Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
MASA LALU



Kelelahan hari ini mulai terasa, jadi Mira bergeser ke tempat tidur untuk mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Namun George masih tetap cerewet dengan kata - kata romantisnya. Mungkin sebelum ini, pria itu sudah belajar bagaimana cara meluluhkan hati wanita dengan kata - kata.


"Ku harap kita bisa sama - sama saling mencintai." Ucap George lembut.


"Semoga."


George menatap Mira dalam, seolah ada sesuatu yang dipikirkannya.


"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Mira.


"Tidak. Hanya saja, aku rasa kau perlu tahu tentang masa laluku."


"Itu pemikiran yang bagus. Menceritakan masa lalu merupakan permulaan yang baik dalam menjalin sebuah hubungan."


Sisi penasaran Mira yang cukup besar membuatnya tak sabar menunggu cerita pria itu tentang kisah hidupnya di masa lalu. "Kalau begitu, katakanlah. Sekarang!"


George tidak pernah membayangkan dia harus menceritakan masa lalunya pada wanita yang masih belum dapat dipastikan apakah dia tetap akan bersama dengannya setelah ia mengetahui sikap buruk pria itu dan aturan keluarga Goldsmith. Tapi dalam hati pria itu entah mengapa ada keyakinan terhadap Mira. "Selama dua tahun terakhir ini aku tidak memiliki wanita manapun untuk disayangi selain mom dan nessa. Aku tidak ingib menyayangi seseorang begitu dalam karena itu begitu menyakitkan." Ucap George lirih.


Mira menatap prihatin."Jika kau belum siap, tak perlu dipaksakan. Kau bisa mengatakannya lain kali. Aku bisa menunggu sampai kau benar - benar siap." Ucap Mira lembut.


"Tidak ada lain kali. Aku sudah siap sekarang. Lagipula rasanya tidak adil jika hanya kau saja yang menceritakan tentang kehidupanmu."


"Bagus jika kau sadar."


George menarik napas keras lalu kembali melanjutkan. "Tiga tahun lalu aku menjalin hubungan yang serius dengan Selena , seorang wanita pekerja kantoran. Kami bertemu pertama kali di pesta perayaan ulang tahun perusahaan tempat kerjanya, dimana perusahaan itu adalah milik Lionel temanku. Kami mengobrol ringan dan kami mendapati bahwa kami cocok dalam segi pemikiran dan hal lainnya. Mulai malam itu kami memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih."


George kembali menarik napas. "Beberapa bulan kemudian, aku membawanya bertemu keluargaku. Namun mom tidak begitu menyukainya."


"Mengapa?"


"Menurut mom, Selena tidak tulus mencintaiku. Dia hanya mencintai hartaku. Dan sialnya itu benar. Bahkan tidak hanya itu. Selena bahkan mengkhianati cintaku. Dia tidak hanya berkencan denganku, tapi juga berkencan dengan pria lain, hanya untuk uang."


"George yang malang. Tapi mungkin kau pelit padanya." Kata Mira sedikit bergurau.


George tertawa kecil. "Demi Tuhan, setiap wanita yang berhubungan denganku tidak pernah kekurangan apapun, baik uang maupun barang mewah."


"Lalu mengapa dia mengkhianatimu?"


George menghembuskan napas keras. "Sebelum pertemuan kami dengan mom, aku rutin memberinya uang sebanyak sepuluh kali lipat dari gajinya setiap bulan. Lalu setelah peringatan dari mom, aku memutuskan untuk mengujinya."


"Menguji seperti apa?" Mira semakin dibuat penasaran.


"Aku tidak lagi memberikannya uang sebanyak seperti biasanya, dengan alasan perusahaanku sedang dalam masalah keuangan. Dia mengatakan bahwa dia bisa memahami. Tapi perkataannya itu tidak sesuai dengan tindakannya. Tak butuh waktu lama, dia sudah menemukan pria lain untuk memenuhi keinginannya padahal hubungan kami belum putus."


Beberapa saat Mira menatap wajah George yang tampak muram. "Kau sangat mencintainya."


"Ya. Apa kau percaya dia cinta pertamku ?"


"Benarkah?"


"Ya, aku baru mengenal cinta saat bersamanya."


Ketika tatapan Mira tak berpaling, George melihat sorot tidak percaya. Mengerti dengan situasi yang terjadi, George menjelaskan, "Tentu saja sebelum menjalin hubungan dengan Selena, aku beberapa kali berkencan. Tapi itu hanya kencan sesaat. Satu minggu adalah waktu terlama bagiku bersama dengan satu wanita. Jadi mereka bukanlah kekasihku. Hanya teman wanita biasa. Berbeda dengan Selena. Aku mencintainya sehingga kami berniat menikah. Dan selama kami bersama, aku tidak pernah mengkhianatinya."


Mira mengurucutkan bibirnya, cemberut.


Melihat wajah Mira seperti itu membuat George bertanya, "Ada apa dengan wajahmu itu?"


"Tidak apa - apa. Lanjutkan saja ceritamu. Tidak usah pedulikan aku."


