Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 42 - Mengetahui kebenaran



Di pusat perbelanjaan, Regan memilih pakaian untuk Mommy nya. Ia tidak ingin datang tanpa membawa apapun ke rumah Mommy nya.


"Ibu nya Bapak mau dikasih pakaian yang seperti apa?" tanya Renatta.


"Yang simpel dan tidak banyak motifnya. Mommy nggak suka yang terlalu banyak warna," jawab Regan.


"Mau saya bantu Pak?"


"Boleh, cari yang ld nya 100. Ya intinya badan Mommy lebih besar dan lebih tinggi dari kamu."


"Baik Pak."


Renatta pun mulai mencari pakaian yang sekiranya cocok untuk ibunya Regan. Yang simpel tapi tetap elegan. Sampai matanya pun tertuju pada sebuah dress cantik satu warna dan panjangnya mungkin kurang lebih 100 cm an. Renatta langsung menunjukkannya ke Regan.


"Pak ini gimana?" tanya Renatta.


"Eum, boleh. Bagus itu. Pegang dulu. Aku mau cari yang lain lagi."


"Baik Pak."


Karena pakaian untuk Mommy nya sudah nemu. Regan pun mencari sweater yang Amanda inginkan. Namun, sudah berkali-kali berkeliling di toko itu, Regan masih belum menemukannya juga. Ia pun berniat mencari di tempat lain.


Regan membayar pakaian untuk Mommy dulu kemudian mengajak Renatta untuk ke pusat perbelanjaan lainnya.


"Kita mau cari apa lagi Pak?" tanya Renatta.


"Cari sweater."


"Buat ibu Bapak lagi?"


"Bukan, itu titipan Amanda."


Renatta langsung memperlihatkan wajah tidak sukanya. Sudah sejauh ini saja, Amanda masih selalu meminta bantuan Regan. Bahkan anehnya Regan tak menolaknya. Memang belum bisa dipercaya kalau Regan sudah move on.


"Oh," jawab Renatta.


Regan pun menunjukkan foto sweater yang diinginkan Amanda agar mereka cepat menemukannya.


Mereka berdua pun terus mencari ke berbagai toko. Tapi tidak ditemukan sama sekali.


"Pak, masih mau tetap cari? Sepertinya sweater yang Amanda inginkan sudah sold out."


"Sepertinya belum. Barusan aku cari di internet, katanya di sekitar sini ada yang jual."


"Syukurlah kalau begitu, ayo cari lagi Pak. Biar cepat pulang ke hotel."


Regan mengangguk. Ia jalan lebih dulu daripada Renatta. Di saat itu jalanan terasa ramai oleh banyaknya pengunjung. Renatta jadi kehilangan jejak dari Regan. Ia terus berjalan kesana kemari sambil terus bertanya ke orang-orang tentang ciri-ciri laki-laki seperti Regan. Namun tidak ada yang tahu.


Regan sudah sampai di toko yang ada sweater seperti yang Amanda inginkan. Ia membelinya dan baru sadar ketika Renatta tak lagi mengikutinya. Setelah menyelesaikan pembayaran, Regan pun keluar dari toko untuk mencari Renatta. Ia khawatir kalau Renatta kenapa-kenapa. Pasalnya, ini pertama kalinya Renatta berada di negeri orang lebih tepatnya di benua Eropa. Apalagi bahasa inggris Renatta yang tidak terlalu fasih. Wanita itu hanya tahu apa yang diucapkan orang, tapi kalau untuk dirinya yang bicara ia masih harus mikir dulu.


Renatta terus mencari Regan tapi belum ditemukannya. Ia merasakan ada sesuatu yang hendak menyentuh tas nya. Rupanya ada dua orang pencopet yang merebut tas nya secara paksa. Tas berhasil direbut dan Renatta pun berlari mengejar dia pencopet itu sampai ia terjatuh di jalan dan berdarah di lutut. Bahkan sepatu hak tingginya saja sampai patah karena saking kencangnya ia berlari. Saking paniknya, Renatta sampai tidak sadar kalau tumitnya juga rupanya berdarah.


Renatta menangis disana sambil terus meminta pertolongan. Namun, tak ada orang yang membantunya. Ia merasa sendirian, sama seperti dulu. Semua orang tak ada yang memihaknya.


*


*


Regan masih terus mencari, ia pun ingat sesuatu. Kalau Grace selain seorang desainer ternama ia juga memiliki kemampuan sebagai hacker. Regan meminta bantuan ke Grace untuk mencari Renatta.


"Apa kamu bilang! Renatta menghilang? Kok bisa?"


Regan pun menceritakan bagaimana kejadiannya. Grace jadi kesal sendiri.


"Regan! Kapan kamu sadar sih kalau Amanda itu bukan wanita baik. Dialah yang menghancurkan mimpimu. Dia yang merusak dan melempar laptop mu waktu itu."


"Tidak ada buktinya. Udah lah jangan bahas yang sudah berlalu. Aku menelpon kamu untuk bantu mencari posisi Natta sekarang."


