Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 85 - Kecelakaan disengaja



Seminggu kemudian, Renatta sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, tapi dia harus ke rumah sakit seminggu sekali untuk terapi. Regan membawa semua keluarga Renatta ke rumah keluarganya. Karena selama ini Papa Dewa dan Nesha tidur di kamar rawat Renatta.


Setelah sampai di rumah keluarga Regan, mereka disambut dengan baik. Renatta keluar dari mobil dengan dipapah oleh Regan.


"Apa kamu akan tinggal di apartemen?" tanya Renatta.


"Tentu saja tidak, aku juga akan tinggal disini lagi," jawab Regan.


Renatta tak lagi bertanya. Kini giliran Regan yang bertanya.


"Apa pikiran kamu sudah normal kembali? Kemarin-kemarin saat di rumah sakit, sepertinya pikiranmu sempat terguncang dan bicara yang tak masuk akal."


Renatta merengut dan mengerucutkan bibirnya. Ia tak mau menjawab pertanyaan Regan itu.


Papa Dewa dan Nesha di antar menuju kamarnya oleh Mommy Jessie. Sementara Renatta dibawa duduk ke sofa ruang tamu. Wajahnya tampak tak terlihat senyumnya.


"Kenapa? Hm? Jangan memikirkan apapun, kamu cukup fokus sama kesehatanmu. Selama masa pemulihan, kamu cuti bekerja dulu. Aku sudah mengurus semuanya. Aku juga akan bekerja di rumah, jadi nanti akan ada orang yang datang kesini untuk mengantarkan berkas-berkas pekerjaanku."


Renatta yang mendengar hal tersebut langsung menoleh ke Regan.


"Tidak usah sampai seperti itu. Bekerjalah di kantor, kasian mereka yang nantinya harus jauh-jauh kesini. Lagipula disini pun aku tidak sendirian, banyak orang yang membantu nantinya."


Regan menggeleng.


"Tidak mau, aku mau memastikan semuanya aman dan baik-baik saja dalam pengawasanku. Lagipula aku bosnya. Terserah dong aku mau melakukan apa, lagian mereka juga dibayar lebih."


Renatta hanya geleng-geleng kepala. Ia tidak mau berdebat lagi dengan Regan. Ia tak mau tenaga terkuras hanya karena hal tersebut. Ia akan membiarkan Regan melakukan apapun yang laki-laki itu mau.


"Mau ke kamar sekarang?"


"Nggak, aku cape rebahan terus, aku ingin duduk santai dulu disini. Merepotkan orang lain itu tidak enak Regan. Aku merasa sungkan, apalagi ini adalah keluarga kamu."


"Kalau kamu merasa tidak enak, kamu harus membayarnya dengan dirimu yang harus mencintaiku sampai kapan pun. Jangan pernah mengatakan hal seperti di rumah sakit lagi. Itu sama aja artinya kamu ingin membuang aku jauh-jauh."


Renatta menghela napasnya.


"Maaf." Renatta menunduk lalu melanjutkan lagi ucapannya. "Aku hanya takut kalau kakiku tidak sembuh, selamanya kamu akan menjaga wanita pincang seperti aku. Aku tidak mau merepotkan mu terus-menerus."


"Kan, kan, aku sebel sama kamu. Balik aja ke Renatta yang dulu. Renatta yang dulu tidak mungkin akan berpikir seperti ini. Dia pasti akan optimis sembuh dan berjuang sendiri."


"Keadaan lah yang mengubah semuanya Regan," ucap Renatta.


Regan meraih tangan Renatta, menggenggamnya erat.


"Berjanjilah, akan terus bersamaku sampai kita menua bersama. Aku tidak peduli mau bagaimana pun keadaan kamu. Mau kamu pincang kek, nggak bisa jalan sekali pun. Aku tidak peduli. Yang aku pedulikan, cuma hadirmu di sisiku."


Cairan bening jatuh tanpa permisi dari mata Renatta. Dicintai sebesar ini oleh Regan membuatnya terharu. Ia sampai bertanya-tanya kebaikan apa yang pernah ia lakukan sampai bisa menaklukan hati Regan? Padahal, ia hanya seorang wanita jahat yang berubah.


Tangan Regan mengusap pelan air mata Renatta itu.


"Jangan menangis, aku tidak suka."


"Aku menangis bukan karena sedih kok, cuma terharu aja. Kamu bisa menyukai aku sampai seperti ini. Rasanya seperti tidak nyata. Terima kasih."


Regan langsung membawa Renatta ke dalam pelukannya dengan hati-hati. Laki-laki itu mengusap pelan rambut Renatta.


*


*


Ozy pun menyimpulkan kalau ini bukan kecelakaan alami melainkan kecelakaan yang disengaja. Ozy pun terus meminta detektif untuk terus mengusut sampai tuntas hingga pelakunya ditemukan. Tentunya kalau memang kecelakaan ini karena disengaja, pasti orang yang menabrak Renatta itu hanya disuruh, dalang sebenarnya masih abu-abu.


