
Karena Regan tak bisa menelpon Renatta, tak bisa menghubungi wanita itu lewat media sosialnya juga. Tak lagi bisa datang mengunjungi Renatta di rumah nya, ia pun datang ke perusahaan Devan. Karena Devan lah yang banyak tahu tentang Renatta. Siapa tahu laki-laki itu diberitahu tentang kemana Renatta pergi bersama keluarganya.
"Masuk!" ucap Devan ketika ada orang yang mengetuk pintu ruangannya.
Regan pun masuk dengan sangat cool, tapi penuh harap pada Devan.
"Tumben sekali kamu datang kesini? Ada keperluan apa?" tanya Devan.
"Dimana Renatta? Kamu pasti tahu kan dimana keberadaan dia?"
Devan tampak menghela napasnya. Lalu melepaskan kacamata yang dipakainya.
"Jangankan memberitahu keberadaan dia. Aku saja tidak tahu Renatta ada dimana. Dia memblokir nomorku," jawab Devan.
"Jangan bohong! Kamu pasti diminta Natta untuk menyembunyikan keberadaannya kan?" tanya Regan lagi yang tidak percaya.
"Asal kamu tahu, setelah pertemuan terakhir di London waktu itu, aku tak pernah berkomunikasi lagi dengan Natta."
"Haish! Kemana sih dia? Kenapa hilang seperti di telan bumi!"
Regan benar-benar frustasi. Ia pun keluar dari ruangan Regan dan terus berpikir siapa yang bisa ia datangi lagi selain Devan. Kemudian nama Grace muncul di dalam pikirannya. Karena wanita itu tak berada di kota yang sama, Regan pun menghubungi Grace lewat telepon.
Sambil berjalan menuju ke parkiran, Regan terus menelpon Grace sampai diangkat. Sudah berkali-kali dicoba tapi tetap tidak diangkat. Kesal, itulah yang Regan rasakan.
Sesampainya di dalam mobil, Regan mencoba menghubungi Grace lagi, dan akhirnya diangkat juga.
"Kamu Pasti tahu keberadaan Renatta kan? cepat kasih tahu aku!" ucap Regan yang langsung menodongkan pertanyaan memaksa itu.
"Apa sih? Kenapa tiba-tiba nanya Renatta ke aku? Kamu kan kekasihnya. Aku mana tahu Renatta dimana!" jawab Grace yang pura-pura tidak tahu karena itu semua keinginan dari Renatta.
"Tolong jangan bohong Grace! Karena cuma kamu satu-satunya orang yang dipercayai Renatta selain Devan. Devan tidak tahu apapun. Itu artinya, kamu tahu sesuatu," kekeh Regan.
"Aku tidak tahu Re. Kamu cari tahu sendirilah," ucap Grace.
"Kalau begitu, bantu aku untuk menemukan siapa pelaku dari penyebar berita hoax itu. Aku tidak bisa diam saja melihat Renatta dijadikan kambing hitam terus. Kamu kan pintar dalam hal meretas sistem," ucap Regan meminta bantuan dari Grace.
Grace lalu terdiam, antara mau bantu dan tidak. Di dalam hatinya, sebenernya ia dari kemarin-kemarin sudah gatal ingin membalas orang-orang yang membuat Renatta menderita, tapi Renatta selalu saja menolaknya. Karena Renatta takut kakaknya akan dimusuhi dan dibenci orang-orang. Maka dari itu, Grace mencoba mengerti akan keputusan yang diambil oleh Renatta meskipun keputusan itu membuat Renatta yang jadi korbannya.
"Grace! Halo! Kamu mau bantu kan? Kalau kamu tidak mau bantu, aku akan cari tahu sendiri! Aku akan menemukan siapa dalangnya dan siapa wanita yang sebenarnya ada di foto itu!"
"Jangan!"
Grace secara spontan langsung melarang. Regan jadi curiga kalau Grace mengetahui sesuatu.
