sudah mengambil posisi duduk di sofa yang paling ujung.


Lalu setelahnya, Renatta, Amanda, Oma Lina pun duduk juga. Sementara Mommy Jessie, ia melakukan aktivitasnya lagi, karena tak mau ikut campur dengan apa yang mau dikatakan oleh Oma Lina.


Untuk sementara, suasana di ruang tamu itu tampak hening. Karena tak ada satu pun dari mereka yang mulai untuk bicara. Sampai akhirnya, Oma Lina pun bersuara.


"Maksud Oma mengumpulkan kalian bertiga disini, karena Oma mau memberitahukan sesuatu yang penting."


"Apa itu Oma?" tanya Amanda.


"Intinya, ini adalah sebuah keputusan yang menurut Oma emang tepat. Maaf kalau nantinya akan menyakiti salah satu dari kalian."


Amanda mulai cemas dan was-was. Ia benar-benar tidak mau mendengar kalau Oma Lina menyetujui hubungan Regan dan Renatta. Kalau sampai itu terjadi, ia harus benar-benar melakukan rencana yang sudah mamanya bilang padanya. Sejujurnya Amanda tidak tega. Ia hanya bisa berdoa semoga apa yang ia khawatirkan tidak terwujud. Sehingga semuanya bisa aman terkendali.


"Oma merestui hubungan kamu dengan Renatta. Oma sadar, kalau sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan berakhir bahagia. Oma juga sangat menginginkan kebahagiaan kamu. Kamu adalah cucu kesayangan Oma dibandingkan cucu Oma yang lainnya. Selama berminggu-minggu terakhir ini, Oma juga menyadari kalau Renatta adalah anak yang baik dan ceria. Bahkan tanpa kemewahan ia bisa meluluhkan hati Oma dengan kesederhanaan dan tulusnya hatinya."


Renatta dan Regan tampak tersenyum.


"Terima kasih Oma. Aku janji tidak akan mengecewakan Oma. Aku mungkin tidak bisa berjanji untuk membuat Regan terus bahagia. Tapi aku akan berusaha untuk membuatnya tak kehilangan senyumnya."


"Iya, Oma percaya. Kamu pasti punya cara tersendiri untuk membuat cucu Oma tersenyum."


Tiba-tiba Regan menghampiri Oma Lina dan memeluknya.


"Makasih Oma. Makasih karena Oma sudah menerima Renatta."


Oma Lina menepuk punggung Regan pelan kemudian melepaskan pelukan itu dan menaruh tangannya di pundak cucunya.


"Buktikan ke Oma kalau pilihan kamu benar. Berbahagialah kalian."


Regan langsung memeluk Oma Lina lagi.


Amanda sebenarnya ingin marah dan melampiaskan amarahnya saat itu juga. Tapi, ia tidak bisa melakukan itu karena nanti image nya akan buruk. Ia sebisa mungkin harus bersikap lembut dan tak mudah terbawa emosi.


Renatta pun tersenyum dan langsung menghampiri Oma Lina dan memeluknya bersama dengan Regan.


"Oma doakan supaya kalian terus bisa bersama. Jaga kepercayaan Oma ini dan kalian pun harus menjaga satu sama lain."


"Iya Oma," ucap Renatta dan Regan bersamaan.


Tak lama kemudian pelukan pun terlepas dan mereka kembali ke tempat duduknya.


Oma Lina tampak menghadapkan tubuhnya ke Amanda. Kemudian menggenggam erat tangan Amanda.


"Maaf, karena Oma tidak bisa mendukung kamu lagi. Walaupun begitu, kamu tetap cucu Oma. Oma menyayangi kamu."


"Iya Oma, tidak apa-apa."


Amanda mencoba bersikap ikhlas di depan Oma Lina. Padahal di dalam hatinya boro-boro ikhlas, ia yang awalnya tidak tega melakukan rencana mamanya, malah tidak sabar untuk melakukannya. Ia merasa Oma Lina pilih kasih karena malah Renatta yang baru dikenalnya untuk bersanding dengan Regan ketimbang dirinya. Amanda seakan lupa, kalau dirinya lah yang dulu telah menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Tiba-tiba ponsel Regan berdering, ia pun bangun dari duduknya dan mencari tempat untuk mengobrol dengan si penelpon. Jadilah hanya para wanita yang ada di ruang tamu.


