Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
KESEPAKATAN



πŸ’ Happy reading for you ☺☺☺


.


.


.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, Mira melangkahkan kakinya menuju dapur dan mengambil segelas air putih lalu mengambil napas panjang dan berucap, "Saatnya menyikapkan kebenaran."


Mira tidak ingin menutupi apapun lagi pada Stella tetapi di harus memilih kata - kata nya dengan hati - hati saat akan memberi penjelasan agar ia tidak menambah beban dan kesedihan mamanya. Sudah cukup. Mira sudah merasa cukup bersalah atas kesedihan yang Stella rasakan. Dia tidak ingin lagi wanita yang dicintainya terluka karena kesalahannya.


Mira kembali menuju ruang tamu dan memberikan segelas air putih yang dipegangnya kepada Stella. Wanita itu tengah larut dalam pikirannya tetapi wajahnya tetap terlihat memuram.


"Ma, minumlah air putih ini agar mama lebih tenang."


"Mana bisa mama tenang Mira. Lihat! anak yang mama banggakan, anak yang mama andalkan, anak yang mama besarkan dengan kasih sayang, anak yang mama ajarkan tentang sopan santun dan..." Stella terdiam sesaat. "Oh Mira. Apa kesalahan mama hingga mama harus menerima kenyataan ini?"


"Ma, ini bukan kesalahan mama. Ini sepenuhnya kesalahan Mira." Mira menunduk memandangi lantai. "Maafkan Mira ma, Mira mohon." Ucap Mira dengan suara bergetar seperti menahan tangis.


Sejenak ada keheningan. Mira meletakkan segelas air putih yang dipegangnya di atas meja lalu kembali berucap, "Ma, tolong dengarkan penjelasan Mira."


Wanita itu kemudian mengambil posisi duduk di sofa berhadapan dengan Stella. Ia butuh duduk karena tubuhnya terasa tak bertenaga lagi. "Mira dan George pertama kali bertemu saat kami menandatangani kontrak kerjasama antara perusahaan tempat Mira bekerja dan perusahaan milik George. Lalu kami membangun komunikasi dan tanpa terasa kami mulai dekat, selanjutnya kami memutuskan untuk melanjutkan hubungan kami ke tahap lebih serius."


Stella mendongak pada Mira dengan pandangan kekecewaan. "Menjalin hubungan serius dengan seseorang yang kamu cintai dan yang mencintaimu itu baik Mira. Tapi rasa cinta dan keseriusan tidak harus dibuktikan dengan cara tinggal bersama. Apa kamu tidak tahu itu Mira?" Teriak Stella.


Tangis Mira mulai pecah. "Iya ma. Mama benar. Ini benar - benar sulit dijelaskan karena ini memang sebuah kesalahan. Tapi semua pun sudah terjadi. Alih - alih memilih menyesalinya, lebih baik memilih bertanggung jawab atas perbuatan kami."


"Dan menurut kalian, menikah adalah cara tepat untuk bertanggungjawab."


"Benar."


"Menikah tidak semudah yang kamu bayangkan Mira. Apalagi kamu menikah dengan pria asing yang kaya raya. Apa kamu sudah siap hidup menderita?" Ucap Stella penuh penekanan.


"Ma, mengapa mama berkata seperti itu? Mira yakin George akan menerima Mira apa adanya dan akan menjaga serta mencintai Mira sepenuh hati."


"Benarkah? Mungkin Pria itu bisa menerima kamu apa adanya. Tapi bagaimana dengan keluarga nya? Bagaimana dengan orang tuanya? Apa kamu yakin mereka bisa menerima kamu dengan tangan terbuka?"


"Mira berharap itu akan terjadi."


"Oh Mira. Mama tak ingin itu hanya sekedar harapan."


"Tenanglah ma." Mira merasa harus meyakinkan mamanya untuk menerima hubungannya dengan George. "Mama selalu berkata, Mira adalah anak pemberani, anak yang pintar dan hebat. Mira yakin bisa mengatasi ini ma, walaupun ini memang tidak mudah. Mira yakin bisa membuat keluarga George menerima Mira dengan senang hati."


"Kau tidak hamil kan?" Pertanyaan itu tiba - tiba saja terucap dari mulut Stella.


Mira menelan ludah. "Tidak ma." Mira terdiam. "Lebih tepatnya aku tidak tahu. Bisa saja aku hamil tapi bisa juga tidak." Batin Mira.


Stella meminum beberapa teguk air putih yang diberikan Mira tadi. "Situasi ini memang buruk, tapi kita harus bisa menghadapinya." Kata Stella.


"Benar ma." Mira setuju.


"Karena itu kita harus membuat kesepakatan."


"Maksud mama?" Mira gemetar.


Stella tersenyum datar saat meletakkan gelas


yang dipegangnya di atas meja. "Kau tahu, kita tidak bisa terlalu berharap pada orang lain. Itu juga berlaku pada kekasihmu. Meskipun dia berjanji akan segera kembali dan mengurus pernikahan kalian, tapi tidak ada jaminan apakah dia akan menepati janjinya atau tidak. Sejujurnya mama meragukannya. Terlebih lagi, dia dari keluarga kaya raya, sementara kita. Ini memalukan, tapi kita harus mengakui bahwa derajat keluarga pria itu dengan derajat keluarga kita bagaikan langit dan bumi. "


"Ya."Ucap Mira lemah. "Lalu Mira harus bagaimana?" sambungnya.


"Kita akan menunggunya dalam waktu satu minggu ini. Jika pria itu tidak kembali, maka tidak ada kesempatan lagi untuk hubungan kalian. Kamu juga harus berhenti dari pekerjaanmu dan kembali ke Manado."


"Tapi ma. Jika George tidak kembali, bukan berati dunia sudah berakhir. Mira pastikan Mira bisa melanjutkan hidup Mira dengan lebih baik lagi."


"Tidak Mira!" Kata Stella tegas. "Kamu sudah merusak kepercayaan yang mama dan papa berikan. Inilah akhirnya. Kamu tidak perlu menjadi istri siapa - siapa. Kamu cukup menjadi anak mama."


"Ma, please. Jangan membuat Mira mempertaruhkan keberuntungan Mira."


"Harus Mira. Suka atau tidak suka kamu harus mengikuti kata - kata mama."


Mira memandang Stella dengan sorot mata memohon tapi tampaknya wanita itu tidak bisa merubah keputusannya. "Baiklah ma. Tapi bagaimana jika George kembali?" Tanya Mira langsung.


"Tentu kalian bisa melanjutkan rencana kalian."


"Jadi mama setuju?"


"Mama tidak punya pilihan lain. Mama juga tidak mau egois. Yang lebih penting adalah kebahagiaan kamu."


Lega karena kesepakatan mereka cukup adil, Mira akhirnya menyunggingkan senyum yang mampu membuat Stella melupakan apa yang terjadi. "Terima kasih ma. Mama memang yang terbaik."


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Hallo kakak - Kakak...


Jangan bosan - bosan ya mendukung author.


Jangan lupa klik tombol suka dan tinggalkan komentarnya serta berikan votenya ya.


Terima kasih πŸ’•πŸ˜˜πŸ’•πŸ˜˜πŸ’•