
"Ahhh...Ahhh...Sayang...Ini begitu nikmat." Ucap George sambil terus menggoyangkan tubuhnya.
Mira merasa begitu sesak. Nafasnya terengah sebab ini adalah kali pertama ia melakukan itu. Akhirnya Mira mendorong tubuh george pelan supaya ia bisa bernafas.
"Uhuk...Uhuk..." Mira tersedak, dan hampir saja ia muntah.
Geroge keheranan.
Bukankah ini adalah hal sepele bagi wanita jalang ? Tapi mengapa dia seperti ini ?
Apa dia jijik padaku ? Sialan . . ." Gumam George dalam hati.
Seakan tidak peduli dengan keadaan Mira, George kembali mendorong tubuh Mira hingga ia terlentang diatas ranjang besar beralaskan kain putih itu.
George tidak menyia - nyiakan kesempatan yang ada. Segera ia menindih Mira, mencumbuinya, menelusuri telinga, leher dan dada Mira. Dia mengecup kedua p******a Mira , meremasnya dengan cukup kasar.
"Aghhh . . . aghhh . . . Sakit." Teriak Mira.
Mira benar - benar merasa terhina dengan perlakuan George.
Dengan segenap kekuatan yang tersisa Mira berontak, memukul dan mencakar George. Mira bahkan menggerakan salah satu kakinya, mengangkatnya ke udara hendak mendorong tubuh George yang menindihnya. Sayangnya gerakan itu malah membuat pahanya terbuka sehingga George bisa lebih leluasa menempatkan tubuhnya diantara paha Mira.
George merasa senang dengan posisi mereka sekarang.
"Terima kasih sayang...Akhirnya kau membuka pahamu untukku." Ucap George dengan senyum merekah.
Pikiran George sudah tertutup oleh kabut gairah. Iapun menumpahkan semua gairahnya dengan terus mencium seluruh tubuh Mira dengan kasar sehingga meninggalkan bekas berwarna merah disana.
"Oh sayang. . . Aku sudah tidak tahan lagi." Ucap George dengan suara parau.
Mira menggelengkan kepalanya disertai airmata yang terus mengalir deras membasahi tubuhnya.
"Kau benar - benar brengsek." Ucap Mira dalam tangisnya.
George tidak peduli dengan ucapan Mira.
Dengan kedua tangannya dia membuka paha Mira sehingga dia bisa melihat dengan jelas kewanitaan Mira.
"Indah...Sangat Indah." Puji George sambil tersenyum lebar.
"Bersiaplah! Aku akan memasukimu sayang." George memberi aba - aba.
"Tunggu..." Teriak Mira.
"Aku takut."
"Apa??? Demi langit dan bumi, bercinta tidak akan membuatmu mati sayang. Percayalah kau akan menikmatinya. Aku akan memuaskanmu." Ucap George bersemangat.
George kemudian mendorong miliknya yang sudah berdiri tegak itu, mencoba memasuki inti Mira. Mata Mira terbelalak saat ia merasakan pusaka milik George menerobos miliknya.
"Mengapa sangat sempit ? Apa kau masih perawan ?" Tanya George.
Mira tidak menjawab pertanyaan George. Ia hanya mengangguk pelan karena ia sedang berusaha menahan perih dipangkal pahanya.
Rasa bangga menyelimuti diri George. Selama ini ia tidak pernah bercinta dengan perawan. Juga ada rasa syukur dihatinya sebab dia adalah yang pertama bagi Mira.
"Aku bahagia bahwa aku adalah yang pertama untukmu." Sekarang kau milikku Mira." Ucap George penuh penekanan.
"Aku akan memasukimu lagi. Tapi tenanglah sayang. Ini hanya akan sakit sebentar. Setelah itu kau akan terbuai dengan kenikmatannya." George mencoba menenangkan Mira.
George kembali mendorong miliknya ke gua Mira. Dengan hentakan kuat George berhasil menembus penghalang yang ada didalam inti Mira.
"Aaaaaghhhhh . . . . . .!!! Mira menjerit kesakitan disertai airmata yang kembali mengalir dari kedua matanya.
Tanpa disadari Mira mencengkram punggung George begitu kuat sehingga membuat punggung pria itu terluka.