"Tetap saja meskipun sudah berlalu aku ingin kamu melek. Aku ingin kamu tidak memandang dan melihat Renatta sebagai orang jahat lagi. Asal kamu tahu ya! Renatta sengaja mengakui kalau itu adalah salahnya karena tahu kalau kamu memang tidak akan percaya padanya juga untuk menebus kesalahan dia ke Amanda. Tapi wanita itu malah terus memberikan kamu virus agar tetap membenci Renatta. Kamu bilang tidak ada bukti kan? Ada. Sidik jari Amanda ada di laptop mu. Kamu dulu terlalu cinta sama Amanda, sampai kamu takut pada kebenaran kalau memang Amanda lah yang melakukan itu semua. Makanya kamu selalu tidak mau mendengarkan sampai akhir apa yang ingin aku katakan."


Regan jadi membaca isi keseluruhan buku diary itu. Sampai di sebuah halaman yang isinya.


Mama, Papa, Natta sudah berubah. Tapi tidak ada seorang pun yang percaya. Sampai akhirnya Devan dan Grace datang dan memihak sama Natta.


Tapi ada suatu kejadian yang melibatkan Natta. Amanda menghancurkan laptop Regan, orang yang Natta sukai. Dia tidak percaya kalau bukan Natta yang menghancurkannya. Sampai pada akhirnya Natta memilih mengaku saja sebagai pelaku untuk melindungi Amanda sekaligus menebus sedikit kesalahan Natta.


Setelah itu, semua orang membenci Natta yang wanita jahat. Satu tahun terakhir di sekolah menjadi hal terburuk yang sampai saat ini tidak bisa Natta lupakan.


Regan lemas dan ia pun sampai terduduk di jalanan. Ia benar-benar merasa bersalah ke Renatta. Karena dirinya yang keras kepala dan tidak mau mencari tahu segala kebenaran yang ada di masa lalu. Renatta jadi terus merasa bersalah padanya.


"Kenapa diam sih? Apa kamu sedang meratapi semua kesalahan kamu sendiri? Sudah sadar siapa yang iblis? Regan! Woy!" Grace berteriak karena Regan hanya diam saja.


"Grace, aku sangat bersalah ke Natta."


"Ya memang, makanya kamu juga harus minta maaf padanya. Kamu sering menuduhnya berbuat jahat. Padahal dia sudah berubah sepenuhnya."


"Grace, aku harus apa? Sekarang aja Renatta belum ditemukan. Ini semua salahku, karena tidak mengawasinya dan menjaganya dengan baik."


"Tuh nyadar. Sabar! Aku lagi usaha ini. Aku lagi meretas semua cctv di sekitar area pusat perbelanjaan."


"Iya! Cepetan! Jangan lama-lama!"


"Hey! Kenapa jadi marah-marah sih! Harusnya aku yang marah sama kamu! Sahabatku tercinta menghilang gara-gara kecerobohanmu!"


"Iya, iya, maaf. Gimana udah nemu?" tanya Regan lagi sambil terus melihat ke sekelilingnya, siapa tahu Renatta telah kembali.


"Ketemu. Tapi aku cuma menemukan tempat terakhir Renatta pergi. Dia dicopet orang dan mengejar kedua pencopet itu sampai di titik yang tidak ada cctv nya. Kemungkinan besar Renatta ada di daerah itu."


"Kirimkan lokasinya, temukan pencopetnya sampai ketemu."


"Oke, untungnya aja tadi wajah pencopetnya sempat kelihatan. Aku akan mencarinya sampai ketemu. Sekarang kamu pergi aja ke tempat Renatta. Semoga aja dia masih ada disana. Awas aja kalau nantinya Renatta ketemu kamu masih semena-mena padanya. Aku akan membawa Renatta keluar dari perusahaanmu!"


"Iya, iya, aku akan memperlakukannya dengan baik."


"Bagus!"


Sambungan telepon pun berhenti, Regan pergi ke titik lokasi yang diberitahukan oleh Grace.


*


*


Karena kesakitan, Renatta jadi tidak bisa berjalan dan malah terduduk disana terus sambil menangis. Sudah berusaha berdiri pun tapi tetap tidak bisa.


Apalagi situasi disana yang sudah mulai sepi. Hanya ada dirinya seorang disana. Renatta jadi merasa, ini semua adalah karmanya yang masih belum berakhir.


"Papa, Natta sudah berubah. Natta bukan wanita jahat lagi. Tapi kenapa Natta terus mendapatkan karma seperti ini? Apa Natta tidak pantas dimaafkan? Apa Natta memang harus jadi sengsara di negeri orang, huhu."


Renatta terus menangis. Ia hanya bisa berharap ada orang baik yang menolongnya dan mengantarkannya pulang ke rumah. Regan mungkin tidak akan sadar kalau dirinya tidak ada di sekitar Regan karena laki-laki itu sedang mencari barang penting untuk Amanda.


Sampai pada akhirnya, ada orang yang mengulurkan tangannya. Ketika Renatta mendongak, orang itu adalah Regan. Regan sudah berada disana dan mendengarkan ucapan Renatta tadi. Melihat dan mendengar betapa rapuhnya Renatta, ditambah air matanya yang mengalir begitu derasnya. Regan merasakan sakit di dadanya. Seperti tercabik-cabik.


"Bapak? Bapak mencari saya?"


"Menurutmu?"


Janjinya tidak akan semena-mena ke Renatta lagi dengan Grace. Tapi namanya juga Regan. Ia gengsi jika tiba-tiba saja berubah.


Renatta tersenyum meski tangisnya masih terus mengalir. Doanya terkabulkan yang meminta orang baik untuk menolongnya.


*


*


TBC