
Hari sudah petang ketika Mira terbangun. Dia melihat George masih tertidur lelap memeluk dirinya. Mira kemudian memperhatikan wajah tampan pria itu. Benar - benar menarik!
Wajah rupawan serta bentuk tubuh yang atletis nan seksi merupakan perpaduan yang sempurna.
Tanpa sadar tangan Mira perlahan menyentuh lembut wajah pria itu. Namun sentuhannya membuat pria itu menggeliat seolah ia sadar ada yang menyentuhnya.
Mira segera menghentikan sentuhannya dan secara perlahan mengangkat tangan pria itu yang masih melingkar ditubuhnya.
"Mau kemana ?" Tanya George mengagetkan Mira.
"Kau sudah bangun ?"
"hmmmm"
"Ini sudah hampir malam. Aku mau ke dapur menyiapkan makan malam untuk kita."
"Aku suka bagian katamu, untuk kita!" Ucap George bahagia.
"Kalau begitu singkirkan tanganmu ini. Bagaimana aku bisa pergi kalau kau terus menahan tubuhku ini dengan tanganmu ?"
"Apa kau tidak ingin makan ?"
"Tentu aku harus makan. Tapi daripada makan stik, ku rasa lebih baik aku makan kamu saja." Ucap George sambil menampilkan seringai menggodanya.
"Dasar mesum!"
"Singkirkan tanganmu ini!" Pekik Mira.
"Tidak mau!" Ucap George sambil memeluk Mira lebih erat.
"Mengapa kau mengikuti kata - kataku ?"
"Yang mana?"
"Yang tadi."
George terkekeh. Pria itu sengaja mengerjai Mira dengan mengikuti kebiasaan wanita itu membantah ucapannya.
"Singkirkan tanganmu ini atau kau ku gigit!"
"Hahahahahaa . . . "
George semakin terkekeh melihat perilaku Mira yang mulai geram dan mulai berani mengancamnya.
"Baiklah...baiklah..."
"Kali ini kau akan kulepaskan. Tapi tidak nanti!"
"TERSERAH!!!" Ucap Mira kesal.
George melepaskan pelukannya, membuat Mira bisa bebas bergerak. Mira bergegas turun dari ranjang kemudian berjalan keluar menuju dapur.
Dalam perjalanan, Mira melihat secangkir kopi yang sama sekali belum diminum berada diatas meja ruang tamu. Mira mengambil cangkir itu dan meletakkannya di tempat cuci piring.
George mengikuti langkah Mira. Ia duduk didepan meja dapur sambil memperhatikan Mira yang mulai sibuk memasak.
"Mau kopi?" Tanya Mira.
"Ya."
Mira membuatkan secangkir kopi untuk George dan meletakkannya diatas meja tepat di hadapan George. Ia juga meletakkan semangkuk gula putih bersebelahan dengan cangkir.
"Kau bisa mengukur gulanya sesuai seleramu."
"Kau mau biskuit ?"
"Boleh juga."
"Tunggu sebentar."
Mira mengambil biskuit yang ia simpan didalam lemari didapur lalu meletakkannya didepan George.
"Kau bisa menikmati ini sambil menunggu aku selesai memasak." Ucap Mira.
George menikmati kopi dan biskuitnya sambil menatap Mira dengan saksama.
"Apa kau bisa memasak?" Tanya George.
"Ya, sedikit."
"Meski ini bukan seperti makanan direstoran mewah, tapi percayalah masakanku tidak kalah enaknya." Tutur Mira.
"Baiklah."
"Rasanya tidak sabar menunggu masakanmu selesai." Ucap George.
Mira tersenyum mendengar ucapan George.
"Sabarlah sedikit!"
"Ini tidak akan lama."
Beberapa menit kemudian Mira sudah selesai memasak. Ia membuat telur orak - arik, ayam goreng mentega, sayur cap cai dan nasi putih.
Wanita itu kemudian mengatur semua makanan itu diatas meja makan.
"Sebaiknya aku mandi sebelum kita makan. Sepertinya aku sudah bau." Ucap Mira.
"Benarkah ?"
"Sini biar kupastikan apa kau bau atau tidak." Seru George sambil tersenyum jail.
"Dasar gila!" Gerutu Mira.
"Hahahahahaaaa...." George terkekeh.
Beberapa waktu kemudian, Mira telah selesai mandi. Ia mengeringkan rambutnya dan mengoleskan body lotion pada tubuhnya.
Setelah selesai, ia bergegas keluar menemui George.