George melakukan seperti apa yang dikatakan wanita itu. "Butuh satu tahun lebih untuk memulihkan perasaanku. Saat itu adalah waktu tersulit dalam hidupku." kenang George.


"Apa kau menyesal putus dengannya?"


"Tidak. Seharusnya dia yang menyesal."


"Kenapa?"


"Karena setelah kami berpisah, aku membuatnya dipecat dari pekerjaannya dan akan sulit baginya menemukan pekerjaan diperusahaan manampun."


Serangan shock mengahantam Mira. "Apa?" Teriak Mira. "George, kau pria pendendam."


George membenarkan."Betul. Aku akan membalas setiap sakit hati yang aku rasakan."


"Kau kejam."


"Tidak. Dialah yang kejam. Aku patah hati karenanya. Aku tidak akan melakukan itu padanya jika dia tidak mengkhianatiku."


"Kau bisa memilih memutuskan hubunganmu dengannya tanpa harus membuat dia kehilangan pekerjaan."


"Tidak semudah itu Mira. Aku memiliki aturanku sendiri. Terlebih terhadap para pengkhianat, aku harus menghukumnya."


Dalam hidup Mira, dia belum pernah bertemu dengan orang seperti George, Pria yang menakutkan. Kini ia ragu apakah harus belajar mencintai pria pendendam ini atau sebaliknya, memilih mengundurkan diri dari hubungan yang baru saja akan mereka bangun.


"Lau bagaimana kabarnya sekarang?"


"Aku tak tahu dan aku tak mau tahu."


Mira tidak pernah menyangka cinta pria itu berubah menjadi dendam yang membara dan perhatiannya dulu berubah menjadi ketidakpedulian yang keterlaluan. "Kau tidak mungkin serius dengan ucapanmu." Kata Mira sedikit ragu.


"Aku sangat serius. Prinsipku, yang bersalah harus dihukum. Hukumannya akan sesuai dengan kesalahan yang dibuatnya. Tapi kau tidak perlu memikirkannya. Kau bukan dia."


Mira menghembuskan napas berat, tersinggung. "Tentu saja aku bukan dia. Perempuan matrealistis dan pengkhianat tidak ada dalam kamus hidupku. Mama selalu mengajarkan aku tentang kesetiaan, baik dalam hubungan keluarga, pekerjaan, persahabatan dan cinta."


"Aku rasa aku harus berterima kasih pada mamamu."


Mira masih tertarik dengan masa lalu George, lalu dia bertanya lagi. "Apa kau memiliki kekasih lain selain Selena?"


"Mengapa? Apa mom tidak menyukainya?"


"Bukan. Malah mom sangat menyukainya. Tapi mom menuntut agar Nicole berhenti dari pekerjaannya supaya dia bisa menjalankan tugas sebagai seorang istri dengan baik. Mom menginginkan agar aku memiliki istri yang bisa mengurusku selama 24 jam."


"Dan dia menolak."


"Ya, dia bahkan menolaknya secara blak - blakkan. Wanita itu hanya peduli pada karirnya. Sebenarnya Nicole ingin menjadi presenter berita utama. Untuk mewujudkan mimpinya, dia rela berkencan dengan atasannya meski dia tahu bahwa atasannya itu sudah menikah."


"Apa kau menghukumnya ?"


"Tidak."


"Syukurlah." Namun Mira menduga - duga. "Apa kau yakin dia benar - benar menolak permintaan mommymu ? Maksudku, bisa saja itu hanya alasannya."


"Entahlah. Tadinya aku juga berpikir kalau itu hanya alasannya saja. Karena sebelum bertemu dengan keluargaku, kami beberapa kali berselisih paham."


"Aku akan sangat senang jika kau mau memberitahuku alasan kau dan Nicole berselisih paham."


George memikirkan apa yang telah terjadi antara dirinya dan Nicole. Dan, bagaimana reaksi Mira ketika mendengar perkataannya.


Hening sejenak.


"Itu sangat sulit, tapi aku tetap harus mengatakannya padamu." Ucap George sambil menghela napas panjang.


Mira meneliti wajah George. "Apa kau berlaku kasar pada Nicole ? Apa kau memukulnya ?"


"Tidak! Tidak seperti itu."


"Kalau begitu katakan apa masalahnya."


"Aku adalah pria yang suka mengatur dan mengontrol. Terhadap semua kekasihku, aku bersikap posesif. Segalanya harus sesuai aturan. Mulai dari pakaian, riasan, kegiatan sehari - hari, pergaulan, dan hal lainnya. Semua harus sesuai keinginanku."


"Apa?" Ucap Mira terkejut.


"Kau harus mengubah sikapmu itu. Jika tidak, tidak ada wanita yang mau hidup bersamamu. Oh, apa kau bisa menerima negosiasi ?" Lanjut wanita itu.


"Dulu, sama sekali tidak. Tapi sekarang, aku bersedia."


