
πππ Happy reading for you all...
.
.
.
Usai menyelesaikan pembicaraan mereka, Mira segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Stella ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Tidak seperti biasanya, kali ini Mira menghabiskan waktu cukup lama berada dalam kamar mandi. Dia tidak hanya membersihkan tubuhnya tetapi dia juga berniat membersihkan pikirannya. Dia butuh berpikir jernih untuk menghadapi kehidupannya setelah ini. Setengah jam kemudian Mira telah selesai dengan ritual mandinya. Lalu dia bergegas ke kamar dan mengganti pakaiannya. Usai berpakaian lebih santai dengan jeans pendek dan kaus, Mira membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kemudian ia melamun. Kembali terbesit dalam pikirannya tentang apa yang terjadi hari ini. Ya, hari ini dia dan Stella menghabiskan banyak waktu untuk berbicara. Untungnya pembicaraan mereka dapat selesai dengan baik, meskipun dia harus menyetujui kesepakatan yang dibuat Stella. Setidaknya hari ini dirinya selamat.
"Kau sudah tidur?" Tanya Stella sembari mendorong koper miliknya dan meletakkan koper itu di samping tempat tidur.
Suara itu membawa Mira pada kesadaran. "Tidak ma. Mira belum tidur."
"Kalau begitu ayo kita makan." Ajak Stella. Meski frustasi dengan kelakuan Mira, tapi Stella tetap menaruh perhatian pada Puteri semata wayangnya.
Sambil menoleh ke arah Stella Mira berkata, "Baiklah ayo kita makan."
Selagi mengatur koper agar tetap terlihat rapih didalam kamar, Stella melirik sekilas pada sehelai kertas yang berada di atas nakas. Karena begitu penasaran Stella mengambil kertas itu dan membacanya. "Ini apa?" Stella tampak ragu. Beberapa detik kemudian wanita itu telah mengerti lalu kembali berkata, "Demi Tuhan, mama tidak pernah melihat yang seperti ini." Kata Stella dengan ekpresi terkejut.
"Memangnya itu apa ma?"
"Lihatlah." Stella memberikan kertas itu kepada Mira.
"Ya Tuhan..." Mira tampak begitu terkejut. "Apa George memberikan ini untukku? Tapi untuk apa? Apa dia tidak akan kembali lagi?"
"Kemungkinan besar."
"Mama..."
"Itu sangat mungkin Mira. Mungkin sebenarnya dia lebih memilih memberikan uang padamu daripada bertanggung jawab. Cek satu miliar itu mungkin adalah hadiah perpisahan darinya."
"Tidak mungkin."
"Lalu untuk apa dia memberikan kamu uang sebanyak itu? Apa karena dia mencintaimu? Apa karena dia mempedulikanmu? Ayolah Mira, jangan terlalu banyak berharap pada pria seperti dia."
"Mira tidak akan menggunakan uang ini sebelum Mira tahu alasan dia memberikan ini."
"Tentu saja. Kamu tidak harus menggunakan uang itu. Itu bukan jumlah yang sedikit. Menurut mama, apapun alasannya kamu harus mengembalikan uang itu. Kita memang miskin, tapi setidaknya kita masih memiliki harga diri."
"Mama benar. Tapi Mira yakin George punya alasan yang logis untuk ini."
Mira menyimpan cek satu miliar itu didalam laci. Sejujurnya hati Mira terluka jika ternyata George memandangnya sebagai wanita matrealistis.
Stella melirik jam di samping dan melihat sekarang sudah pukul tujuh malam. Pandangan Stella kembali mengarah pada Mira lalu dia berkata, "sebaiknya kita segera makan agar penyakit maag mu itu tidak kambuh."
Mira tersenyum datar ketika melihat Stella lalu ia begegas, berjalan mengikuti langkah wanita itu.
Ketika sedang makan, Mira kembali melamun. Dalam benaknya di penuhi George Goldsmith. Banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan pria itu. Tapi tentu saja sekarang ini pria itu masih di udara.
"Berhentilah memikirkan pria itu. Lihat makanan mu berjatuhan dimana - mana." Tegur Stella.
"Oh, maafkan aku." Ucap Mira sambil memeriksa piringnya. Demi mengalihkan perhatian Stella yang sedari tadi memandangi dirinya, Mira menggantinya dengan membahas tentang masakan Stella.
"Rasanya sempurna. Semakin hari mama semakin pintar memasak." Puji Mira.
"Masakan ini biasa saja. Mungkin karena kamu terlalu lama tidak makan masakan mama, maka rasanya sekarang seperti lebih enak."
"Jangan terlalu banyak bicara. Cepat habiskan makanannya."
Setelah menyelesaikan makan malam, Mira kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur. Hari ini termasuk hari yang berat dalam hidupnya.
