
"Hai Nat, gimana kabarmu?" sapa Devan yang berusaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Tidak usah menutupi kesedihanmu Dev. Katakan saja apa yang ingin kamu katakan. Kabarku tidak baik, lihat saja jalanku pincang begini," jawab Renatta yang kemudian duduk di hadapan Renatta.
Devan tampak menghela napasnya. Ia bingung mau menceritakannya dari mana. Di saat seperti ini memang Renatta lah yang bisa ia andalkan. Karena Renatta selalu memberikan solusi ketika ia curhat. Tapi melihat kaki Renatta yang pincang begitu, Devan jadi merasa tidak tega juga. Ia malah akan menambah beban Renatta.
"Udah cerita aja, nggak usah banyak mikir," ucap Renatta.
"Kamu kenapa bisa dapat luka di lututmu?"
"Oh, ini tadi jatuh pas ngejar copet. Tapi udah aman kok. Udah diobati juga. Jadi, lebih baik kamu cerita aja masalahmu. Kenapa kamu sampai bisa ada di London dan di hotel yang sama denganku. Karena kalau dipikir-pikir, rasanya sangat aneh saja. Apalagi wajahmu yang kelihatan tidak bahagia."
Devan terus menghela napasnya. Ia pun mulai menceritakan kenapa dia bisa berada disana. Ia ke London sedang menyusul Amanda yang kabur karena pertengkaran mereka. Padahal kalau diingat lagi, pertengkaran mereka terjadi selalu karena ulah Amanda sendiri yang selalu membandingkan dirinya dengan Regan. Bahkan Amanda tak pernah menghargai dirinya selama jadi suami, hanya awal-awal saja manisnya. Lalu setelahnya, hanya pertengkaran yang ada di rumah tangga mereka.
Renatta yang mendengarkan itu semua jadi ikut bersimpati. Ia menepuk pundak Devan untuk memberikan semangat.
"Dan ketika aku tahu dia ke London, aku sadar, rupanya Amanda menyusul Regan yang ada disini. Gimana nggak sakit hati, Nat? Aku suaminya, tapi dia malah menyusul laki-laki lain."
"Lalu kalau nantinya kamu bertemu dengan Amanda. Apa yang ingin kamu katakan? Kamu akan mempertahankan rumah tangga mu atau lebih memilih untuk berpisah?" tanya Renatta.
"Entahlah, sejujurnya aku tidak ingin berpisah. Tapi kalau nantinya itu yang terbaik untuk aku dan Amanda. Ya, mau gimana lagi. Pernikahan kami memang sudah tidak sehat sejak awal. Akunya aja yang terlalu bodoh selama ini. Padahal aku tahu kalau Amanda adalah orang yang menghancurkan laptop Regan. Tapi aku masih saja suka padanya. Aku sangat senang karena saat aku melamarnya ia menerima. Padahal aku sangat tidak menyangka akan diterima. Rupanya setelah dijalani. Amanda sepertinya tidak pernah menyukai aku. Dia hanya memanfaatkan aku untuk menyakiti kamu. Sampai pada akhirnya, aku mendapatkan balasannya karena menyia-nyiakan orang seperti kamu."
Renatta terdiam. Ia merasa malu dan terkejut karena sepertinya Devan tahu kalau ia pernah menyukai Devan dulu.
"Maaf, karena aku pura-pura tidak tahu kalau kamu menyukai aku. Padahal aku menyadari itu," ucapnya kemudian menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, itu sudah berlalu, aku juga sudah move on kok. Aku sudah mencintai orang lain lagi," ucap Renatta yang membuat Devan kembali menatap Renatta.
"Siapa orangnya? Regan?" tebak Devan.
Renatta diam tak menjawab. Tapi Devan sudah tahu jawabannya. Tebakannya benar.
"Semoga kamu bisa bersamanya Nat."
"Entahlah, aku tidak mau berharap. Karena aku tahu, Regan masih belum bisa melupakan Amanda. Lebih baik aku diam dan menyembunyikan rasa ini."
"Ya, mungkin memang seharusnya mereka bersama. Jadi aku tidak perlu terluka seperti ini."
"Tapi tetap saja, kamu harus selesaikan masalahmu sampai tuntas Dev. Kalian bukan sepasangan kekasih yang mudah putus nyambung, melainkan sepasangan suami istri. Harus banyak pertimbangan untuk memutuskan bagaimana hasil akhirnya nanti."