"Oma tahu, kalian tidak begitu dekat. Tapi Oma harap kalian akan akur. Karena kalian adalah cucu-cucu Oma."


"Iya Oma," jawab Amanda dan Renatta bersamaan.


"Oma, aku haus, aku mau buat es jeruk dulu," ucap Amanda.


"Astaga! Oma lupa menyiapkan minuman untuk kalian. Duh, jadi nggak enak gini."


"Nggak papa Oma kita bisa buat sendiri kok. Ayo Nat, kita buat es jeruknya."


Renatta mengangguk. Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah dapur.


Di dapur, Amanda mulai menunjukkan sifat aslinya yang tidak suka dengan Renatta.


"Walaupun kamu sudah diterima di keluarga ini. Jangan harap aku bisa memaafkan kamu dan berbaikan denganmu. Aku sungguh membencimu, Nat."


Renatta malah tersenyum mendengarnya.


"Aku lebih suka kamu yang sekarang. Kamu yang menampakan wajah aslimu dibandingkan tadi yang pura-pura lemah lembut. Aku sudah tidak butuh lagi maafmu. Tugasku hanya meminta maaf, urusan diterima atau tidaknya sudah bukan lagi ranahku. Lagipula, mau kamu benci atau tidak pun. Tak akan mengubah semuanya. Semuanya sudah terjadi seperti ini. Bagaimana? Apa kamu suka dengan pencapaianmu yang berhasil membuat aku selalu merasakan patah hati? Aku tidak tahu sejak kapan kamu merencanakan ini semua. Tapi aku yakin, ini bukanlah kebetulan. Untungnya, kali ini aku akan berjuang mati-matian untuk menjaga apa yang sudah jadi milikku. Lebih baik kamu introspeksi diri dan lebih jujurlah sama diri kamu sendiri."


Mendapatkan kalimat-kalimat seperti itu dari Renatta, membuat Amanda bertambah kesal.


"Jangan sok deh! Kamu terlalu sombong dan banyak bicara! Lebih baik kamu diam saja Nat!"


"Kenapa aku harus diam?!"


Tak dijawab oleh Amanda. Ia malah sibuk mengambil gelas, gula pasir, air dingin, dan jeruknya. Meskipun keduanya terlihat saling membenci tapi dalam membaut es jeruk keduanya tampak kompak dengan saling membantu satu sama lainnya.


Setelah es jeruk sudah siap dibawa ke ruang tamu. Amanda meminta Renatta untuk mengambil cemilan yang ada di dalam lemari. Ketika mata Renatta fokus ke lemari, Amanda buru-buru menaruh sesuatu ke dalam salah satu minuman itu. Ketika Renatta sudah menemukan cemilan nya, Amanda yang terburu-buru malah membuang botol kecil itu ke dalam tong sampah. Padahal hal sekecil itu bisa jadi bumerang untuk dirinya sendiri.


Renatta pun mengambil alih untuk membawa minuman ke ruang tamu, sementara Amanda membawa beberapa cemilan dan roti keringnya.


Nampan pun diletakkan di atas meja, Amanda langsung membagi minuman tersebut dan menempatkan gelas yang sudah dicampur sesuatu itu untuk Oma Lina.


Karena memang haus juga, Oma Lina langsung meminum es jeruknya sampai habis tak tersisa.


Beberapa menit kemudian, Oma Lina tiba-tiba muntah-muntah. Hal itu membuat Renatta dan Amanda panik. Bahkan teriakan panik Amanda sampai terdengar ke ruang kerja Mommy Jessie. Mommy Jessie pun memutuskan untuk keluar dan kaget ketika kondisi mamanya yang sudah pingsan di lantai ruang tamu.


*


*


TBC