Setelah detektif itu pergi dari ruangannya, Ozy terduduk lemas di sofa. Ia tak habis pikir. Penderitaan Renatta seolah tidak ada habisnya. Karena selama ini ia cukup tahu kehidupan wanita itu dari Regan.


"Semoga kamu tetap kuat menjalani ini semua Nat. Pasti akan ada saatnya kamu bahagia. Karena setelah gelap terbitlah terang."


*


*


Seperti biasa, Tante Dewi menemui para preman itu di gedung terbengkalai. Disana menerima informasi terkini tentang kondisi Renatta. Tapi, ia tak cukup puas karena Renatta hanya patah tulang satu kakinya saja. Ia menginginkan Renatta lumpuh sekalian saja atau mati itu lebih bagus.


Tante Dewi pun tak jadi memberikan sisa uangnya pada preman-preman itu, karena pekerjaan mereka kurang memuaskan. Salah satu preman tampak kesal, karena dia sudah bersusah payah menuruti segala kemauan wanita tua di hadapannya. Bahkan ia sampai menyamar jadi pegawai rumah sakit untuk mendapatkan informasi tersebut karena memang tidak sembarang orang diperbolehkan masuk ke dalam ruangan rawat Renatta.


"Apa? Kamu tidak mau bayar? Kurang ajar sekali! Kami sudah menuruti keinginanmu! Dia tidak bisa berjalan saja itu sudah sukur! Kalau mau membuatnya meninggal, lakukan saja sendiri! Tapi sebelum itu, kamu harus bayar dulu! Kamu sudah bekerja keras!"


"Cih! Bekerja keras katamu! Pekerjaan kalian tidak sesuai yang aku harapkan!"


Tante Dewi pun berjalan pergi dari gedung itu, tapi ia dicegat dan dipukul kakinya oleh salah satu preman. Sementara preman yang lain mengambil tas yang dibawa Tante Dewi dan mengambil semua uang dan harta yang ada di dalam tas itu.


"Dasar sialan! Jangan ambil uangku!"


"Berisik! Kami tidak mengambil tapi ini hak kami!" ucapnya kemudian melempar tas Tante Dewi ke wajah Tante Dewi dengan keras. Sebelum pergi, mereka pun memukul kaki Tante Dewi lagi sampai tak mampu lagi berdiri. Bahkan terlihat dengan jelas ada memar biru di kakinya.


"Uuhhh, sakit sekali! Dasar preman sialan! Mereka mengambil semua uangku! Bahkan perhiasanku juga, padahal aku baru mau menjualnya, arghh!"


Tante Dewi berteriak histeris. Karena perhiasan itulah harta terakhir yang ia punya untuk dijual. Lalu setelah semuanya diambil ia hidup dengan apa? Apalagi ia selama ini tinggal di sebuah apartemen mahal dengan waktu sewa sebulan sekali. Itu artinya sebentar lagi dia harus pindah karena tak bisa membayar untuk bulan depan.


"Arghhh! Renatta! Semua ini gara-gara wanita itu! Semua berantakan karena dia tiba-tiba hadir lagi ke kehidupan Amanda!"


Bukannya sadar diri, Tante Dewi malah amish tak tahu diri dengan masih menyalahkan orang lain. Ya, begitulah namanya orang yang tidak punya hati nurani.


Ketika mau berdiri, ia mengaduh kesakitan. Apalagi preman-preman sialan itu memukul kedua kakinya. Tante Dewi pun ngesot untuk mencapai ke tiang untuk membuatnya bisa berdiri. Setelah itu ia mencari kayu ataupun semacamnya untuk digunakan sebagai alat bantu berjalan.


"Sialan!"


*


*


Malam harinya, Amanda merasa gelisah di dalam sel nya. Selama seminggu ini, mamanya belum menjenguknya dan memberikan kabar terbaru tentang Renatta. Ia hanya tahu Renatta sengaja ditabrak, dan masuk rumah sakit.


"Aku berharap Renatta benar-benar mati! Dengan begitu, hidupku akan lega jadinya. Tapi kenapa mama belum mengunjungi aku juga?"


"Heh!" salah seorang penghuni sel yang sama menegur Amanda.


"Sudah malam, waktunya tidur, jangan ganggu! Atau akan aku habisi kau!" ucapnya dengan menunjukkan jari tengahnya.


Amanda menciut, apalagi orang tersebut adalah orang dengan kasus pembunuhan. Sebenarnya Amanda pun berbohong kalau dia baik-baik saja di dalam sel nya. Padahal, ia selalu dijadikan kacung oleh si penghuni sel itu. Meski ia sudah bersikap garang, tapi tetap saja, nyalinya ciut dan ia seperti kembali menjadi Amanda yang lemah seperti ketika Renatta tindas dahulu.


*


*


TBC