Devan mengangguk. Setelah menceritakan apa yang terjadi padanya ke Renatta, Devan selalu merasa lega. Seolah beban berat yang dipikul di bahunya menghilang begitu saja.
*
*
Tadi Regan sudah menghubungi Devan, tapi sepertinya Devan tengah berada di panggilan lain yang rupanya adalah Renatta.
"See! Dia bahkan tidak mencari ku! Dia seolah-olah tidak ingin mempertahankan pernikahan ini karena Renatta. Aku benci banget sama dia. Dari dulu, dia selalu saja mengganggu hidupku."
Regan tersenyum kecut mendengarnya. Kini ia baru menyadari kalau Amanda rupanya seburuk ini. Wanita di hadapannya seperti bermuka dua. Baik di hadapannya, mungkin buruk di belakangnya. Beda dengan Renatta yang malah melindungi Amanda dari kesalahan yang Amanda lakukan.
"Rupanya kamu lebih jahat dari yang aku kira ya? Kamu bahkan tidak mengakui kesalahanmu sendiri. Tapi malah selalu ingin dimengerti."
"Kok bicara kamu begitu, Regan? Aku kan tidak salah apa-apa."
Regan tersenyum sinis.
"Aku sudah tahu semuanya Manda. Siapa yang sebenarnya salah dan telah menghancurkan impianku. Bukan Renatta melainkan kamu," ucap Regan.
Amanda terkejut dan tidak percaya. Untuk menghilangkan sedikit keterkejutannya, ia malah menuduh Renatta yang sudah memfitnahnya.
"Pasti Renatta yang bilang begitu kan? Kamu tahu sendiri, Renatta dari dulu selalu iri sama aku! Dia pasti memutar balikkan fakta. Supaya kamu jadi benci aku. Kamu percaya aku kan, Regan?"
"Entahlah, rasanya aku tidak mengenal siapa kamu. Kamu tidak seperti Amanda yang aku ketahui. Kamu berubah. Lebih baik kamu pulang sekarang dan selesaikan masalah kamu dengan Devan. Aku tidak mau terlibat dengan masalah kalian," ucap Regan yang kini tak bisa mempercayai Amanda lagi. Ia pun hendak pergi tapi malah melihat Renatta dan Devan ada disana juga.
"Kan, sudah aku bilang, Renatta itu perusak rumah tanggaku. Devan sampai bela-belain kesini cuma untuk bertemu dengan Renatta," ucap Amanda untuk memprovokasi Regan.
Regan tampak kesal dan tersulut. Ia pun menghampiri Devan dan Renatta yang sedang mengobrol.
"Harusnya kamu menyelesaikan masalahmu dengan Amanda, bukannya membawa-bawa Renatta masuk ke dalam masalahmu. Aku yakin kamu kesini untuk menyelesaikan masalahmu dengan Amanda. Tuh, dia ada disana. Selesaikan masalah kalian. Dan bilang padanya jangan pernah temui aku lagi!"
Dengan gemuruh cemburu yang ada di dalam dirinya. Ia langsung membawa Renatta kembali ke dalam kamarnya dengan menggendong Renatta. Ia menantikan Renatta di atas ranjang kamar hotelnya.
"Kenapa Bapak malah bawa saya pergi sih? Tadi tuh Devan lagi curhat sama saya kalau dia ada masalah dengan Amanda. Saya cuma niat membantu, tidak untuk jadi orang ketiga di antara mereka," ucap Renatta dengan jujur.
Regan malah menoyor kepala Renatta. Entah bodoh atau polos atau terlalu baik. Ia lebih benci sikap Renatta yang sekarang, terlihat lebih lemah dari dirinya yang dulu suka membuly orang.
"Supaya kamu sadar, supaya kamu tidak lemah. Supaya kamu lebih mementingkan diri sendiri. Sudah tahu masih sakit, bahkan jalanmu masih pincang. Malah keluyuran keluar. Bisa nggak sih Nat, jangan terlalu baik!"
