Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
Bab 58 - Pria Misterius



Setelah puas memeriksa semua isi ponsel Gio dan menemukan beberapa bukti. Regan meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempatnya dan ia pun pergi dari club malam itu.


*


*


Di kota yang berbeda, Renatta selalu tersenyum ketika pulang ke rumahnya. Meskipun ketika di perjalanan pulangnya, banyak sekali cemoohan dari para orang-orang yang masih membencinya. Sampai ketika, si pemilik rumah sewa mendatangi rumah yang disewakan ke keluarga Renatta dengan mengetuk pintu itu dengan sangat keras.


"Iya, sebentar."


Renatta pun membukakan pintu rumahnya dan mendapati si pemilik rumah dengan wajah yang tak bersahabat.


"Saya nggak mau tahu, kamu harus pindah dari kontrakan milik saya. Saya sudah banyak dapat protes dari penyewa kontrakan saya. Saya nggak mau orang-orang yang mengontrak di sekitar sini jadi pada kabur semua karena kamu adalah pelakor. Mereka pada takut kalau suami mereka kepincut sama kamu."


"Bu, tolong jangan usir kami. Ini sudah malam Bu, saya nggak tahu harus tidur dimana."


"Itu bukan urusan saya! Yang terpenting kamu sudah tidak akan ada disini lagi besok pagi."


"Terus biaya sewa yang sudah saya bayarkan selama 6 bulan gimana Bu? Saya kan baru dua bulanan disini Bu."


"Uang yang sudah saya terima tidak bisa ditarik kembali. Sudah jangan banyak protes! Cepat kemasi barang-barang kamu!"


Setelahnya, si ibu pemilik kontrakan langsung pergi dan membuat Renatta terduduk lemas di lantai. Ia hanya terdiam merenung sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


Tak lama kemudian, Nesha menghampiri Renatta karena mendengar suara ribut dari depan. Ia pun merasa terkejut ketika melihat adiknya yang terduduk di lantai. Samar-samar ia juga sedikit mendengar kata pelakor dari percakapan tadi. Nesha pun langsung menanyakan apa yang terjadi.


Namun tangisnya sudah tak bisa ia bendung lagi, air mata pun jatuh menetes dari matanya tanpa menjawab apapun pertanyaan dari sang kakak. Cobaan yang datang bertubi-tubi itu membuat Renatta lelah dan cape dengan hidupnya.


"Nat, kamu kenapa? Kok malah nangis?"


Lagi-lagi pertanyaan itu tak dijawab oleh Renatta.


"Pa, papa sini pa," panggil Nesha ke Papa Dewa.


Papa Dewa pun langsung muncul dari belakang dan terheran-heran melihat Renatta yang menangis sambil terduduk. Ia pun berjongkok dan menghapus air mata Renatta.


"Ada apa? Apa sesuatu yang buruk terjadi lagi?"


Renatta mengangguk. Ia pun mulai mengontrol tangisnya dan mulai berbicara dengan suara yang parau.


"Kita harus pindah rumah malam ini juga Pa. Kita diusir dari sini," lirih Renatta sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Kenapa kita diusir? Kita kan tidak membuat keributan? Kita juga tidak mengganggu ketenangan para tetangga."


Renatta bingung bagaimana cara menjelaskan masalahnya kepada sang kakak. Karena ia masih merahasiakan tentang dirinya yang difitnah itu kepada papa dan kakaknya.


Mau tak mau, ia harus menjelaskan semuanya. Agar mereka berdua tidak bingung kenapa diusir. Dengan berat hati Renatta pun menjelaskannya. Setelah menjelaskan semua itu, papanya hanya terdiam karena bisa merasakan sakit yang diderita anaknya. Sementara Nesha menangis tersedu-sedu. Semua ini ulahnya, salahnya tapi kenapa harus adiknya yang jadi korbannya. Ia merasa jadi kakak yang tidak berguna.


"Maafkan kakak Nat, maafkan kakak, hiksss ... "


"Ini bukan salah kakak, ini salah pria brengsek itu!"


