Take Me To Your Heart

Take Me To Your Heart
SETUJU



Mira masih terkejut dengan ucapan George. Ia tidak tahu lagi harus bereaksi seperti apa. Perasaan kesal, marah, khawatir, takut dan bahagia beriringan berkecamuk dalam hati Mira.


"Mengapa kau melakukan ini padaku George ?" Tanya Mira sambil sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya.


George bangkit dari dari duduknya lalu mendekati Mira, berlutut dihadapan wanita itu.


"Sayang maafkan aku! Akupun baru menyadarinya setelah kita selesai bercinta. Sunggguh, aku tidak sengaja melakukannya. Itu sebabnya aku akan bertanggung jawab. Kau tidak perlu khawatir sayang. Kita akan segera menikah." Bujuk George dengan suara lembut.


"Jadi jika disini tidak ada anak, kau tidak akan menikahiku ?" Seru Mira dengan begitu kesalnya sambil memegang perut datarnya.


"Menyebalkan!"


"Bukan seperti itu sayang! Aku tetap akan menikahimu terlepas dari apakah ada baby disini atau belum."


George menarik nafas dalam - dalam kemudian melanjutkan perkataanya sambil memposisikan dirinya duduk disamping Mira.


"Apa kau tahu kalau kau sudah berhasil mencuri hatiku ? Kau gadis lemah lembut yang sederhana tapi juga berkelas. Meski kau suka sekali berteriak tapi aku percaya kau adalah gadis yang baik."


Pekerjaanmu bukanlah pekerjaan yang mudah, terlebih kau tidak kuliah diluar negeri. Tapi lihat! Kau bisa sejauh ini. Apa yang kau miliki hingga saat ini semua karena kesabaran dan kerja kerasmu. Dan kau wanita cantik sayang. Tapi kau tidak mengandalkan kecantikanmu untuk meraih kesuksesan. Kau berbeda dengan orang yang ku kenal.


"Aku suka wanita cantik dan pekerja keras!" Ujar George sambil tersenyum menggoda.


Mira menatap heran pada pria itu. "Bagaimana mungkin hanya karena itu orang sepertimu bisa menyukai orang sepertiku yang bukan siapa - siapa ini."


Maksudku, di New York tentu banyak wanita yang lebih cantik, lebih sexy, lebih berpendidikan dan lebih berkelas dariku. Mereka mungkin lebih pantas untukmu dibanding aku.


"Kau pria tampan dan kaya raya, ku rasa tidak sedikit wanita yang mengejar - ngejar dirimu, setidaknya saat ini kau pasti sudah memiliki kekasih."


George menggelengkan kepalanya pelan. "Syukurlah aku tidak sedang memiliki kekasih sehingga aku bebas memilikimu." Ucap George tegas.


Mata Mira yang merah menyipit. "Benarkah ? Apa aku bisa mempercayaimu George ?" Tanya Mira penasaran.


"Tentu! Malah kau harus mempercayaiku."


Cup


Mira masih mematung karena tindakan George. Tidak ada perlawanan maupun balasan dari wanita itu.


George kemudian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Mira lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Mira. George mencium bibir Mira dengan lembut, tapi semakin lama ciuman itu semakin dalam dan panas. Mira yang semula hanya diam, entah mengapa kini ia membalas ciuman George dengan tak kalah liarnya. Jantung Mira berdekat begitu kencang dan bagian sensitiv pada tubuhnya berkedut membuat dirinya menginginkan lebih.


Mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya keduanya kehabisan nafas. George segera melepaskan bibir mereka untuk mengambil nafas. Setelah itu George memandang mata Mira intens membuat Mira merasa gugup.


"Ku anggap kau sudah setuju menikah denganku." Ucap George bahagia.


"Dua bulan lagi kita menikah, karena itu kita harus mempersiapkannya dari sekarang."


"Apa ??? Kenapa secepat itu ?" Tanya Mira dengan mulut menganga.


"Harus cepat sayang! Aku takut kau akan berubah pikiran."


Mira terkesiap. Lagi - lagi perkataan pria ini menyentak hati dan pikirannya.


"Mana bisa begitu George? Bagaimana dengan keluargaku ? Dan bagaimana dengan keluargamu ? Apa kau yakin mereka akan menyetujui pernikahan kita ?"


"Aku akan mengaturnya! Aku pasti bisa meyakinkan keluargaku untuk menerimamu, dan aku juga pasti akan meyakinkan keluargamu untuk menerimaku." Ucap George dengan penuh keyakinan.


Ya Tuhan...Pria ini sungguh luar biasa! Dia bukan hanya suka mengatur dan suka memaksa, tapi dia juga terlalu percaya diri.


"Kita akan melanjutkan pembicaraan ini nanti. Sekarang kau istirahatlah. Kau butuh tidur supaya pikiran dan tubuhmu sehat." Ucap George penuh perhatian.


"Baiklah...Aku akan beristirahat dikamar. Disana kamar mandi dan dapur. Kau bisa memakainya. Dan jika kau masih memiliki urusan lain, kau bisa langsung pergi. Tak perlu berpamitan padaku." Ucap Mira.


"Apa kau mengusirku ?" Tanya George.


"Tidak! Maksudku bukan seperti itu. Kau kan seorang pengusaha, jadi aku yakin kau pasti masih memiliki banyak urusan yang penting." Jawab Mira.


"Aku tidak akan kemana - mana! Saat ini aku hanya memiliki satu urusan penting, yaitu berurusan denganmu sayang." Ucap George sambil memegang kedua pipi Mira yang sudah memerah seperti tomat.