Melihat raut wajah kesakitan Mira , George kembali memberikan rangsangan pada wanitanya dengan mencium bibir dan tubuhnya lembut.
"Aku akan pelan - pelan sayang." Bisik George ditelinga Mira.
Setelah Mira cukup rilex, George mulai menggoyangkan miliknya itu didalam inti Mira secara perlahan.
Suara desahan mulai keluar dari bibir Mira, tapi suara itu seperti tertahan.
"Jangan ditahan. Mendesahlah untukku Mira. Sekarang kau milikku, hanya milikku." Ucap George dengan nafas terengah - engah.
"ahhhh....ahhh...." Mira terkejut mendengar suara desahannya sendiri.
Gila . . . Ini benar - benar gila! Batin Mira.
"Bagus sayang." Mendesahlah dan panggil namaku." Perintah George.
"Ahhh...ahhhh....ahhhh....George...
Ini begitu nikmat..." Ucap Mira dengan nafas menderu.
"Oh Tuhan...Apa yang terjadi padaku ? Apa aku sudah berubah menjadi jalang ?" Batin Mira.
George semakin mempercepat gerakan maju mundurnya hingga suara erangan kepuasan terdengar dari bibirnya.
"Aku keluar sayang." Ucap George lega.
Keduanya larut dalam percintaan hingga mereka melakukannya berkali - kali sampai mereka kehabisan tenaga. Tubuh Mira seakan menjadi candu bagi George sehingga tanpa ia sadari ia melakukannya tanpa pengaman.
Setelah pergulatan yang panjang, Mira menurunkan kakinya hendak berjalan ke kamar mandi.
"Awh...." Teriak Mira sambil menutup matanya.
"Kamu mau kemana sayang ?" Tanya George.
"Aku harus ke kamar mandi. Aku harus membersihkan tubuhku. Ini begitu lengket." Jawab Mira.
"Baiklah, biarkan aku membantumu." Ucap George.
George kemudian mengangkat tubuh mungil Mira, membawanya ke kamar mandi.
Mereka berdua membersihkan tubuh mereka yang begitu lengket karena pergulatan cinta yang mereka lakukan.
Setelah selesai, George kembali mengangkat tubuh Mira, membaringkan tubuh itu diatas ranjang.
Mira kembali menurunkan kakiknya. Ia merangkak mengambil pakaiannya yang berserakan dilantai.
Melihat itu, George sedikit kesal.
"Apa lagi yang kau lakukan ?" Tanya George.
"Aku harus pergi dari sini." Ucap Mira dengan suara bergetar.
"Apa kau sudah tidak waras ? Apa kau tidak tahu jam berapa sekarang ?"
"Sepertinya ini sudah subuh." Jawab Mira dengan suara pelan.
"Sekarang waktunya tidur, bukan lalu lalang dijalan. Tidurlah disini." Perintah George.
"Tapi . . .
"Tidak ada tapi - tapi. Apa kau mau pergi dengan keadaan seperti itu ? Lihat pakaianmu. Apa kau akan keluar dengan pakaian rusak seperti itu ?" Kata George tegas.
"Salah siapa aku jadi seperti ini?" Teriak Mira dengan airmata yang kembali mengalir.
George menghampiri Mira dan memeluknya erat.
"Sayang maafkan aku. Ku mohon tidurlah disini." Pinta George.
"Tidak. aku tidak mau." Teriak Mira.
"Jangan membantah Mira." George memperingatkan.
"Tidur disini atau aku akan melakukannya lagi." Ancam Geroge.
Mata Mira melebar.
"Yang benar saja ? Melakukannya lagi ? Apa kau tidak lelah ? Apa kau ingin membunuhku ?" Batin Mira.
"Baiklah aku akan tidur disini."
Dengan berat hati Mira melangkahkan kakinya perlahan - lahan menuju ranjang.
Mira merebahkan tubuhnya membelakangi George dan langsung menutup mata. Tidak butuh waktu lama, Mira langsung terlelap.
George mendekati Mira dan memandanginya yang terlihat begitu cantik saat tidur.
"Aku tidak percaya. Wanita yang kusangka jalang ternyata benar - benar wanita suci.
Aku memang pria brengsek. Aku memang bersalah. Tapi aku tidak menyesal.
Semoga kau bisa memaafkanku Mira." Batin George.