"Kalau saja kakak tidak terperdaya oleh bujuk rayunya, semua ini nggak bakalan terjadi."


"Sayangnya, semuanya sudah terjadi kak. Sekarang yang paling penting kita harus menemukan kontrakan yang baru lagi dalam semalam."


Terdengar helaan napas dari Papa Dewa. Meski cobaan ini berat, tapi mereka bisa apa? Hanya bisa menerima dengan lapang dada.


Satu jam kemudian, mereka pun sudah selesai beberes dan sudah siap untuk pergi meninggalkan kontrakan. Sebelum pergi, Renatta pergi ke rumah si pemilik untuk mengantarkan kunci tempat tinggal yang ditempatinya.


Ternyata yang keluar dari rumah itu adalah suami dari si ibu pemilik kontrakan.


"Oh, kamu sudah selesai beberesnya."


"Iya Pak. Ini saya berikan kuncinya."


"Kamu masih mau tinggal disana tidak? Atau kamu mau uang sewa empat bulan kamu itu kembali? Kalau mau, kamu layani saya dulu. Saya janji akan mengembalikan uangnya begitu juga dengan bonusnya. Gimana?"


"Maaf ya Pak! Saya bukan wanita seperti itu! Terima kasih, lebih baik saya pergi dari sini!"


"Eh, tunggu dulu!" ucap si bapak sambil menahan tangan Renatta.


"Lepasin Pak!" sergah Renatta yang mencoba berontak.


"Sok jual mahal kamu! Padahal kamu pasti memberikannya cuma-cuma kan?"


"Jaga bicara bapak!"


"Heleh! Pelakor aja belagu kamu!"


"Pak lepasin!" teriak Renatta lagi saat si bapak itu mulai mendekatkan dirinya ke Renatta.


"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?"


"Permisi Pak, Bu!" ucap Renatta kemudian pergi dari sana.


"Ada apa Pak?"


"Tidak ada apa-apa, dia cuma antar kunci kontrakan kita," ucap si bapak kemudian masuk ke dalam rumah.


Si ibu jadi bingung, padahal tadi ia mendengar ribut-ribut tapi kenapa ketika ia datang seolah tidak terjadi apapun?


*


*


Renatta sudah kembali bersama kakak dan papanya. Mereka bertiga berjalan menyelusuri jalanan yang sepi sambil melihat-lihat ke kanan dan kiri barang kali ada kontrakan yang kosong di dekat sana. Namun sudah hampir satu jam mereka berjalan, tak menemukan tempat tinggal satu pun.


Melihat kakaknya yang sudah kelelahan, Renatta pun mengajak mereka untuk berhenti di pos ronda.


"Untuk sementara kita berhenti dulu disini. Papa dan kakak tunggu aku aja disini. Biar aku yang cari-cari kontrakan. Mumpung ini masih jam 9 malam."


"Nggak usah Nak, biar papa aja yang cari. Kamu dan kakakmu tunggu aja disini."


"Jangan Pa, papa juga pasti kecapean. Udah biar aku aja. Nanti aku telpon kalau udah nemu kontrakan barunya."


Papa Dewa pun menurut saja karena memang Renatta keras kepala orang nya.


"Baiklah hati-hati ya. Kalau ada orang jahat kamu langsung lari aja sekencang-kencangnya."


Renatta mengangguk lalu pergi dari hadapan mereka berdua. Ia berjalan sendirian menyelusuri gang-gang sempit untuk mencari kontrakan. Sampai akhirnya ia menemuka satu tempat yang sedang mencari penghuni kontrakan. Renatta langsung mengetuk pintu rumah pemiliknya.


"Maaf Bu, apa benar ibu lagi menyewakan kontrakan?"


"Iya benar. Mba nya mau ngontrak di tempat saya?"


"Kalau ibu mengizinkan saya mau Bu. Tapi sebelum itu, saya mau memberitahukan berita tentang saya yang menyebar di internet. Takutnya ibu nantinya tidak tenang dan malah akhirnya mengusir saya dan keluarga saya. Saya difitnah sebagai seorang pelakor. Tapi jujur saya tidak pernah melakukan hal tersebut."