"Grace? Kamu pasti tahu sesuatu kan? Katakan Grace!"
Grace bungkam dan tak bicara lagi. Ia malah langsung mematikan sambungan telepon dari Regan.
"Benar-benar mencurigakan."
Regan langsung tancap gas untuk kembali lagi ke kantornya. Di perjalanan ia selalu memikirkan tentang larangan dari Grace. Regan sangat yakin Grace tahu dimana Renatta dan tahu sesuatu yang disembunyikan oleh Renatta juga.
*
*
Malam harinya, sambil melihat ke arah jendela, Regan merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Tak ada lagi yang berisik. Tak ada lagi yang ia marahi, tak ada lagi yang ia repotkan dan tak ada lagi senyum manis yang terlihat.
"Dasar wanita kejam! Setelah membuat aku sekarat! Dia tega sekali meninggalkan aku!"
Regan benar-benar marah dan kesal. Tapi ia tetap tak bisa membenci, ia malah rindu.
Saking rindunya, Regan pun bermain sosial media dan mengunjungi akun milik Renatta. Ia melihat foto-foto Renatta yang tersenyum bahagia. Ia benar-benar menantikan Renatta membuat story lagi dan ingin membalasnya. Namun yang ia dapatkan malah sebuah pesan dari Amanda. Padahal ia sudah berharap kalau pesan itu dari Renatta.
Sudah kesal, kini Regan dibuat kesal lagi dengan Amanda yang masih saja membenci Renatta. Bahkan wanita ini tak sedikit pun merasa bersalah baik padanya atau pun Renatta yang telah dirugikan. Regan benar-benar tidak habis pikir dengan dirinya sendiri yang dulu pernah sangat mencintai Amanda sampai apapun yang diinginkan wanita itu selalu ia turuti. Tapi, kini ia telah sadar, siapa Amanda yang sebenarnya. Hanya pura-pura lugu. Itulah pikirnya sekarang.
Regan pun membiarkan saja pesan itu tanpa membalasnya.
Ketika melihat Grace sedang online, Regan pun mengirimkan pesan ke media sosial Grace.
Kalau kamu tidak mau cerita! Aku akan cari tahu semuanya sendiri! Aku akan bongkar semuanya sampai ke akar-akarnya.
Tak lama kemudian, pesan tersebut dibalas oleh Grace.
Telepon aku pukul 10 malam nanti. Sekarang aku masih di luar, tidak ada waktu untuk membalas mu.
Regan pun akhirnya menuruti keinginan Grace. Ia benar-benar menunggu waktu sampai menunjukkan pukul 10. Ketika sudah tiba waktunya, Regan pun langsung menelpon Grace.
Terdengar suara tawa kecil dari sambungan telponnya.
"Rupanya kamu sekhawatir dan penasaran sekali dengan Renatta. Apa Renatta benar-benar sudah jadi orang istimewa dalam hidupmu?" tanya Grace.
"Jangan banyak tanya! Jelaskan saja apa yang kamu tahu!"
"Jawab dulu pertanyaanku tadi. Baru aku bisa menentukan mau memberitahumu atau tidak."
Regan tampak kesal. Tapi ia tak bisa lagi menghindar, ia harus menjawab pertanyaan dari Grace tadi.
"Iya, Renatta sudah jadi orang istimewa bagiku. Puas kan?"
"Hahaha. Puas sekali, akhirnya aku bisa mendengarkan pengakuanmu itu. Dengan begitu aku percaya kalau kamu pasti akan membantu Renatta."
"Dimana dia sekarang? Kamu sembunyikan dimana dia?" tanya Regan.
"Aku tidak pernah menyembunyikannya, dia sendiri yang memilih untuk pergi. Sebenarnya aku tidak boleh mengatakan ini padamu. Tapi karena aku tahu kalau kamu begitu mencintai Renatta. Aku yakin kamu bisa membuat Renatta kembali seperti dulu lagi."