Ketika Stella selesai membersihkan dirinya, dia berjalan ke kamar dan mendapati Mira telah terlelap. Tanpa sadar Stella kembali menitihkan airmata. "Tuhan, rasanya aku tak sanggup mengahadapi semua ini. Aku menyayanginya tapi aku membenci apa yang telah ia lakukan. Kuatkan aku ya Tuhan." Gumam Stella.
***
Keesokan pagi pada pukul lima lebih tiga puluh menit ketika Mira terbangun, di luar hujan deras. Hujannya cukup lebat dengan petir yang menakutkan. Di tempat tidur, Stella berdesir di sebelahnya dan Mira memandang mamanya yang tengah tidur. Mira merasakan dorongan untuk berkerja lebih keras lagi demi membahagiakan mamanya, papa dan juga Mark.
Mira segera bersiap - siap.
Satu jam kemudian Mira sudah berpakaian lengkap, pakaian formal berwarna hijau muda. "Sudah cukup. Pakaian sudah rapih dan riasan sudah bagus. Saatnya bekerja." Ucap Mira mantap.
Mira mengabaikan sarapannya meskipun Stella sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ketika Mira sedang mandi, Stella terbangun dan langsung ke dapur untuk memasak. Tapi entah mengapa pagi ini Mira tidak begitu berselera dengan nasi goreng dan telur mata sapi. Dia lebih memilih menghabiskan segelas susu coklat yang disajikan Stella.
"Aku berangkat ma. Sampai jumpa malam nanti."
***
Wajah Mira tampak begitu serius saat dia mengerjakan gaun nyonya Melinda. Hari ini dia harus menyelesaikannya karena setelah ini dia akan sibuk. Tapi sesungguhnya sibuk bukanlah hal yang mengganggu Mira. Pemikiran tentang jika dia benar - benar harus berhenti dari pekerjaannya, itulah yang sedari pagi tadi menghantuinya.
Dona menyaksikan keseriusan Mira menggeluti pekerjaannya. Aneh, wanita itu tampak memaksakan diri. "Sebaiknya jangan di ganggu, jika kamu tidak ingin dimarahi." Kata Dona pada Bella.
Usai menyelesaikan gaun nyonya Melinda, Mira memutuskan untuk mengantarkannya sendiri.
Saat berada di rumah nyonya cantik itu, ternyata beliau tidak berada di sana sehingga Mira hanya menitipkan gaun yang telah di bungkusnya dengan cantik kepada asisten rumah tangga lalu kemudian memberitahukannya pada nyonya Melinda melalui pesan. Dan seperti biasa, pembayaran gaunnya melalui transfer ke rekening perusahaan.
Dua jam kemudian setelah Mira selesai mengantar gaun, dirinya kini berada di parkiran apartemen nya. Karena hampir empat jam berada di mobil karena kemacetan di Jakarta , kini Mira mulai merasa lelah. Berkas akhir cahaya matahari masih yang berbayang di langit pun tak mampu mengurangi kelelahan yang dirasakan wanita itu.
Mira menghela napas dalam - dalam lalu berjalan menuju apartemennya.
Saat membuka pintu, tampak Stella tengah menikmati acara Talk Show yang tayang di TV.
"Selamat sore menjelang malam ma." Kata Mira seiring bunyi perutnya yang bergejolak.
"Mama rasa kamu lapar. Cepat bersihkan dirimu lalu makan."
Malam ini tidak ada pembicaraan yang serius antara kedua wanita itu. Tapi Mira tetap saja memikirkan George dan cek satu miliar yang di tinggalkannya.
Sebelum tidur Mira memutuskan untuk menghubungi George. Sayangnya nomor telepon George masih belum aktif. Karena itu pada akhirnya Mira memilih mengirim pesan dengan menyertakan gambar cek yang ditinggalkan George.
Hai. Apa kabar? Entah mengapa aku sudah sangat merindukan mu padahal baru sehari sejak kau pergi. Maaf, aku bukan sedang merayu mu. Aku tak pandai dalam hal itu. Kau tahu, aku berhasil meyakinkan mama tentang hubungan kita. Tapi mama dan aku berharap kamu bisa menepati janji mu untuk kembali kesini dalam seminggu. ngomong - ngomong, apa kau sengaja meninggalkan cek ini? Untuk apa? Aku berharap tidak sekalipun kau berpikir dan memandang diriku sebagai wanita matrealistis. Daripada uang, aku lebih memilih dirimu.
Mira berharap ketika George tiba di New York dan mengaktifkan ponselnya, pria itu segera membalas pesan Mira dan juga menghubungi nya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Kak, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.
Tekan Like, tuliskan komentarnya dan berikan vote nya ya.
Makasih πππππ