Si ibu pemilik malah tersenyum. Lalu menepuk bahu Renatta.


"Mba, mau mba nya dituduh pelakor atau bekas narapidana sekaligus. Selagi mba mau bayar uang sewa tepat waktu dan menjaga kontrakan saya dengan baik. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena itu bukan urusan saya."


Renatta tersenyum senang. Kemudian langsung mengambil kontrakan ibu itu. Setelahnya ia berjalan kembali ke tempat kakak dan papanya berada. Namun, saat melewati gang-gang yang sempit itu, ia merasakan seperti ada orang yang mengikuti dirinya.


Renatta jadi berjalan cepat agar bisa cepat keluar dari gang tersebut dan berjalan di jalan yang agak besar. Tapi karena langkah cepatnya tak sebanding dengan langkah orang yang mengikutinya, Renatta pun dicegat oleh dua orang asing yang tak dikenalinya.


"Mau apa kalian?" tanya Renatta sambil berusaha mencari celah untuk kabur.


"Mau apa kamu bilang? Tentu saja kita mau uang! Serahkan dompetmu!" pinta salah seorang dari mereka.


"Saya nggak punya uang! Kalian salah cari mangsa! Saya orang miskin!" ucap Renatta sambil hendak berlari, tapi rambutnya ditarik oleh si preman satunya sampai ia meringis kesakitan.


"Kalau nggak ada uang, bolehlah kamu bayar dengan tubuhmu itu!"


"Saya bukan wanita murahan!"


"Halah! Banyak omong kamu!"


Preman yang masih menarik rambut Renatta itu beralih untuk mencengkram erat tangan Renatta. Sementara preman yang satunya akan beraksi untuk menanggalkan pakaian Renatta. Renatta sudah menangis sambil meronta-ronta. Ia bahkan sudah berteriak meminta tolong tapi tidak ada yang mendengarnya.


"Percuma kamu berteriak, di daerah sini memang sepi, hahah. Sepertinya kita mendapatkan mangsa yang lumayan hari ini."


Pakaian Renatta sudah dirobek bagian bawahnya. Dengan segala tenaga yang ia miliki Renatta menendang bagian inti dari si preman yang ada di depannya dan membenturkan kepalanya ke dagu si preman satunya. Kemudian ia kabur dari sana. Sayangnya, larinya yang tidak begitu kencang membuat Renatta harus tertangkap kembali.


Bahkan kali ini Renatta mendapatkan tamparan di pipi kanan dan kirinya. Ia sudah mau diperk*sa oleh dua preman itu. Tapi sebuah pertolongan datang. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam, memakai kaca mata hitam juga masker berwarna hitam memukul kedua preman itu dengan membabi buta. Setelah kedua preman itu terkapar, laki-laki itu menarik tangan Renatta untuk pergi dari sana. Setelah sampai di jalanan yang agak ramai genggaman tangan itu dilepaskan oleh laki-laki itu.


"Terima kasih ya, kamu sudah menolong saya. Saya tidak tahu lagi kalau kamu tadi tidak datang membantu. Mungkin saya sudah .... "


Renatta tak melanjutkan lagi bicaranya karena tak sanggup berkata-kata lagi.


Pria itu hanya mengangguk lalu melepaskan jaketnya dan melilitkannya di pinggang Renatta untuk menutupi pakaian Renatta yang robek dan kemudian pergi begitu saja.


"Siapa ya laki-laki tadi? Penampilannya misterius sekali. Tapi kenapa aku merasa tidak asing? Seperti pernah bertemu. Bahkan genggaman tangannya sama seperti seseorang. Tapi mama mungkin dia ada disini. Dia kan masih di London."


Renatta pun tak mau memikirkan sesuatu yang tidak mungkin. Ia berjalan kembali menuju ke pos ronda. Ia yakin ketika ia sampai disana pasti kakak dan papanya langsung bertanya banyak hal. Apalagi pipi Renatta yang memerah karena bekas tamparan dari preman tadi.


*


*


TBC