"Bapak ini aneh! Kenapa urusan saya, jadi Bapak yang ngurusin? Mau saya jahat, terlalu baik, atau lemah pun ya itu saya. Tidak ada hubungannya dengan Bapak. Kenapa harus repot-repot," jawab Renatta dengan ikut penuh emosi juga. Ia tidak suka dimarahi oleh Regan dengan alasan yang tidak jelas begini. Kalau soal pekerjaan lah dia rela dimarahi.
Regan memegang bahu Renatta. Menatap wajah Renatta dalam-dalam.
"Kenapa natap saya kaya gitu Pak? Saya jadi merinding," ujar Renatta.
"Renatta Audy Dewangga, tolong dengarkan ini baik-baik."
"Mau bicara apa sih Pak? Saya jadi takut!"
Renatta merasa aura di seluruh ruangan menjadi mengerikan. Ia tidak bisa berpikir lagi. Ia jadi takut amarah Regan meledak dan Regan jadi tidak membawanya ikut pulang ke negaranya.
"Aku tidak suka kamu yang lemah. Aku tidak suka kamu yang terlihat bahagia cuma karena mengobrol dengan Devan. Aku tidak suka kamu dekat-dekat dengannya. Bahkan kamu sampai tidak memperdulikan rasa sakit mu. Aku khawatir Natta. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Saat melihatmu yang menangis dalam keadaan menyedihkan ketika aku temukan tadi, hatiku merasa diiris-iris pisau. Rasanya sakit, perih dan aku jadi ingin melindungi kamu. Aku suka sama kamu Natta. Aku menyukaimu. Karena itulah urusan kamu adalah urusanku!"
"Hah?"
Renatta masih belum bisa berkata apa-apa. Ia masih terkejut dengan pengakuan Regan. Beberapa menit kemudian, Renatta malah mengira Regan cuma bercanda.
"Bapak, tolong ya, kalau becanda jangan kelewatan. Rasanya lebih baik mendengar kata benci dari Bapak daripada rasa suka. Saya tidak mau jadi berharap lalu pada akhirnya, saya tidak akan mendapatkan apa-apa. Rasanya sangat sakit Pak."
"Siapa yang memberikan kamu harapan? Justru aku memberikan kamu sebuah kepastian. Aku menyukai kamu."
"Tolong ya Pak. Berhentilah bercanda. Saya mau ke kamar saya sendiri. Bapak tidak usah mengantar saya," ucap Renatta yang ingin pergi tapi ditahan oleh Regan.
"Aku adalah cinta pertamamu. Iya kan?"
Renatta langsung terbengong ketika Regan tahu rahasianya. Tapi ia tidak mau ketahuan dan bersikap normal kembali.
"Sok tahu! Udah ya Pak, biarkan saya keluar dari kamar Bapak."
Regan lalu berdiri dan mengambil buku diary milik Renatta dan menunjukkan isinya yang mengatakan kalau Renatta menyukai dirinya.
Renatta hanya bisa diam. Karena ia tidak bisa mengelak lagi. Ia malah lupa kalau ternyata buku diary nya tertinggal ketika ia pernah menginap semalam di apartemen Regan.
"Aku menyukaimu."
"Pak, bercandanya tolong hentikan."
"Aku sedang tidak bercanda Renatta. Aku memang menyukai kamu. Semenjak kamu hadir di hidupku ketika aku kehilangan Amanda. Sedikit demi sedikit kamu terus mempengaruhi pikiranku."
"Saya wanita jahat Pak!"
"Memang. Saking jahatnya kamu tidak menjawab pernyataan cintaku."
"Bukan itu Pak!"
"Aku tahu maksud mu, tapi aku tidak peduli."
"Masa lalu saya sangat buruk."
"Aku tahu. Tapi itu semua tidak akan mempengaruhi apapun yang aku rasakan ke kamu."
Regan masih terus pada pendiriannya.
"Saya tidak pantas untuk Bapak."
"Bukan kamu yang menentukan siapa yang terbaik untukku tapi aku sendiri."
"Kalau begitu, saya akan menjawabnya. Saya tidak menyukai Bapak. Sudah kan? Saya boleh pergi ke kamar kan, Pak?"
Regan tersenyum kecut mendengarnya. Ia tahu kalau Renatta pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Ia bisa melihat mata Renatta yang berkaca-kaca.
"Baiklah, kalau itu jawaban darimu. Aku akan merubahnya."
Regan tersenyum miring kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Renatta dan mengecup bibir Renatta tanpa permisi.
*
*
TBC