Grace pun menceritakan semua yang ia ketahui ke Regan. Dari mulai kakaknya Renatta yang hamil di luar nikah. Renatta dijadikan kambing hitam karena si mantan kekasih kakaknya yang tidak terima karena digugat cerai oleh istrinya. Sampai Renatta yang memilih untuk pergi dari kota itu ke kota yang sama dengannya. Grace juga menceritakan tentang tawaran bantuan darinya untuk menguak semua fitnahan itu, tapi Renatta menolak, karena takut kakaknya akan diberitakan dan diketahui oleh publik. Satu fakta lagi yang Grace tahu, kakaknya Renatta sempat berusaha bunuh diri. Untungnya saja bisa diselamatkan. Entah bagaimana kalau tidak tertolong, mungkin Renatta tidak memiliki semangat untuk menjalani hari-harinya lagi. Grace pun memberitahukan alamat tempat tinggal Renatta yang sekarang.
Mendengar penjelasan itu semua dari Grace, Regan hanya bisa terdiam. Pantas saja Renatta memilih diam. Rupanya ia sedang melindungi kakaknya. Ia rela dijadikan kambing hitam demi kakaknya.
"Kalau kamu ingin membantu Renatta, mulailah membereskan si Gio itu. Buat dia menyesal dan benar-benar bercerai dengan Karen. Orang yang menyebarkan berita hoax itu adalah Gio. Renatta tahu dan dia diam saja. Ia memilih untuk pindah ke tempat baru dengan anggapan bisa memulai kembali kehidupannya. Tapi ia lupa, kalau tidak semua hal bisa dimulai kalau hal yang sebelumnya belum usai."
"Tidak perlu menggurui ku, tanpa kamu perintahkan pun. Aku akan mencari kebusukan dan kejahatan Gio sampai ke akar-akarnya. Aku akan buat dia menyesal. Aku juga tidak akan membiarkan foto kakaknya Renatta terpampang di media sosial. Tenang saja."
"Baguslah kalau begitu, sebenarnya aku gatal sejak kemarin ingin membantu Renatta tapi selalu ditolaknya. Ingin bantu diam-diam, pastinya Renatta akan tahu dengan sendirinya kalau akulah orang yang membantunya. Tapi karena ada kamu, aku jadi lega. Aku serahkan semuanya ke kamu. Satu hal lagi, jangan menunjukkan dirimu dulu di hadapan Renatta kalau kamu belum menyelesaikan misi itu. Yang ada nantinya Renatta malah jadi semakin dikira pelakor oleh orang-orang. Karena kemarin-kemarin disini pun Renatta dilabrak orang. Tapi sudah aku atasi dengan memecat orang tersebut."
Regan ingin sekali marah dan kesal ke Grace karena melarangnya untuk bertemu dengan Renatta. Padahal ia sudah tahu dimana Renatta tinggal sekarang.
"Jangan sekalipun kamu melanggarnya. Ini semua demi kebaikan Renatta, mengerti?"
"Huh! Menyebalkan sekali! Tidak tahu apa kalau orang lagi rindu itu seperti apa!"
"Bodo amat! Aku tidak peduli! Mau rindu kek! Mau kangen kek! Pokonya kamu jangan temui Renatta dulu! Sebelum kamu menyelesaikan semua masalah Renatta. Pokonya jangan sampai ada berita buruk muncul lagi ke permukaan! Biar aku yang handle Renatta disini. Kamu tidak usah khawatir. Renatta aman-aman saja bersamaku!"
"Iya deh iya," jawab Regan dengan terpaksa.
"Bagus, kalau begitu kita sudahi saja telponnya. Kamu sudah mendapatkan apa yang kau mau. Sekarang tinggal menjalankan saja apa yang seharusnya kamu lakukan. Bye!"
Sambungan telepon pun langsung ditutup begitu saja oleh Grace. Tapi Regan tidak kesal, ia malah sedang memikirkan cara di kepalanya untuk membuat perceraian Gio dan Karen berjalan dengan mulus.
*
*
TBC