Terimakasih karena pria itu masih setia menunggunya.
George membaca pesan di ponselnya sambil tersenyum lebar. Senyumannya sungguh manis.
Terimakasih kepada Tuhan karena telah mendengar doaku. Ku pikir kau sudah kapok berurusan dengan perempuan, maksudku untuk sebuah hubungan yang serius dan resmi.
Mom tidak sabar menunggumu dan calon istrimu.
i love you son.
Timbul rasa penasaran dihati Mira melihat pria itu senyum - senyum sendiri memandangi ponselnya.
"Ku rasa kau benar - benar sudah gila." Tukas Mira.
"Ya, aku tergila - gila padamu." Sahut George.
Mira memutar kedua matanya malas.
"Lebih baik kita makan sekarang." Ucap Mira.
"Ide yang bagus."
Keduanya menikmati makan malam dengan tenang. Tidak ada satupun diantara mereka yang mengeluarkan suara sampai mata Mira memperhatikan George yang makan dengan begitu lahap.
"Bagaimana menurutmu?"
"Apa?"
"Makanannya, tentu saja."
"Enak. Telur dan ikan ayamnya tidak pernah seenak ini, sejauh yang pernah aku cicipi." Ucap George.
"Terima kasih. Ku anggap itu sebagai pujian."
"Tapi sebaiknya kau makan pelan - pelan." Ucap Mira mengingatkan George.
George hanya menganggukan kepalanya, mengerti ucapan Mira.
Setelah selesai makan, Mira membersihkan meja dan segera mencuci piring - piring yang kotor.
"Ceritakan lagi!" Ucap George.
"Apa?"
"Semua tentangmu."
Mira membalikan tubuhnya dan menyeringai.
"Semua tentangku biasa - biasa saja. Tidak ada yang spesial. Aku tidak seperti dirimu." Ucap Mira.
"Jadi maksudmu aku adalah orang yang spesial?"
Demi Tuhan...Mengapa aku selalu saja salah bicara ??
"Tidak. Bukan seperti itu." Tukas Mira.
"Kalau begitu ceritakan padaku bagaimana keluargamu dan semua tentang dirimu." Pinta George.
"Mengapa kau begitu tertarik ?" Tanya Mira.
"Karena kita sudah sepakat, kita harus saling mengenal dan menjadi lebih dekat sebelum kita menikah." Jawab George.
"Aku bekerja di Star Fashion sudah tiga tahun, ku rasa kau sudah tahu itu."
"Ya. Kalau begitu ceritakan yang lain." Seru George.
"Aku lulusan dari perguruan tinggi Lasalle Collage International jurusan fashion design and creations. Keluargaku tidak mampu membiayai pendidikan diluar negeri, tapi setidaknya aku bisa kuliah di perguruan tinggi bertaraf internasional."
"Oh, dan aku bukan asli Jakarta. Aku dari Manado. Papa namanya Marthin Pesik sudah pensiun dari pekerjaannya sebagai manajer keuangan disalah satu perusahaan swasta di Manado. Sedangkan mama, namanya Stella Anggraini hanya membuka usaha mini market didepan rumah. Semenjak pensiun papa selalu membantu mama menjaga toko. Mungkin sekarang papa adalah karyawan mama." Jelas Mira sambil tersenyum lebar.
"Oh ya, aku juga memiliki satu adik laki - laki, namanya Mark Starlive. Dia sekarang kuliah di fakultas kedokteran di Manado." Lanjut Mira.
"Bagaimana dengan mantan kekasih ?" Tanya George ingin tahu.
"Aku memiliki beberapa. Tapi kurasa semuanya hanya cinta monyet. Tidak ada yang benar - benar serius."
"Benarkah?" Lalu Dion ?
"Kecuali dia. Dia bahkan tidak bisa dibilang mantan kekasih. Kami hanya dekat tanpa sebuah status yang jelas." Ucap Mira lirih.
"Apa kau kecewa?" Tanya George.
"Tentu saja tidak." Jawab Mira tegas.
"Aku malah bersyukur karena tidak memiliki hubungan serius dengannya."
"Itu keputusan yang benar. Kau tidak harus berurusan dengan pria brengsek seperti dirinya." Tutur George.
Apa kau lupa kalau kau juga brengsek ???
Tbc
🎀🎀🎀🎀🎀🎀🎀
Jangan lupa klik tombol likenya dan berikan komentar kalian 😊😊😊
Jika berkenan, sekalian berikan vote kalian juga ya kak 🙏
Terima kasih 💕💕💕