Mira sepertinya bingung mesti berkata apa untuk menanggapi. Di satu sisi dia senang bahwa pria itu mau jujur dengan masa lalunya dan dengan sikapnya. Tapi disisi lain Mira memikirkan hidupnya yang pasti akan tertekan saat bersama pria itu. Mira bertanya dengan ragu, "Apa kau mau berubah untukku dan hubungan kita?"


"Iya. Tapi dengan satu syarat."


"Demi Tuhan, apakah harus seperti itu ?"


"Tentu."


"Apa syaratnya?"


"Kau harus berhenti bekerja, paling lambat bulan depan karena kita akan segera menikah."


Ekspresi wajah Mira menunjukan dia tengah menyerap perkataan George barusan. Mira menyunggingkan senyum yang membuat George meleleleh. Wanita itu kemudian mencondogkan wajahnya tepat didepan wajah pria itu lalu bergumam, "Tidak masalah. Asal kau memberiku jatah uang bulanan yang banyak." Mira terkekeh. "Tidak, tidak. Aku hanya bercanda. Aku berharap kita bisa terus saling terbuka sehingga kita bisa saling memahami dan menerima." Ucap Mira serius.


Sambil menatap mata wanita itu, George tersenyum lebar. "Aku akan memenuhi segala keperluanmu. Yakinlah, kau takkan kekurangan apapun."


Sungguh menakjubkan bahwa meski baru mengenal Mira beberapa hari, George sudah dapat bersikap terbuka. Dia bisa berkata jujur tentang masa lalunya dan sikap buruknya. Bahkan terlebih daripada itu, dia bersedia berubah. Bersama dengan Mira, George merasa nyaman sehingga kurang dari seminggu ia mengenal wanita itu, namun dia sudah...


Jatuh cinta pada wanita itu.


George tak dapat menahan diri untuk menyentuh Mira. Didekapnya wanita itu lalu segera memberikan ciuman lembut. Namun tiba - tiba terlintas pada pikirannya tentang perbincangan antara Mira dan Lisa. "Ngomong - ngomong, apa kau bercerita pada Lisa tentang aku, dan tentang kita ?"


"Tentu saja. Bahkan pada semua teman kantorku, aku mengatakan bahwa kita sedang dekat."


"Tapi, apa kau mengatakan tentang aku memerkosamu?" George seperti menahan napas saat bertanya. Penyesalan dimata Mira menjawab pertanyaan pria itu."Ya Tuhan..." George memijit dahinya yang tidak sakit. "Sebegitu percayakah kau pada teman - temanmu itu ?"


"Tidak pada semua. Hanya pada Lisa, karena dia bukan sekedar teman biasa. Dia adalah sahabatku. Aku percaya padanya, dan dapat kupastikan kau aman."


"Aku tidak mengkhawatirkan diriku, tapi aku mengkhawatirkan kamu, sayang. Bagaimana kalau dia tidak bisa menyimpan rahasiamu ?"


"Terima kasih, kau perhatian sekali. Tapi percayalah, dia sahabat yang baik. Selama delapan tahun kami berbagi rahasia. Jadi semua akan baik - baik saja. Oh, dan sebenarnya dia menyuruhku menjelaskan apa yang terjadi waktu itu, malam dimana Arifin menginap di apertemenku."


"Oh ya? Sebenarnya aku juga penasaran tentang itu."


"Begini, setelah aku dan Arifin menyelesaikan pertemuan denganmu, aku menghubungi Lisa dan mengatakan bahwa Arifin mabuk. Pria itu memiliki kebiasaan buruk saat mabuk. Dia bisa membuat kegaduhan dengan hal - hal yang memalukan yang biasa dilakukannya." Mira menggelengkan kepala ketika mengenang.


Mulut George menganga kaget membuat Mira tetawa. "Kau pasti akan lebih terkejut jika melihat tingkahnya saat dia mabuk." lanjut wanita itu.


"Ceritamu membuatku penasaran. Itukah alasan dia menginap disini?" Tanya George.


"Ya, salah satunya. Aku ingin membawa Arifin pulang ke rumahnya tapi Lisa tak mengijinkannya karena orang tuanya kebetulan berkunjung dan sekalian menginap dirumah mereka. Sangat tidak mungkin Arifin pulang dengan keadaan seperti itu sebab selama ini Lisa dan Arifin menutupnya rapat. Jadi kedua orang tua Lisa sama sekali tidak mengetahui sisi gelap Arifin."


George diam untuk sesaat, mencerna perkataan Mira. "Apa orangtua Lisa tidak menyukai Arifin." Tanya pria itu.


"Tepat sekali. Kedua orangtua Mira tak begitu menyukai Arifin. Terlebih mamanya."


"Jadi sebenarnya kau membantu mereka berdua."


"Ya."


"Oh, sial. Aku terlalu berpikir negatif tentang dirimu. Maafkan aku." Kenyataan seolah menampar pria itu.


"Jauh dilubuk hatiku, aku telah memaafkanmu." Ucap Mira sambil menyunggingkan senyum yang bisa menenangkan hati George.


Kehangatan menyelimuti George dan Mira ketika pria itu memeluk erat tubuh Mira.


Kesalahpahaman telah membuat mereka saling jatuh cinta.